
Tuan Xi mengajak putrinya ke tempat latihan prajurit walau mereka tidak lagi di istana tapi tetap melatih dirinya untuk masa depan karena Lier dan Zelia akan membalas dendam orangtuanya.
" Gege" panggil Zelia. melihat Lier latihan bersama Shaiming.
Lier dan Shaiming berlatih menggunakan pedang menghentikannya dan mendekati ayah dan adiknya.
" Ayah lihat aku sudah bisa menggunakan pedang tidak lagi pedang dari kayu" Lier, bahagia sejak awal ia hanya menggunakan Pedang dari kayu dan tadi Shaiming mengujinya dengan pedang yang asli.
Tuan Xi senyum. " Putra ayah memang pintar. Shaiming kapan kamu mengajarinya menggunakan Qi spiritual? " Tuan Xi.
" Ayah apa itu Qi spiritual" Zelia. Tuan senyum dan menunjukan elemen api yang ia miliki.
" Waw ayah, ayah Zelia juga ingin memilikinya" Zelia, merasa takjub melihatnya ia seorang ahli bela diri waktu masa modern baru pertama melihatnya.
" Adik, kamu masih kecil lebih baik memperbanyak baca buku" kata Lier. tak ingin adiknya terluka, Zelia cemberut dan memalingkan wajahnya.,
" Sebaiknya putri ayah baca buku mengenai Qi spiritual dan dentian kalau sudah ayah akan meminta Jia Hao melatihmu" seru tuan Xi, juga ingin putrinya menjadi kuat.
Kemudian tuan Xi dan kedua anaknya menemui nyonya Nier sedangkan Shaiming mencari tempat yang cocok untuk Lier mengeluarkan Qi spiritualnya.
Zelia bahagia karena ia bisa memperlajari Qi spiritual walau ia ahli dalam ilmu bela diri zaman moderen tapi ilmu disini baru baginya malah membuatnya semangat.
" Ibunda" seru Zelia, berlarian mendekati nyonya Nier. Nyonya Nier sedang mengawasi pelayan tersenyum melihat putrinya datang.
" Meya dimana tuan? " Nyonya Nier, pada Meya berdiri di belakang putrinya. Zelia melihat para pelayan masak membuatnya masam karena rasa masakan yang ia makan hanya terasa asin, dia tiba saja merindukan makanan yang ia makan di zaman modern.
" Tuan kembali ke tempat latihan nyonya setelah mengantar nona muda" kata Meya.
Nyonya Nier menanggukan kepalanya. Zier apa yang kamu lihat sayang? " Nyonya Nier. melihat putrinya terus melihat pelayan.
" Ibunda, Zier ingin masak" kata Zelia membuat nyonya Nier dan Meya terkejut mendengarnya.
" Sayang, nona muda" kata nyonya Nier, Meya. Zelia tersenyum ia tak sabar menginginkan makanan yang ia rindukan.
" Ya nona muda, anda menginginkan sesuatu? " kepala pelayan.
Zelia tersenyum. " Aku ingin masak hari ini kalian harus membantuku" katanya membuat kepala pelayan dan lainnya terkejut tak percaya anak yang baru berumur lima tahun masak.
Para pelayan berusaha menolak keinginan nona muda takut tuan dan nyonya marah, mendengar hal itu membuat Zelia sedih.
" Nona muda, kami hanya takut anda terluka" kata kepala pelayan membujuk Zelia.
" Saya janji ayahanda dan ibunda takkan marah" kata Zelia. Kepala pelayan melihat nyonya Nier berdiri tak jauh dari mereka.
Melihat putrinya memohon terpaksa nyonya Nier setuju ia tak masalah jika putrinya membuat dapur kotor.
" Kalian bantu putriku" kata nyonya Nier. ia juga minta Meya menemani putrinya.
" Nona ingin memasak, apa? " Meya, berdiri disampingnya.
" Uhm" Zeya, senyum melihat ayam di tangan salah satu pelayan.
" Kalian cuci ayam dan potong kecil" kata Zelia. Ia juga meminta para pelayan menyiapkan bahan lainnya.
" Nona kita hanya memiliki ini" kata kepala pelayan.
Zelia hanya bisa menghela nafasnya melihat bahan yang tersedia, garam, bawang putih dan jahe.
" Kita akan memasak ayam bumbu jahe" kata Zelia.
" Meya campur tepung dan air dan kepala pelayan haluskan bawang putih dan jahe" kata Zelia. Menghidupan api. Mereka mematuhi perintahnya.
Zelia berfikir akan masuk ke hutan siapa tahu ia akan menemukan hal lainnya.