
🍁🍁🍁
"Di dunia ini ada banyak orang yang baik, tapi orang jahatnya juga banyak. Hanya saja kita tidak (belum) menyadarinya."
_Ucu Irna Marhamah_
🍁🍁🍁
Zee memasuki gudang di apartemennya. Dia membawa linggis merah dan peralatan lainnya. Gadis itu membawa dua buah pistol berlogo asing. Sesaat dia melihat pistol dari kakaknya. Zee tidak membawa benda itu. Dia bergegas memasuki lift sambil menguncir rambutnya. Gadis itu melepaskan kartu dari ponselnya dan menggantinya dengan kartu baru. Dia pun pergi ke Jati Merah dengan mobil sport biru yang baru saja dia beli beberapa hari yang lalu.
Zee menambah kecepatan laju mobilnya. Karena tengah malam, jalanan Jakarta tampak sepi. Gadis itu melihat plang bertuliskan Jati Merah. Dia sudah memasuki wilayah tersebut. Cahaya matahari terbit dari belakang Zee menerangi jalanan berbatu yang gelap itu.
"San, sun, matahari... mereka di pihakku."
Zee sampai di depan rumah inap. Di sana dia memesan kamar. Dia melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 6 pagi. Tampaknya gadis itu sama sekali tidak memerlukan tidur.
Dia langsung menyusun rencana dengan menuliskannya di buku. "Yerisca Zega La Bima, kau bisa melakukannya."
Jam menunjukkan pukul 9 pagi. Sopir bertato memarkirkan mobilnya di depan rumah sakit. Tanpa dia sadari, Zee tengah mengawasinya dari dalam mobil sport birunya. Gadis itu tampak cantik dari biasanya. Rambutnya digerai wajahnya di poles dengan make up. Dia keluar dari mobil dengan pakaian seksi yang menunjukkan belahan dada, punggungnya, perutnya, dan pahanya. Gadis itu menyembunyikan linggis merah di balik punggungnya.
Dengan senyuman sinis, Zee menghampiri mobil sopir bertato itu. Zee mengetuk jendela mobil. Pria itu menoleh dan terpesona dengan kecantikan Zee.
"Permisi, apa anda bisa mengantarku ke suatu tempat?" Tanya Zee dengan senyuman ramah.
Pria itu mengangguk cepat. Dia membuka pintu mobilnya. Zee masuk dan duduk di samping sopir itu.
Tanpa ba-bi-bu, Gadis itu memukul tangan sopir bertato dengan linggis merah yang dibawanya. Pria itu berteriak kesakitan. "Aaarrrgghhh, apa yang kau lakukan, Jalang!"
Darah mengalir deras dari luka di tangannya. Tampaknya tulang-tulangnya juga patah.
Zee tersenyum. "Kau pantas mendapatkannya, tangan kotor ini yang berani menyentuh paha kakakku!"
Pria bertato melayangkan pukulannya, tapi Zee menangkap tangan itu dan membuatnya terkilir.
"Aarrgghh! Sialan kau!!!"
Gadis itu memukul perut sopir dengan ujung linggis hingga perutnya juga mengeluarkan darah. Pria itu terbatuk darah.
"Oh iya, aku lupa." Zee menurunkan resleting celana pria itu. "Menjijikan sekali. Kau meniduri kakakku yang cantik dengan benda ini?!"
"Aaaarrgggghhhh!!!!" Itu teriakan terakhir sang sopir.
Zee keluar dari mobil tersebut. Tubuh dan bajunya dipenuhi bercak darah. Dia memasuki mobilnya sambil mendengus kesal. Gadis itu bercermin di spion tengah.
"Ah, darah ini juga menodai wajah dan rambutku." Zee merapikan dirinya sambil berhitung, "satu, dua, tiga...."
Tiba-tiba mobil pria bertato itu meledak. Api membakar mobil itu. Warga sekitar di dekat rumah sakit kaget dengan suara ledakkan itu. Mereka segera datang dan berusaha memadamkan api.
Zee tersenyum pahit. "Pria kejam itu kalian selamatkan dari gulungan api, sementara kakakku yang polos dan tak bersalah kalian bakar hidup-hidup."
Gadis itu meneteskan air matanya jika mengingat kejadian itu.
Di penginapan, Zee baru selesai mandi. Dia mengeringkan rambutnya dan melihat berita di TV. "Pagi ini ditemukan mayat di dalam mobil elf yang terparkir di depan Rumah Sakit Jati Merah dalam keadaan terbakar. Mayatnya bukan meninggal karena ledakkan mobil, tapi tampaknya ada seseorang yang sengaja membunuh pria itu dan membakar mobilnya seolah-olah kematiannya adalah kecelakaan. Tapi, ini adalah pembunuhan. Ditandai dengan adanya bekas luka di tangan, perut, dan alat kelamin pria itu juga tampaknya dipukul oleh benda tumpul. Polisi sedang melakukan penyelidikan atas kasus pembunuhan ini."
Zee duduk di sofa sambil memakan cemilan. "Yang bisa mengalahkan seekor monster adalah monster lain."
Di kantor polisi, Pak Herdian tampak khawatir. Dia terus menerus uring-uringan di dalam ruangannya, setelah mendengar berita itu. Dia tahu, pelakunya adalah Zee.
"Masuk."
Geo masuk dengan seragamnya. "Anda memanggil saya, Pak?"
"Iya, pergilah ke Jati Merah dan hentikan Zee sekarang juga."
Geo mengerutkan dahinya. "Zee?"
Pak Herdian menceritakan semuanya pada Geo. Setelah mendengar cerita Pak Herdian, Geo tidak mengira Zee akan melakukan tindakan sejauh itu.
"Saya akan menangkapnya," kata Geo dengan penuh percaya diri.
"Bawa Zee dalam keadaan hidup."
Geo mengangkat tangan hormat. "Siap!"
Sementara itu, Zee membawa surat map kuning pudar di tangannya. Dia memasuki pabrik baju. Penampilannya terlihat berbeda tanpa kacamata bulat. Dia sangat cantik.
Aji sedang meminum kopi di ruangannya. Zee mengetuk pintu yang setengah terbuka itu. Aji menoleh dan melihat Zee berdiri di depan pintu.
"Zega?"
Zee tersenyum manis. "Anda masih mengingatku?" Gadis itu masuk dan duduk berhadapan dengan Aji.
"Te-tentu saja... mana mungkin aku lupa. Kau terlihat berbeda dari biasanya. Sekarang kau sangat cantik." Aji menatap Zee dengan tatapan terpesona.
Senyuman Zee tidak pernah pudar. Dalam hati dia mengumpat, bangsat! Penjahat kelamin! Dasar mesum kau, Babi!
"Saya ingin melamar pekerjaan lagi di sini. Setelah Kak Yesinta meninggal, saya menjadi tulang punggung keluarga," ucap Zee dengan ekspresi sedih.
"Aku turut berduka atas kepergian Kakakmu."
Zee memberikan map kuning pudar pada Aji. Pria paruh baya itu melihatnya. "Sepertinya Ijazahmu berbeda."
"Bisakah aku mendapatkan posisi manager dengan nilaiku?" Tanya Zee.
Aji menatap Zee dengan tatapan bingung. Gadis itu tersenyum menggoda.
"Apa harus ada uang masuk?" Tanya Zee.
Aji meletakkan amplop coklat itu ke meja. "Tentu saja."
Zee menunduk. "Saya tidak punya uang. Bagaimana jika saya melayani anda malam ini sebagai uang masuk?"
Tentu saja Aji tidak menyianyiakan kesempatan itu. Gadis cantik ini menawarkan diri untuk kutiduri? Sungguh kesempatan emas!
"Baiklah, kau yang menawarkan diri." Aji memperlihatkan sikap angkuhnya.
"Tapi, dengan satu syarat...."
🍁🍁🍁
19.42 | 02 Januari 2021
By Ucu Irna Marhamah