
Yesinta berjalan menyusuri jalanan berbatu dengan ekspresi kosong. Wajah gadis itu terlihat basah. Dia menangis.
Zega, hanya kau satu-satunya harapanku untuk membuat mereka semua di penjara. Kau adikku yang sangat aku banggakan. Kau sangat berharga bagiku. Aku ingin kau tetap bertahan untuk misimu.
*** Flashback ***
Yesinta menerima telepon dari nomor tak dikenal.
"Yesinta, aku adalah Kepala Polisi Herdian."
"Pak Herdian."
"Aku menerima laporanmu tentang kejahatan di pabrik baju tempatmu bekerja."
Yesinta terlihat senang.
"Kau tahu, adikmu, Zega? Dia seorang polisi yang handal."
"Zega seorang polisi?" Tampaknya Yesinta baru tahu.
"Dia bisa memecahkan kasus apa pun, hanya saja dia terlalu emosional. Aku akan mengirimnya ke Jati Merah. Aku harap kau bisa menjaganya dan membantunya menyelesaikan kasus ini."
Yesinta mengangguk. "Aku akan menjaganya, dia adikku."
"Kau harus pura-pura tidak tahu kalau dia seorang polisi."
"Baiklah"
*** End Flashback ***
Yuda menaiki motornya. Baru saja dia menyalakan motor, dia melihat Yesinta datang menghampirinya. Yuda membuang muka.
"Jangan kau pikir aku akan berubah pikiran setelah apa yang adikmu lakukan padaku."
"Aku mohon, Kak. Dia sangat membutuhkan pekerjaan ini."
Yuda menatap tubuh Yesinta yang tertutup. "Kita bicarakan di ruanganku.
Yesinta dan Yuda memasuki pabrik. Zega yang berdiri di seberang jalan tampak curiga. Sedari tadi dia membuntuti kakaknya.
Di ruangan Yuda.
Pria itu duduk di kursinya sambil menatap Yesinta yang berdiri di depannya.
"Jika kau mau melakukan hal yang sama seperti pertama kau bergabung dengan tim jahit, aku akan mempertimbangkan keputusanku."
"Aku akan melakukannya, jika kau tidak jadi memecat Zega."
Yuda tersenyum penuh kemenangan. "Baiklah."
Air mata Yesinta menggenang memenuhi pelupuk matanya. Yuda menggerakkan tangannya.
"Kemarilah."
Perlahan Yesinta menghampiri Yuda. Pria itu menarik Yesinta agar duduk di pangkuannya. Dengan beringas, dia mencium bibir Yesinta. Yuda mendorong gadis itu ke meja kerjanya sehingga semua dokumen di mejanya berjatuhan ke lantai. Pria itu membuka paksa pakaian Yesinta dan menjamah tubuh yang setengah telanjang itu.
Yuda menarik ****** ***** Zega dari balik roknya kemudian dia membuka resleting celananya. Yesinta menjerit tertahan saat sesuatu melesak mencoba memasuki bagian intinya.
"Sakit sekali." Yesinta menahan dada Yuda.
"Itu juga yang kurasakan saat adikmu memperlakukanku! Jangan harap aku bersikap lembut kali ini." Yuda tidak memperdulikan rintihan kesakitan yang dirasakan Yesinta. Dia hanya ingin memuaskan napsu binatangnya.
Yesinta jatuh terduduk ke lantai sambil menutupi tubuhnya. Dia tidak bisa lagi menyembunyikan air matanya. Rasa terhina saat kehormatannya diinjak-injak oleh napsu para pria di sekitarnya yang membuat harga dirinya terluka.
"Tubuhmu tetap membuatku merasa ketagihan, padahal entah sudah berapa banyak pria yang memakaimu."
Ucapan Yuda membuat Yesinta semakin terluka.
"Pulang sana, sebelum yang lain melihatmu dan meminta giliran.
Yesinta beranjak. Ketika membuka pintu, kedua matanya melebar melihat keberadaan Zee di depan pintu. Kedua mata gadis itu sembab. Tampaknya dia menangis.
Yesinta menelan saliva. Jangan sampai dia tahu, apa yang aku lakukan dengan Yuda.
Yuda keluar dari ruangannya dan melihat dua perempuan itu berdiri saling berhadapan di depan pintu.
"Zega? Apa yang kau lakukan di sini?"
Zee tidak menjawab.
Yuda melirik Zega dan Yesinta bergantian. "Kalian pulang sana, besok kalian harus bekerja. Nanti kesiangan."
Zee menatap Yuda dengan tajam.
"Kakakmu sudah menyelamatkanmu. Kau tidak jadi dipecat berterima kasihlah padanya." Yuda berlalu.
Zee menggeleng tidak percaya.
Langkah Yuda terhenti. Dia kembali menoleh pada kedua perempuan itu. "Yesinta, aku tidak yakin dia menyayangimu sebagai kakaknya. Kenapa kau terlalu baik?"
Yuda tersenyum sinis kemudian berlalu melanjutkan langkahnya.
Zee menunduk. "Aku tidak butuh pertolonganmu, Yesinta. Kenapa kau melakukan ini? Kau hanya membuat dirimu terhina. Berhenti bersikap seperti seorang kakak."
Yesinta mengusap rambut adiknya. "Aku hanya ingin semua ini berakhir. Semuanya bergantung padamu, Zee."
"Aku bisa mengatasinya sendiri. Kau tidak perlu melakukan ini. Kau pikir dengan kau begini semuanya akan berakhir?!"
"Aku sudah terlanjur hancur. Aku hanya ingin menjadi umpan untuk misimu."
Zee menutup matanya. "Tua bangka itu yang memberitahumu tentang tujuanku yang sebenarnya, kenapa datang kemari? Dia juga menceritakan tentang profesiku?"
"Dia ayahmu."
"Ya, aku lupa."
"Kau hanya perlu fokus pada tujuan utamamu. Jangan membuat semuanya menjadi semakin ruwet. Kau tahu, pemilik pabrik ini...."
"Seorang gangster, aku sudah tahu," potong Zee.
Hanya itu yang kau tahu? Tanya Yesinta dalam hati.
"Pulanglah, bersihkan dirimu. Ini untuk yang terakhir kalinya. Jangan sampai pria lain menjamahmu lagi atau aku akan melakukan misiku tanpa rencana sebelumnya." Zee berlalu meninggalkan Yesinta.
🍁🍁🍁
08.44 | 02 Januari 2021
By Ucu Irna Marhamah