
Tuan Xi dan lainnya siap meninggalkan hutan mati menuju ke lokasi yang dijadikan tempat tinggal. sebelum pergi Jia Hao bersama kepala pelayan menyempatkan untuk pergi ke pasar membeli barang kemungkinan berguna di sana.
" Nyonya sebaiknya bersama tuan dan nona kecil naik kereta kuda" kata Shaiming, merupakan pengawal bayangannya yang diberikan oleh ayahnya saat akan menikah.
Mereka bertiga menaiki kereta kuda di temani oleh Meya kereta yang digynakan untuk membawa Raja saat meninggalkan istana diisi dengan barang.
" Tuan Jia Hao ini gerobaknya" kata prajurit. Dia membeli gerobak untuk membawa barang tak mungkin semuanya itu di letakan di punggung.
" Susun dengan rapi barangnya jangan sampai ada yang rusak" perintahnya. Setelah memastikan tak ada yang terlupa mereka mulai meninggalkan hutan mati.
Tuan Xi, Jia Hao, Shaiming menaiki kuda diikuti dengan lainnya, para pelayan dan prajurit lainnya mengikuti dengan jalan kaki termasuk kasim dan tabib.
Baru saja mereka pergi datang beberapa prajurit istana pangeran memerintahkan mereka kembali ke hutan mati setelah beberapa hari lalu tetapi mereka kecewa, mereka kembali dengan tangan kosong karena jia Hao dan prajurit sudah membersihkan tempat itu agar tak mengetahui mereka pernah disana walau hanya beberapa minggu.
Pangeran Hong Zima marah besar saat di beritahu kegagalan mereka.
" Yang mulia jangan marah hamba yakin meeeka takkan bisa bertahan tinggal diluar sana, lebih baik yang mulia fokus dengan pengobatan beberapa hari lagi" bujuk Chu Hua.
Pangeran Hong Zima setuju yang dikatakan istrinya sekarang ia harus fokus dengan pengangkatan Raja yang akan di selenggarakan beberapa hari lagi, Chu Hua sudah tak sabar menjadi Ratu di kerajaan Hong impiannya sebentar lagi akan terwujud.
Tuan Xi dan lainnya memutuskan istirahat sebentar di sebuah desa tak jauh dari hutan mati kerajaan Han masih jauh dari sana.
" Sebaiknya kita berhenti di kedai makanan mereka juga butuh makana" kata tuan Xi. Mereka mengikat kuda dan kereta.
" Selamat datang tuan, nyonya ingin pesan apa? " Pelayan, bahagia melihat rombongan tuan Xi dan nyonya Nier.
Para pengunjung saling berbisik melihat rombongan Tuan Xi. Satu jam kemudian mereka kembali melanjutkan perjalanan ke bukit Sea.
Tiga hari telah berlalu mereka tiba di lokasi. " Yang mulia" kata Jia Hao.
" Kita turun dan bawa semua barang" kata tuan Xi. Mereka mulai mengeluarkan barang dalam kereta termasuk.
" Tuan" kata nyonya Nier, turun bersama putri dan putranya.
" Ayah kita tinggal disini tapi dimana rumahnya? " tuan muda Lier.
Nyonya Nier dan tuan Xi senyum mereka beruntung kedua anaknya tak ada yang mengeluh.
" Tuan muda ayo bantu paman untuk sementara kita bisa tinggal di tenda" kata Jia Hao, Shaiming dan prajurit mulai menurunkan beberapa tenda dalam kereta. Sebelum pergi Jia Hao dan beberapa prajurit membeli puluhan tenda.
" Pergilah" kata tuan Xi. tuan muda Lier senang dan mengikuti Jia Hao.
" Sayang gimana Zelia? " tuan Xi melihat putrinya tenang di gendongan Meya.
" Selama perjalanan ia sangat tenang tuanku" kata nyonya Nier.
" Setelah tenda selesai kalian bisa menyiapkan makanan" kata tuan Xi.
" Baik tuan" seru pelayan. Mereka mulai membangun tenda untuk mereka tinggali untuk sementara sebelum membangun rumah membutuhkan waktu.