
Tabib dan pelayan lainnya sedang memeriksa keadaan para prajurit yang terluka.
" Tabib di panggil Ratu" kata Meya, dengan ngongosan.
" Apa yang terjadi sesuatu pada Raja?" Tabib.
" Ya itu" kata Meya terpotong oleh tabib masuk ke dalam membuat Meya menghela napasnya.
" Meya? " Kepala pelayan.
" Itu yang mulia mulai menggerakan tubihnya" kata Meya. Mereka yang mendengarnya merasa lega.
Jia Hao yang kebetulan lewat bahagia mendengarnya tapi ia tak bisa kesana karena tabib harus fokus merawat Raja.
" Yang mulia" kata tabib.
" Syukurlah tabib cepat periksa Raja" kata Ratu.
Tabib mohon izin untuk memeriksa Raja sedangkan Ratu bersama analnya mundur.
" Ibunda, ayahamda baik saja" kata pangeran Hong Lie.
" Ya Ayahanda pasti baik saja" kata Ratu Cheng Ni. mengelus kepala putranya.
Tabib Hu memeriksa Raja Hong Xi dengan teliti ia tak ingin ada kesalahan.
" Yang mulia" tabib, terus memanggil Raja. Raja Hong Xi perlahan mulai membuka matanya.
Raja Hong Xi heran melihat keadaan sekitarnya dan tabib menyadarinya.
" Yang mulia Ratu, yang mulia Raja sudah sadar" tabib Hu, dengan bahagia.
" Ayahanda" seru pangeran Hong Lie, memeluknya. Ratu Cheng Ni, terharu karena suaminya selamat.
" Tabib gimana keadaannya? " Ratu Cheng Ni.
"Raja sudah sadar tapi kita membutuhkan ramuan untuk memulih tenaganya yang mulia" kata tabib.
" Meya panggil Jia Hao " kata Ratu Cheng Ni.
" Baik yang mulia" kata Meya, lari memanggil Jia Hao
" Yang mulia jangan banyak bicara dulu, putri disini dulu bersama ayah dan gege" kata Ratu.
Ratu mengajak tabib bicara. " Apa yang ingin anda katakan yang mulia? " tabib.
" Sebaiknya anda kembali ke istana saya tak ingin anda terancam jika bersama kami" kata Ratu, tak ingin tabib Hu terancam jika bersama mereka.
" Yang mulia izinkan saya ikut bersama kalian di negara Can tak ada keluarga saya hanya Raja yang selama ini menanggap saya" kata tabib.
" Terima kasih tabib" kata Ratu. Taklama Jia Hao datang bersama tabib mencari bahan obat yang dibutuhkan untuk pengobatan Raja.
Ratu kembali masuk dan memberitahu Raja apa yang terjadi pada mereka.
" Aku tak menyangka kita terpaksa meninggalka istana kita sendiri" kata Raja, sedih.
" Ayahanda jangan cemas aku dan adik pasti bisa merebut semuanya " kata pangeran Hong Lie, Raja dan Ratu senyum.
Di tempat Jia Hao dan tabib.
Mereka sudah menjauh dari goa ditemani oleh seorang prajurit.
" Tabib tanaman sejenis apa yang perlu kita dapatkan?" Jia Hao.
" Akar brotowali mengandung zat pikroretin dapat membantu kelelahan Raja banyak menggunakan tenaga dalamnya tumbuhan itu dapat membantunya" kata Tabib. Mereka mencari tumbuhan yang dimaksud.
Dua jam kemudian mereka tak hanya menemukan akar brotowali tapi juga lainnya seperti tanaman bangle, akar alang-alang dan tanaman obat langka lainnya.
" Tuan Jia Hao mereka seperti pembunuh bayaran" kata prajurit tanpa sengaja melihat 10 orang jalan tak jauh dari mereka.
"Cepat kita sembunyi sebelah sana jangan biarkan mereka menemukan kita" kata Jia Hao. Mereka bersembunyi balik pohon besar.
" Apa mereka di utus untuk mencari Yang mulia Raja? " Tabib.
" Ini bahaya bagi yang mulia kita harus melakukan sesuatu jangan biarkan mereka menemukan lokasi Raja. Kau bawa tabib ke goa aku akan mencoba melawan mereka, cepatlah kita tak punya waktu" kata Jia Hao.
Prajurit segera membawa tabib kembali ke goa dengan sembunyi.
Chu Hua menyewa 10 pembunuh bayaran yang terkenal di negara Can ia tak sabar melihat kematian Ratu Cheng Ni dan keluarganya.