H-07

H-07
H7 - 15



Sejak kejadian itu, Yesinta menjadi seorang gadis yang pemurung. Dia tidak masuk kerja, karena tidak berani bertemu dengan bosnya. Namun, lama-lama uang tabungannya habis, jadi mau tidak mau dia harus kembali bekerja di pabrik itu. Kebetulan dia bertemu lagi dengan Bos besar.


 


 


Di ruangannya lagi-lagi Yesinta diperkosa. Gadis itu menjadi pelampiasan hasrat Bos besar.


 


 


Gaji Yesinta selalu menjadi yang terbanyak dibandingkan gaji karyawan lainnya. Itu membuat karyawan lain curiga dan mencari tahu sebabnya. Akhirnya mereka mengetahui bahwa Yesinta adalah jalangnya Bos besar.


 


 


Rahasia itu pun menyebar di pabrik tersebut.


 


 


Bos besar tidak peduli dengan itu. Dia duduk santai dikursi kerjanya. Tiba-tiba ponselnya berdering. Dia mengangkat panggilan tersebut.


 


 


"Halo?"


 


 


Setelah mendengar ucapan seseorang di seberang sana, pria itu tampak syok. Dia melemparkan ponselnya.


 


 


Sejak saat itu, Bos besar jarang datang lagi ke pabrik. Bahkan hampir tidak pernah.


 


 


Itu membuat para alasan bertindak sewenang-wenang. Mereka juga melecehkan Yesinta. Dimulai dari Pak Manager, Wildan, Aji, dan Yuda. Bahkan sesama rekan penjahit juga melecehkannya.


 


 


Semua hal yang tidak pantas mereka lakukan pada gadis muda itu.


 


 


Karyawan lain yang iri pada Yesinta menyeret Yesinta ke kamar mandi. Perempuan-perempuan itu mengikat Yesinta dan memasukkan benda-benda tak lazim ke daerah inti gadis malang itu.


 


 


Selama 11 tahun Yesinta mengalami penderitaan itu di pabrik baju Jati Merah.


 


 


Selain penderitaannya, Yesinta juga melihat rekan lainnya mengalami hal yang sama. Sikap kejam para atasan dan potongan gaji yang tidak sesuai dan banyak lagi.


 


 


Itu yang mendorong Yesinta menghubungi polisi. Dia melaporkan semua kejadian yang terjadi di pabrik baju pada polisi. Pak Herdian menerima laporan tersebut dari bawahannya.


 


 


Suatu hari, Yesinta menerima telepon dari nomor tak dikenal. Dia mengangkatnya.


 


 


"Yesinta, aku adalah Kepala Polisi Herdian."


 


 


"Pak Herdian."


 


 


"Aku menerima laporanmu tentang kejahatan di pabrik baju tempatmu bekerja."


 


 


Yesinta terlihat senang.


 


 


"Kau tahu, adikmu, Zega? Dia seorang polisi yang handal."


 


 


"Zega seorang polisi?" Tampaknya Yesinta baru tahu. Gadis itu merasa bangga pada adiknya. Dia ingin bertemu dengan Zee sejak kecil. Apakah ini kesempatannya untuk bertemu adiknya?


 


 


"Dia bisa memecahkan kasus apa pun, hanya saja dia terlalu emosional. Aku akan mengirimnya ke Jati Merah. Aku harap kau bisa menjaganya dan membantunya menyelesaikan kasus ini."


 


 


Yesinta mengangguk. "Aku akan menjaganya, dia adikku."


 


 


"Kau harus pura-pura tidak tahu kalau dia seorang polisi."


 


 


"Baiklah"


 


 


*** End Flashback (Diary Yesinta) ***


 


 


Zee menangis tersedu-sedu. Dia menyesali apa yang sudah terjadi pada kakaknya. Dia juga menyesal karena tidak bersikap baik saat pertama dan terakhir kalinya mereka bertemu.


 


 


"Maafkan aku, Kak... aku bukan adik yang baik. Bagaimana bisa kau menyimpan semua ini sendirian? Bagaimana bisa kau menanggung semuanya selama ini?"


 


 


Gadis itu bergegas ke kantor polisi malam-malam untuk melaporkan isi buku diary Yesinta.


 


 


 


 


"Apa kau lupa caranya mengetuk pintu?!" Gerutu Pak Herdian.


 


 


Zee melemparkan dua buah buku ke hadapan Pak Herdian. "Selain bukti yang sudah aku kumpulkan untuk menangkap orang-orang sialan itu, aku juga membawa bukti lain. Bukti yang ini bisa membuat hukuman mereka semakin berat."


 


 


Pak Herdian membuka buku merah. "Buku apa ini? Ini terlihat seperti tulisan kuno."


 


 


"Itu versi aslinya dari diary Yesinta. Tulisannya adalah huruf zaman dinasti San/La yang telah terkubur lama. Buku satunya adala terjemahan dari isi buku itu. Jika kau tidak percaya dengan terjemahan yang aku tulis, kau bisa meminta orang dari tempat bersejarah San/La untuk menerjemahkan ulang isinya."


 


 


Pak Herdian mendelik pada Zee. "Hati-hati kalau bicara, apalagi tentang Sejarah Dinasti San/La."


 


 


Zee tidak merespon.


 


 


"Duduklah."


 


 


Zee menghempaskan bokongnya ke kursi. Dia melihat Pak Herdian yang serius membaca buku yang sudah diterjemahkan oleh Zee.


 


 


"Apa rencanamu?" Tanya Pak Herdian.


 


 


"Aku akan menyeret mereka semua dan sebelumnya aku minta padamu untuk menyelidiki siapa Bos pabrik itu."


 


 


"Bos pemilik pabrik itu sudah tidak tinggal di Indonesia. Dia tinggal di luar negeri."


 


 


"Aku tidak peduli. Di mana pun dia berada, aku akan mengejarnya meskipun ke neraka."


 


 


Pak Herdian memutar bola matanya. "Buku ini tidak bisa dijadikan barang bukti, Zee."


 


 


Pak Herdian melemparkan kedua buku itu ke depan Zee. Mendengar ucapan Pak Herdian, Zee benar-benar kecewa.


 


 


"Buku ini bisa saja karangan fiksi yang dibuat Yesinta. Tidak ada yang tahu kenyataan yang sebenarnya."


 


 


"Apa kau bilang? Kau...."


 


 


"Ketika jenazah Yesinta diotopsi, dia melakukan hubungan intim dengan belasan pria. Itu tidak tertulis di buku ini. Bisa jadi dia menambahkan dan mengurangi cerita yang sebenarnya."


 


 


Zee terluka dengan ucapan Pak Herdian. Kata-kata itu seolah memojokkan Yesinta.


 


 


"Persidangannya akan dilakukan 7 hari lagi. Kau harus datang membawa para tersangka. Geo juga ikut serta dalam misi ini. Kalian berdua harus saling mendukung nanti di persidangan. Soal posisi Komisaris, nanti aku akan memikirkannya lagi."


 


 


Zee mendecih. "Aku tidak peduli lagi dengan posisi itu. Kau tidak percaya padaku hingga menyuruh orang lain untuk misi ini? Oh iya, aku lupa... kau tidak bisa mempercayai siapa pun di dunia ini, ya?"


 


 


Pak Herdian tidak merespon. Dia hanya menatap Zee.


 


 


Gadis itu beranjak dari tempat duduknya dan menatap tajam pada atasannya. "Ingat ini, Pak Kepala... aku tidak akan pernah menyeret para tersangka ke pengadilan. Aku sendiri yang akan menghakimi mereka semua dalam waktu 7 hari. Jika dalam waktu 7 hari aku tidak berhasil menghabisi mereka, kau boleh menangkapku dan menembak kepalaku di tempat."


 


 


Zee berlalu, tapi langkahnya terhenti. "Kau hanya memanfaatkan Yesinta untuk kasus ini dan mempromosikan jabatanmu. Aku tahu semuanya lewat diary itu. Kau benar, tidak ada yang bisa dipercaya di dunia ini."


 


 


Gadis itu meletakkan pistol dan lencana polisi miliknya di meja Pak Herdian. "Aku berhenti."


 


 


Zee melanjutkan langkahnya. Pak Herdian menatap punggung Zee yang menghilang dibalik pintu.


 


 


🍁🍁🍁


 


 


18.17 | 02 Januari 2021


By Ucu Irna Marhamah