Hong Zelia

Hong Zelia
Hutan Lay



Hutan Lay


Terletak tak jauh dari bukit Sea harus melewati pepohonan yang tumbuh sekitarnya hutan Lay merupakan hutan surga bagi para kultivator tapi sudah bertahun lamanya tak ada yang berani mendatanginya entah kenapa.


Seakan hutan Lay menolak kedatangan mereka yang ingin berburu binatang spiritual atau mencari bahan obat, tapi berbeda dengan kedatangan Hong Zelia dan keluarganya mereka seakan diterima.


" Tuan" kata nyonya Nier, melihat suaminya berada di dapur.


" Istriku " kata tuan Xi. Nyonya Nier menceritakan semuanya.


" Sekarang hamba akan mencari sekitar sini tuan mungkin kita menemukan sesuatu" kata Shaiming.


" Bawa beberapa prajurit bersamamu kita tak tahu apa yang ada di balik perpohonan ini" kata tuan Xi.


Mereka meninggalkan dapur nyonya Xi meminta membuat masakan dari sisa bahan tersebut sebelum itu juga rusak, ketika mereka menuju tempat prajurit kumpul Maya datang bersama tuan dan nona kecil.


" Ayahanda, ibunda" kata tuan muda Lier. Mereka berhenti melihat ketiganya mendekat.


Tuan dan nyonya senyum dan mengambil putrinya dari Meya. " Memangnya belajar Lier sudah selesai? " Nyonya Nier, mengelus kepala putranya.


" Sudah ibunda, adik menangis makanya aku minta Meya membawanya dan menemui ibunda" kata Lier.


" Cup cup sayang maafkan bunda meninggalkan kalian terlalu lama" kata Nyonya Nier, mencium pipi putrinya nona muda Zelia tersenyum.


" Kalian kembalilah ke dalam tenda" kata tuan Xi, awalnya nyonya Nier akan kembali ke tenda dan mengajak lainnya tapi tiba saja Zelia menangis dan merentangkan tangannya pada tuan Xi.


" Sepertinya putri ayah ingin ikut" kata tuan Xi. tiba saja Zelia tawa.


" Tuanku" Nyonya Nier khawatir.


" Istriku jangan khawatir aku akan menjaganya" kata tuan Xi, membawa Zelia dalam pangkuannya.


" Ayah Lier ingin ikut" .Mereka bersama pergi ke arah perpohonan sedangkan nyonya Nier hanya bisa berdoa demi keselamatan mereka.


" Baik tuan" kata Jia Hao, memegang tangan kecil tuan muda Lier.


Tuan Xi, komandan Liang Yang, Jia Hao bersama lima prajurit mencari bahan makanan sedangkan Shaiming menjaga nyonya Nier karena dia pengawal bayangannya.


Mereka menelusuri perpohonan tapi belum juga menemukan sesuatu.


" Tuan kita sudah seperempat jam kita mencari tapi tak ada satu pun dan di depan kita adalah hutan. Apa kita memasukinya? " Komandan Liang Yang.


Tuan Xi merasa bingung jika dia tak menemukan sesuatu maka mereka tak punya makanan untuk esok, tiba saja tangan mungil Zelia menunjuk salah satu pohon tak jauh dari mereka.


" Ayah sepeetinya adik ingin menunjuk sesuatu" kata Lier, sejak tadi terus memperhatikan adiknya.


Tuan Xi menoleh ke arah putrinya dapat terlihat mata dan tangannya menunjuk ke arah samping kiri.


" Kalian periksa pohon disana" kata tuan Xi, entah alasan apa ia percaya pada putrinya.


Komandan dan prajurit yang ikut memeriksa tiap pohon di sekitar mereka Jia Hao melindungi mereka jika ada hewan buas keluar dari hutan depan.


" Tuan lihat apa yang saya temukan" salah satu prajurit berteriak mendekati tuan Xi.


" Kenapa kau berteriak " kata Jia Hao, menatapnya tajam.


" Maaf tuan hanya saja saya senang lihat apa yang saya temukan" kata prajurit, memperlihatan ubi di tangannya.


" Ayo cari lagi siapa tahu masih ada " kata tuan Xi, bahagia prajurit meletakan ubi di keranjang tak lama prajurit lainnya menemukannya hingga keranjang terisi penuh.


" Tuan saya menemukan sayuran liar" kata Komandan Liang Yang.


" Sayang ayah tak menyangka kamu menolong kita" kata tuan Xi, pada putrinya Zelia yang tersenyum.


" Paman"