
Adella duduk d meja rias d kamar nya yg sangat sederhana.
Tatapan nya lurus melihat sang MUA melentikkan jari nya menyapu kuas blash on d pipi nya yg sedikit chubby.
Tidak pernah terbayangkan oleh nya jika akan menikah hari ini, setelah semua persiapan sudah selesai.
Bolehkah dia meniru adegan cerita dalam novel yg sering ia baca??? Saat pengantin wanita nya kabur d hari pernikahan??? Tentu saja TIDAK!!!
Karena dia lah yang dengan senang hati menerima lamaran ini...
Bukan senang hati tetapi karena di paksa oleh keadaan, dan ini lah jalan satu satu nya yg harus ia ambil.
Dan semoga ini adalah jalan terbaik untuk kehidupan mendatang.
Tapi kenapa hati nya saat ini sangat gelisah???
Ia baru menyadari jika Azka tak kunjung datang dari kota. Ia tau Azka sangat menentang keras keputusan nya, tapi jangan sampai Azka tidak datang dan memperkeruh keadaan.
"Selesai" suara Mua yg merias nya ber suara memutus lamunan Adella.
Adella melihat tampilan diri nya dalam cermin.
Cantik...
Dengan balutan kebaya mewah bewarna putih gading, pinggang ramping nya tercetak mengikuti lekuk tubuh nya, kancing baju sepanjang punggung membuat nya seperti orang lain.
Andai saja ia menikah dengan seseorang yg mencintai nya, mungkin ia tidak akan gelisah seperti ini..
"Del" Adella menoleh ke arah MUA yg umur nya lebih tua dari Adella beberapa tahun itu.
"Ya mbak"
"Mbak tau apa yg kamu rasain sekarang, tapi kamu tidak bisa lagi mundur."
"Iya mbak , Adel tau" Lirih Adella seraya menunduk.
Wanita itu menatap miris Adella, ia kenal Adella sudah dari dulu bahkan saat Adella masih duduk d bangku sekolah dasar. Tidak ada yg bisa ia lakukan untuk membantu, karena semua orang d kampung ini tau siapa itu Widodo.
Adella mengangguk...
Obrolan mereka terhenti saat mendengar suara ramai d ruang tamu. Yang kemungkinan calon suami sudah datang.. Mereka tidak bisa melihat keluar, karena akses jendela tidak ada d dalam kamar Adella.
"Kayak nya keluarga calon suami kamu udah datang, tadi ibu udah pesan jika kita nunggu di sini dulu sampai ijab selesai".
"Tapi Azka gimana mbak???" tanya Adella.
"Biar mbak liat dulu, kamu tunggu d sini"
Adella mengangguk.
Sang MUA keluar, dan tak lama ia kembali dengan senyum yg cerah.
"Azka udah datang bersama calon suami mu Del. Mbak yakin setelah menikah, kamu akan menemukan kebahagiaan" ucap sang MUA tulus.
Lagi lagi Adella menjawab dengan anggukan kepala. Apa nya yg akan bahagia, yg ada Adella pasti akan menderita d jadikan istri ke 3 Widodo.
Ia mengingat beberapa hari yg lalu ke dua istri Widodo melabrak, bahkan menjambak kasar rambut nya karena d anggap sebagai pelakor. Untung saja, Widodo datang tepat waktu jadi ia tak merasakan sakit yg berlebihan.
Adella tidak bisa mendengar apapun karena ruangan yg Adella tempati sedikit jauh dari ruang tamu.
Suara yg tadi nya berisik berubah tenang karena mungkin saat ini Widodo sedang melafadzkan ijab Qabul. Hingga terdengar suara sorakan saling bersahutan yg mengucapkan kata SAH....
Membuat jantung Adella bergemuruh hebat. Setitik air mengalir d sudut mata nya, entah air mata bahagia atau air mata luka....
.
.
.