
Sedangkan di tempat lain Elkairo baru saja tiba di rumah pohon yang tidak banyak orang tau. Para sahabat nya yang sudah datang langsung duduk disana.
Elkairo duduk di samping Anthaleo yang sedang mengotak atik laptop "Gimana?"
"Ternyata orang itu sudah melakukan aksi nya, sudah 2 siswi yang hilang hari ini" kata Anthaleo dengan memberitahu Elkairo.
Elkairo menaikan alis nya "Ada jejak? Siswi kelas mana yang di culik?" tanya Elkairo.
"Satu anak kelas 10, satu lagi kelas 11" jawab Anthaleo.
Elkairo menatap sahabatnya "Lo semua pake earphone ini" pria itu memberikan sebuah earphone kepada para sahabat nya satu persatu.
"Anthaleo, terbangkan dron untuk mantau sekolah dari atas, alfarezi cek sekolah bagain barat, gibran, leon bagian utara, Alvaro, fian bagian selatan dan gw bakal pergi ke bagian timur" jelas Elkairo. Para sahabat nya mengangguk pelan saja dan setuju dengan perkataan yang di ucapkan oleh leader mereka.
Elkairo menatap Anthaleo "Lo tetep stay disini, jika ada hal yang janggal lo bisa kasih tau lewat earphone" ucap elkairo.
Anthaleo berdehem pelan dan langsung menerbangkan dron kecil miliknya.
Ke enam pria itu langsung turun dari rumah pohon. Mereka ber enam berpencar untuk mencari jejak atau petunjuk tentang penculikan para gadis yang mungkin masih ada di sekitar sekolah Neo Dream High School sekarang.
Sedangkan anthaleo tetap di rumah pohon untuk menjaga keadaan lewat atas. Pria itu menatap penerbangan drone dengan teliti dan tajam, agar tidak ada yang lolos dari pengawasan nya sedikit pun.
Gibran dan leon pergi ke samping sekolah dengan menatap sekitarnya. Gibran dan leon mengumpet di balik baru besar lalu menatap sekitar sekolah yang sangat sepi seperti tidak ada tanda atau jejak disini.
Fokus perhatian sekitar dan tiba tiba ada seorang pria keluar dari satu ruangan yang jarang di datangin oleh orang orang.
Leon mengaktifkan earphone nya "Cek, woyy ada info" bisik Leon.
Elkairo mendengar ucapan Leon dari earphone miliknya yang terpasang di telinga pria itu "Kenapa? Ada hal yang mencurigakan?" tanya Elkairo di sebrang sana.
"Ada pria keluar dari ruangan samping sekolah, dia pergi ke arah selatan" ucap gibran yang memberikan info.
Alvaro dan gibran yang mendengar info tersebut langsung menatap kanan kirinya, dan benar saja ada seorang pria berjalan dengan memakai masker hitam.
"Dia lewat sini" ucap fian pelan.
Kedua pria itu langsung mengikuti orang itu secara diam diam dan berhati hati agar tidak ketahuan jika dirinya sedang mengikuti langkah orang tersebut.
Krek
Alvaro yang tidak sengaja menginjak sebuah kaleng langsung bersembunyi ke balik batu besar, lalu di susul fian. Pria itu menatap sekitar nya dan merasa ada yang mengawasinya.
Di balik batu Alvaro berdoa agar tidak ketahuan. Pria itu sekilas melihat orang yang tadi berjalan begitu saja.
Di rumah pohon Anthaleo menatap drone nya "Elkairo, ada 3 siswa di parkiran, mereka seperti sedang menunggu seseorang" ucap Anthaleo dengan melihat 3 orang siswa dari drone.
Elkairo yang mendengar info itu langsung lari kearah parkiran dengan cepat "Alfarezi, pantau mereka dari kejauhan dan dengerin semua percakapan mereka" kata Elkairo.
"Siap" Alfarezi langsung naik ke atas pohon beringin dan bersembunyi di antara daun yang lebat.
Dari atas alfarezi melihat tiga orang pria yang sedang duduk di kursi panjang yang memang disediakan dan ditaruh di parkiran.
Tidak lama seorang pria dengan menggunakan masker datang. Mereka langsung membicarakan hal yang tidak dapat di dengar oleh Alfarezi.
"Pake suara semut apa ye? Kecil banget anjing" gumam alfarezi.
Samar Samar alfarezi mendengar percakapan mereka "Hati hati di sini ada geng Blackvernos, jangan sampe mereka tau misi kita ini" ucap pria itu.
Alfarezi mengeluarkan senyuman tengil nya. "Telat bego! Kita udah tau duluan" gumam Alfarezi. "Cupu sih, masa gini doang langsung ketahuan sama gw and the genk sih" sambung pri itu dengan nada sombong.
Pria bermasker hitam itu pun pergi dari parkiran dengan cepat. Alfarezi melihat dia keluar dari area sekolah dengan memanjat pagar.
Setelah pria itu pergi, alfarezi langsung turun dari atas pohon "Woyy, lo semua lagi ngapain disini? Bukannya masuk juga" celetuk Alfarezi.
Ketiga pria itu kaget melihat kedatangan Alfarezi, meraka takut jika anggota Blackvernos tau percakapan mereka yang barusan saja mereka obrolkan dengan seseorang.
"Sombong anjing, gw tanya juga" lanjut Alfarezi.
Bugh
Bugh
Bugh
Baru saja mereka ingin melarikan diri tapi langsung di tendang oleh Elkairo yang baru datang.
Elkairo menatap pria itu datar "Ngapain lo semua disini?" tanya Elkairo datar.
"K--kita nggak n--ngapa ngapain El" Gugup salah satu pria itu.
"Si anjing giliran si El yang tanya baru di jawab" gumam Alfarezi
Elkairo menaikan sebelah alis nya lalu menatap mereka tajam seperti silet. "Bolos?" tebak elkairo.
Mereka mengangguk cepat karna takut dengn tatapan yang di layangkan oleh Elkairo yang sangat tajam dan aura yang sangat mengerikan.
"Ohh, yaudah, lain kali kalau bolos jangan disini nanti ketahuan guru BK" ucap Elkairo tajam.
Pria itu langsung meninggalkan area parkiran yang di ikutin dengan Alfarezi yang menatap sahabat nya dengan bingung. Kenapa Elkairo membiarkan ketiga pria tadi bebas begitu saja? Apa yang ada di pikiran pria itu sekarang?
Dia sengaja tidak langsung mendesak mereka, Elkairo sudah memiliki rencana yang lebih cerdik dari sebelum nya.
Elkairo mengaktifkan earphone nya "Balik ke kelas, pulang sekolah ke markas" titah Elkairo.
£
Qharesa duduk di meja dengan membaca novel. Begitu pun dengn Karalyn dan kalea yang asik sama novel.
Ketiga gadis itu kalau sudah bertemu novel maka jangan harap ingat waktu, bahkan sudah terhitung mereka bolos dua mata pelajaran.
Sebentar lagi istirahat, tapi ketiga gadis itu sama sekali dan tidak bosen di perpustakaan bertiga saja tanpa ada petugas yang menjaga perpustakaan dan tidak ada siswa maupun guru yang datang ke perpus.
Kring kring kring
Bel istirahat bunyi dengan sangat nyaring membuat kegiatan ketiga gadis itu sedikit terganggu dengan bunyinya bel istirahat pertama yang berbunyi
Qharesa mantap ke arah temen temen nya "kuy, ke kantin" ajak Qharesa dengan menutup novel nya.
Kedua temen nya menaggguk pelan dan mereke menaruh kembali novel nya ke tempat semula. Ketiga gadis itu keluar dari perpustakaan, mereka berjalan bersama ke kantin.
Qharesa punya ide jahil "Kita lomba lari gimana? Yang kalah harus pesen makanan selama seminggu" tantang Qharesa.
Karalyn dan kalea menganggukkan kepalanya "Siapa takut" ucap kedua nya serempak. Mereka pun mengambil posisi untuk berlari
"Hana"
"Dul"
Qharesa langsung lari begitu saja meninggal kan kedua temen nya "Set"
"WOYY CURANG LO" teriak karalyn dan kalea.
Qharesa tertawa pelan dan langsung lari dengan kencang di Koridor. Banyak yang menatap mereka dengan bingung kenapa berlarian di Koridor yang lagi rame seperti ini? Apa mereka di kejar setan di siang hari? Atau di kejar nenek lampir sekolah.
Koridor yang sangat ramai pun menatap ketiga gadis yang lari di sepanjang Koridor. Qharesa menatap ke arah belakang dan melihat kedua temen nya yang sedikit jauh darinya "lama kalian" ledek gadis itu.
Kalea dan karalyn mempercepat lariannya dengan lebih cepat.
Karna terlalu cepat berlari Qharesa tidak pokus pada jalan nya, yang di depan nya ada Elkairo dkk yang sedang berjalan menuju kantin.
Brukk
Qharesa merasa menabrak sebuah dada bidang orang. Gadis itu menutup matanya tapi tidak merasa sakit apapun di tubuhnya.
Ia membuka matanya dan melihat wajah datar Elkairo. Qharesa langsung berdiri dan menggaruk tengkuk yang tidak gatal karna tidak sengaja menabrak kakak kelas nya. "Sorry, gak sengaja" ucap Qharesa.
Elkairo hanya berdehem pelan dan menatap gadis itu.
Tibalah karalyn dan kalea dengan ngos ngosan "Curang lo" Kesel karalyn dengan memukul pundak sahabat nya dengan kencang.
Qharesa hanya terkekeh pelan saja dan tersenyum tanpa dosa "Hehehe sorry"
"Ngengeh lo" kesel kalea yang masih ngos ngosan.
Ketujuh anggota Blackvernos menatap tiga gadis itu bingung.
"Kenapa lo berdua?" tanya gibran.
Qharesa menggeleng pelan "Gapapa kak, kita cuman lomba lari aja" sedangkan Ketujuh pria itu mengangguk paham saja. Pantes saja Qharesa dan kedua temen nya lari lari di Koridor, ternyata sedang lomba lari toh.
Karalyn menyenggol lengan Qharesa "Sstt, bilang aja sekarang sama alfarezi" Qharesa malah balik menyenggol lengan Kalea.
"Sssttt, gw bilang sekarang?" tanya Qharesa pada kalea dengan berbisik.
"Hah? Serius?" kata Kalea yang sedikit tekejut.
"DUH KALEA GW KAN NANYA BILANG SEKARANG APA KAGAK?!" pekik Qharesa geram.
Kalea memutar bola matanya malas. "Berisik Qhar, terserah lo"
Qharesa menatap ke arah tujuh laki laki yang masih menatap ke arah mereka bertiga dan masih setia berdiri di Koridor. "Kak Alfarezi, katanya kalea suka sama kakak" kata Qharesa dengan muka polos nya sembari menunjuk Anthaleo.
Bola mata Kalea melotot, bukan karna malu, tapi orang yang di tunjuk nya adalah Anthaleo. Si tangan kanan dari geng Blackvernos, bukan mata mata Blackvernos.
Karalyn mencubit lengan temennya "Heh, yang lo tunjuk itu Anthaleo, bukan Alfarezi astaga" bisik karalyn dengan kesal.
Qharesa kaget dan langsung salah tingkah "Serius? Kok Kalea gak bilang gw sih?" kata Qharesa.
"Kok salah gw?" ucap Kalea.
"Iyalah, kan lo minta gw buat com--mmpphh" mulut nya langsung dibekap oleh Kalea dengan telapak tangan gadis itu.
Kalea tersenyum tipis "Maaf ya kak, biasa si Qharesa kehabisan obat" ucap Kalea.
Qharesa melotot mendengar perkataan sahabat nya "Mphhh"
Kalea menatap sinis sahabat nya "Diem lo!" ketus Kalea.
"Kalau gitu permisi ya kak" ucap Karalyn yang langsung pergi dari hadapan anggota Blackvernos disusul kalea dan Qharesa.
Elkairo dan para sahabat nya menatap meraka dengan bingung "Si kalea suka sama lo tuh" ucap fian dengan menyenggol Anthaleo.
Leon memukul kepala fian "Lo budeg? Alfarezi bukan Anthaleo anjirr" ucap Leon.
"Lah tapi dia nunjuk Anthaleo, kan" celetuk Alvaro
Anthaleo dan alfarezi menaikan bahunya, keduanya sama sama tidak peduli dengan kejadian barusan "Nggak tau"