H-07

H-07
H7 - 07



*** Flashback ***


 


 


"Aaaahhhh." Sopir itu mendesah panjang saat dia mencapai puncaknya. Tubuh kekarnya yang bertato ambruk diatas tubuh Yesinta yang telanjang.


 


 


"Selain tubuhmu yang indah ini, milikmu juga sangat sempit dan basah. Aku menyukainya, terima kasih."


 


 


Sementara Yesinta menangis tanpa suara.


 


 


"Jangan berlebihan! Kau bahkan tidak perawan, tapi kau terlihat seperti habis diperawani olehku. Jalang murahan 'kok nangis."


 


 


*** End Flashback ***


 


 


Yesinta terlihat murung. Dia sedang berada di dalam kamar mandi tanpa busana. Ada banyak tanda kemerahan di sekitar leher dan dadanya. Tampaknya gadis itu ingin mandi, tadi sekelebat ingatan itu kembali berputar di kepalanya.


 


 


Air matanya menetes membasahi pipinya.


 


 


Sementara itu, Zee sedang menelepon Emma dan menanyakan kabar ayahnya.


 


 


"Keadaan Tuan Besar membaik apalagi beberapa hari yang lalu Tuan Yevan pulang dari Jepang dan menemui Tuan besar," kata Emma di seberang sana.


 


 


Zee mengernyit. Kak Yevan kembali ke Indonesia tanpa mengabariku?


 


 


Setelah berbincang dengan Emma, Zee menghubungi kakaknya.


 


 


"Halo, adikku sayang. Apa jaringannya jelek di sana?"


 


 


"Tentu tidak, aku memakai kartu sultan," gerutu Zee.


 


 


"Oohhh, begitu kah?"


 


 


"Kakak sudah pulang?"


 


 


"Kau tahu dari mana?"


 


 


Zee mengerutkan dahinya. "Kenapa Kakak tidak bilang?"


 


 


"Tadinya aku ingin memberikan kejutan untukmu. Aku juga ingin datang ke sana untuk menemuimu dan jalang itu."


 


 


Entah kenapa, Zee merasa kurang senang saat Yevan menyebut Yesinta jalang. "Dia tidak seburuk itu, Kak."


 


 


"Eits? Ada apa denganmu? Tumben kau membelanya? Jangan bilang kalau kau mulai akrab dengannya. Kau tahu 'kan keluarga kita hancur gara-gara jalang tua ibunya itu?"


 


 


Zee tidak merespon.


 


 


"Apa adikku sudah berubah?"


 


 


"Tidak, tidak." Zee menggeleng, seolah Yevan bisa melihat gelengannya.


 


 


"Selesaikan misimu, kita perlu berkumpul untuk makan malam."


 


 


"Siap!"


 


 


Panggilan berakhir.


 


 


Keesokan harinya, Zee bekerja sambil memperhatikan ke sekeliling. Dia melihat sikap para atasan yang bertindak sewenang-wenang pada para karyawan yang melakukan kesalahan. Padahal mereka hanya melakukan kesalahan kecil.


 


 


Selain umpatan kasar, para atasan kadang bersikap berlebihan jika baju yang dijahit tidak sesuai sample.


 


 


Zee benar-benar tidak tahan melihat itu, tapi apa yang bisa dia perbuat saat menyamar begini?


 


 


Setelah mendapatkan cukup bukti, aku akan menangkap kalian semua, Bangsat!


 


 


 


 


Yuda menghampiri kerumunan itu. "Ada apa lagi ini? Kau keguguran? Ya ampun, kau tidak bisa menjaga bayimu dengan baik. Angkat dia."


 


 


Beberapa penjahit pria mengangkat tubuh wanita hamil itu.


 


 


Zee terlihat iba. Air matanya berlinangan. Tatapannya masih tertuju ke genangan darah di lantai.


 


 


"Kalian lihat, dia tidak bisa menjaga bayinya dengan baik. Dia hanya menikmati saat-saat membuat anak tanpa mau menjaga anaknya," kata Yuda.


 


 


Mendengar ucapan Yuda yang sama sekali tidak terdengar menyesali kejadian itu, Zee tersulut emosinya.


 


 


"Bubar-bubar, kembali bekerja. Kita harus dapat target hari ini. Kalian tidak mau dipotong gaji, kan?" Yuda membubarkan karyawannya.


 


 


Semuanya kembali ke tempat kerja masing-masing.


 


 


Yuda menoleh pada Zee yang masih berdiri di sana dengan tatapan tajam yang tertuju padanya. "Apa yang kau lihat? Kembali bekerja!"


 


 


"Wanita hamil itu berdiri berjam-jam. Dia juga bolak-balik membawa jahitan. Apa kau tidak melihatnya?" Tanya Zee dengan suara yang bergetar.


 


 


"Seperti ini pekerjaan di pabrik baju. Jika kau mau makan, kau harus mengikuti peraturanku! Pergi ke tempat kerjamu!"


 


 


"Kau bangsat terhina yang pernah aku lihat." Zee mengepalkan tangannya.


 


 


Mendengar umpatan Zee, tentu saja Yuda marah. "Jangan macam-macam denganku!"


 


 


Pria itu melayangkan tangannya ingin menampar wajah Zee. Sebelum tangan itu mendarat di wajahnya, Zee menarik tangan Yuda dan memutarnya ke belakang. Gadis itu memukul leher dan menendang betis Yuda hingga tertekuk di lantai.


 


 


Pria itu berteriak kesakitan.


 


 


Zee mendekatkan wajahnya ke telinga Yuda. "Jangan macam-macam denganku."


 


 


"Ada apa ini?" Pak Manager datang dan memisahkan Zee dengan Yuda.


 


 


Yuda menunjuk wajah Zee. "Dia sudah mempermalukanku. Kau kupecat!"


 


 


Zee masih menatap tajam pada Yuda.


 


 


Di rumah, Zee dimarahi habis-habisan oleh Yesinta. Untuk pertama kalinya Zee melihat Yesinta marah padanya.


 


 


"... kau harus meminta maaf pada Kak Yuda agar kau tidak jadi dipecat."


 


 


Zee menggeleng. "Aku tidak mau! Aku tidak bersalah di sini. Mereka yang salah!"


 


 


"Zega!"


 


 


"Apa?! Hanya karena kau kakak tiriku, bukan berarti kau bisa mengatur hidupku! Dari awal aku tidak pernah menganggapmu sebagai kakakku! Aku hanya mengakui Kak Yevan sebagai kakakku. Kau hanya beruntung, karena ibumu yang jalang itu mengandung benih ayanku!"


 


 


Plak!


 


 


Tamparan keras mendarat di pipi Zee. Yesinta yang menamparnya. Zee menatap tidak percaya pada kakaknya.


 


 


"Kau boleh menghinaku sesuka hatimu, tapi tidak dengan ibuku! Aku sama sekali tidak pernah menghina ibumu, meskipun aku tahu kebenarannya. Kau sudah cukup dewasa untuk menjaga ucapanmu. Mulutmu itu bisa mencelakai dan melukai." Yesinta berlalu setelah mengatakan itu.


 


 


Zee menyentuh pipinya yang memerah. "Kenapa rasanya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatiku?"


 


 


🍁🍁🍁


 


 


07.21 | 02 Januari 2021


By Ucu Irna Marhamah