
Komandan Liang Yang dan prajurit terus mencari tuan Xi dan kedua anaknya saat mendengar suara pertarungan, Komandan Liang Yang dan prajurit terkejut melihat tuan Xi terluka dan Rusa tersebut mencoba mendekati Zelia.
Suara mereka tertahan tak bisa berbicara saat Rusa menatap Zelia tak sampai disitu mereka tak percaya kalau Rusa itu pergi.
" Tuan, kau bawa tuan dan nona kecil" kata komandan Liang Yang, menggendong tuan Xi di atas punggungnya.
" Ayo tuan muda " salah satu prajurit memegang Lier dan satunya menggendong Zelia.
Di tempat Jia Hao dan kedua prajurit yang menunggu menjadi khawatir karena hari mulai gelap.
" Kalian tunggu di sini aku akan mencari mereka" kata Jia Hao, tak sabar menunggu lagi.
" Tuan" salah satu prajurit melihat kedatangan tuan Xi dan lainnya tetapi.
Jia Hao mendekat dan bertanya. " Apa yang terjadi? " Jia Hao. khawatir melihat keadaan atasannya.
" Nanti aku cerita lebih baik kita kembali" kata Shaiming. Jia Hao menangguk melihat Lier dan Zelia sudah tidur di gendongan prajurit.
Mereka mengambil bawaan untuk kembali ke pemukiman sedangkan nyonya Nier khawatir karna suami dan anaknya belum juga kembali.
Meya yang melihat keadaan nyonya Nier ikut khawatir apalagi ia belum makan sejak kepergian tuan Xi dan anak-anaknya.
" Nyonya, makanlah sejak tadi anda belum makan" Meya bawakan bubur untuknya. Kepala pelayan dan lainnya hanya bisa membuat bubur dari bahan yang ada.
" Meya kau bawa saja itu aku tak lapar" kata nyonya Nier, matanya terus memandang kemana suami dan lainnya pergi.
" Tapi nonya" kata Meya, Dia menundukan kepalanya takut melihat majikannya marah.
" Putra dan putriku pasti lapar saat ini bagaimana aku bisa makan" kata Nyonya Nier, sedih. Meya hanya mendengarkannya.
" Tuan apa yang terjadi? " Nyonya Nier, tuan Xu sudah sadar dari pingsannya.
" Istriku" kata Tuan Xi. dengan matanya meyakinkan kalau ia baik saja.
" Meya panggil tabib" Nyonya Nier, membantu suaminya menuju tenda. Lier dan Zelia sudah dibawa ke dalam tenda oleh pelayan lainmya.
" Tabib gimana? " Nyonya Nier, takutnya suaminya kembali tak sadarkan diri.
" Nyonya, tuan hanya terluka luar dan saya sudah memberinya obat" kata tabib, pamit menuju tendanya. Nyonya Nier merasa lega.
Bahan dan kelinci yang didapatkan oleh mereka segera dibawa menuju dapur untuk di olah.
" Kepala pelayan sepertinya ini sampai untuk esok" kata pelayan.
" Ya sebaiknya malam ini kita buat ubi rebus dan kelinci untuk esok pagi" kata kepala pelayan. Dia menggunakan elemen es untuk mempertahankan kelinci agar tak amis.
Saat ini Shaiming, komandan Liang Yang dan Jia Hao duduk memperhatikan prajurit membuat beberapa api unggun agar malam ini terang dan tak terasa dingin.
" Sebenarmya apa yang terjadi komandan? " Jia Hao masih penasaran dengan yang terjadi.
Shaiming mendengar yang dikatakan komandan Liang Yang.
" Jadi maksudmu Rusa tersebut ingin melukai nona kecil tapi tiba saja Rusa tersebut kabur" kata Jia Hao, merasa heran
" Apa ini ada hubungannya dengan hari kelahiran nona kecil, mungkin nona kecil akan melakukan perubahan yang besar terhadap negara Can dan mengembalikan apa yang menjadi haknya" kata Shaiming. Semua mata tertuju pada Shaiming.
Sesuai ramalan jika seorang putri seorang raja lahir disertai dengan petir menyambar dia akan memiki takdir yang besar.