
🍁🍁🍁
"Kuebiko; perasaan jengkel dan kesal ketika kau melihat kejahatan yang terjadi di dunia, tapi kamu sadar tidak ada yang bisa kau perbuat, sehingga kau frustasi."
🍁🍁🍁
Ketika istirahat, Zee dan Yesinta makan siang di warteg, begitu pun dengan karyawan pabrik lainnya.
"Hei, Yesinta, apa dia adik tirimu yang dari kota itu? Kenapa dia berpenampilan aneh seperti itu? Dia tidak secantik kau."
"Kalian terlihat menyedihkan sekali. Apa dia juga jalang sepertimu?"
Deg!
Zee tersulut emosi. Tangannya yang memegang garpu terkepal. Yesinta menyadari itu. Dia menggenggam tangan adiknya.
"Keluarga macam apa yang saling menyakiti satu sama lain dan saling menyayangi satu sama lain?"
Zee bergumam pelan, "Bangsat jahanam."
"Jangan lawan mereka. Untuk mencapai tujuanmu, kau harus bersabar. Kau tidak ingin ketahuan, kan? Tetaplah terlihat seperti saat kau datang ke tempat ini," ucap Yesinta.
Zee menatap kakaknya. Kenapa dia bilang begitu? Apa dia tahu, kalau aku seorang polisi yang menyamar untuk misi?
Hari terus berlalu, kondisi kesehatan ibunya Yesinta memburuk. Zee ingin menolong, tapi dia juga masih kesal dengan masa lalu antara ibu Yesinta dan ibunya.
"Yesinta, bawa saja ibumu ke dokter." Zee tidak tega juga.
Yesinta menunduk menyembunyikan air matanya. "Puskesmas sangat jauh dari sini. Selain itu, aku tidak punya uang."
"Aku ada kartu kesehatan untuk orang tidak mampu. Kau pikir aku memakai apa untuk membayar rumah sakit yang menaungi pria tua itu." Zee memakai jaketnya dan membantu Yesinta membopong ibunya.
Mereka menunggu mobil yang lewat. Tidak ada taksi di tempat itu.
Ah, lama-lama kesabaranku habis jika terus tinggal di tempat ini. Tidak ada yang bisa dilakukan. Semuanya serba sulit. Bagaimana bisa ada kehidupan di tempat pedalaman ini. Zee terus menerus mengeluh dalam hati.
Sebuah mobil lewat. Yesinta melambaikan tangannya. Mobil itu pun berhenti. Seorang pria bertato yang menyetir.
"Mas, tolong antar kami ke puskesmas, ibu saya sakit," kata Yesinta.
"Tidak, antar kami ke rumah sakit," sanggah Zee.
Yesinta menatap Zee.
Pria itu menatap Yesinta dengan tatapan mesum. Zee yang menyadari pandangan pria itu menoleh pada kakaknya. Dia ingin tahu reaksi Yesinta. Tampaknya Yesinta merasa risih dan takut ditatap seperti itu.
"Masuk."
Zee akan duduk di samping pria itu, sementara Yesinta di belakang menjaga ibunya, tapi pria itu ingin Yesinta yang duduk di sampingnya dan Zee menjaga ibunya Yesinta. Jika tidak mau, pria itu menolak mengantarkan mereka ke rumah sakit. Karena keadaan darurat, Yesinta terpaksa menuruti keinginan sopir mesum itu.
Di belakang, Zee menjaga ibunya Yesinta. Sementara Yesinta tampak khawatir berada di samping pria mesum itu.
"Santai saja, cantik." Tampaknya pria itu menyadari kecemasan yang tercetak jelas di wajah Yesinta.
Tangannya bergerak menyentuh paha Yesinta yang terbaluk celana berwarna hitam. Zee melihat itu. Dia mengepalkan tangannya dan ingin sekali menghajar pria mesim itu.
Apa-apaan dia?!!! Kenapa dia berani menyentuh Yesinta! Amuk Zee dalam hati.
"Kau mau aku menurunkan kalian di tengah jalan?!" Bentak sopir itu.
"Jangan kurang ajar, ya!" Zee tidak bisa lagi menahan emosinya.
Mobilnya berhenti. "Keluar kalian dari mobilku!"
"Jangan, Mas. Aku harus membawa ibuku ke rumah sakit," pinta Yesinta.
Pria itu kembali melajukan mobilnya. "Jangan membuatku marah!"
Sesampainya di rumah sakit, Zee dan Yesinta segera membawa wanita tua itu ke ruang UGD. Yesinta tampak khawatir. Dia mondar-mandir di depan ruangan tersebut.
"Tasku ketinggalan di mobil, aku harus mengambilnya." Yesinta berlalu.
Zee mengambil black card dari tasnya. "Kartu sehat ini sangat berguna dalam keadaan seperti ini."
Yesinta melihat sopir itu sedang merokok. Gadis itu membuka pintu dan mengambil tasnya. Ketika mau pergi, sopir mesum itu menarik tangan Yesinta dan mengunci pintu mobil.
"Apa yang kau lakukan!" Bentak Yesinta.
Sopir itu tersenyum mesum. Dia menindih Yesinta dan menciumi wajah gadis itu. Yesinta berontak dan berusaha melawan, tapi apa daya, tenaga pria itu jauh lebih kuat dibandingkan dengan dirinya.
"Kau sangat cantik. Layani aku saja, kau tidak perlu membayar." Sopir itu membuka paksa pakaian Yesinta.
"Tidak! Jangan!!!! Zegaaaaa!!! Toloooong!!!"
Sementara itu, Zega ketiduran sambil duduk di ruang tunggu.
Seorang dokter keluar dari ruang UGD. Mendengar pintu terbuka, Zee terhenyak bangun. Dia membenarkan kacamatanya.
"Nona, ibu anda harus dirawat di rumah sakit agar kondisinya membaik," kata dokter.
Zee mengangguk. Dokter itu pun berlalu.
Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. "Yesinta belum kembali? Lama sekali dia."
Zee melakukan administrasi dengan black card miliknya. "Pindahkan ibunya saudari tiriku ke ruang VIP."
Yesinta berlari menghampiri Zee. Gadis itu segera menyembunyikan black card-nya. Yesinta terlihat berantakan, rambut, bajunya, dan juga wajahnya.
"Bagaimana keadaan ibuku?" Tanya Yesinta.
"Ibumu harus dirawat. Tenang saja, aku sudah mengurusnya dengan kartu kesehatan," kata Zee.
Yesinta menghela napas lega setelah mendengar jawaban adiknya. Zee melihat Yesinta dari atas ke bawah.
"Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau terlihat seperti orang yang bangun tidur?" Tanya Zee curiga.
Yesinta tersenyum sambil menepuk pipi adiknya. "Apa kau mengkhawatirkan kakakmu ini?"
"Aku hanya bertanya."
🍁🍁🍁
06.43 | 02 Januari 2021
By Ucu Irna Marhamah