
Bel istirahat baru saja berbunyi, Qharesa dkk Merapihkan buku mereka bertiga. Ketiga gadis itu berjalan keluar kelas menuju kantin. Koridor yang sangat ramai sekali sekarang, banyak pasang mata yang menatap ke arah ketiga gadis itu dengan sinis dan penuh kebencian.
Lebih tepatnya para kaum hawa lah yang menatap mereka dengan sinis.
Qharesa hanya diam tanpa membuka suara, beda cerita dengan karalyn dan kalea yang sudah gatel ingin menjukidin mereka semua satu persatu di depan umum sekarang. Cuman sahabat nya selalu menahan dia agar tidak kepancing emosi dan membuat kegaduhan di sekolah, Yang berujung ke bk nantinya
'Duhh cewek gatel lewat gays'
'Cie yang caper ke Elkairo dkk'
'Duhh mbak caper lewat'
'Paling juga mau manfaatin Elkairo dkk'
'Iya lah wkwk'
'Gak mampu ya Qhar, sampe ngedeketin Elkairo'
'Kenapa gak jual diri aja'
'Mau berapa'
'Nanti gw beli deh harga diri lo'
Qharesa memberhentikan langkah nya karna mendengar ucapan terakhir, Qharesa meresa di tindas dan di rendahkan oleh perkataan terakhir yang membuat nya marah. Ia menghampiri seorang gadis yang baru saja bilang ingin membeli harga dirinya. Qharesa menatap dia dengan sorot mata yang tajam.
"Ulang kata kata lo!" ucap Qharesa datar.
Gadis itu tersenyum mengejek "Berapa harga diri lo? 100jt cukup kali ya" ejek dia.
Plakk
"BERANI LO TAMPAR GW HAH? LO NGGAK TAU GW SIAPA HAH?!"
Sedangkan Qharesa tertawa sinis "Oktaviani Pratama, anak pertama dan keluarga pertama yang dulu orang terkaya nomer 5 di asia, tapi sekarang udah bangkrut dan sekarang anak seorang pelayan hmm?" ucap Qharesa dengan mengeluarkan smirk.
Oktaviani langsung menjadi gugup mendengar ucapan Qharesa, pasalnya semua ucapan gadis itu benar semua. Keluarga nya dulu adalah orang terkaya nomor 5 di Asia, tapi sayang sekarang keluarga nya telah bangkrut dan kedua orang tua nya bekerja sebagai pelayan di resto milik keluarga Alexius.
Qharesa mengeluarkan smirk nya "Kenapa diam? Bener kan? Udah jadi miskin sok sok mau beli harga diri gw, cih" sinis Qharesa.
"Kebalik kali mbak, mungkin gw yang beli harga diri lo! Seorang anak pelayan, ingin membeli harga diri anak tunggal kaya raya dari keluarga Alexius, orang terkaya nomer 2 di Asia? Emang mampu hmm?" lanjut Qharesa dengan sinis, gadis itu mendekati oktaviani lalu membisikkan sesuatu yang membuatnya gugup dan takut sekarang.
Tanpa mengecupkan sepatah kata Oktaviani langsung pergi dari koridor karna malu. Qharesa dkk pun kembali melanjutkan langkah mereka menuju kantin yang sempet tertunda karna perdebatan kecil tadi.
Kalea merangkul pundak sahabat nya "Nggak sia sia lo jadi sahabat gw, sifat julid gw turun jugu akhirnya, haha" kata Kalea dengan bangga.
"Jangan salah kal orang gw yang ngajarin" ucap Karalyn dengan tawanya.
Ketiga gadis itu memasuki area kantin yang sudah sangat ramai. Qharesa dkk memilih duduk di pojok kantin.
Kali ini Qharesa lah yang memesan makanan, gadis itu menatap Karalyn dan kalea yang sedang bermain ponsel "kayak biasa?" tanya Qharesa.
"Iya kek biasa aja" jawab keduanya.
Qharesa pun pergi menjuju stan makanan favorit mereka bertiga "Teh, batagor nya tiga ya, sama jus alpukat tiga" ucap Qharesa lembut.
"Siap dek" gadis itu berjalan kembali menuju meja nya, karna makanan nya akan di bawa Oleh penjual nya langsung ke meja mereka.
Brukk