H-07

H-07
H7 - 04



Zee selesai menulis surat lamaran. Dia memasukkan semua persyaratan ke dalam map coklat pudar. Gadis itu meregangkan tubuhnya sambil menguap lebar. Dia melihat Yesinta yang sudah berlayar di dunia mimpinya sedari tadi. Zee penasaran akan sesuatu. Dia bangkit dan menggeledah barang-barang milik Yesinta.


Gadis itu menemukan raport SD milik Yesinta. Sejak kecil, Yesinta memang sudah cantik. Zee melihat tanggal lahir Yesinta.


 


 


"Dia setahun lebih tua dariku. Jadi, dia kakak tiriku?" Zee menggeleng pusing. Dia pun merebahkan di kasur lantai.


 


 


Lambat laun kedua mata itu mulai tertutup. Zee tertidur.


 


 


Keesokan harinya, Zee mencium aroma masakan yang lezat. Gadis itu pun bangun, tapi seluruh tubuhnya terasa sakit.


 


 


"Ah, sialan kasur ini." Zee keluar dari kamar dengan sempoyongan seperti orang mabuk. Dia melihat Yesinta sedang memasak.


 


 


"Selamat pagi, adikku," sapa Yesinta tanpa mengalihkan pandangannya dari wajan.


 


 


Zee menautkan alisnya. "Jangan memanggilku seperti itu. Kakakku hanya Kak Yevan. Kau hanya saudari tiriku."


 


 


"Mandilah," suruh Yesinta.


 


 


Menyebalkan! Tanpa kau suruh pun aku akan mandi! Batin Zee.


 


 


"Di mana kamar mandinya?" Tanya Zee kesal.


 


 


"Lewat sini." Yesinta menunjuk pintu di sampingnya.


 


 


Zee pun mandi, sementara Yesinta menyajikan makanan ke meja. Selesai mandi dan berganti pakaian, Zee dan Yesinta sarapan bersama.


 


 


Zee memakai pakaian yang sama saat dia tiba di Jati Merah. Gadis itu melihat Yesinta yang begini cantik dengan seragam biru langit yang dikenakannya.


 


 


Yesinta menarik tangan Zee dan memberikan uang seratus ribuan sebanyak 3 lembar. "Bawa ini, kau akan membutuhkannya. Jika kau ada masalah, bilang padaku saja, ya."


 


 


"Aku tidak membutuhkan ini, selain itu... jangan memperlakukanku seperti anak kecil." Zee menolak uang itu, tapi Yesinta bersikukuh.


 


 


"Kau adikku, Zega."


 


 


"Jangan berusaha menjadi kakak yang baik untukku, aku tidak menyukainya."


 


 


"Terserah apa katamu, tapi kau harus tetap membawa uang ini."


 


 


Kedua gadis itu berangkat kerja. Yesinta melihat ada noda bekas makanan di pipi Zee. Dia mengusapnya dengan tangannya sendiri.


 


 


Zee menatap Yesinta.


 


 


"Kau bukan anak kecil, tapi bersikap seperti anak kecil."


 


 


Sesampainya di pabrik, Zee harus melewati wawancara terlebih dahulu. Gadis itu sudah mempersiapkan jawabannya sejak semalaman untuk wawancara ini.


 


 


"Berapa umurmu?" Pria berbadan gempal dengan perut buncit itu menatap Zee. Tertera nama Aji di meja pria itu.


 


 


Zee mengernyit kemudian membenarkan kacamatanya. "Saya 24 tahun."


 


 


"Ohh, kudengar kau adiknya Yesinta, apa itu benar?" Aji memastikan.


 


 


Meskipun enggan mengakuinya, Zee terpaksa menganggukkan kepala. "Iya."


 


 


"Tapi, kalian tidak mirip. Yesinta jauh lebih cantik." Aji membayangkan wajah Yesinta.


 


 


Zee tidak merespon. Dia tidak merasa tersinggung dengan ucapan Aji, karena Zee juga mengakui kecantikan kakak tirinya.


 


 


Aji meletakkan map kuning itu ke meja dan menatap Zee. "Aku harap kau membawa persayaratan lainnya. Yesinta memberitahumu, kan?"


 


 


Zee mengerutkan keningnya. Namun, dia mengerti saat Aji memberikan kode lewat jemarinya.


 


 


 


 


"Selamat datang di pabrik kami. Kau bisa bekerja mulai hari ini."


 


 


Zee mengangguk ragu. Wawancara macam apa ini? Seandainya dulu aku diwawancara seperti ini saat masuk kepolisian.


 


 


"Oh iya, aku lupa satu hal. Posisi apa yang kau inginkan?" Tanya Aji.


 


 


"Aku ingin...." Zee tampak berpikir.


 


 


"Dengan Ijazahmu, kau bisa menjadi ADM, bagaimana?" Aji menawarkan jabatan yang cocok untuk Zee.


 


 


Meskipun dia tidak menarik, aku rasa nilainya cukup bagus untuk menjadi seorang ADM, pikir Aji.


 


 


Zee menggeleng. "Saya tahu diri. Selain pintar, ADM juga harus cantik. Saya ingin memiliki jabatan seperti kakak saya saja."


 


 


Aji tersenyum. "Baiklah, ikut aku."


 


 


Aji membawa Zee ke dalam pabrik. Di dalam pabrik sangat berisik. Suara mesin di mana-mana. Zee tidak bisa jelas mendengar suara Aji yang sedang berbicara. Mungkin pria itu sedang mabuk menjelaskan tentang pekerjaan di tempat itu.


 


 


Di dalam sana, Zee melihat orang-orang yang bekerja keras membuat style baju yang dipesan pembeli. Proses yang cukup rumit bagi Zee yang membenci keribetan.


 


 


Yesinta yang sedang menjahit melihat Aji membawa adiknya. Dia bernapas lega, karena adiknya lolos wawancara.


 


 


"Kami membutuhkan penjahit, jadi... kau harus belajar selama 3 bulan untuk menguasai mesin jahit," kata Aji.


 


 


"Apa? Itu artinya saya belum bisa bekerja?" Tanya Zee.


 


 


"Karyawan yang belajar menjahit akan tetap dibayar 5 ribu per jamnya."


 


 


Zee terdiam seketika.


 


 


Aji membawa Zee pada guru jahit. "Kenalkan, ini Pak Wildan, guru jahit pabrik kami."


 


 


Zee mengangguk santun. Wildan yang sedang merokok juga mengangguk. Aji berbicara sebentar dengan Wildan.


 


 


Sementara itu, Zee mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dia melihat beberapa ibu hamil yang berdiri dan menggambar pola di kain dengan kapur tabur.


 


 


Kenapa ibu hamil dipekerjakan sambil berdiri? Apa tidak ada atasan yang memperhatikannya? Gerutu Zee dalam hati.


 


 


Dia juga melihat pria yang sudah tua bekerja sebagai penjahit. Matanya yang sudah rabun berbalut kelopak keriput itu berusaha menyesuaikan melihat jahitannya. Ketika jahitannya selesai, atasan yang mengawasinya melemparkan hasil jahitannya ke wajah pria tua itu.


 


 


"Jahitan macam apa ini? Buyer tidak akan menerima ini. Kau sudah menjahit puluhan tahun, masa menjahit begini saja susah?!!"


 


 


Zee mengepalkan tangannya. Pandangannya teralihkan pada Yesinta yang sedang serius menjahit.


 


 


Wildan memanggil Zee dan mengajarkan gadis itu menjahit. "Yesinta mampu menguasai mesin jahit hanya dalam waktu 1 minggu. Kau pasti bisa lebih baik."


 


 


Ah, kenapa Yesinta menyebarkan berita kalau aku adalah adiknya? Merepotkan saja.


 


 


Herdian! Apa aku mengikuti semua test kepolisian untuk menjahit di tempat kumuh ini!!!


 


 


🍁🍁🍁


 


 


02.27 | 02 Januari 2021


By Ucu Irna Marhamah