
Berita pembunuhan mulai beredar meneror warga Jati Merah. Para reporter dan polisi mulai berdatangan ke Jati Merah. Sementara Zee duduk manis di kursi manager di pabrik baju. Gadis itu melihat berita di TV ruangannya.
"... Jenazah yang ditemukan di ujung gunung Jati Merah sudah teridentifikasi. Mereka adalah Aji, Wildan, Manager pabrik baju, dan 5 orang perempuan yang bekerja di pabrik baju. Mereka semua adalah karyawan di pabrik baju Jati Merah. Polisi menyatakan jika ini adalah pembunuhan berantai, karena semua mayatnya terbunuh dalam keadaan yang hampir sama di mana alat kelamin mereka hancur. Kemungkinan pembunuh memiliki dendam kesumat pada para korban. Saksi mulai bermunculan. Mereka mengatakan jika korban-korban ini adalah orang-orang yang suka melecehkan karyawan lainnya. Polisi akan melak...."
Zee menyandarkan punggungnya ke kursi. Dia menatap lurus tanpa ekspresi. "Dua hari lagi. Aku harus menyelesaikan ini."
Tiba-tiba pintu ruangannya dibuka dengan kasar oleh seseorang. Zee menoleh ternyata Geo. Pria itu menodongkan pistolnya pada Zee.
"Menyerahlah, Zee. Maka aku tidak akan menembak kepalamu," ancam Geo.
Zee beranjak dari tempat duduknya. Gadis itu melangkah menghampiri Geo dan membiarkan moncong pistol rekannya itu menempel di dahinya.
"Tembak." Tanpa rasa takut, Zee menantang polisi di depannya untuk menembak dirinya.
Geo tidak bergeming. Dia masih menatap tajam pada Zee.
Zee tersenyum tipis. "Sidang akan dilaksanakan 2 hari lagi. Kau tidak bisa mengumpulkan tersangka, karena mereka sudah mati. Apa yang bisa kau lakukan? Itu yang membuatmu ingin membunuhku dan membawa saksi serta tersangka yang masih hidup ke pengadilan untuk menaikkan jabatanmu menjadi komisaris?"
"Kau yang membunuh mereka."
"Meskipun aku mengakuinya, apa kau punya bukti? Pengakuan saja tidak cukup, kau tahu tentunya."
Geo menyingkirkan pistolnya dari dahi Zee. "Sadarlah, Zega. Apa yang kau lakukan ini salah. Kau sudah membunuh banyak orang."
"Mereka binatang," potong Zee.
Geo mendecih lelah.
"Kembalilah ke Jakarta. Aku akan mengurus urusanku sendiri di sini. Setelah semua ini selesai, kau bisa menembak kepalaku." Zee berbalik membelakangi Geo sambil berpangku tangan.
"Aku pastikan, kita akan bertemu lagi." Geo berlalu pergi.
Pria itu memasuki mobilnya dan menelepon seseorang. "Halo..."
"..."
"Benar, dia memang menjadi manager sekarang. Apa yang akan kita lakukan?"
"..."
"Baiklah."
Mobil Geo melaju meninggalkan pabrik baju.
Di dalam ruangannya, Zee melihat jam pasir di mejanya. "Aku bisa, hanya dua hari lagi."
Malam telah tiba.
Yuda menutup seluruh hasil jahitan bawahannya di meja dengan kain. Setelah itu, dia melangkah untuk pergi, tapi langkahnya terhenti ketika Zee berdiri menghalanginya.
"Sepertinya kau tahu banyak sesuatu," kata Zee.
Yuda mengernyit.
"Kau tidak mau merespon atasanmu?" Tanya Zee dengan tatapan tajam.
"Memangnya apa yang aku tahu?" Yuda balik bertanya. Pria itu melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap Zee dengan tatapan meledek.
"Begini caramu merespon pertanyaanku?" Zee berkacak pinggang.
"Mau bagaimana pun juga, kau tetap helper bodoh yang tidak bisa melakukan apa-apa."
Yuda membuang muka. "Cih, kau hanya manager baru yang tidak tahu apa-apa. Bos besar adalah pemilik yang sesungguhnya."
"Aku pemilik pabrik ini, kau ternyata tidak tahu apa-apa." Zee menyalakan mesin iron.
Yuda mulai panik. "A-apa yang kau lakukan?!"
Zee menatap Yuda dengan senyuman psikopat. "Tampaknya bajumu lusuh sekali. Aku ingin menggosoknya dengan iron. Kau tidak perlu melepaskan bajumu."
Yuda mundur. "Jangan macam-macam!"
Zee tertawa, lama-lama tawanya makin kencang dan makin menakutkan. Keringat dingin mengalir dari dahi Yuda.
"Kau bilang, aku helper yang bodoh. Sekarang aku akan menunjukkan padamu kalau aku bisa menggosok!" Zee menarik kerah Yuda, pria itu menepis tangan Zee. Terjadi sedikit perkelahian.
"Kau yang membunuh mereka?" Tanya Yuda di tengah-tengah perkelahian.
Zee tersenyum sinis.
"Sudah kuduga. Kau membunuh mereka, karena mereka menyentuh kakakmu?"
"Tidak akan aku biarkan kalian hidup!" Zee memukul wajah Yuda.
Meskipun Yuda seorang pria yang bisa berkelahi, Zee jauh lebih unggul, karena menguasai bela diri sebelum masuk kepolisian. Dia bisa membuat Yuda kewalahan. Zee menarik tangan Yuda ke meja iron dan menekan permukaan iron ke punggung tangan Yuda.
Pria itu berteriak kepanasan. Zee menekan tombol uap. Yuda semakin histeris. Zee menampar wajah Yuda.
"Tangan ini, tangan ini yang sudah mengotori tubuh Yesinta."
"Lepaskan iron-nya, aku mohon!"
Bukannya menurut, Zee semakin menekan iron-nya. "Apa kau mendengar permohonannya, ketika dia minta dilepaskan olehmu yang sedang kerasukan?!!!"
"Maafkan aku!!!" Teriak Yuda.
"Kenapa aku harus memaafkanmu?"
Yuda melihat gunting benang di dekat mesin iron. Pria itu mengambil gunting tersebut lalu menusuk perut Zee. Gadis itu meringis sambil memegang perutnya yang berdarah.
Yuda berhasil menyelamatkan tangannya yang sudah terkelupas. Pria itu segera melarikan diri.
Zee mencabut gunting tersebut dari perutnya. Gadis itu menatap punggung Yuda yang langsung menghilang dari balik pintu. "Kau telah melakukan kesalahan besar, Bangsat!"
Yuda masih berlari di jalanan sambil memegangi tangannya yang terkelupas. "Sialan, perih sekali."
Semilir angin malam yang membuat lukanya terasa semakin perih. Pria itu melihat ke belakang. Dia tidak melihat Zee. Tampaknya gadis itu sudah tidak mengejarnya.
Yuda berhenti berlari. Dia berjalan gontai sambil meringis menahan perih. Tiba-tiba mobil sport biru melaju kencang dari belakangnya. Yuda menoleh, kedua matanya melebar melihat Zee yang menyetir dengan ekspresi penuh kemarahan.
Yuda berlari ke pinggir, tapi terlambat. Mobil Zee menabraknya. Pria itu berguling-guling di aspal dengan darah segar di sekujur tubuhnya.
Zee melihat ke belakang. Tampaknya Yuda masih hidup. Gadis itu memundurkan mobilnya dan melindas tubuh Yuda.
"Hhhh...." Zee meringis sambil memegangi perutnya yang berdarah.
🍁🍁🍁
20.00 | 05 Januari 2021
By Ucu Irna Marhamah