
Komandan beserta bawahannya melawan Prangeran Hong Zima dan pasukannya.
" Pangeran hentikan semuanya ini " kata komanda.
" Hentikan kau bilang ini kesempatanku untuk memperebut tahta, aku sudah merencanakan hal ini bertahun lama kali ini pasti berhasil" kata pangeran Hong Zima.
" Aku takkan membiarkan kalian melewati lebih dari ini" kata komandan, Pangeran Hong Zima senyum dan menyerang komandan.
Sedangkan Jia Hao sudah menyampaikan kepada Raja.
" Ternyata dia tak pernah mengerti aku tak ingin menjadi raja, jika dia meminta dengan baik aku pasti menyerahkannya" kata Hong Xi, dengan dingin.
" Tapi Raja terdahulu yang memerintahkan yang mulia untuk menjadi Raja sedangkan beliau hanya putra seorang selir" kata Hong Zima, merasa kasihan terhadap atasannya memang hubungan mereka tidak seperti saudara lain tapi sejak pengangkatan raja baru Hong Zima semakin membencinya ia sangat menginginkan tahta.
" Siapkan semua prajurit kita jangan biarkan mereka sampai di istana" kata Raja Hong Xi.
Raja Hong Xi memimpin pasukan untuk menghadapi saudara satu ayahnya itu sedangkan Ratu belum mengetahuinya.
Di lokasi penyerangkan.
Pasukan komandan sudah banyak tewas itu membuat pangeran Hong Zima semangat.
" Sebaiknya kalian menyerah saja lihat sekitar kalian sudah banyak korban " kata pangeran Hong Zima.
" Aku takkan membiarkannmu, pangeran" teriak komandan, karena tenaganya terkuras melawan Raja Hong Zima apalagi ia mendapatkan banyak luka hingga ia jatuh tak sadarkan diri.
" Bodoh, ayo kita ke istana kakakku pasti sudah menunggu" kata pangeran Hong Zima, mereka menuju istana masyarakat ketakutan melihat mereka sampai tak berani untuk keluar apalagi suara petir saling sahut.
Dalam istana
Kediaman Naga tepatnya dimana Ratu dan Raja tinggal perasaanya menjadi gelisah.
" Yang muia" kata Meya, ketakutan melihat wajah Ratu pucat.
" Meya dimana Pangeran? " Ratu.
" Pangeran di kamarnya Ratu" kata Meya, setelah melihat adiknya lahir ia langsung ke kamarnya katanya ia ingin memberi hadiah untuk adik kecilnya.
" Panggil dia kesini setelah itu bereskan semua barang dan perhiasan, uang apa pun itu, entah kenapa perasaanku ada sesuatu" kata Ratu memegang dadanya.
" Cepatah Meya, Meya dimana Raja?" Ratu, sebelum Meya pergi.
" Tadi saya melihat Raja dan pengawal bayangannya pergi, yang mulia" seru Meya. Ratu pejamkan matanya segera meminta Meya menjemut pangeran.
Di luar istana.
Pasukan pangeran Hong Zima dan Raja Hong Xi sudah berhadapan.
" Halo kakaku tersayang sudah lama kita tak jumpa kali ini aku pasti bisa merebut tahta dan istanamu" ejek Hong Zima.
" Zima hentikan semuanya ini jika kamu menginginkan tahta dan istana ini aku akan menyerahkannya" kata Raja Hong Xi.
" Kau kira aku menginginkan rasa kasihmu itu, cih aku akan mrnghabisimu, Hong Xi" teriak Hong Zima, mengeluarkan pedangnya begitu pula Raja.
Duar
Kedua pasukan tak mau mengalah Raja Hong Xi yang sudah mencapai kultivasi Alam langit tingkat 8 tak sebanding dengan Hong Zima mencapai Alam Bumi tingkat 8 tetapi dengan kelicikannya ia mampu mengelabui Raja Hong Xi yang sedang memikirkan keluarganya.
" Aku dengar Ratu sedang melahirkan gimana kalau aku menculik bayi kalian itu" kata pangeran Hong Xi menghasut Raja.
" Aku takkan membiarkannya" teriak Raja.
Duar
Raja mengeluarkan ilmu Air yang dimilikinya. " Hahaha hanya ini yang kau miliki lihat aku sudah memperlajari ilmu ini dengan keras hanya untuk mengalahkanmu.
Pangeran Hong Xi mengeluarkan petir ke arah Raja Hong Xi hingga.
Duar Raja Hong Xi terkena pukulannya hingga mengeluarkan darah
Uhuk uhuk uhuk.
" Yang mulia" teriak jia Hao, ia tak bisa membantunya karena Qianfan tak melepaskannya.
" Aku harus memikirkan sesuatu" Jia Hao segera mengeluarkan elemen kayu yang ia miliki.
Melihat itu Jia Hao segera melarikan diri bersama Raja tak lupa ia telepati pada prajurit yang tersisa untuk kembali ke istana.