
Ternyata insiden hampir tenggelam nya Adella sampai ke telinga Zefa, ia segera menghubungi baby sitter anak nya itu..
"Saya gak papa kok Bu, saya gak bohong bu" ucap Adella.
Entah sudah berapa kali Adella mengatakan kepada Zefa jika ia baik baik saja..
"Gak usah Bu, ibu dan bapak pulang dengan selamat saja saya sudah merasa bersyukur"
Adella ber ucap seperti itu saat Zefa menanyakan oleh oleh.
"Iya Bu, saya akan berhati-hati.Dan ibu cepat pulang" ucap Adella lirih...
Panggilan telepon terputus. Entah kenapa Adella ingin segera pulang ke kediaman Zefa dan Rafael.
Sungguh ia sudah tak betah berada d rumah ini terutama berdekatan dengan Zaki..
Karena dia merasa ada yg tidak beres dengan Zaki. Tadi setelah Zaki mengantar nya dalam kamar, Zaki lancang membuka kancing kemeja yg ia gunakan.
Mungkin maksudnya baik karena ingin membantu Adella berganti pakaian. Tapi hal itu membuat jantung nya tidak sehat..
Tatapan tajam yg biasa ia lihat dari mata Zaki berubah lembut dan ... entah lah, sulit untuk d Jabar kan.
Untung saja mbok Mirna segera masuk ke dalam kamar karena jika tidak, entah akan semakin apa Adella nanti ketika Zaki melihat isi dalam kemeja yg ia gunakan.
Zaki pun segera beranjak dari kamar Adella, sebelum keluar ia melirik Adella d Ngan tatapan tajam dan menusuk.
.
.
.
Sementara itu d negara yg d kenal sebagai negara mode dunia.
2 insan tengah tidur berpelukan d dalam sebuah selimut, keadaan tubuh yg polos membuat mereka semakin mengencangkan pelukan satu sama lain.
"Yank"
"Hmmm"
"Kayak nya kita harus segera pulang deh" ucap Zefa sedikit mendongak kan kepala menatap Rafael..
Mata Rafael yg dari tadi tertutup kini terbuka, sedikit mengernyit tak suka.
"Kenapa???" Tanya Rafael dan segera duduk bersandar d kepala ranjang.
Zefa mengikuti gerakan Rafael. Ia juga mengambil posisi duduk dengan kepala menyandar d bahu bidang suami nya.
"Hmmm,,, tadi aku dapat berita dari mama. Adella hampir tenggelam d kolam berenang"
Kening Rafael semakin berlipat
"Kak Zaki membantu nya"
"Ya wajarlah,, karena Adella sekarang tinggal di rumah orang tua mu"
"Hah" Zefa menghela nafas kasar..
"Kenapa??? Apa yg jadi permasalahan nya???"
"Sikap kak Zaki terhadap Adella yg jadi permasalahan nya, kamu tau gak???"
Rafael menggeleng.
"Kak Zaki memberikan nafas buatan kepada Adella, yg artinya kak Zaki mencium Adella"
"Memang sudah seharusnya seperti itu pertolongan pertama jika membantu orang yg tenggelam" Jawab Rafael logis
"Ih.. Kamu nih" jawab Zefa merasa sedikit kesal kepada Rafael yg menurut nya kurang peka ..
"Loh kenapa sayang??? Aku kan menjawab dengan jawaban yg masuk akal"
"Iya, sangat sangat masuk akal. Jika kamu yg ada d posisi itu. Tapi masalah nya sekarang adalah bagaimana panik nya kak Zaki saat itu, bahkan kak Zaki menggendong Adella ke dalam kamar nya"
"Zaki panik???" Tanya Rafael sedikit bingung.
Entah kenapa saat ini kemampuan berpikir Rafael tidak seperti biasanya, sedikit agak Lola. Mungkin karena Rafael merasa kelelahan habis bertempur dengan Zefa.
Dan ingin sekali rasanya Rafael menjawab "bukan nya wajar seorang majikan mengkhawatirkan baby sitter keponakan nya??!"
"Dan yang lebih mengejutkan adalah saat mbok Mirna melihat dengan mata kepala nya sendiri saat Zaki membantu Adella membuka kancing kemeja nya.Dan tatapan kak Zaki menyiratkan sesuatu. Seperti tatapan mu saat ingin menerkam ku" Sambung Zefa.
Dan barulah saat ini Rafael mengerti maksud semua ucapan Zefa yg dari tadi membuat nya bingung.
"Apa jangan jangan Zaki menyukai Adella???" tanya Rafael.
"Mama sih bilang kayak gitu. Dan Mama khawatir jika membiarkan mereka satu atap bersama takut terjadi hal yg tak d inginkan"
Rafael dan Zefa terdiam dalam waktu yg cukup lama Entah apa yg mereka pikirkan.
"Seperti nya kita memang harus segera pulang. Aku takut jika nanti Zaki melakukan yg sesuatu yg d khawatir kan oleh mama. Lusa kita berangkat, besok jadwal kita membeli oleh oleh "
Zefa mengangguk dan tersenyum.
"Dan khusus hari ini, aku akan mengurung mu d dalam kamar ini" Seringai Rafael membuat Zefa tersipu.
.
.
.!