
🍁🍁🍁
"Gnossienne; perasaan yang muncul ketika kau sudah lama mengenal seseorang, tapi kau sadar bahwa ada bagian dari dirinya yang masih misterius, yang tidak kau ketahui.
🍁🍁🍁
Zee membuka kain putih yang menutupi jenazah Yesinta. Wajah yang masih cantik, namun pucat itu membuat Zee tidak bisa menahan air matanya.
"Kak Yesinta."
Geo memperhatikan Zee yang terlihat begitu kehilangan. Zee memakamkan Yesinta di pemakaman keluarga San. Dia juga memindahkan makam ibunya Yesinta ke samping makam ibunya.
Emma yang juga hadir di pemakaman Yesinta menoleh pada Zee. "Apa tidak apa-apa memakamkan mereka di sini, tanpa sepengetahuan Tuan Muda?"
"Mereka bagian dari keluarga San. Aku saja tidak marah saat Kak Yevan memakamkan Ayah tanpa menunggu kedatanganku."
Emma bungkam seribu bahasa.
Setelah pemakaman Yesinta, gadis itu melaporkan kejadian tersebut pada polisi setempat, namun tanggapan mereka biasa saja, seolah kematian Yesinta tidak ada artinya.
Zee juga menghubungi Pak Herdian dan meminta kasus Yesinta diurus. Pak Herdian mengerahkan polisi pilihan untuk menyelidiki TKP. Ketika TKP diperiksa polisi, mereka menemukan fakta bahwa kebakaran itu terjadi karena gas yang meledak.
Mereka juga meminta kesaksian pada para warga. Tidak ada yang mengaku melihat rumah Yesinta di bakar oleh warga. Mereka justru berkumpul dan berusaha memadamkan api yang berkobar. Bahkan mereka memiliki buktinya berupa foto warga membawa ember dan jerigen. Dalam foto itu memang terlihat mereka sedang memadamkan api.
Para polisi mulai mempertanyakan Zee. Salah satu dari mereka menghampiri Zee.
"Kami mengerti, kau sudah kehilangan kedua orang tuamu. Kau juga kehilangan kakakmu. Sebaiknya kau beristirahat beberapa minggu."
Zee menatap tajam pada temannya itu. "Apa kau menganggapku gila?!"
"Bukan begitu."
"Jika kalian tidak bisa menemukan buktinya, aku akan mencarinya sendiri."
Setelah kejadian itu, Zee diliburkan selama satu bulan oleh Pak Herdian. Gadis itu menghabiskan waktunya di apartemen. Dia membayangkan wajah Yesinta yang selalu tersenyum hangat padanya.
Zee memilih kembali ke rumah Yesinta yang sebagian besar sudah menjadi abu. Gadis itu masih memakai piyama tidur. Geo menemaninya. Zee menerobos garis polisi dan masuk untuk mencari sesuatu di sana.
"Kau diliburkan sebulan dan baru saja 3 hari kau menjalani cuti panjang ini, sekarang kau kembali ke tempat ini," kata Geo.
"Diamlah."
"Aku sudah tidak peduli lagi dengan posisi itu. Yang aku pedulikan sekarang adalah kasus ini."
Geo menatap punggung Zee.
"Warga kampung sialan. Mereka memberikan kesaksian palsu. Yang aku tahu, Yesinta sengaja dijebak dan rumahnya dibakar warga. Saat aku masuk menerobos api, ada kayu besar yang menghalangi pintu kamar Yesinta seolah sengaja diletakkan di sana agar pintunya tidak bisa dibuka."
"Sekarang apa rencanamu?"
"Aku ingin menyeret mereka semua ke dalam penjara. Semua yang terlibat harus mendapatkan ganjarannya." Zee mengepalkan tangannya.
"Caranya?" Tanya Geo.
"Aku akan melakukan berbagai cara."
Zee memeriksa TKP, begitu pun dengan Geo. Pria itu menuju ke ruangan lain.
Di sana Zee menginjak sesuatu seperti papan. Gadis itu berjongkok dan melihatnya. Ternyata ada papan yang menyerupai lantai. Ketika papan itu dibuka, ada lubang persegi di bawahnya. Terdapat buku tebal berwarna merah. Zee membukanya. Isinya adalah huruf yang tidak dia mengerti.
"Ini mirip tulisan di batu prasasti keluarga San."
Sementara itu di pabrik baju, Para karyawan tampak ceria. Mereka tidak terlihat sedih, karena kehilangan salah satu rekan kerja di pabrik.
Yuda menghela napas berat. "Yesinta telah pergi untuk selamanya. Tidak ada lagi yang bisa menghangatkan tubuhku."
Wildan memukul lengan Yuda. "Kau masih memiliki istri, kau bisa bermain dengannya. Lalu bagaimana dengan duda sepertiku?"
"Sayang sekali gadis itu pergi dengan begitu cepat," timpal Aji.
"Kemana adiknya pergi?" Tanya Wildan.
"Siapa peduli, bukannya bernapsu, yang ada napsuku hilang melihat gadis culun itu," gerutu Aji.
Pak Manager menghampiri mereka. "Kalian sedang meeting apa? Cepat bekerja. Besok Bos kita datang untuk controlling."
🍁🍁🍁
11.12 | 02 Januari 2021
By Ucu Irna Marhamah