
Suatu hari, Yesinta dituduh mencuri baju pabrik dan dia dipanggil ke ruangan Bos besar. Di sana Yesinta merasa sangat ketakutan.
"Bukan saya pelakunya, Bos."
Yevan menatap gadis yang terlihat begitu ketakutan di depannya. "Aku tidak peduli, siapa yang melakukannya, tapi mereka semua menunjukmu."
Yesinta menunduk dalam. "Aku tidak melakukannya."
"Aku dengar ibumu sedang sakit parah, tapi peraturan tetaplah peraturan. Kau harus dikeluarkan."
Yesinta bertekuk di depan pria itu. "Saya mohon, jangan keluarkan saya. Ibu saya sedang sakit. Saya butuh uang untuk pengobatannya."
"Itu sebabnya kau mencuri baju?" Sergah Bos besar.
Yesinta menggeleng. "Saya tidak mencuri."
Yevan tahu, Yesinta berkata jujur. "Baiklah, anggap saja kau jujur. Kau tidak akan dikeluarkan. Untuk menambah penghasilanmu, kau harus bekerja sebagai pelayan di vila tempat tinggalku, bagaimana?"
Yesinta tampak berpikir.
Yevan menepuk bahu Yesinta. "Pikirkan ibumu." Kemudian pria itu pergi.
Di vila, Yevan menunggu Yesinta. Pria itu meminum anggur Prancis yang menggiurkan. Semenjak bertemu Yesinta, Yevan selalu memikirkan gadis itu. Yesinta membuat Yevan tergila-gila dan ingin terus bertemu dengannya.
Selama 2 minggu Yevan menunggu Yesinta di vilanya sendirian. Dia sengaja menyuruh para pelayan dan para bodyguard-nya pergi agar dia bisa berduaan dengan Yesinta, tapi gadis itu tidak kunjung datang.
Hingga suatu hari, seseorang menekan bel. Yevan meletakkan botol anggurnya ke meja. Dia pun membuka pintu dan melihat gadis cantik yang dia tunggu berdiri di depannya.
Yesinta datang untuk menerima tawaran Yevan.
Karena Yesinta bekerja paruh waktu pada Yevan, mereka menjadi cukup dekat. Kedekatan mereka masih terbilang normal seperti Bos dan karyawannya.
Karena kedekatannya dengan Bos Yevan, banyak yang iri pada Yesinta. Mereka juga beberapa kali mencoba mencelakainya.
"Jalang kecil, dia menggoda Bos besar."
"Sama seperti ibunya."
Yesinta sudah terbiasa mendengar itu. Seolah telinganya sudah kebal setiap hari mendengar itu.
Suatu hari, Yesinta sedang membereskan meja makan. Tiba-tiba dia merasakan pelukan hangat dari belakangnya. Tentu saja Yesinta kaget dan menyadari kalau orang yang memeluknya adalah bosnya sendiri.
Yevan memperkosa Yesinta, pria itu melakukan hubungan terlarang dengan seorang gadis yang masih memiliki hubungan darah dengannya.
Karena Yevan memperkosanya, Yesinta kabur dari vila Yevan. Dia tidak masuk kerja lagi, karen takut pada Yevan. Namun, lama-lama uang tabungannya habis. Yesinta terpaksa masuk lagi ke pabrik baju dan mau tidak mau dia harus bertemu dengan Yevan.
Pria itu tidak merasa bersalah setelah apa yang sudah dia lakukan pada gadis itu. Dia malah malah memaksa Yesinta untuk melakukannya lagi di ruangan pribadinya. Bahkan Yevan tidak malu ketika seluruh karyawan di pabrik mengetahui perbuatan bejatnya terhadap Yesinta.
Ponsel Yevan berdering. Yevan mengangkat panggilan tersebut. "Halo?"
"Tuan Muda, kami sudah menemukan informasi mengenai istri siri Tuan Besar beserta anaknya."
Yevan tidak merespon. Dia menunggu orang di seberang sana melanjutkan kalimatnya.
"Istri Tuan Besar sedang sakit parah, sementara putrinya... dia adalah gadis yang anda tunggu selama ini di vila."
Deg!!!
Serasa ada godam yang menghantam dadanya. Yevan melemparkan ponselnya ke lantai hingga isinya hancur berhamburan. Karena kabar itu, Yevan jadi jarang datang ke pabrik.
Para atasan jadi bertindak seenaknya pada para karyawan, termasuk pada Yesinta. Banyak atasan yang melakukan korupsi dengan memotong gaji para karyawan tanpa sebab yang jelas
Yevan sudah tidak peduli lagi dengan pabriknya. Dia jadi frustasi karena Yesinta. Yevan pun kembali ke Osaka untuk melupakan semua yang sudah dia lakukan di Jati Merah.
Suatu hari, Zee meneleponnya.
"Ada apa adikku tersayang?" Yevan tersenyum senang saat mendengar suara adiknya.
"Hari ini aku pergi ke Jati Merah."
"Hah?! Kau mau apa ke sana?" Yevan tampak terkejut.
"Misi."
Yevan tidak segera menanggapi, tapi kemudian dia mengeluarkan suaranya, "Tampaknya pekerjaanmu itu sangat menyusahkanmu. Kenapa memilih menjadi seorang pelayan rakyat ketimbang bekerja sepertiku?"
"Aku suka pekerjaanku."
"Gajimu bahkan tidak seperempatnya dari gajiku."
Zee terkekeh. "Sampai nanti, Kak."
Yevan memasukkan ponselnya ke dalam saku jas. Dia menatap langit biru Osaka yang terlihat begitu cerah.
"Kenapa Herdian mengirimkan Zee ke Jati Merah? Apa dia ingin menyelidiki pabrik bajuku?"
Suatu ketika, Zee menelepon Emma dan menanyakan kabar ayahnya.
"Keadaan Tuan Besar membaik apalagi beberapa hari yang lalu Tuan Yevan pulang dari Jepang dan menemui Tuan besar," kata Emma di seberang sana.
Zee mengernyit dan berpikir, kenapa Yevan kembali ke Indonesia tanpa mengabarinya? Setelah berbincang dengan Emma, Zee menghubungi kakaknya.
"Halo, adikku sayang. Apa jaringannya jelek di sana?" Yevan berdiri membelakangi ranjang tempat ayahnya berbaring.
"Tentu tidak, aku memakai kartu sultan," gerutu Zee.
"Oohhh, begitu kah?" Yevan menahan tawa mendengar jawaban adiknya.
"Kakak sudah pulang?"
"Kau tahu dari mana?" Yevan melirik Emma yang berdiri tak jauh dari ranjang ayahnya. Wanita paruh baya itu menunduk takut.
Zee mengerutkan dahinya. "Kenapa Kakak tidak bilang?"
"Tadinya aku ingin memberikan kejutan untukmu. Aku juga ingin datang ke sana untuk menemuimu dan jalang itu."
"Dia tidak seburuk itu, Kak."
Mendengar tanggapan Zee, Yevan menautkan alisnya. "Eits? Ada apa denganmu? Tumben kau membelanya? Jangan bilang kalau kau mulai akrab dengannya. Kau tahu 'kan keluarga kita hancur gara-gara jalang tua ibunya itu?"
Zee tidak merespon.
"Apa adikku sudah berubah?"
"Tidak, tidak."
"Selesaikan misimu, kita perlu berkumpul untuk makan malam."
"Siap!"
Panggilan berakhir. Yevan melipat kedua tangan di depan dada. "Apa kedua perempuan itu jadi akrab sekarang? Aku tidak bisa membiarkan ini."
San Bima menatap punggung putranya.
🍁🍁🍁
19.22 | 06 Januari 2021
By Ucu Irna Marhamah