H-07

H-07
H7 - 12



Zee pergi ke tempat bersejarah keluarga San. Tidak bisa dipungkiri, keluarga San adalah bagian dari Sejarah yang tidak tertulis dalam buku pelajaran. Kenapa? Karena keluarga San dianggap sebagai pengkhianat dan kutukan di masanya. Kurikulum tidak memasukkan Sejarah kelam keluarga yang haus darah ini.


 


 


Bahkan lokasi tempat bersejarahnya sangat tertutup. Hanya keluarga San/La yang bisa mendatangi tempat tersebut. Pengelola tempatnya juga keturunan San/La.


 


 


Awalnya pemerintah ingin menghancurkan lokasi bersejarah itu, karena mereka ingin menghapus kisah yang mengerikan dari Sejarah Indonesia. Tapi, beberapa klan San/La meminta untuk mempertahankan tempat bersejarah itu untuk menunjukkannya pada generasi San/La, tapi mereka menutup tempat itu bagi orang yang bukan berasal dari keluarga San/La.


 


 


Setelah berbicara dengan penjaganya, Zee diperbolehkan masuk tanpa membeli tiket. Zee melihat ada banyak prasasti bersejarah di sana. Gadis itu melihat petunjuk alfabet yang serupa dengan isi buku merah milik Yesinta.


 


 


"A, B, C, D, E, F...." Dengan otak cerdasnya, Zee menghafal semua huruf itu.


 


 


Dia mencoba mengeja salah satu prasasti. "San adalah matahari, La adalah bulan, San adalah pria, La adalah wanita. Kejayaan masa Dinasti San adalah kutukan bagi sebagian orang. Banyak pertumpahan darah, perang saudara, dan perebutan kekuasaan...."


 


 


Zee melihat relief dua orang sedang memegang tombak dan saling menyerang dalam batu prasasti tersebut. Gadis itu menghela napas panjang.


 


 


Zee memilih kembali ke apartemen dan membaca isi buki merah itu.


 


 


"Yesinta Zevanya La Bima, itulah namaku." Tulisan itu yang tertera di sampul buku tersebut. Tampaknya buku tersebut adalah buku diary milik Yesinta.


 


 


Dimulai dari tanggal 14 September 2011, saat ibunya Zee datang ke rumahnya.


 


 


Zee sudah tahu peristiwa itu, setelah melewati beberapa lembar, Zee menemukan cerita yang lebih mengerikan yang selama ini disembunyikan Yesinta dari semua orang.


 


 


Zee menelan saliva.


 


 


*** Flashback (isi buku diary Yesinta) ***


 


 


Yesinta muda berumur 14 tahun. Gadis itu melamar pekerjaan di pabrik baju yang merupakan satu-satunya lapangan pekerjaan di Jati Merah.


 


 


Aji melihat gadis muda berpakaian rapi di depannya. "Silakan duduk."


 


 


Yesinta duduk berhadapan dengan Aji. Pandangan gadis itu tertuju ke setiap sudut ruangan. Semoga aku bisa bekerja di sini dan membantu Ibu mencari uang.


 


 


"Berapa umurmu?"


 


 


"Aku 14 tahun."


 


 


Cantik sekali. Dia juga masih sangat muda. Aku jadi berpikiran yang bukan-bukan, batin Aji.


 


 


"Namamu?"


 


 


"Yesinta."


 


 


"Apa kau membawa persyaratan lainnya?" Aji meletakkan map coklat pudar itu ke mejanya.


 


 


"Persyaratan lain?" Yesinta terlihat bingung.


 


 


"Yang masuk ke pabrik ini, selain membawa persyaratan kerja, karyawan juga harus membawa uang masuk."


 


 


Yesinta mengerutkan dahinya. "Ta-tapi... teman saya bilang, saya tidak perlu membawa uang."


 


 


"Kalau begitu, kau tidak bisa bekerja di sini." Aji melipat kedua tangannya di depan dada sambil menyandarkan punggungnya ke kursi.


 


 


Yesinta segera bersuara, "Teman saya bilang, sebelum bekerja, saya harus menjalani pelatihan menjahit. Saya tidak masalah jika tidak dibayar selama masa pelatihan, asalkan saya bisa diterima di sini."


 


 


Aji tersenyum sambil beranjak dari kursinya menghampiri Yesinta. "Kalau kau mau, ada cara lain yang lebih gampang."


 


 


 


 


Yesinta kaget, saat Aji memutar kursinya dan menarik kemeja yang dipakainya Yesinta.


 


 


"Tidak! Apa yang anda lakukan!" Yesinta berontak.


 


 


Aji mendorong kursinya hingga Yesinta jatuh tersungkur ke lantai. Aji menarik gadis itu dan menghempaskannya ke sofa lalu dia menindihnya dan menciumi leher gadis itu.


 


 


Yesinta berteriak, "Tolong! Tolong!"


 


 


Tiba-tiba pintu terbuka. Seorang pria muda terkejut dengan apa yang dia lihat.


 


 


"Aji! Apa yang kau lakukan?!"


 


 


Aji tersentak dan menoleh pada pria itu. "B-bos?"


 


 


Pria yang berusia sekitar 20 tahunan itu melihat pada Yesinta yang berusaha membenarkan pakaiannya yang sudah koyak.


 


 


"Aji, aku menunggumu di ruanganku!"


 


 


Setelah kejadian itu, Yesinta diperbolehkan bekerja tanpa harus membayar uang masuk. Gadis itu menjalani masa pelatihan dengan giat. Dia termasuk yang paling cepat menguasai mesin jahit. Selain mesin jarum satu, dia juga bisa mesin obras, mesin kamput, orderampu, dan siling.


 


 


(Mohon maaf jika penulisannya salah, kalau ada yang tahu, silakan tulis di kolom komentar.)


 


 


Wildan selaku pelatih jahit sesekali menggoda Yesinta. Gadis ini sangat cantik, terlalu sayang jika dilewatkan.


 


 


Yesinta kerap kali mengalami pelecehan dari atasan dan rekan sesama penjahit, namun dia berusaha bertahan demi ibunya. Meskipun ayahnya seorang San Bima, sang ayah seolah tidak peduli dengan keadaan mereka.


 


 


Suatu hari, Yesinta dituduh mencuri baju pabrik dan dia dipanggil ke ruangan Bos besar. Di sana Yesinta merasa sangat ketakutan.


 


 


"Bukan saya pelakunya, Bos."


 


 


Bos besar yang tampan itu menatap gadis yang terlihat begitu ketakutan di depannya. "Aku tidak peduli, siapa yang melakukannya, tapi mereka semua menunjukmu."


 


 


Yesinta menunduk dalam. "Aku tidak melakukannya."


 


 


"Aku dengar ibumu sedang sakit parah, tapi peraturan tetaplah peraturan. Kau harus dikeluarkan."


 


 


Yesinta bertekuk di depan pria itu. "Saya mohon, jangan keluarkan saya. Ibu saya sedang sakit. Saya butuh uang untuk pengobatannya."


 


 


"Itu sebabnya kau mencuri baju?" Sergah Bos besar.


 


 


Yesinta menggeleng. "Saya tidak mencuri."


 


 


Bos besar tahu, Yesinta berkata jujur. "Baiklah, anggap saja kau jujur. Kau tidak akan dikeluarkan. Untuk menambah penghasilanmu, kau harus bekerja sebagai pelayan di vila tempat tinggalku, bagaimana?"


 


 


Yesinta tampak berpikir.


 


 


Bos besar menepuk bahu Yesinta. "Pikirkan ibumu." Kemudian pria itu pergi.


 


 


🍁🍁🍁


 


 


12.25 | 02 Januari 2021


By Ucu Irna Marhamah