
Mobil yg d kendarai oleh sopir Zaki berhenti di sebuah halaman rumah minimalis 2 lantai. Halaman sangat luas , bisa menampung beberapa mobil. Juga terdapat beberapa permainan anak anak.
Hanya mobil Adella dan mobil box yg mengangkut barang barang ibu Mila.
Adella mendadak bingung, ingin bertanya tapi ia enggan.
"Turunlah, kita sudah sampai" Ucap Zaki bersuara kemudian turun dari mobil nya.
Adella turun dan melihat kanan kiri, rumah ini sangat nyaman. Dan entah mengapa ia merasa tidak asing dengan rumah ini.
"Maaf tuan. Ini rumah siapa???" tanya Adella ragu.
Zaki tidak menghiraukan pertanyaan nya dan. sejalan menjauh.
"Tuan, tuan... " Adella mengejar dan berusaha menggapai tangan Zaki.
Zaki melirik tangan nya yg d genggam Adella.
"Maafkan saya" ucap Adella lirih dan melepaskan genggaman tangan nya.
"Aku tidak akan menjawab semua pertanyaan mu, jika kau masih memanggil ku dengan sebutan tuan. Aku suami mu sekarang dan bukan majikan mu" ucap Zaki dengan tatapan tajam.
"Maaf.. saya belum terbiasa" Adella menunduk takut.
"Biasakan.. Karena tidak ada seorang istri yg memanggil suami nya dengan sebutan tuan"
Tentu saja telinga Zaki merasa panas mendengar, ia tidak mungkin membiarkan Adella memanggil nya seperti dulu. Keadaan sekarang sudah berbeda, Adella sekarang adalah istrinya. Bukan pembantu nya.
"Mas" panggilan Adella membuat Zaki tertegun.
"Bolehkah saya memanggil mas???" tanya Adella lagi karena Zaki tidak merespon nya.
"Panggilan yg bagus, aku suka. Satu lagi, jangan lagi memakai kata saya. Ubah dengan kata aku dan kamu"
Adella mengangguk patuh.
"Ini adalah rumah masa kecil mu. Keluarga besar Ayah mu menjual rumah ini beberapa tahun yg lalu. Karena kabar itu sampai ke telinga papa, beliau membeli nya karena rumah ini adalah rumah yg sangat bersejarah untuk orang tua mu" Zaki mulai menjelaskan perihal rumah ini, pantas saja Adella merasa tidak asing.
"Tapi kenapa orang orang itu menurunkan barang barang ibu??? Apa kita akan tinggal d sini???"
"Bukan kita. Tapi ibu dan adik adik mu. Aku sudah memiliki rumah yg akan kita tinggali" Zaki menadahkan telapak tangan agar d sambut oleh Adella.
Dengan pelan dan ragu Adella menggapai tangan Zaki.
Mereka berjalan memutari setiap sudut rumah yg akan d tempati keluarga nya. Terdapat 3 kamar d lantai atas dan 2 kamar berukuran besar d lantai bawah.
Area dapur bersih dan ruangan luas bisa menjadi tempat bermain adik adik nya nanti..
Sejenak Adella tertegun melihat satu kamar, ia merasa sangat akrab dengan kamar bertema hello Kitty d lantai atas..
"Ayo kita masuk" ajak Zaki.
Saat memasuki kamar, ingatan ingatan masa kecil menghantui pikiran Adella. Ia sedikit mengingat bagaimana kehidupan masa kecilnya dulu d dalam kamar ini. Tak terasa air mata nya mengalir deras, membuat Zaki memeluk nya erat.
"Keluarkan apa yg terasa d hati mu, aku memang tidak tau bagaimana perasaan mu saat ini. Tapi aku berjanji
akan menjadi pendengar dan selalu ada saat kau butuhkan"
Ucapan Zaki membuat tangis Adella semakin deras.. Bukan karena teringat kedua orang tua nya, tapi mengingat kehidupan yg akan ia jalani setelah ini. satu sisi ia berharap akan Cinta seorang suami tapi d sisi lain ia merasa tidak pantas d cintai oleh suami nya itu...