
*** Flashback ***
San Bima selalu menceritakan kehebatan keluaran San/La pada Yevan muda. Pria itu tampaknya begitu bangga dengan garis keturunan yang dia miliki.
"Yevan, mungkin ini tidak adil bagimu kau akan dikirim ke Osaka untuk mengurus bisnis gelap Ayah di sana."
Di usia yang masih sangat muda, Yevan dikirim ke Jelang. Dia bersekolah di Osaka sekaligus mengoperasikan bisnis gelap ayahnya. Laki-laki itu juga mengelola pabrik senjata keluarga San.
Suatu waktu, San Bima mengalami kebangkrutan. Dia membangun pabrik baju di perkampungan yang bernama Jati Merah. Pabrik tersebut dikelola olehnya sampai perekonomian keluarga San membaik.
Selain membangun pabrik baju, San Bima juga membangun vila mewah. Di sana dia sendirian, karena sedang pisah ranjang dengan istrinya (ibunya Zee).
Lama di Jati Merah, San Bima menyukai salah satu karyawannya yang sangat cantik, tak lain wanita itu adalah ibunya Yesinta.
Terjadilah hubungan terlarang yang membuat wanita itu mengandung dan melahirkan Yesinta. Mereka berdua tinggal di vila milik San Bima. Ibunya Zee mencium perselingkuhan suaminya. Dia datang ke Jati Merah.
Sebelum istri sahnya sampai di Jati Merah, San Bima membangun sebuah rumah sederhana untuk ibunya Yesinta sebagai tempat persembunyian. Di sanalah Yesinta dan ibunya tinggal.
Ibunya Zee dan ayahnya sudah berbaikan. Mereka tinggal di vila. Ibunya Zee pun mengandung. Namun, ada masalah bisnis di Osaka. Yevan tidak bisa mengatasi masalah tersebut, karena dia masih sangat muda.
Akhirnya San Bima menyuruh putranya datang ke Jati Merah untuk menjaga sang ibu sementara dirinya pergi ke Osaka dan mengurus masalah bisnis di sana. Sebelum pergi ke Osaka, San Bima menyuruh Yevan mengurus pabrik baju miliknya. Awalnya Yevan menolak, karena baginya mengurus pabrik itu tidak keren sama sekali.
"Ayah, aku tidak mau mengurusi tempat seperti itu. Itu bukan gayaku."
San Bima menyentuh bahu putranya. "Menjadi keren tidak harus mengenakan jas hitam. Dengam kemeja saja kau sudah terlihat keren, Nak."
Meskipun berat hati, Yevan akhirnya memilih menuruti keinginan sang ayah. Ketika usia kandungan ibunya Zee menginjak bulan ke-7, wanita itu memilih kembali ke Jakarta. Dia ingin melahirkan Zee di sana.
Yevan ditinggal di vila perbukitan Jati Merah bersama para bodyguard. Meskipun masih muda, Yevan bisa mengurus pabrik baju sendirian. Dia sosok laki-laki yang mandiri dan cukup berkharisma di usianya yang masih muda. Mereka semua menghormati Yevan, karena mereka tahu Yevan adalah pemimpin geng San setelah sang ayah.
Semua orang di Jati Merah tahu, pemilik pabrik baju itu adalah seorang gangster.
Ketika masalah di Osaka selesai, San Bima kembali ke Indonesia. Pria itu menemani istrinya yang sedang hamil tua. Sebagai gantinya, Yevan yang pergi ke Osaka melanjutkan bisnis yang sempat bermasalah itu.
Tibalah saatnya Zee lahir ke dunia. Sebenarnya ibunya Zee sudah tahu wanita yang menjadi selingkuhan San Bima, tapi saat itu dia sedang mengandung dan tidak ingin menemui wanita itu terlebih dahulu.
Ketika usia Zee menginjak 5 tahun, saat itulah ibunya Zee melabrak ibunya Yesinta. San Bima datang dan memisahkan mereka. Karena istri mudanya terluka, San Bima marah dan menceraikan ibunya Zee. Karena diceraikan suaminya, ibunya Zee yang masih sangat mencintai suaminya itu pun menjadi gila dan masuk RSJ.
"Wanita jalang itu, aku tidak akan pernah memaafkannya." Itu yang dikatakan ibunya saat Zee berkunjung ke RSJ. Saat itu dia masih menjadi polisi magang. Hanya ibunya yang mendukung Zee menjadi seorang polisi, berbeda dengan sang ayah yang memaksanya untuk menjalani bisnis sepertinya.
Tak lama kemudian, ayahnya Zee juga jatuh sakit dan terbaring lemah. Pria itu mempercayakan semua bisnisnya pada Yevan, karena Zee menolak menjadi pemimpin geng dan memilih menjadi seorang polisi wanita.
"Yevan, aku tahu ini berat untukmu, Nak. Zega tidak ingin mengurusi bisnis kita. Dia memilih menjadi pelayan masyarakat. Ayah harap, kau bisa mengurusi semua bisnis kita termasuk pabrik baju di Jati Merah."
Yevan menghela napas berat. "Aku hanya akan mengunjungi tempat itu jika aku mau."
Yevan tidak pernah mendatangi pabrik bajunya lagi. Hingga suatu hari, Yevan membaca wasiat yang dituliskan ayahnya, kalau pabrik baju Jati Merah akan diwariskan kepada anak tirinya. Yevan tidak terima, karena anak itu bukan anak dari istri sah ayahnya. Dari sanalah Yevan mulai berubah.
Pria itu tidak pergi ke Osaka. Dia tinggal di vila perbukitan Jati Merah selama ini. Bisnis di Osaka diurus oleh seseorang yang dia percaya. Yevan ingin memiliki pabrik baju itu, entah apa alasannya. Padahal awalnya dia menolak mengurus tempat itu.
Karena malu memegang perusahaan biasa, Yevan tidak memakai namanya di pabrik baju. Dia memilih 'Bos Besar' sebagai panggilannya di tempat itu.
Ketika dia mengunjungi pabrik bajunya, dia mendengar suara teriakan dari kantor tempat penerimaan karyawan baru. Pria itu masuk dan melihat Aji, penerima karyawan yang akan memperkosa seorang gadis.
"Aji! Apa yang kau lakukan?!" Bentak Yevan.
Aji tersentak dan menoleh pada pria itu. "B-bos?"
Yevan melihat pada Yesinta yang berusaha membenarkan pakaiannya yang sudah koyak. Sisi lain dari jiwa kelelakian Yevan tergerak melihat kemolekan tubuh gadis itu walau hanya sedikit. Dia menelan saliva.
Yevan tidak tahu, jika gadis itu adalah adiknya tirinya sendiri. San Bima tidak pernah mempertemukan anak-anak mereka, karena dia tahu, itu hanya akan menjadi masalah.
Yesinta menoleh ke pintu pandangan mereka sesaat bertemu sesaat sebelum gadis itu menunduk.
"Aji, aku menunggumu di ruanganku!"
Yevan menyuruh Aji membiarkan Yesinta masuk tanpa dipersulit. Dari sana Yevan melihat sendiri cara kerja para bawahannya. Yevan memperketat pengawasannya di pabrik itu. Dia tidak ingin karyawannya menderita karena sikap bawahannya sendiri.
Yesinta belajar dengan cepat. Itu membuat Yevan yakin, jika gadis itu memang memiliki tekad yang kuat untuk bekerja di pabriknya. Dia tahu, banyak yang menyukai Yesinta dan berusaha mendekatinya, tapi Yesinta tampaknya tidak tertarik pada siapa pun di tempat itu. Mereka yang tidak senang, karena ditolak Yesinta pun bertindak tidak senonoh. Seringkali Yevan melihat secara langsung Yesinta dilecehkan oleh sesama karyawan. Mereka menyentuh dan menubruk tubuh Yesinta dengan sengaja.
Entah kenapa Yevan tidak suka melihat Yesinta diperlakukan seperti itu oleh mereka. Ya, meskipun wajar dia marah, karena Yesinta adalah karyawannya, tapi ada perasaan lain yang tumbuh di hati Yevan sejak pertemuan pertama dengan gadis itu.
Apa mungkin aku menyukai gadis itu? Pikir Yevan.
🍁🍁🍁
18.06 | 06 Januari 2021
By Ucu Irna Marhamah