H-07

H-07
H7 - 09



Keesokan harinya, tepat tanggal 10. Pabrik baju memberikan gaji pada karyawannya di tanggal tersebut. Zee melihat slip gajinya.


 


 


"Satu juta delapan ratus? Ini gaji yang kuterima setelah apa yang aku kerjakan?" Zee bergumam sendiri. Dia menggeleng pelan.


 


 


Awas saja jika aku tidak jadi komisaris, aku sudah melakukan banyak hal di tempat sialan ini.


 


 


"Semuanya, kembali bekerja!" Perintah Yuda.


 


 


Zee melakukan pekerjaannya. Yuda menepuk bahu gadis itu. "Pekerjaanmu di sini digantikan helper lain. Kau ke depan dan bantu penjahit laki-laki itu."


 


 


Zee menghampiri pria yang menjahit di bagian depan. "Ada yang bisa kubantu?"


 


 


Pria tampan itu menoleh padanya. Dia tersenyum. "Tolong rimbas bagian tangannya."


 


 


Zee mengangguk dan melakukan apa yang diminta, tapi pria itu menghentikannya. "Bukan begitu caranya."


 


 


Pria itu mengajari Zee dengan sabar. Gadis itu mengangguk mengerti dan melakukan hal yang tadi diajarkan oleh pria itu.


 


 


"Namamu siapa?" Tanyanya.


 


 


"Yerisca Zega."


 


 


"Namaku Geofano, senang bertemu denganmu."


 


 


"Hmmm."


 


 


Pulang dari pabrik, Zee segera menuliskan laporan untuk Pak Herdian. Karena tidak membawa laptop, dia menulis laporan lewat ponselnya.


 


 


"Ah, sinyalnya buruk sekali." Zee melihat keluar rumah. "Langit tampak gelap, sepertinya hujan akan segera turun."


 


 


Ponselnya bergetar. Zee mengangkat telepon dari rumah sakit tempat ibunya Yesinta dirawat.


 


 


"Halo?"


 


 


"Keadaan ibu anda memburuk."


 


 


Zee segera memberitahu Yesinta. Keduanya pun bergegas pergi ke rumah sakit dengan angkutan umum. Mereka melihat keadaan ibunya Yesinta yang kritis.


 


 


Yesinta menangis panik.


 


 


Ponsel Zee lagi-lagi berdering. Gadis itu melihat layar ponselnya. Emma yang menelepon. Dia segera mengangkat panggilan dari pelayannya itu.


 


 


"Ada apa Bibi?"


 


 


"Nona, Tuan San berhenti bernapas."


 


 


Deg!


 


 


Zee melihat pada Yesinta yang menangis histeris. Para dokter dan perawat sibuk memasang alat bantu ke tubuh lemah wanita tua itu.


 


 


"Ibu, Ibu, jangan tinggalkan aku! Ibu!"


 


 


Zee mendekat dan melihat ibunya Yesinta sudah terbujur kaku.


 


 


Yesinta jatuh terduduk.


 


 


Wanita yang sudah melahirkannya itu telah pergi untuk selama-lamanya. Zee mengusap kasar wajahnya.


 


 


Setelah pemakaman ibunya Yesinta, Zee mendapatkan telepon dari kakaknya.


 


 


"Zee, Ayah telah pergi."


 


 


Tangan Zee yang memegang telepon gemetar. "Ayah...."


 


 


Yesinta menoleh pada adiknya.


 


 


Zee juga menatap Yesinta. "Aku harus kembali ke Jakarta. Ayah... Ayah meninggal."


 


 


Yesinta membulatkan matanya.


 


 


"Ikut denganku." Zee menarik tangan Yesinta, tapi gadis itu menggeleng.


 


 


 


 


"Kau pergi saja. Aku di sini."


 


 


Zee menatap kakaknya. "Aku akan segera kembali."


 


 


Selama di perjalanan menuju ke Danuarga Hospital, Zee melamun. Dia berusaha untuk tidak menangis, tapi air matanya tidak bisa ditahan.


 


 


Sesampainya di rumah sakit, dia tidak melihat jasad ayahnya. Kata pengurus kamar jenazah, San Bima sudah dibawa oleh pihak keluarga.


 


 


Zee segera ke rumah besar San Bima. Terlihat para pelayan yang sedang membereskan rumah.


 


 


"Di mana Ayah?"


 


 


"Tuan Muda Yevan sudah membawa Tuan Besar ke pemakaman keluarga."


 


 


Zee mengernyit. "Apa?"


 


 


Gadis itu mendengus. Dia pun harus pergi lagi ke pemakaman keluarga San. Di sana, dia melihat Yevan berjongkok di depan makam baru dengan nisan bertuliskan nama sang ayah.


 


 


Zee menghampiri kakaknya.


 


 


Yevan terlihat menangis terpukul karena kehilangan ayahnya.


 


 


"Kakak."


 


 


Yevan mendongkak menatap adiknya. Kedua matanya sembab. "Maafkan aku tidak menunggumu, aku tidak tega melihat keadaan ayah kita. Jika kau melihatnya, kau pasti akan sedih."


 


 


Zee menangis lalu memeluk kakaknya.


 


 


Mendengar kematian San Bima, ibunya Zee merasa terpukul sehingga dia bunuh diri dengan melompat dari balkon RSJ dan meninggal seketika. Seperti jatuh tertimpa tangga pula. Itulah yang dirasakan Zee dan Yevan saat ini.


 


 


Zee benar-benar sudah putus asa. Dia tidak makan, tidak tidur, karena terpukul atas kematian kedua orang tuanya di waktu yang dekat.


 


 


Kesehatan Zee menurun. Dia pergi ke rumah sakit. Dia juga berkonsultasi dengan psikiater.


 


 


Satu minggu Zee di Jakarta. Dia tinggal di apartemennya untuk menenangkan diri. Yevan juga terlihat murung setelah ayah dan ibu mereka pergi selamanya.


 


 


*** Flashback ***


 


 


"Zee, lebih baik kau mengundurkan diri dari misi itu. Aku mengkhawatirkan kesehatan mentalmu setelah semua ini terjadi," kata Yevan.


 


 


"Aku baik-baik saja."


 


 


"Kenapa kau tidak ikut bersamaku ke Jepang dan mengurus perusahaan bersamaku di sana?"


 


 


Zee menggeleng. "Aku tidak cocok dengan pekerjaan seperti itu."


 


 


"Jadi, kau akan kembali ke Jati Merah?"


 


 


Zee mengangguk.


 


 


"Baiklah, aku tidak akan memaksamu. Lusa aku akan kembali ke Jepang. Jaga dirimu baik-baik."


 


 


*** End Flashback ***


 


 


Setelah Zee merasa lebih baik, dia kembali ke Jati Merah. Dia tidak menemukan Yesinta. Zee berpikir, mungkin kakaknya itu pergi bekerja ke pabrik.


 


 


Sementara itu, Yesinta sedang berada dalam kungkungan Pak Manager yang sudah bertelanjang.


 


 


"Lepaskan saya!" Yesinta berontak.


 


 


"Diam kau jalang!"


 


 


"Lepaskan! Aaaarrggghhhh!!!"


 


 


🍁🍁🍁


 


 


09.26 | 02 Januari 2021


By Ucu Irna Marhamah