H-07

H-07
H7 - EPILOGUE



šŸšŸšŸ


怀


怀


"Aku bukan Shica yang masih bisa memaafkan semua kejahatan Regar. Aku bukan Shasha yang memiliki kakak sejahat Sven, tapi aslinya baik. Aku bukan Leva yang memiliki kakak perhatian seperti Brill.


怀


怀


Aku adalah Yerisca Zega La Bima yang akan mengakhiri semua ini, meskipun kau adalah kakakku sendiri, Yevan Zerran San Bima. Tak peduli jika kisah ini menjadi sad ending seperti sejarah lama keluarga San."


怀


怀


šŸšŸšŸ


怀


怀


Geo dan Zee berkelahi. Pria itu tidak segan memukul gadis di depannya. Zee juga tidak gentar meski harus melawan pria yang bertubuh lebih besar darinya.


怀


怀


"Kau sudah ikut campur terlalu jauh ke dalam urusan keluargaku!" Bentak Zee sambil menendang perut Geo hingga terpundur.


怀


怀


Geo mendorong Zee sampai terpundur. "Kakakmu sendiri yang menyeretku ke dalam masalah ini."


怀


怀


Yevan duduk di kursi kebesarannya sambil menyesap cerutu. Pria itu memperhatikan kedua orang yang sedang berkelahi di depannya.


怀


怀


"Kau menginginkan posisi Komisaris? Ambil saja, aku tidak menginginkannya lagi. Sekarang kembali ke Jakarta!" Bentak Zee.


怀


怀


"Aku juga sudah tidak tertarik dengan posisi itu. Siapa yang akan mempromosikan aku, jika Kepala Polisi sudah mati?"


怀


怀


Zee terkejut. "Pak Herdian...."


怀


怀


Di kantor polisi Jati Merah, jasad para polisi bergeletakan di lantai, termasuk Herdian di ruang tamu kantor polisi tersebut. Sebelum datang ke vila Yevan, Geo membantai mereka semua.


怀


怀


Zee menggeleng.


怀


怀


"Jika polisi datang, mereka akan menangkapmu. Tidak, mereka akan menembak kepalamu di tempat. Kau sudah membunuh banyak orang, termasuk para polisi."


怀


怀


Zee mendecih dan menyerang Geo tanpa memberikan peluang pada pria itu. Keduanya imbang, tapi Geo mengeluarkan pistolnya dan menembak kaki Zee. Gadis itu jatuh tertekuk.


怀


怀


"Bagaimana rasanya saat timah panas itu bersarang di kakimu?" Tanya Yevan.


怀


怀


"Diam, kau! Nanti kau juga akan merasakannya!" Bentak Zee.


怀


怀


"Bos, apa aku boleh membunuhnya sekarang?" Tanya Geo.


怀


怀


"Kenapa bertanya padaku?" Yevan balik bertanya.


怀


怀


"Dia adikmu."


怀


怀


"Tembak."


怀


怀


Dor!


怀


怀


Dor!


怀


怀


Dor!


怀


怀


Kedua mata Zee melebar ketika Geo menarik pelatuknya. Peluru itu mengarah pada Zee, tapi tidak mengenainya sama sekali. Pelurunya bersarang di tembok.


怀


怀


Yevan melirik Geo.


怀


怀


"Aku hanya kasihan padamu," ujar Geo.


怀


怀


Ada apa ini? Kenapa bisa meleset? Aku melihat moncong pistol itu tertuju padaku, pikir Zee.


怀


怀


Zee terkejut melihat seseorang berpakaian putih di belakang Geo. Itu Yesinta. Hanya Zee yang bisa melihatnya. Kedua mata Zee berair. Pandangannya memudar, begitu pun dengan Yesinta. Gadis itu menghilang dari pandangan Zee.


怀


怀


"Aku tahu itu kau, kau melindungiku lagi, meskipun kau sudah tidak di sini," gumam Zee. Gadis itu bangkit dan perlahan mengambil linggis merah dari balik bajunya.


怀


怀


Zee melangkah menghampiri Geo. "Kenapa harus kasihan padaku?"


怀


怀


Geo berkacak pinggang. "Karena pada akhirnya kau akan tetap mati."


怀


怀


Zee mengangkat tangannya yang menggenggam linggis. Dia menusuk perut Geo dengan ujung linggis tersebut. Pria itu terkejut, begitu pun dengan Yevan.


怀


怀


"Aaaarrrgghh!" Zee mendorong Geo. Punggungnya membentur kaca jendela hingga pecah dan Geo pun jatuh dari vila tersebut. Seketika dia tewas.


怀


怀


Zee menyerang Yevan. Kedua kakak beradik itu berkelahi.


怀


怀


怀


怀


"Kau benar-benar lemah sebagai gadis dari keluarga San. Kau bahkan tidak bisa membaca prasasti leluhur kita!"


怀


怀


Zee mengambil pistolnya dan menodongkannya pada Yevan yang juga menodongkan pistolnya pada Zee.


怀


怀


Posisi yang sama dengan relief di prasasti keluarga San. Dua orang sedang memegang tombak dan saling menyerang dalam batu prasasti tersebut.


怀


怀


"San adalah matahari, La adalah bulan, San adalah pria, La adalah wanita. Kejayaan masa Dinasti San adalah kutukan bagi sebagian orang. Banyak pertumpahan darah, perang saudara, dan perebutan kekuasaan...."


怀


怀


"Aku membencimu!" Teriak Zee.


怀


怀


Dor!


怀


怀


Dor!


怀


怀


Dor!


怀


怀


Keduanya melepaskan tembakan.


怀


怀


Yevan jatuh tersungkur dengan darah mengalir dari luka tembakan di sekujur tubuhnya. Begitu pun dengan Zee. Gadis itu terduduk luka tembakan di dada dan perutnya.


怀


怀


Terdengar suara derap langkah kaki memasuki vila. Para polisi datang, mereka membawa pistol di tangan masing-masing. Ketika melihat Zee, mereka segera membentuk formasi dengan tameng di depan mereka sebagai pelindung.


怀


怀


"Senior Yerisca Zega, menyerahlah! Kami sudah mengepungmu!"


怀


怀


Zee tersenyum.


怀


怀


"Kau akan mendapatkan hukuman atas semua yang kau lakukan!"


怀


怀


Zee mendecih. "Tidak perlu, aku akan menghukum diriku sendiri."


怀


怀


Zee mengarahkan pistol yang dia pegang ke pelipisnya. "Biarkan aku mengatakan sesuatu hal."


怀


怀


Para polisi tampak berwaspada. "Jangan lakukan apa pun sebelum hakim memutuskan hukuman apa yang pantas kau dapatkan, Senior!"


怀


怀


Zee tersenyum tipis. Air matanya mengalir membasahi pipinya. "Jika kau dilukai oleh orang lain, apa kau akan diam saja? Seseorang memukulmu dan kau diam, itu sama saja kau membiarkannya memukulmu lagi dan lagi. Aku tidak bisa diam saja melihat mereka seenaknya pada orang lain. Jika kita diam, mereka tidak akan berhenti."


怀


怀


Para polisi termenung untuk sesaat.


怀


怀


"Selamat tinggal... dunia."


怀


怀


Dor!


怀


怀


Zee tersungkur.


怀


怀


Darah mengalir dari luka tembakan bunuh diri dari kepalanya.


怀


怀


"Senioor!!!"


怀


怀


Yesinta di sudut ruangan menatap sedih pada adiknya yang sekarat. "Zega."


怀


怀


---


怀


怀


Para polisi mengevakuasi seluruh jenazah di Jati Merah, termasuk jenazah Zee, Yevan, dan Geo. Sekarang Jati Merah benar-benar berwarna merah. Darah di mana-mana.


怀


怀


Banyak polisi junior yang menangisi kepergian Zee. Meskipun gadis itu bukan sosok polisi yang disiplin, tapi Zee adalah polisi yang sangat bertanggung jawab, apalagi terhadap juniornya.


怀


怀


Wajar jika mereka menangis.


怀


怀


Di bawah awan, terlihat dua orang perempuan bergaun putih bercahaya yang terbang menuju sinar yang berwarna keemasan.


怀


怀


šŸšŸšŸ


怀


怀


T H EĀ Ā  END


怀


怀


H-7


怀


怀


UCU IRNA MARHAMAH