H-07

H-07
H7 - 10



Yesinta kembali dari pabrik. Dia melihat Zee tertidur dengan posisi duduk di dekat pintu. Yesinta tersenyum sendu. Dia mengusap rambut adiknya. Zee terhenyak dan menatap kakaknya.


 


 


"Kau sudah pulang, Yesinta?"


 


 


Yesinta mengangguk. "Aku turut berduka untukmu."


 


 


Zee menangguk lemas. "Aku juga turut berbela sungkawa untuk ibumu."


 


 


Hari terus berlalu. Kesehatan Yesinta menjadi semakin buruk gadis itu tidak masuk kerja. Zee yang berangkat kerja. Di tempat kerjanya, gadis itu dibully oleh karyawan yang membenci kakaknya.


 


 


Zee tidak melawan. Dia sudah memutuskan untuk menuruti kemauan Yesinta agar misinya segera usai. Tinggal beberapa hari lagi, Zee memberikan laporan, bukti, serta kesaksian pada Pak Herdian. Dia akan menjebloskan orang-orang itu ke penjara. Setelah itu, semuanya berakhir dan dia akan mendapatkan posisi Komisaris.


 


 


Pulang dari pabrik. Kedua mata Zee melebar melihat rumah Yesinta diselimuti oleh api. Zee melihat kerumunan orang di depan rumah itu. Mereka membawa ember berisikan air.


 


 


Tidak! Itu bukan air! Itu bensin!


 


 


Mereka yang membakar rumah Yesinta. Zee mendorong pria yang membawa jerigen bensin itu.


 


 


"Apa yang kalian lakukan?! Apa kalian sudah gila?!!" Zee berteriak.


 


 


"Jalang itu sudah menggoda suamiku! Dia pantas mendapatkan itu!"


 


 


"Bangsat!" Zee nekat masuk menerobos api untuk menemukan Yesinta.


 


 


Seseorang memperhatikan rumah yang terbakar itu dari kejauhan.


 


 


"Yesinta?! Yesinta?! Apa kau di dalam?! Yesinta, apa kau mendengarku?!" Zee terbatuk-batuk.


 


 


Dia melihat kayu besar bergulung api yang menghalangi pintu kamar Yesinta. Gadis itu menyingkirkannya dengan tangan kosong. Tidak dihiraukan panas di tangannya. Zee mendobrak pintu kamar Yesinta. Yesinta yang terbaring lemah di dalam kamar menoleh ke pintu.


 


 


"Zega."


 


 


"Yesinta!!!" Zee menendang pintunya hingga roboh. Dia melihat Yesinta. Zee berlari ke arah kakaknya.


 


 


"Aku akan menggendongmu! Ayo, kita keluar dari sini!" Zee mengangkat tubuh Yesinta dan menggendongnya di punggung.


 


 


"Kenapa kau masuk ke dalam rumah yang terbakar ini?" Tanya Yesinta lemah.


 


 


"Kau pikir, aku akan diam saja melihatmu terpanggang di dalam sini?!" Zee mencari jalan keluar, tapi di sekelilingnya api semua.


 


 


"Pergilah sebelum terlambat. Biarkan aku mati di sini."


 


 


"Diam kau!" Gerutu Zee.


 


 


Tiba-tiba atapnya roboh sebagian dan menimpa mereka berdua. Zee dan Yesinta terjebak di bawah atap. Kaki Yesinta yang tertimpa reruntuhan berdarah-darah.


 


 


"Yesinta, kakimu."


 


 


"Larilah."


 


 


Zee menggeleng. Air matanya mengalir. "Sialan, kenapa aku menangis?"


 


 


Yesinta menutup matanya.


 


 


"Yesinta! Jangan pergi! Aku sudah kehilangan orang tuaku."


 


 


"Aku belum mati!" Gerutu Yesinta sambil membuka kedua matanya.


 


 


"Yesinta, apa kita akan mati di sini?"


 


 


Yesinta menangkup wajah adiknya dengan sebelah tangan. "Kau harus tetap hidup dan meyelesaikan misimu. Aku mohon."


 


 


"Dalam keadaan seperti ini pun kau masih memikirkan misi sialan itu?" Gerutu Zee.


 


 


Yesinta meringis kesakitan. Zee memeluk Yesinta. Gadis itu tersenyum saat Zee memeluknya.


 


 


Rasanya nyaman sekali, apakah ini yang dinamakan hangatnya pelukan seorang saudari? Kenapa momen ini harus terjadi di saat-saat terakhir? Tuhan, bisakah kau memperpanjang waktuku sedikit saja? Aku merasa bahagia saat adikku memelukku.


 


 


*** Flashback ***


 


 


 


 


San Bima tersenyum. "Tentu saja. Suatu hari nanti kalian akan bertemu, tapi Ayah tidak yakin kalian akan akur."


 


 


Yesinta terkekeh. "Aku akan menjaga adikku dengan baik."


 


 


"Dia pemberontak kecil yang suka berkelahi."


 


 


"Aku akan mengubahnya menjadi gadis feminim sepertiku."


 


 


San Bima tertawa.


 


 


*** End Flashback ***


 


 


"Tidak, jangan menutup matamu, kumohon." Zee mengguncangkan tubuh Yesinta.


 


 


"Zee, bolehkah aku meminta sesuatu."


 


 


Zee segera menganggukkan kepalanya. "Apa? Kau mau apa? Katakan saja."


 


 


"Aku ingin mendengarmu memanggilku kakak."


 


 


Kedua alis Zee terangkat. "Kakak... Kak Yesinta."


 


 


Yesinta tersenyum. Dia tidak bisa membendung air matanya. "Adikku."


 


 


Terdengar suara kayu yang patah. Kedua gadis itu mendongkak menyaksikan seluruh atap yang jatuh roboh menimpa mereka.


 


 


"Zee, bertahanlah... ini permintaan terakhirku. Jaga dirimu baik-baik. Aku sudah selesai, sekarang giliranmu untuk memenjarakan mereka semua."


 


 


Kedua mata Zee perlahan tertutup.


 


 


Hening dan gelap. Itu yang saat ini dirasakan Zee. Entah sudah berapa lama. Tiba-tiba muncul suara langkah kaki. Zee merasakan seseorang menyentuh tubuhnya dan mengangkatnya. Zee mencoba membuka matanya, tapi sulit sekali. Dia tidak bisa membuka matanya.


 


 


Terdengar suara sirine ambulans.


 


 


Apakah seseorang datang untuk menyelamatkan mereka?


 


 


"Bagaimana keadaannya, Dok?" Zee mendengar suara baritone yang familiar di telinganya.


 


 


"Dia menghirup banyak asap, tidak ada luka serius di tubuhnya."


 


 


"Kapan dia akan sadar, Dok?"


 


 


"Beberapa menit lagi dia siuman."


 


 


"Lalu bagaimana dengan keadaan kakaknya?"


 


 


Zee tidak mendengar jawaban dari dokter. Gadis itu terhenyak bangun dan melihat pria berseragam polisi duduk di kursi di samping ranjangnya.


 


 


Kedua mata Zee membulat, karena dia mengenali pria itu. "Geofano?"


 


 


Pria itu tersenyum.


 


 


"K-kau seorang polisi?"


 


 


"Sebelum kau datang, aku yang ditugaskan untuk menyelidiki kasus ini oleh Kepala Polisi Herdian."


 


 


Zee menyipitkan matanya curiga. "Di mana kakakku?"


 


 


Geo terlihat sedih. "Aku turut berduka atas kepergiannya."


 


 


Zee menggeleng. "Tidak mungkin! Tidak! Kau pasti berbohong."


 


 


"Maafkan aku, Zega."


 


 


🍁🍁🍁


 


 


10.09 | 02 Januari 2021


By Ucu Irna Marhamah