I Love You Baby Sitter

I Love You Baby Sitter
Menentukan pilihan



"Aku gak setuju kk" Azka langsung bangkit dari posisi duduk nya.


"Ssstt... Dengerin Kaka dulu dek, ini adalah jalan satu satu nya untuk kita menyelamatkan panti. Kamu gak kasian dengan ibu??? beliau bersusah payah membesarkan kita dulu, saat ini kita harus membalas semua jasa beliau" Adella menggenggam kedua tangan adik semata wayang nya itu.


"Iya kk, aku tau. Tapi bukan seperti ini juga cara nya, kakak mau merelakan masa depan kakak menikah d usia muda??"


"Dek, kakak sudah tak memiliki masa depan lagi"


"Kak" Azka memeluk Adella saat suara Kaka nya itu lirih menahan tangis..


"Apa kakak akan bahagia jika menikah????"


Adella mengangguk mantap.


Adella sudah tak memperdulikan kebahagiaan nya, karena saat ini yg ia butuh kan adalah kebahagiaan ibu dan adik-adik panti ..


"Apa Kakak menyukai pak Widodo itu???"


Adella terdiam dan mengangguk ragu dan lemah...


Siapa yg akan menyukai pak Widodo itu.. Lagipula Adella terpaksa untuk menyelamatkan panti. Pak Widodo yg lebih pantas ia panggil kakek.


"Baiklah terserah kakak" Azka sangat paham isi hati kakak nya, Azka akan berusaha mencari bantuan ke kota.


Kemarin ibu panti berkata kepada Azka agar mencari seorang pengacara d kota, karena ibu panti sempat mendengar jika orang tua mereka menitipkan surat wasiat kepada pengacara itu. Dan saat Mila membawa mereka Adella memakai sebuah liontin yg ia yakin berguna suatu saat nanti.


Ibu panti sudah memberi tahu Adella, tapi dia bersikeras untuk menikah. Entah apa alasannya.....


"Terimakasih ya dek" Adella ingin memeluk Azka, tapi Azka menahan.


"Aku akan pergi ke kota dengan teman untuk bekerja. Jadi aku ingin Kakak menunggu ku kembali sebelum menikah. Karena hanya aku yg bisa menikah kan kakak"


Adella mengangguk antusias dan mereka berpelukan .


.


.


.


.


Adella tidur telentang d atas ranjang. Mata nya menatap lurus tanpa kedip langit langit kamar.


Air mata yg ia tahan sedari tadi pun akhirnya membasahi pipi chubby nya..


Mungkin d mulut ia mengatakan jika bahagia, tapi jangan tanya dalam hati...


Hati nya luka, sakit dan kecewa .


Kenapa Tuhan seakan tak bisa adik kepada nya????


Lalu apa kah ada lagi penderitaan yg ingin Engkau berikan TUHAN????


Jika ada, datang kan lah. Agar bahu ku kuat memikul nya, aku akan berusaha kuat sekuat karang..


Akhirnya Adella tertidur dengan sisa tangis yg belum berhenti mengalir..


.


.


.


"Doain aku ya Bu, kak" Azka berpamitan kepada Mila dan Adella.


"Pasti nak, ibu akan selalu mendoakan setiap langkah yang engkau tempuh" jawab Mila seraya memeluk Azka erat.


"Terimakasih Bu."


Mila mengangguk.


"Ibu akan bantu doa agar kamu d permudah oleh Allah" bisi Mila..


Azka tersenyum dan mengangguk.


"Kamu cepat kembali ya dek, ingat ya pernikahan Kakak seminggu lagi. jangan sampai kamu terlambat"


Adella mewanti-wanti .


"Iya kk, kayak nya Kaka deh yg ngebet nikah sama kakek Widodo itu deeh"


"Jangan ngaco kamu, sudah sana berangkat" ucap Adella menepuk pelan pundak sang adik.


"Azka pamit, Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


Ibu dan adik adik sudah masuk kembali ke dalam rumah. Sedangkan Adella masih menatap mobil travel yg d tumpangi Azka..


Maafkan kakak dek, bukan kakak ngebet untuk nikah. Kaka hanya ingin masalah ini cepat selesai dan kalian bisa hidup dengan tenang. Bahkan untuk bermimpi agar pernikahan ini batal pun kakak tak sanggup.


Jika saja, kakak d izinkan meminta. Kaka berharap agar ada seorang pangeran tampan menjemput kakak dengan kuda nya, tapi itu tak mungkin bukan?????


.


.


.