Immortal Love

Immortal Love
My Overtime With Him



Pria itu keluar dari dalam kamarnya dengan pakaian santainya. Baju kaos putih, serta celana drawstring berwarna abu-abu menjadi pilihannya untuk malam ini. Rambut yang masih setengah basah benar-benar membuat Shane melihat sosok lain dari diri Yoon Oh saat ini.


Tak lupa handuk juga ikut menggelantung di lehernya, menambah kesan sosok Yoon Oh yang terlihat begitu tampan malam ini.


Sekarang pikiran Shane sudah terkontaminasi dengan bayangan-bayangan 'itu' di dalam benaknya.


'Tolong keluarkan aku dari sini. Sebenarnya dia mau apa, sih? Kenapa dia membawaku ke rumahnya?'


"Apa aku mandi terlalu lama, sampai membuatmu menunggu seperti ini." Pria itu berjalan dari arah kejauhan sambil membawa setoples biskuit di tangannya.


Shane menggeleng kecil, lalu tersenyum samar, "Sama sekali tidak, Presdir."


Namun di hatinya berkata lain,


'Ya, hampir setengah jam lamanya aku menunggu di sini. Dan kau dengan seenaknya bertanya seperti itu padaku? Dasar!'


"Oh, baguslah. Saya pikir, saya sudah membuatmu menunggu terlalu lama." katanya tanpa rasa bersalah sedikitpun padanya. Pria itu kemudian pergi ke salah satu sudut meja makan.


Sepertinya ia sedang mengambil sesuatu di sana.


'Ap-apa katanya? Ck, dasar menyebalkan. Ingin sekali aku mengumpat padanya dengan kalimat-kalimat serapah.' Diam-diam ia merotasikan bola matanya malas.


"Ini ambil..."Pria itu menyodorkannya Mac Book dan satu rangkap berkas yang cukup tebal padanya.


Shane berbalik menatap Yoon Oh dengan pandangan tanya. "Apa ini Presdir?" tanyanya yang masih tak mengerti dengan perlakuan Yoon Oh.


Yoon Oh mengedikkan bahunya dengan asal, "Lebih baik sekarang kau kerjakan saja. Sata memintamu untuk menyalin seluruh berkas itu, lalu nanti filenya kau print di kantor." jelasnya yang membuat Shane melongo tak percaya padanya.


Pria ini kembali menyiksa fisiknya.


"Ha-harus hari ini selesai Presdir?" Shane berbicara dengan terbata-bata. Masih tak percaya dengan musibah yang menimpanya saat itu.


Pria itu kemudian tersenyum dengan smirk liciknya, "Saya tidak akan mungkin mengajakmu ke sini jika bukan karena berkas yang akan kau kerjakan itu."


Oh ayolah, pria ini kembali menguji fisik dan kesabarannya. Yoon Oh seperti tidak pernah kehilangan akal untuk membuatnya tersiksa.


Pria itu selalu menemukan celah dalam dirinya untuk menyiksa fisiknya. Tak memberinya kebebasan walau hanya sehari saja, dia selalu menyuruh dengan seenaknya.


Ingin sekali rasanya Shane mencakar wajah yang selalu di agung-agungkan semua wanita di kantor. Mereka semua selalu menganggap Yoon Oh adalah pria titisan Dewa Yunani.


Ketampanannya sangat tidak wajar dan itulah yang membuat mereka tergila-gila pada sosok Yoon Oh. Namun sayangnya, Shane tak pernah berlebihan menganggap ketampanan Yoon Oh sebagai suatu keberkahan karena berhasil mempunyai atasan yang tampan.


Iblis di baliknya wajahnya sama sekali tidak membuat perasaannya meledak-ledak seperti rekan sejawatnya di kantor.


"Kau tidak keberatan kan?" tanyanya, seperti orang yang tidak memiliki perasaan iba terhadap Shane.


Apa daya seorang Shane Kim yang hanya bisa bersikap sopan di depan pria itu. Jika ia menolak, bisa-bisa mendapat pengurangan gaji karena berani membantah seorang Choi Yoon Oh.


"Tidak kok Presdir. Lagi pula ini sudah tugas saya."


Tanpa menunggu waktu lama, Shane membuka Mac Book tersebut dan mulai mengetikkan huruf-huruf di sana. Yoon Oh yang melihatnya hanya bisa mengerutkan dahinya heran.


'Dia tidak mengeluh?' pikirnya.


'Ah, bukankah dia seharusnya mengeluh?'


Rupanya pria ini sengaja menguji kesabaran Shane dengan menyuruh wanita tersebut untuk mengetik berkas, alias menyalin berkas ke dalam Mac Book.


Ia ingin tahu, sampai di mana batas kesabaran wanita itu menghadapi pria sepertinya. Jika rencana Sejun yang menyuruhnya untuk mencari seorang wanita dari karyawannya sendiri, maka ia akan memulai pencarian terlebih dahulu pada Shane.


Bukankah mencari seorang pendamping hidup harus memiliki kriteria yang bagus? Bibit bebet bobotnya pun harus jelas, bukan?


Yoon Oh hanya ingin yang terbaik untuk masa depannya. Ia tidak ingin salah memilih, walau sebenarnya ia tidak yakin apakan wanita di hadapannya ini bisa memenuhi kriterianya.


Melihat suasana sedikit hening karena Shane fokus dengan Mac Book dan juga berkasnya, Yoon Oh kembali menegur wanita itu dengan suara khasnya.


"Apa kau tak masalah jika pulang larut dari rumahku?"


Shane mengangkat kepalanya menatap sang Presdir yang tengah duduk dengan mengangkat kakinya satu.


"Jika urusan pekerjaan, saya akan menganggapnya sebagai lembur. Lagi pula di kantor saya juga sering pulang larut jika harus mengerjakan hal seperti ini."


Jawaban Shane rasanya tidak memuaskan rasa penasaran Yoon Oh. Perkataan wanita itu terlalu halus padanya. Sedikit tidak suka karena dia terlalu sopan. Sekali-kali, Yoon Oh ingin melihat Shane memberontak di hadapannya karena pekerjaan yang bertubi-tubi.


"Oh, saya pikir kau keberatan dengan pekerjaan yang saya berikan. Rupanya kau sangat menikmati pekerjaan ini dengan baik." balas Yoon dengan harapan wanita itu tersinggung dengan kalimatnya.


Mendengar kalimat pria itu lagi, Shane tersenyum samar sambil memfokuskan dirinya untuk tetap mengetik.


"Bukannya setiap pekerjaan harus di nikmati dengan baik, Presdir?" Shane mengangkat pandangan sedikit untuk menatap Yoon Oh. "Saya pikir anda tahu akan hal itu."


Skak-mat!!


Perempuan itu berhasil membuatnya bungkam.


Benar apa yang di katakan-nya, bahwa setiap pekerjaan harus di nikmati meskipun pekerjaan itu berat, dan Shane melakukan itu saat ini.


"Ternyata kau karyawan yang pantang menyerah. Kepribadianmu baik, dan aku tidak salah memilihmu sebagai sekretaris ku." katanya, memuji Shane yang sangat bekerja keras dalam menyelesaikan pekerjaannya.


"Jangan terlalu berlebihan, Presdir." Shane tidak menolak, hanya saja tidak nyaman saat seorang Choi Yoon Oh memujinya.


Seperti bukan diri pria itu, saja.


"Saya tidak berlebihan. Saya hanya berbicara berdasarkan kenyataan yang saya lihat." ungakapnya tanpa melunturkan senyum tipis di wajahnya.


"Mungkin jika kau bukan sekretaris ku, kau sudah ku pekerjaan di rumahku saat ini."


Dahi Shane mengerut tebal, "Maksud anda?"


Yoon Oh kembali mengedikkan bahunya dan bersandar pada punggung sofa di sebrang Shane.


"Mungkin menjadi bagian dari hidupku."


Shane yang tak mengerti hanya bisa mengerutkan dahinya saja saat menatap Yoon Oh yang kini duduk di sebrangnya.


Kalimat pria itu tak bisa ia cerna dengan baik karena saat ini fokusnya terbagi dua. Satu pada pekerjaan dan satu lagi pada Presdir yang sedang mengajaknya berbincang kecil.


Tapi pada akhirnya Yoon Oh hanya mendengus pasrah.


'Hwang Sejun, kau menjebakku dalam rencana gilamu.'


***


To Be Continue...