
Zee mencari informasi di ruangan Manager. Dia menggeledah semua dokumen untuk menemukan identitas asli Bos besar. Hingga di satu titik dia menemukan dokumen yang membuat Zee terkejut.
"Apa ini?"
Sementara itu, Geo sudah tiba di Jati Merah. Dia mengenakan pakaian biasa. "Zee pasti datang ke pabrik."
Percakapan Geo dan Zee saat mendatangi TKP masih terngiang di telinganya.
***
"Aku ingin menyeret mereka semua ke dalam penjara. Semua yang terlibat harus mendapatkan ganjarannya." Zee mengepalkan tangannya.
"Caranya?" Tanya Geo.
"Aku akan melakukan berbagai cara."
***
Geo menghentikan mobilnya di depan pabrik baju. Ketika dia akan masuk, para security mencegahnya.
"Anda tidak bisa masuk jika tidak ada kepentingan."
"Saya Geo, saya pernah bekerja di sini," ucap Geo.
"Anda tidak bisa masuk, karena anda bukan karyawan lagi di sini."
Geo memikirkan cara agar bisa masuk. Bisa saja dia melawan ketiga security berbadan kekar itu, tapi dia tidak mau terlihat seperti penjahat.
"Baiklah, aku akan segera kembali dengan surat lamaran pekerjaan," kata Geo.
"Tidak bisa, Manager baru tidak menerima karyawan baru."
"Manager baru? Siapa?"
"Nona Yerisca Zega."
Zee? Batin Geo.
"Sebaiknya anda segera pergi dari sini."
Jam istirahat berbunyi. Geo pun memilih pergi dan akan datang di kesempatan lain.
Sementara itu di toilet wanita, beberapa karyawan wanita berada di sana. Zee sedang duduk di salah satu toilet. Gadis itu mendengar percakapan mereka.
"Kalian lihat Manager baru itu?"
"Iya, dia terlihat seperti jalang bagiku."
"Kau bicara begitu karena kau iri dia terlihat cantik, kan?"
"Diam kau!"
"Sudah, sudah."
"Sepertinya aku pernah melihat wajah perempuan itu."
"Di mana?"
"Di sini."
"Bukankah dia mirip adiknya Yesinta? Tapi, apa mungkin iya? Adiknya Yesinta tidak secantik itu. Mata dan dahinya saja yang mirip."
"Aku tidak...."
Bruak!!
Zee keluar dari toilet. Mereka terkejut melihat keberadaannya.
"Se-sejak kapan kau di sana?"
"Aaarrggghhh! Apa yang kau lakukan?!"
Tentu saja apa yang dilakukan Manager baru itu membuat mereka kaget. Perempuan itu berusaha melepaskan tangan Zee dari rambutnya, tapi tampaknya Nona La tidak mau melepaskannya.
"Yeah, aku tahu aku cantik. Sejak lahir aku memang cantik. Keturunan San/La terlahir cantik dan tampan. Kalian iri?" Zee mendorong gadis yang dahinya berdarah itu pada teman-temannya.
Mereka tidak merespon dan saling pandang satu dengan yang lainnya. Tampaknya mereka ketakutan. Zee mendecih. Ada linggis merah terselip di punggungnya. "Kalian iri pada Yesinta dan kalian melukainya. Kalian lebih menjijikan dari kecoa."
Zee merentakkan kesepuluh jari tangannya. "Ayolah, kita bersenang-senang, girls."
"Apa yang kalian takutkan? Dia sendirian." Mereka menyerang Zee duluan.
"Hmm, apa yang bisa kalian lakukan padaku?"
*** Flashback ***
Perempuan itu melemparkan gagang sikat WC berdarah ke dekat closet. Yesinta yang lemas dan hampir pingsan, ditinggalkan begitu saja oleh mereka di toilet.
---
Zee mendapatkan panggilan dari rumah sakit. Hasil otopsi jenazah Yesinta telah keluar. Gadis itu segera berangkat ke rumah sakit sambil membawa buku merah milik Yesinta.
Zee menemui ahli otopsi yang meneleponnya. "Bagaimana?"
Wanita itu tampak ragu. "Sepertinya Yesinta sudah melalui banyak hal selama ini. Aku tidak bisa mengatakan apa yang terjadi. Kau bisa membacanya sendiri."
Sebuah map kuning disodorkan kepada Zee. Gadis itu menerimanya dan membuka map tersebut.
"Aku rasa... binatang pun tidak pantas diperlakukan seperti ini," kata ahli otopsi dengan suara bergetar menahan pilu.
Zee menitikkan air matanya setelah membaca hasil otopsi tersebut.
"Jika kau jadi aku, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Zee.
"Aku akan terluka jika kakakku diperlakukan seperti itu, secara pribadi aku tidak bisa memaafkan pelaku. Aku akan melaporkannya pada polisi."
Zee tersenyum kecut. "Selain adiknya Yesinta, aku juga seorang polisi."
Wanita itu terkejut mendengar pengakuan Zee. "Kau seorang polisi?"
Zee mengepalkan tangannya. "Aku sudah melapor pada polisi, tapi mereka tidak terlalu menanggapi. Aku akan menyelesaikan ini dengan caraku sendiri. Mereka bahkan tidak lebih baik dari binatang."
*** End Flashback ***
Zee memegang erat linggis merah yang berlumuran darah di tangannya. Perempuan-perempuan di depannya terkapar di lantai dalam keadaan setengah sadar. Zee menghampiri salah satu dari mereka. Dia menjambak rambut gadis itu.
"Aarrgghh."
"Kau pikir, sikat WC itu *****? Yesinta mengalami pendarahan gara-gara kau." Zee melihat linggis di tangannya. Dia tersenyum jahat.
Gadis di depannya menggeleng. "Tidak, jangan, kumohon... maafkan aku. Aku menyesal."
Zee menarik rok yang dipakai gadis itu. "Kau mungkin penasaran dan ingin mencobanya."
"Tidak! Tidak!"
Zee menarik ****** ***** gadis itu.
"Aaaarrgghhh!!!"
🍁🍁🍁
21.33 | 03 Januari 2021
By Ucu Irna Marhamah