H-07

H-07
H7 - 21 - Twist



🍁🍁🍁


 


 


"Jika ditanya, apakah aku nyaman tinggal di tempat ini? Jawabannya sama ketika kau sakit dan disuruh minum obat (jamu) untuk kesembuhanmu. Meskipun rasanya sangat pahit, kau akan tetap meminumnya, kan? Itu juga yang aku rasakan saat ini."


 


 


_Yesinta Zevanya La Bima_


 


 


🍁🍁🍁


 


 


Herdian telah tiba di Jati Merah pada jam 11 malam. Setelah berpikir lama, akhirnya dia memilih datang juga ke tempat itu untuk membawa Zee ke balik jeruji besi setelah dia mendapatkan bukti pembunuhan yang sudah dilakukan bawahannya tersebut.


 


 


Di Jati Merah, dia menemui Geo. "Apa kau sudah menemukan Zega?"


 


 


Geo mengangguk. "Dia benar-benar berubah. Dia terlihat seperti pembunuh sungguhan. Dia psikopat."


 


 


"Dia mengakuinya? Mengakui pembunuhan yang sudah dia lakukan?" Tanya Herdian.


 


 


Geo mengangguk.


 


 


Herdian mengusap kasar rambutnya. Geo mendongkak menatap Herdian. "Tapi, ada yang lebih penting dari itu."


 


 


Herdian mengerutkan keningnya. "Apa itu?"


 


 


Sementara itu, Zee mengobati lukanya di penginapan. Gadis itu mendengus kesal. "Sialan."


 


 


Perutnya berbunyi menandakan dia harus segera isi ulang. Gadis itu keluar dari penginapan untuk membeli makanan. Ada pedagang mie ayam di pinggir jalan. Seorang wanita tampaknya juga sedang memesan mie ayam. Zee berdiri bersebelahan dengan wanita itu. Dia pun memesan mie ayam. Wanita itu melirik pada Zee. Tiba-tiba ekspresinya berubah cemas.


 


 


Penjual memberikan mie ayam pada wanita itu. Wanita itu segera menerimanya dan memberikan uangnya lalu bergegas pergi.


 


 


"Tunggu, ini kembaliannya," panggil si penjual.


 


 


Zee menoleh pada wanita yang tampaknya tidak mendengar si penjual yang memanggilnya dan terus berjalan pergi.


 


 


Di perjalanan, wanita itu tidak berhenti menggigit kukunya. "Kenapa dia di sini lagi?"


 


 


Seseorang menyentuh bahunya. Dengan tubuh gemetar, wanita itu berbalik. Ternyata Zee yang memegang bahunya. Wanita itu menelan saliva saat melihat ekspresi Zee yang tidak bersahabat. Zee melemparkan mie ayam di kantongnya ke wajah wanita itu.


 


 


"Aarrgghh!!!" Wanita itu berteriak kepanasan saat mie ayam yang masih panas itu mengenai wajahnya.


 


 


"Aku melihatmu di depan rumah Yesinta, saat kebakaran itu terjadi. Kau yang menyulut emosi warga dan membuat mereka membakar rumah Yesinta!"


 


 


*** Flashback ***


 


 


Pulang dari pabrik. Kedua mata Zee melebar melihat rumah Yesinta diselimuti oleh api. Zee melihat kerumunan orang di depan rumah itu. Mereka membawa ember berisikan air.


 


 


Tidak! Itu bukan air! Itu bensin!


 


 


Mereka yang membakar rumah Yesinta. Zee mendorong pria yang membawa jerigen bensin itu.


 


 


"Apa yang kalian lakukan?! Apa kalian sudah gila?!!" Zee berteriak.


 


 


"Jalang itu sudah menggoda suamiku! Dia pantas mendapatkan itu!" Ya, wanita itu. Zee menatap tajam pada wanita di depannya. Tidak semudah itu Zee melupakan wajah seseorang.


 


 


*** End Flashback ***


 


 


Zee mencekik leher wanita di depannya. "Masih mau mengelak?"


 


 


Wanita itu menggeleng ketakutan sambil berusaha menyingkirkan tangan Zee dari lehernya.


 


 


"Siapa yang menyuruhmu?" Tanya Zee.


 


 


 


 


"Pasti ada yang menyuruhmu."


 


 


"Tolong jangan bunuh aku, aku masih memiliki anak yang harus aku besarkan."


 


 


Zee mengeratkan cengkramannya. "Jangan jadikan itu sebagai alasan. Aku akan menyeret anakmu ikut serta dalam pemakamanmu."


 


 


Wanita itu menggeleng. "Jangan, jangan lakukan itu."


 


 


"Kalau begitu, katakan padaku, siapa yang menyuruhmu!" Teriak Zee.


 


 


Tiba-tiba senter yang terang menyorot wajah Zee disusul teriakan, "Hei! Apa yang kau lakukan!"


 


 


Zee menoleh, ternyata 2 orang polisi di sana. Gadis itu terkejut.


 


 


Sial, aku lupa! Keamanan di kampung ini pastinya diperketat setelah banyaknya korban, rutuk Zee dalam hati.


 


 


"Senior Zega? Kau kah itu? Ta-tapi apa yang kau lakukan di sini? Kenapa kau menyakiti wanita itu?" Salah satu dari polisi itu mengenalinya.


 


 


Zee tidak menjawab.


 


 


"Tolong! Tolong aku! Dia mau membunuhku!" Teriak wanita yang dicekik Zee.


 


 


---


 


 


Zee menyeret kedua polisi yang sudah pingsan itu ke sudut di gang sepi. "Ah, maafkan aku anak-anak. Ini bukan taman bermain untuk kalian."


 


 


Sementara wanita tadi terlihat ketakutan dengan kedua tangan diborgol. Dia melihat saat Zee berkelahi dengan kedua polisi itu sampai Zee membuat keduanya pingsan.


 


 


Zee menoleh pada wanita itu. "Sekarang katakan semuanya."


 


 


Wanita itu terus menerus menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bisa, atau aku akan mati."


 


 


Zee membuang muka sesaat lalu kembali menatap wanita di depannya dengan tatapan mengintimidasi. "Mau bagaimana pun juga kau akan tetap mati, entah itu di tangan pesuruhmu atau di tanganku."


 


 


Wanita itu menelan saliva. "Pria itu, pria tampan itu datang ke rumahku dan mengatakan jika suamiku telah bercinta dengan Yesinta. Dia bahkan menunjukkan foto-fotonya sebagai bukti. Aku marah dan aku memberitahu hal tersebut pada warga. Ternyata warga lainnya mengatakan hal yang sama bahwa suami mereka pernah dipergoki melakukan hubungan intim dengan gadis itu. Kami pun berencana membakar rumah Yesinta bersama-sama...."


 


 


"Dan tanpa bukti, kalian membakar rumah Yesinta?!" Potong Zee.


 


 


"Foto-foto itu buktinya!" Bentak wanita itu.


 


 


"Bagaimana jika itu photoshop?! Kenapa kalian mudah ditipu oleh pria sialan itu?!" Bentak Zee.


 


 


"Kami membencinya, dari awal kami tidak suka padanya. Dia sama seperti ibunya, seorang perempuan cantik yang suka menggoda suami orang."


 


 


Zee menampar wajah wanita itu. "Ya, aku setuju jika kau bilang ibunya jalang yang suka menggoda suami orang, tapi Yesinta tidak! Dia korban pelecehan pria yang membodohimu!"


 


 


Wanita itu menangis sambil memegangi pipinya.


 


 


Zee bangkit sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Sekarang aku ingin kau melakukan sesuatu untukku."


 


 


Wanita itu mendongkak menatap Zee.


 


 


🍁🍁🍁


 


 


21.14 | 05 Januari 2021


By Ucu Irna Marhamah