H-07

H-07
H7 - 22



Zee melihat pabrik baju di depannya yang diselimuti api. Gadis itu menutup matanya kemudian berlalu memasuki mobilnya. Dia menuju ke penginapan dan menyiapkan 2 pistol. Gadis itu melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 3 dini hari.


 


 


"Sebelum persidangan dimulai, aku akan menemukan Bos besar sialan itu, atau Herdian akan menembak kepalaku." Zee melajukan mobilnya menuju perbukitan di mana vila Bos besar berada.


 


 


"... Kebakaran terjadi di pabrik baju Jati Merah. Pabrik itu kini hangus terbakar. Ada 23 orang korban yang tewas dalam kejadian tersebut...."


 


 


*** Flashback ***


 


 


Zee bangkit sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Sekarang aku ingin kau melakukan sesuatu untukku."


 


 


Wanita itu mendongkak menatap Zee.


 


 


"Bawa semua orang yang terlibat dalam insiden kebakaran itu ke dalam pabrik baju."


 


 


Wanita itu menggeleng. "Tidak! Aku tidak mau mati!"


 


 


Zee menutup kedua matanya. "Kalau kau tidak membawa mereka ke pabrik baju, aku akan membakarmu di sini. Kau akan mati sendirian."


 


 


Wanita itu memohon.


 


 


"Kau tidak mau mati sendirian, kan?"


 


 


---


 


 


Zee menyalakan pemantik api dan melemparkan pemantik tersebut ke lantai pabrik. Api pun menyala dan berkobar melahap bangunan tersebut. Gadis itu menatap pabrik baju di depannya yang diselimuti api.


 


 


*** End Flashback ***


 


 


Sesampainya di perbukitan, Zee keluar dari mobilnya. Para bodyguard menoleh padanya. Dengan terang-terangan, Zee menembaki lengan dan kaki mereka.


 


 


"Jangan halangi jalanku." Gadis itu menendang pintu vila dan masuk. Dia melihat pria berjas hitam berdiri menghadap ke jendela otomatis membelakanginya.


 


 


Zee menembaki laptop di meja hingga hancur. "Katakan sesuatu sebelum aku menembakmu."


 


 


Pria itu berbalik menatap Zee dengan senyuman hangatnya. "Selamat datang di rumah."


 


 


Yevan, pria itu adalah Bos Besar. Zee tidak terkejut sama sekali. Dia masih menatap datar pada kakaknya.


 


 


"Ada apa denganmu? Kenapa kau menatapku seperti itu?" Yevan masih tersenyum tampan.


 


 


Zee mendecih. "Setelah semua yang kau lakukan, apakah kau masih bisa tersenyum seperti itu?! Berhenti berpura-pura, Yevan Zerran San Bima!"


 


 


Seketika ekspresi Yevan berubah dingin. "Kau tidak terkejut melihatku?"


 


 


Zee melipat kedua tangannya di depan dada. "Aku sudah mencurigaimu sejak kematian Ayah. Kau bilang, kau akan pergi ke Osaka. Ketika hari Rabu kau meneleponku, aku lihat kau masih di Indonesia, seharusnya waktu itu kau sudah di Jepang. Lalu malam itu aku datang ke rumah untuk makan malam bersamamu. Kau memberiku sebuah pistol buatan pabrik senjata San di Rusia. Ketika ditaruh di meja, aku melihat sesuatu yang berkedip. Kau meletakkan alat pelacak dalam pistol itu..."


 


 


*** Flashback ***


 


 


Yevan memberikan pistol yang ada lambang matahari dan bulan purnama (lambang keluarga San) pada Zee. "Kau pasti membutuhkannya suatu hari nanti."


 


 


Zee menerima pistol tersebut. Dia melihatnya untuk sesaat. Gadis itu melihat ada setitik lampu merah yang berkedip dalam pistol itu."Aku polisi, aku juga punya pistol, tapi terima kasih... aku akan menggunakannya."


 


 


"Hanya keluarga San/La dan Adiwijaya yang punya pabrik senjata sendiri."


 


 


"Aku pernah mendengarnya."


 


 


"Besok aku pergi ke Osaka mungkin aku akan tinggal lama di sana. Jaga dirimu baik-baik, Zee."


 


 


*** End Flashback ***


 


 


Yevan tersenyum mendengar cerita adiknya.


 


 


 


 


*** Flashback ***


 


 


Zee berpamitan pada kakaknya. Gadis itu menaiki motornya. Dia mencium bau aneh ketika menaiki motor tersebut. Ketika dinyalakan, baunya semakin kuat.


 


 


Sepertinya motorku sudah dirakit untuk menjadi bom waktu, pikir Zee.


 


 


Zee memegangi tangannya seolah dia kesakitan.


 


 


Yevan yang melihat itu menghampiri adiknya. "Kenapa tanganmu, Zee?"


 


 


"Sepertinya tanganku kram. Apa aku boleh meminta bodyguard mengantarku pulang?"


 


 


Yevan mengangguk. "Tentu saja."


 


 


Itulah sebabnya Zee tidak membawa pistol dari Yevan saat pergi ke Jati Merah.


 


 


*** End Flashback ***


 


 


Yevan berkacak pinggang. "Itu hanya prasangkamu saja."


 


 


Zee menggeleng. "Tidak, aku benar. Kau adalah Bos besar pabrik baju. Kau adalah puncak masalahnya."


 


 


Yevan menunggu Zee menyelesaikan kalimatnya.


 


 


"Lambang keluarga San adalah matahari dan bulan. Lambang tersebut juga menjadi logo di pabrik baju. Aku melihatnya di salah satu dokumen yang disimpan manager pabrik. Logo tersebut mewakili namamu. Kau pikir aku bodoh?"


 


 


*** Flashback ***


 


 


Zee mencari informasi di ruangan Manager. Dia menggeledah semua dokumen untuk menemukan identitas asli Bos besar. Hingga di satu titik dia menemukan dokumen yang membuat Zee terkejut.


 


 


"Apa ini?"


 


 


Ada cap matahari dan bulan di atas tulisan Bos besar sebagai pengganti tanda tangan.


 


 


"Ja-jadi... selama ini aku tidak salah orang? Kak Yevan...." Butiran bening menggenang di pelupuk mata Zee.


 


 


*** End Flashback ***


 


 


Yevan bertepuk tangan. "Ah, kau benar-benar polisi yang cerdas. Sekarang aku mengerti, kau memang tidak salah memilih profesi. Aku kecewa, karena kau tidak terkejut saat melihatku berada di sini."


 


 


Zee menautkan alisnya. "Pertanyaanku... kenapa kau melakukan ini?!"


 


 


Yevan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Apa kau tahu, apa yang sebenarnya terjadi? Kau belum tahu semuanya. Yang kau tahu barusan itu bisa dibilang hanya 25% dari apa yang terjadi selama ini."


 


 


Zee mengerutkan keningnya.


 


 


"Duduklah, aku akan menceritakannya dari awal."


 


 


Zee tidak bergeming dari tempatnya berdiri.


 


 


Yevan memutar bola matanya kemudian duduk di kursi. "Semuanya berawal dari Ayah. Pria tua bangka itu membuatku melakukan semua ini."


 


 


Zee mengerutkan dahinya.


 


 


🍁🍁🍁


 


 


05.40 | 06 Januari 2021


By Ucu Irna Marhamah