H-07

H-07
H7 - 25



"Kenapa kau ingin menghancurkan hidup adikmu sendiri?" Tanya San Bima dengan suara serak.


 


 


"Dia bukan adikku, dia anak Ayah dari rahim jalang itu," sanggah Yevan. Pria itu melanjutkan kalimatnya, "Ngomong-ngomong, Zega juga menjadi masalah buatku. Dia tidak mau mengurus semua perusahaan Ayah, tapi Ayah memberikan mereka bagian yang sama dengaku. Padahal aku yang paling sibuk di perusahaan ayah."


 


 


"Mereka anak Ayah juga sepertimu."


 


 


Yevan mendecih. "Selain anak Ayah, aku pembantu Ayah, budak Ayah, dan senjata Ayah. Begitu, kan?"


 


 


San Bima menggeleng lemah.


 


 


"Lihat saja, aku tidak akan membiarkan kedua anak gadis Ayah hidup terlalu lama. Mereka tidak berhak memiliki bagianku."


 


 


Yevan berlalu meninggalkan rumah sakit dan menelepon seseorang. "Awasi mereka."


 


 


"..."


 


 


Pria suruhan Yevan datang ke rumah sakit tempat ibunya Yesinta dirawat. Dia mencabut selang infus dan alat bantu di tubuh wanita itu.


 


 


Sementara itu, Yevan menodongkan pistolnya ke wajah sang Ayah. "Kau sudah terlalu lama hidup di dunia ini."


 


 


"Yevan...."


 


 


Dor!


 


 


Dor!


 


 


Dor!


 


 


Dor!


 


 


Darah segar terciprat ke wajah tampan Yevan. Darah yang sama mengalir membasahi ranjang dan menetes ke lantai. Yevan telah membunuh ayahnya sendiri.


 


 


"Pistol ini berasal dari pabrik senjata kita, bagaimana rasanya, Ayah?"


 


 


Pandangannya tertuju ke sudut ruangan. Dia melihat tubuh perawat yang tersandar di dinding dengan luka tembakkan di seluruh tubuhnya.


 


 


Itulah sebabnya Yevan segera menguburkan jenazah ayahnya sebelum Zee datang dan tahu apa yang penyebabnya ayahnya meninggal.


 


 


Setelah membunuh ayahnya, Yevan pergi ke RSJ Svender. Di sana dia menceritakan kematian ayahnya. Ibunya Zee syok dan bunuh diri dengan cara melompat dari lantai 4.


 


 


"Zee, lebih baik kau mengundurkan diri dari misi itu. Aku mengkhawatirkan kesehatan mentalmu setelah semua ini terjadi," kata Yevan.


 


 


"Aku baik-baik saja." Zee mengalihkan pandangannya dari Yevan.


 


 


Yevan merangkul adiknya. "Kenapa kau tidak ikut bersamaku ke Jepang dan mengurus perusahaan bersamaku di sana?"


 


 


Zee menggeleng. "Aku tidak cocok dengan pekerjaan seperti itu."


 


 


"Jadi, kau akan kembali ke Jati Merah?"


 


 


Zee mengangguk.


 


 


"Baiklah, aku tidak akan memaksamu. Lusa aku akan kembali ke Jepang. Jaga dirimu baik-baik."


 


 


Setelah Zee pergi, Yevan menelepon seseorang. "Aku tidak jadi pergi ke Osaka. Bantu aku membakar Yesinta dan Zega di rumah itu."


 


 


Saat rumah Yesinta terbakar habis, seseorang melihat di kejauhan. Dia adalah Yevan. Pria itu tidak sendirian. Ada seseorang di sampingnya.


 


 


"Mereka pasti mati. Setelah apinya padam, periksa rumah itu."


 


 


"Baik, Bos."


 


 


*** End Flashback ***


 


 


Zee menitikkan air matanya. "Kau membunuh mereka? Ta-tapi... ke-kenapa kau bisa sejahat itu?"


 


 


Yevan tersenyum sinis.


 


 


"Jika kau mau semua harta Ayah, kau bisa memilikinya tanpa harus melukai siapa pun! Kau tidak seperti kakakku! Kau bukan Kak Yevan yang aku kenal!" Zee menggeleng tidak percaya.


 


 


"Inilah aku yang sebenarnya. Sekarang apa yang bisa kau lakukan padaku? Ini wilayah kekuasaanku."


 


 


Zee tidak merespon. Dia masih belum bisa menerima kenyataan ini.


 


 


Yevan memasukkan peluru ke pistolnya lalu menodongkan pistol tersebut pada adiknya. "Kau menyayangi mereka, kan? Bagaimana jika kau segera menyusul mereka sebelum kepalamu ditembak polisi? Sidangnya mungkin sudah di mulai."


 


 


Zee mengerutkan dahinya. "Bagaimana bisa kau tahu tentang persidangan itu?"


 


 


Yevan tersenyum. Ada seseorang yang berdiri di belakang Zee. Gadis itu berbalik dan terkejut. Seseorang yang dia kenal, pria tampan itu tersenyum.


 


 


"Halo, Zee."


 


 


"Geofano?"


 


 


"Aku senang kau mengingatku."


 


 


 


 


Herdian menyuruh Geo mengawasi Zee dan Yesinta, pria itu menjanjikan posisi Komisaris, jika Geo bisa membawa para tersangka ke persidangan. Namun, dia bertemu dengan Yevan. Karena Yevan bersedia membayar 6x lipat, akhirnya Geo beralih haluan dan memihak Yevan.


 


 


Pertemuan pertamanya dengan Zee di pabrik baju, ketika Zee menjadi helper baginya.


 


 


Lalu saat Yevan melihat rumah Yesinta terbakar di kejauhan, Geo 'lah yang menemaninya.


 


 


Geo juga datang memeriksa apakah kedua perempuan itu masih hidup atau sudah mati. Ternyata Yesinta sudah meninggal, sementara Zee masih bernapas. Pria itu membawanya ke rumah sakit.


 


 


Selama Zee melakukan penyelidikan sendiri, Geo membantunya, di balik itu, sebenarnya Geo mengawasi Zee atas perintah Yevan.


 


 


Ketika Zee mencari tahu mengenai pemilik pabrik baju yang merupakan seorang gangster, Zee memilih menghubungi kakaknya yang juga seorang gangster. Kemungkinan kakaknya mengenali orang itu.


 


 


Zee bergumam, "Kak Yevan mungkin tahu tentang Bos pabrik baju di Jati Merah."


 


 


Dia pun menelepon Yevan, tapi panggilannya tak kunjung diangkat. Zee kembali menekan tombol call untuk menghubungi Yevan.


 


 


"Kenapa Kak Yevan tidak mengangkat teleponnya?" Gerutu Zee. Gadis itu menyerah. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi.


 


 


"Geo." Zee menghubungi Geo. Pria itu langsung mengangkat panggilannya.


 


 


"Ada apa, Zee?"


 


 


"Kau sedang apa? Apa kau sibuk?"


 


 


"Sedikit."


 


 


"Apa kau bisa membantuku?"


 


 


"Apa yang bisa kubantu?"


 


 


"Aku hanya ingin bertanya, apa kau pernah melihat Bos pabrik baju?"


 


 


Hening. Zee tidak mendengar jawaban Geo.


 


 


"Hanya sekali. Pria itu jarang ke pabrik."


 


 


Zee tampak berpikir. "Siapa namanya?"


 


 


"Aku tidak tahu."


 


 


Zee mendengus kesal. "Seperti apa wajahnya?"


 


 


"Dia tampan dan berwibawa."


 


 


"Bisa lebih spesifik lagi?"


 


 


"Hanya itu yang kuingat."


 


 


"Thanks."


 


 


Sebenarnya saat itu Geo dan Yevan sedang bersama.


 


 


"Bagaimana bisa dia mencari tahu informasi kakaknya sendiri lewat aku?" Tanya Geo.


 


 


Yevan tertawa.


 


 


Lalu di suatu kesempatan, Yevan mengajak Zee makan malam. Pria itu terus menerus memaksa Zee mengundurkan diri dari kepolisian dan ikut dengannya ke Osaka. Sebenarnya dia ingin membunuh Zee di Osaka.


 


 


Ketika mengikuti mobil Bos besar menuju vila, Zee sudah yakin sekali, jika Bos besar itu adalah Yevan. Tentu saja dia mengenali kakaknya. Oleh karena itu, dia tidak jadi menembak pria itu.


 


 


Lalu ketika Geo datang ke ruangan Zee dan mengancam gadis itu untuk berhenti membunuh orang. Pria itu keluar dari pabrik lalu menelepon seseorang.


 


 


Orang yang dia telepon adalah Yevan.


 


 


"Halo..."


 


 


"Bagaimana?"


 


 


"Benar, dia memang menjadi manager sekarang. Apa yang akan kita lakukan?"


 


 


"Biarkan saja. Meskipun dia menaikkan gajinya jadi 18x lipat, aku tidak peduli. Kembalilah ke vila."


 


 


"Baiklah."


 


 


*** End Flashback ***


 


 


Zee mengepalkan tangannya. "Bangsat-bangsat ini."


 


 


🍁🍁🍁


 


 


20.18 | 06 Januari 2021


By Ucu Irna Marhamah