
Kepala pelayan dan lainnya menunggu kedatangan Shaiming.
" Kepala pelayan sudah tak ada yang terlupa? " salah satu pelayan.
" Kurasa tidak ini cukup untuk beberapa hari tuan darimana anda mendapatkan kereta kuda? " kepala pelayan.
" Sebelah kiri pasar ada jual kereta dan kuda, apakah ada diantara kalian bisa berkuda? " Shaiming. Ternyata ada beberapa bisa berkuda mereka naik kuda berdua sisanya masuk ke dalam kereta Mereka kembali ke goa.
Sedangkan komandan Liang Yang , Jia Hao dan tiga prajurit sudah tiba di ujung hutan mati tepatnya pembatasan dengan negara Han.
" Sekarang kita kemana di hadapan kita negara Han dan sebelah selatan Bukit Sea yang tak pernah disinggahi oleh orang" kata Komandan Liang Yang.
" Kita ke selatan siapa tahu cocok dijadikan tempat tinggal kita, kurasa ini hal baik untuk sementara ini jangan biarkan ada orang yang melihat kita" kata Komandan Liang Yang.
Mereka berlima menuju ke arah selatan dengan berjalan kaki dan berharap menemukan sesuatu.
Dalam istana.
Chu Hua marah besar pembunuh bayaran yang dia perintah belum juga mendapat kabar.
" Sial sudah semalam mereka tak beri kabar" chu Hua, menahan marahnya.
" Mungkin belum bertemu dengan mereka yang mulia" kata pelayan setianya.
" Kamu benar kuharap nanti sudah dapat kabar, kau sudah mendapat kabar kapan pangeran Hong Zima diangkat menjadi Raja" Chu Hua, tak bisa sabar untuk menjadi Ratu.
" Saya belum mendapat kabar yang mulia" kata pelayan.
" Mungkin sebentar lagi, tolong persiapan aku ingin ke taman" kata Chu Hua. Mereka pergi ke taman biasanya Ratu Cheng Ni.
" Cheng Ni sekarang akuendapatkan sebelumnya menjadi milikmu tapi sekarag" kata Chu Hua, penuh kebencian pada Cheng Ni.
" Kalian ganti semua bunga dengan kesukaanku" Chu Hua, banyak bunga yang tumbuh.
" Baik yang mulia" seru pelayan.
Komandan dan Jia Hao sudah tiba di bukit Sea.
" Komandan, tuan apakah ini disebut bukit Sea ini sangat nyaman antara tanah kosong di kelilingi oleh pohon " kata salah satu prajurit.
" Tuan, komandan" teriak salah satu prajurit, Komandan dan Jia Hao segera mennghampirinya.
" Tuan saya menemukan sungai walau kecil." prajurit. Mereka segera menghampiri lainnya.
" kita ke tempat Raja kita harus melapor" kata Jia Hao. Mereka kembali ke goa.
Dalam goa
Hong Zelia melihat sekitarnya terlihat Ratu dan Raja sedang makan sedangkan pangeran Hong Lie mulai belajar Qi .
Taklama terdengar suara kereta dan kuda mendekat membuat mereka lega karena datang Shaiming.
" Shaiming" panggil Ratu. Akhirnya Shaiming menberitahu mereka.
Raja merasa tenang dengan adanya kereta Ratu dan dua anaknya aman.
Prajurit mengeluarkan barang yang dibeli Komandan Liang Yang dan Jia Hao datang kemudian memberitahu apa yang mereka temu.
Mereka yang mendengarnya bahagia mendengarnya.
Di istana
Chu hua marah besar sampai pelayan kena amarahannya.
" Nyonya" kata pelayan. Masuk ke dalam terlihat barang berserakan di lantai.
" Nyonya, ada yang ingin saya sampaikan" kata pelayan.
" Nyonya prajurit menemukan mayat pembunuh bayaran di ibu kota kata pelayan.
Setelah menghabisi para pembunuh bayaran Komandan Liang Yang dan lainnya membawa mayat ke ibu kota agar perhatian orang istana teralihkan.
Ternyata benar pangeran Hong Zima sulit menemukan orang yang meletakkan mayat tersebut.
" Sial siapa yang berani bermain denganku" tekan pangeran Hong Zima.
Pangeran Hong Zima sudah menduga bahwa ini ada hubungannya dengan Raja Hong Xi.