H-07

H-07
H7 - 19



Zee melihat kalender. Sudah 4 hari dia berada di Jati Merah. Dia sudah berjanji akan menangkap semua yang terlibat dalam waktu 7 hari. Zee harus menemukan mereka semua dalam waktu 3 hari.


 


 


Gadis itu memasuki mobilnya. "Aku harus menemukan Bos besar sebelum hari ke-7. Dia tidak akan keluar meskipun aku menaikkan gaji karyawan sebanyak 5 kali lipat."


 


 


Baru saja mobilnya melaju beberapa meter, sebuah mobil hitam dari arah berlawanan lewat. Zee menoleh ke si pengendara mobil hitam itu. Dia berusaha melihat siapa orang di dalamnya. Sayang sekali, yang dia lihat hanya siluet pria.


 


 


Dengan segera, Zee memutar balik mobilnya mengikuti mobil hitam itu. Sementara pria yang sedang menyetir mobil hitam tersebut menoleh ke spion tengah. Senyuman tipis terukir di bibirnya.


 


 


Kondisi jalanan yang berbatu membuat Zee kesulitan melewatinya, tapi dia masih berusaha mengejar mobil hitam di depannya.


 


 


Mobil hitam itu berbelok arah menuju perbukitan. Karena melewati jalanan berumput hijau, Zee tidak terlalu kesulitan melewatinya. Pemandangan yang indah tersaji di perbukitan itu. Zee terpesona dengan keindahan alam di Jati Merah.


 


 


"Sayang sekali, tempat secantik ini dihuni oleh para binatang berkulit manusia."


 


 


Di kejauhan, Zee melihat ada vila mewah yang berdiri di atas bukit yang paling tinggi. "Vila itu...."


 


 


Zee teringat dengan diary yang ditulis oleh Yesinta.


 


 


... Tak ada pilihan lain. Aku membutuhkan uang untuk melanjutkan kehidupan di tempat ini. Gaji yang kuterima dari pabrik tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup kami berdua. Apalagi ibuku jatuh sakit semenjak ditinggalkan Ayah.


 


 


Ketika Bos besar menawariku bekerja di vila miliknya, sebenarnya aku sedikit ragu, aku merasa dia memiliki niat buruk padaku, tapi aku membutuhkan uang tambahan, setelah tahu ibuku mengidap kanker.


 


 


Aku pun datang ke bukit di ujung perbatasan kampung. Di sana lah vila Bos besar berada. Ketika tiba di tempat itu, aku terpukau melihat istana yang begitu besar. Apakah dia benar-benar Bos besar sebuah pabrik? Dengan melihat vila miliknya, dia terlihat seperti seorang pengusaha kaya.


 


 


Mobil-mobil model terbaru berjejer rapi di garasinya yang luas....


 


 


"Itu tempatnya. Tempat berawalnya penderitaan Kak Yesinta."


 


 


Benar saja, mobil pria misterius itu berhenti di pelataran vila. Zee menghentikan mobilnya di dekat pepohonan yang rimbun. Dia menunggu pria itu keluar dari dalam mobil untuk melihat wajahnya.


 


 


Namun, tampaknya pria itu tidak berniat keluar dari mobilnya.


 


 


Zee mengepalkan tangannya. "Apa dia tahu, aku mengikutinya? Tentu saja. Aku tidak peduli meskipun dia tahu aku sedang membuntutinya. Dia harus keluar dari mobilnya apa pun caranya.


 


 


Beberapa bodyguard keluar dari vila itu. Zee mengambil pistolnya. Gadis itu mengernyit saat melihat para bodyguard yang berbaris menghalangi mobil pria itu seolah sengaja agar Zee tidak bisa melihat Bos besar mereka.


 


 


Pintu mobil hitam itu terbuka. Zee menyipitkan matanya berusaha melihat dengan jelas. "Apakah dia...."


 


 


Pria itu keluar dari mobilnya. Meskipun terhalang beberapa bodyguard, Zee bisa melihat sedikit sosok itu. Yang Zee lihat, pria itu memakai jas hitam dan memiliki tubuh tinggi tegap. Gadis itu menodongkan pistolnya ke arah pria itu dengan tangan gemetar.


 


 


Entah apa yang membuatnya tidak menarik pelatuk pistol tersebut. Zee menghela napas panjang.


 


 


...


 


 


"Ayah pulaaaang!" Wildan memasuki rumahnya. Dia melihat kedua anaknya duduk di sofa dalam keadaan takut. Wildan mengerutkan keningnya. Anak perempuannya menutup matanya dengan kedua tangan.


 


 


Anak laki-lakinya menunjuk ke balik pintu.


 


 


Wildan paham, ada seseorang yang bersembunyi di balik pintu. Tiba-tiba pintunya ditutup paksa oleh seseorang yang bersembunyi di baliknya. Alhasil wajah Wildan terbentur pintu. Sampai-sampai dia terpental dengan hidung mengeluarkan darah.


 


 


 


 


Dor!


 


 


"Aarrgghhh!"


 


 


Wildan berlari dengam kaki pincang yang terus menerus mengeluarkan darah segar. Dia berlari menuju mobilnya.


 


 


"Anak-anak, saatnya tidur. Kunci pintu, masuk kamar, sumbat telinga kalian," suruh Zee.


 


 


Kedua anak kecil di dalam rumah Wildan saling pandang. Mereka melakukan apa yang disuruh oleh Zee. Sementara itu, Wildan berhasil sampai di mobilnya. Baru saja dia memegang pintu mobil, Zee menembak tangannya.


 


 


"Aargggghhhh!" Wildan memegangi tangannya yang tertembak dan mengeluarkan banyak darah."


 


 


"Kenapa kau melakukan ini padaku?!!!" Bentak Wildan menatap nanar pada Zee.


 


 


Zee menatap tajam penuh kemarahan pada pria itu.


 


 


*** Flashback ***


 


 


Yesinta terkulai lemas dengan tubuh polos dipenuhi bekas sundutan puntung rokok. Wildan masih merokok menatap gadis di bawahnya.


 


 


"Masih mau melawan? Kau sudah tidak perawan, jadi kau hanya perlu menikmatinya. Jangan sok jual mahal. Aku benci perempuan seperti itu."


 


 


"Hentikan... aku bukan jalang," ucap Yesinta pelan.


 


 


"Apa kau bilang?" Wildan menyundut leher Yesinta dengan rokoknya. Gadis itu berteriak kesakitan.


 


 


"Kau jalang kecil Bos besar. Kau juga jalangku." Wildan menyundut bibir Yesinta dengan rokoknya.


 


 


"Aarrgghh!"


 


 


*** End Flashback ***


 


 


Zee menekan moncong pistol ke bibir Wildan. "Anggap saja pistol Adiwijaya ini seperti rokok."


 


 


Wildan menggeleng. "Tidak, jangan! Kasihani aku. Aku duda yang memiliki dua orang anak. Kau lihat sendiri 'kan anak-anakku masih kecil. Mereka sangat membutuhkanku."


 


 


Zee mendecih. "Mereka tidak membutuhkan binatang sepertimu. Kau tidak merawat mereka. Mereka dititipkan pada adikmu, karena kau sibuk bekerja dan bermain dengan jalang di luar sana. Kau tidak peduli pada mereka bahkan saat mereka kelaparan. Kau pikir aku tidak tahu? Mereka menceritakan semuanya padaku. Mereka bahkan lebih takut padamu dan pada adikmu karena saat mabuk, kalian berdua melecehkan anak-anak kecil itu. Ewhh, bangsat menjijikan."


 


 


Dor!


 


 


Dor!


 


 


Dor!


 


 


🍁🍁🍁


 


 


06.35 | 3 Januari 2021


By Ucu Irna Marhamah