
Hutan mati berada tak jauh dari istana merupakan batasan dengan negara lainnya, hutan mati sering di gunakan oleh para kultivator untuk melatih diri.
Banyak juga hewan Spirit beast melewatinya walau hanya tingkat rendah dan menengah.
Prajurit pangeran Hong Zima mengejar dan menangkap mereka sebelum memasuki hutan mati.
" Komandan itu mereka " tunjuk prajurit melihat Ratu dan lari menuju hutan.
" Kalian cepat kawal Ratu masuk ke dalam hutan mereka berhasil mengejar kita" kata Jia Hao.
Prajurit lainnya mengawal Ratu masuk ke hutan sedangkan Shaiming dan Jia Hao mencoba mengawasi mereka.
" Kita harus cepat " kata Jia Hao. Dia dan Shaiming mengeluarkan elememnya Kayu dan Api hingga menyebabkan kebakaran besar.
Prajurit pangeran Hong Zima marah besar melihat api yang besar di hadapan mereka.
" Sekarang apa yang harus kita lakukan walaupun kita menyusul takkan ketemu karena hutan mati ini sangat luas.
" Sebaiknya kita kembali biar Pangeran memutuskannya" kata komandan, mereka kembali ke istana memberitahu pangeran Hong Zima.
Sedangkan Jia Hao dan Shaiming memantau mereka dari atas pohon merasa lega melihat mereka pergi.
" Kamu pergilah temuilah Ratu aku akan mencari tabib untuk memeriksa Raja" kata Jia Hao, mengkhawatirkan atasannya.
" Mereka pasti melihatmu" kata Shaiming.
" Jika kita tak mencobanya Raja semakin kritis aku akan hati-hati temuilah Ratu" kata Jia Hao. Shaiming tak ada pilihan lain benar di katakan Jia Hao akhirmya ia menyusul Ratu dan lainnya.
Jia Hao pergi ke desa dekat hutan mati agar tidak diketahui pihak lawan.
" Ratu itu tuan Shaiming" kata prajurit. Ratu sedang merawat Raja yang tak sadarkan diri sedangkan pangeran kecil di pangkuan kasim dan putri gendong Meya.
" Hormat yang mulia Ratu" kata Shaiming, sudah berada di hadapannya .
" Kenapa kamu sendirian Shaiming? " Ratu
" Mohon maaf Ratu setelah menghalangi mereka tuan Jia Hao mencari tabib memeriksa Raja" kata Shaiming.
" Mohon maaf yang mulia Ratu kami menemukan sebuah goa tak jauh dari sini kita bisa merawat yang mulia Raja dan komandan disana" kata prajurit.
Ratu memikirkan itu memang baik untuk mereka saat ini karena merasa lelah tapi ia juga merasa takut jika prajurit mengejar mereka kembali.
" Yang mulia " panggil Meya, melihat Ratu Cheng ni diam.
" Jika yang mulia takut saya dan prajurit yang tidak terluka akan berjaga" kata Shaiming.
" Yang mulia, Raja, pangeran dan putri membutuhkan tempat untuk istirahat malam ini" kata Meya.
" Baiklah kita ke goa, komandan masih bisa berjalan" kata Ratu Cheng ni. Komandan Hu baru saja sadar.
" Ya yang mulia saya bisa kita harus mencari tempat untuk malam ini" kata komandan Hu.
Sebelum pergi Shaiming meminta prajurit untuk menunggu Jia Hao.
Jia Hao terus mencari keberadaan tabib. " Bukankah itu tabib istana sepertinya ia sedang mengobati seseorang" kata Jia Hao, menunggu tabib menyelesaikan pekerjaan.
" Saya akan memberikan resep " kata tabib, memberikan resep pada keluarga pasien.
Melihat tabib pamit Jia Hao segera mendekatinya.
" Siapa? " tabib, melihat orang menutupi wajahnya dengan kain hitam membuatnya takut.
" Tuan Jia Hao" kata tabib, setelah memperlihatan wajahnya dan membuat tabib heran.
" Kenapa anda menutupi wajah anda " kata tabib.
" Tabib nanti aku beritahu ikutlah denganku disini tak aman" kata Jia Hao.
Tabib mengikuti Jia Hao setelah memastikan tempat mereka aman Jia Hao menceritakan semuanya.
" Jadi pangeran Hong Zima melakukan pemberontakan dan Raja terluka" kata tabib. Jia Hao menanggukan kepalanya.
Setelah mengambil barangnya tabib mengikuti Jia Hao ke hutan mati