H-07

H-07
H7 - 13



Zee terhenyak bangun. Dia ketiduran di mejanya. Gadis itu menguap kemudian melihat buku diary merah di mejanya. Zee tampak berpikir.


 


 


"Siapa Bos pabrik baju? Aku belum pernah melihatnya selama di sana." Gadis itu pun pergi ke kamar mandi. Setelah membersihkan diri dan memakai pakaian santai, Zee membuat sereal untuk sarapan.


 


 


Zee pergi ke kantor polisi tanpa seragamnya. Para polisi menoleh padanya. Mereka saling berbisik, tapi Zee tidak memperdulikannya. Beberapa polisi ada yang mengangkat tangan hormat. Zee mengangguk merespon mereka.


 


 


Gadis itu memasuki ruangan kerja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Para polisi yang berada dj dalam ruangan menoleh padanya. Mereka tampak duduk rapi.


 


 


"Zee? Kau masuk?" Tanya salah seorang polisi.


 


 


"Selamat pagi, Jordan." Bukannya menjawab, itu yang dikatakan Zee. Gadis itu duduk di meja kerjanya. Lalu menyalakan komputer.


 


 


Zee tahu, seluruh pandangan di ruangan itu tertuju padanya. "Kerjakan tugas kalian masing-masing sebelum aku mencungkil mata kalian."


 


 


Mendengar ancaman menakutkan dari Zee, mereka segera fokus dengan pekerjaan masing-masing. Zee mencari informasi tentang Bos pabrik baju lewat daftar di misinya.


 


 


"Tidak ada informasi tentangnya, jadi dia siapa?"


 


 


Pak Herdian tiba-tiba masuk ke ruangan kerja bawahannya. "Zega! Sedang apa kau di sini? Bukankah kau sedang dalam masa cuti?!"


 


 


"Aku memang sedang cuti. Apa Bapak tidak melihat pakaian yang kupakai?" Zee tidak takut sama sekali pada atasannya.


 


 


"Cuti itu artinya kau tidak boleh masuk kerja!" Pak Herdian tampak marah.


 


 


Zee menatap Pak Herdian. "Abaikan keberadaanku, anggap saja aku tidak ada."


 


 


Zee diseret keluar oleh teman-temannya agar tidak bertengkar dengan Pak Herdian.


 


 


"Sialan."


 


 


Zee kembali ke apartemennya. Gadis itu mengambil sachet kopi. Ketika dia menuangkan air panas dari termos, ternyata air panasnya habis. Karena kesal, dia menelan bubuk kopi itu mentah-mentah.


 


 


Dia ke kamar dan kembali membaca diary merah milik Yesinta. Tiba-tiba dia teringat sesuatu. Gadis itu mengambil ponselnya dan menghubungi Yevan.


 


 


"Kak Yevan mungkin tahu tentang Bos pabrik baju di Jati Merah."


 


 


Panggilannya tak kunjung diangkat. Zee kembali menekan tombol call untuk menghubungi Yevan.


 


 


"Kenapa Kak Yevan tidak mengangkat teleponnya?" Gerutu Zee. Gadis itu menyerah. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi.


 


 


"Geo." Zee menghubungi Geo. Pria itu langsung mengangkat panggilannya.


 


 


"Ada apa, Zee?"


 


 


"Kau sedang apa? Apa kau sibuk?"


 


 


"Sedikit."


 


 


"Apa kau bisa membantuku?"


 


 


"Apa yang bisa kubantu?"


 


 


"Aku hanya ingin bertanya, apa kau pernah melihat Bos pabrik baju?"


 


 


Hening. Zee tidak mendengar jawaban Geo.


 


 


"Hanya sekali. Pria itu jarang ke pabrik."


 


 


Zee tampak berpikir. "Siapa namanya?"


 


 


"Aku tidak tahu."


 


 


Zee mendengus kesal. "Seperti apa wajahnya?"


 


 


"Dia tampan dan berwibawa."


 


 


"Bisa lebih spesifik lagi?"


 


 


"Hanya itu yang kuingat."


 


 


"Thanks."


 


 


Zee menghela napas berat. Dia mengacak rambutnya frustasi. "Apa aku bisa menyelesaikan kasus ini? Kenapa semuanya menjadi semakin rumit?"


 


 


Selain harus memecahkan kasus sebelumnya mengenai kebijakan di pabrik baju yang sewenang-wenang, Zee juga harus menyelidiki insiden yang menimpa Yesinta. Menurutnya kasus Yesinta kebih ruwet dari kasus pabrik baju.


 


 


"Kepalaku bisa meledak." Zee memilih untuk menerjemahkan terlebih dahulu diary Yesinta dari awal sampai terakhir yang dia baca.


 


 


Bukunya cukup tebal untuk sebuah diary. Zee membutuhkan banyak waktu untuk menerjemahkan itu. Meskipun dia tipe orang yang tidak suka ribet, tapi dia melakukannya dengan telaten.


 


 


 


 


"Kak Yevan?"


 


 


"Bisakah malam ini kau menemuiku di rumah kita?"


 


 


Zee tampak berpikir.


 


 


"Zee? Zega?"


 


 


"Kakak tidak pergi ke Osaka?" Zee menunggu jawaban kakaknya.


 


 


"Ada urusan mendadak. Apa kau sibuk? Kau tidak bisa datang?"


 


 


Zee tidak segera merespon.


 


 


"Bukannya kau sedang cuti?"


 


 


"Aku akan datang malam ini."


 


 


Zee mengakhiri panggilannya dan meletakkan ponselnya ke meja. Gadis itu kembali menerjemahkan diary Yesinta.


 


 


Ketika jam menunjukkan pukul 7 malam, Zee bersiap-siap menemui kakaknya. Dia membawa tas, tapi entah kenapa dia merasakan firasat buruk sehingga dia membawa pistolnya.


 


 


Gadis itu pergi ke rumah keluarga San dengan motornya. Sesampainya di sana, Yevan menyambut adiknya dengan hangat. Pria itu memeluk Zee.


 


 


"Aku merindukanmu, Zee."


 


 


"Aku juga."


 


 


Mereka pun makan malam bersama.


 


 


"Aku mencemaskanmu, karena aku yakin kau begitu terpukul dengan kematian orang tua kita. Kudengar kau juga menangisi kepergian saudari tirimu."


 


 


Zee tidak menanggapi ucapan Yevan.


 


 


"Aku harap kau mengajukan Surat Pengunduran Diri pada kepolisian dan ikut denganku ke Osaka. Di sana kita akan mengurus bisnis keluarga San. Tidak ada yang bisa aku percaya selain kau, saudariku." Yevan menatap serius pada adiknya.


 


 


"Aku tidak yakin bisa mengurus bisnis gelap Ayah. Kakak cocok dengan bisnis itu," ujar Zee.


 


 


Yevan menyeringai. "Apa kau akan memilih menjadi pelayan masyarakat selamanya? Kau bisa membuatku dalam bahaya, Zee, karena profesi kita bertolak belakang."


 


 


Zee terlihat sedih mendengar fakta tersebut. "Kita hanya perlu membangun batasan. Aku tidak akan mengganggu urusan Kakak, Kakak juga tidak boleh mengganggu urusanku. Kita tetap saudara."


 


 


Yevan mencerna ucapan adiknya. Dia pun bertanya, "Kenapa kau memilih menjadi seorang polisi?"


 


 


Zee tersenyum sendu. "Aku bosan dengan stigma negatif yang orang-orang pikirkan tentang keluarga San/La sejak awal. Aku ingin mereka membuang jauh-jauh pemikiran buruk tentang keluarga besar San/La. Bahkan sejarah kita dan dinasti nenek moyang kita tidak pernah diakui di negara ini."


 


 


Yevan mengerti dengan perasaan adiknya. "Itu karena kita keturunan campuran sejak dinasti San berdiri."


 


 


Pria itu memberikan pistol yang ada lambang matahari dan bulan purnama (lambang keluarga San) pada Zee. "Kau pasti membutuhkannya suatu hari nanti."


 


 


Zee menerima pistol tersebut. Dia melihatnya untuk sesaat. "Aku polisi, aku juga punya pistol, tapi terima kasih... aku akan menggunakannya."


 


 


"Hanya keluarga San/La dan Adiwijaya yang punya pabrik senjata sendiri."


 


 


"Aku pernah mendengarnya."


 


 


"Besok aku pergi ke Osaka mungkin aku akan tinggal lama di sana. Jaga dirimu baik-baik, Zee."


 


 


Zee menganggukkan kepalanya. Dia berpamitan pada kakaknya. Gadis itu menaiki motornya. Ketika dinyalakan, tangan Zee terasa sakit.


 


 


Yevan yang melihat itu menghampiri adiknya. "Kenapa tanganmu, Zee?"


 


 


"Sepertinya tanganku kram. Apa aku boleh meminta bodyguard mengantarku pulang?"


 


 


Yevan mengangguk. "Tentu saja."


 


 


Yevan menyuruh salah satu bodyguard-nya membawa mobil untuk mengantarkan Zee pulang ke apartemennya. Yevan menatap mobilnya yang melaju meninggalkan kediaman San Bima.


 


 


Sesampainya di apartemen, Zee meletakkan kedua pistolnya di atas meja. Dia duduk dan melanjutkan menerjemahkan isi diary merah itu.


 


 


🍁🍁🍁


 


 


16.42 | 02 Januari 2021


By Ucu Irna Marhamah