H-07

H-07
H7 - 05



Pulang dari pabrik, Zee sangat kelelahan. Dia masuk angin. Yesinta membawa minyak angin dan koin seribuan. "Tengkuraplah."


 


 


Zee mendongkak menatap kakaknya. "Kau mau apa?"


 


 


Yesinta memposisikan adiknya menjadi tengkurap. "Diam saja, jangan banyak tanya. Kau bukan anak kecil."


 


 


Zee merasakan tangan lembut Yesinta mengoleskan minyak angin. "Kau masuk angin. Kau harus kerokan."


 


 


Zee merasa nyaman saat Yesinta mengerok punggungnya. "Dulu aku juga lelah di hari pertama. Aku merasa mual saat aroma minyak mesin terhirup, tapi lama-lama kau akan terbiasa."


 


 


Tidak ada jawaban dari Zee. Yesinta melihat adiknya sudah tidur. Dia tersenyum sambil melanjutkan mengerok punggung adiknya. Setelah selesai, Yesinta menyelimuti tubuh Zee dan dia tidur di lantai tanpa alas dan tanpa selimut.


 


 


Kedua mata Zee terbuka. Sebenarnya dia pura-pura tidur. Gadis itu menyelimuti tubuh kakaknya lalu dia kembali tidur di kasur lantai.


 


 


Kedua mata Yesinta terbuka. Rupanya dia juga berpura-pura tidur. Senyuman hangat terukir di wajahnya.


 


 


Dasar anak kecil, batin Yesinta.


 


 


Hari terus berlalu. Zee tidak bisa menggunakan mesin jahit alhasil dia dimarahi Wildan.


 


 


"Aku sudah sabar mengajarimu, sekarang kesabaranku habis. Kau tidak bisa diajari, lebih baik kau jadi helper saja! Aku tidak sanggup mengajarimu."


 


 


Yesinta terlihat sedih ketika Zee dimarahi Wildan. Zee menunduk dan terlihat ketakutan. Ya, meskipun dia hanya berakting.


 


 


Jika aku disuruh menjinakkan bom, aku siap kapan saja. Sumpah, aku benci mesin sialan ini. Aku tidak bisa menggunakannya!! Jerit Zee dalam hati.


 


 


Yesinta beranjak dari mesinnya kemudian menghampiri Wildan dan Zee. "Pak Wildan, biarkan Zee menjadi helper saya saja."


 


 


Senyuman Wildan merekah saat melihat Yesinta. "Oh iya, ambil saja. Adikmu ini tidak bisa apa-apa. Mungkin dia bisa menjadi helper jika dibimbing oleh kakaknya."


 


 


Yesinta mengangguk. Dia menarik tangan Zee dan kembali ke mesinnya. "Karena sekarang kau jadi helper, kau harus berdiri."


 


 


"Apa?" Tampaknya Zee tidak terima.


 


 


Yesinta mengajarkan Zee menggambar pola di kain dengan bubuk kapur. Zee melakukan hal yang sama. Dia terbatuk-batuk karena kapur bubuk tersebut.


 


 


"Semangat!" Yesinta pun kembali menjahit kain yang sudah dipola oleh Zee.


 


 


Karena Zee bekerja dengan lambat, para penjahit di depan Yesinta marah-marah.


 


 


"Lama sekali, padahal hanya menggambar pola!"


 


 


"Kau tidak bisa cepat? Jika kita tidak bisa mengejar target, gaji kita bisa dipotong!"


 


 


"Mana jahitannya?"


 


 


Zee menggambar dengan terburu-buru. Dia memberikan hasil polanya pada Yesinta. Gadis itu melihat pola adiknya yang berantakan, sehingga dia harus menjahit tanpa mengikuti pola yang dibuat Zee.


 


 


"Zega, kau bereskan saja kainnya, tidak perlu digambar," kata Yesinta.


 


 


Zee menatap kakaknya. Dia pun menuruti perintah Yesinta dan hanya melipat kain tersebut.


 


 


Yuda, yang merupakan atasan Yesinta datang menghampiri Zee. "Kenapa kainnya tidak dipola? Kau tidak bisa bekerja? Kalau tidak bisa, diam saja di rumah!"


 


 


"Kak Yuda, Zega baru belajar. Tolong maklumi dia," bela Yesinta.


 


 


Pandangan Yuda teralihkan pada Yesinta. "Okay, karena dia adikmu, aku membiarkannya kali ini."


 


 


Zee menghela napas berat. Kenapa bekerja di sini sulit sekali. Aku pikir tidak akan sesulit ini.


 


 


Lama-lama Zee merasa pegal. Selama 12 jam dia berdiri membuat pola dan membereskan kain.


 


 


Pulang dari pabrik, Zee mengeluh di kamar sambil memijat kakinya yang bengkak. Yesinta memasuki kamar adiknya. Dia duduk dan mengoleskan minyak urut ke kaki adiknya.


 


 


"Apa yang kau lakukan?!" Zee menyingkirkan kakinya dari jangkauan Yesinta.


 


 


"Zega, kakimu bengkak. Jangan sembarangan diurut. Biar aku yang memijat kakimu."


 


 


Setelah mendapat paksaan, Zee menurut pada kakaknya. Yesinta memijat kaki Zee dengan telaten.


 


 


"Maafkan ibuku," kata Yesinta tiba-tiba.


 


 


Zee tidak merespon. Dia hanya menatap pada Yesinta.


 


 


 


 


Zee masih diam.


 


 


"Itulah sebabnya, kenapa ibuku tidak melawan saat ibumu menyerangnya di hari itu."


 


 


Zee tidak ingin mengatakan apa pun.


 


 


*** Flashback ***


 


 


Yesinta kecil sedang bermain boneka di teras rumahnya. Dia melihat mobil merah berhenti di halaman.


 


 


Pandangan Yesinta tertuju pada gadis kecil di dalam mobil. Pandangan mereka bertemu.


 


 


"Zega? Apa itu Zega, adikku?"


 


 


Ibunya Zee keluar dari mobil dan berjalan gegas ke rumahnya,


 


 


Wanita itu berteriak di depan rumahmya. Ibunya Yesinta keluar dari dalam rumah. Tiba-tiba ibunya Zee menyerangnya.


 


 


"Jalang, kau!!!!"


 


 


Melihat ibunya dipukuli, Yesinta berlari menolong ibunya dari amukan ibunya Zee.


 


 


Ibunya Zee mendorong Yesinta hingga jatuh tersungkur ke tanah. Ibunya Yesinta sama sekali tidak melakukan perlawanan.


 


 


"Jangan ikut campur kau, Jalang kecil! Kau mau mati juga?!!" Teriak ibunya Zee pada Yesinta.


 


 


Ada bilah bambu di halaman. Ibunya Zee mengambil bilah bambu itu. Yesinta menggeleng. Ibunya Zee memukul wajah wanita itu dengan bambu tersebut.


 


 


Yesinta menutup kedua matanya karena takut.


 


 


Darah segar mengalir. Luka menganga lebar tercetak jelas di wajah ibunya Yesinta akibat dari pukulan bambu yang dilakukan oleh wanita itu.


 


 


Mobil ayahnya baru tiba. Pria itu keluar dari mobil dan menyeret istri sahnya agar berhenti menyakiti ibunya Yesinta.


 


 


Yesinta menangis ketakutan melihat ibunya tiba-tiba diserang oleh karena wanita yang tidak dikenal.


 


 


"Lepaskan aku! Aku ingin membunuh jalang itu!!!" Ibunya Zee berontak ingin melepaskan diri dari cengkraman suaminya.


 


 


"Hentikan! Apa kau kerasukan setan!" Ayahnya Zee menampar wajah istri sahnya.


 


 


Sambil memegang pipinya yang terasa panas, ibunya Zee menatap pria di depannya dengan tatapan tak percaya. "K-kau... menamparku untuk jalang itu?"


 


 


"Pulang sekarang juga!" Ayahnya Zee menunjuk mobil istrinya.


 


 


"Tidak!"


 


 


"Atau kau mau pulang ke rumah orang tuamu?!"


 


 


Ibunya Zee terdiam. "Baik, aku akan pulang ke rumah, tapi dengan satu syarat. Kau tidak boleh kembali ke sini apalagi menjalin hubungan dengan selingkuhanmu itu, atau aku benar-benar akan membunuhnya beserta anak haram itu."


 


 


Setelah wanita itu pergi, San Bima membawa ibunya Yesinta ke rumah sakit. Luka di wajahnya dijahit. Wanita itu menangisi wajahnya yang kini tak cantik lagi.


 


 


"Jangan melihatku, aku tidak pantas dilihat olehmu." Wanita itu menutupi wajahnya.


 


 


San Bima menangkup wajah wanita itu. "Kau tetap cantik di mataku, Sayang."


 


 


Keduanya berciuman.


 


 


*** End Flashback ***


 


 


Zee tidak menunjukkan ekspresi apa pun setelah mendengar cerita itu.


 


 


Yesinta tersenyum lalu mengusap rambut adiknya dengan lembut. "Tidurlah, besok kita akan bekerja lebih keras lagi."


 


 


 


 


🍁🍁🍁


 


 


03.11 | 02 Januari 2021


By Ucu Irna Marhamah