FourG

FourG
Chapter 9



Kemarin, satu hal yang gue lupa tanyakan kepada Aidan saat kami makan es krim jagung bersama.


Sore yang dia maksud itu jam berapa sih? Ini sudah jam 4 sore tapi dia gak kunjung datang ke perpustakaan daerah.


Dari jam 3 tadi gue mencoba agar tidak ngechat Aidan duluan agar melihat usahanya dengan cara dia menghubungi gue duluan, namun nyatanya serangan sudah jam 5 sore dan berakhir gue menghubungi dia duluan.


...Bunglon🐊...


^^^Bunglon^^^


^^^Bunglon^^^


^^^Bunglon^^^


^^^P^^^


^^^P^^^


^^^P^^^


^^^P^^^


^^^P^^^


^^^P^^^


^^^O^^^


^^^P^^^


^^^L^^^


^^^P^^^


^^^Woy, Lo niat gak sih ngerjain tugas kelompok?^^^


^^^Gue sudah disini dari jam 1 nih^^^


^^^Jahat Lo sumpah.^^^


Gue sengaja bilang nunggui dari jam 1 agar dia merasa amat sangat bersalah, namun asumsi gue salah amat besar.


Jangankan merasa bersalah, gue chat aja dia hanya ceklis satu. Woy Aidan, Lo gak blokir nomor gue kan?


Arghh... Karena dia tidak memakai foto profil jadi gue tidak tahu apakah dia blokir gue atau tidak.


Tapi, kalo beneran dia blokir gue, sumpah lo jahat banget, Ai.


Gue menggeleng kepala spontan, mencoba mengenyah semua pikiran buruk.


Kemarin wajah Aidan terlihat meyakinkan, gak mungkin kan semua itu cuma akting dia doang.


Gue tau Aidan emang nyebelin saat kami baru bertemu, tapi sekarang berbeda, kami sudah jadi teman.


Gue menjatuhkan kepala gue pada meja perpustakaan dan terdiam lama.


Aidan.


Aidan.


Aidan.


Bola mata gue membulat, didetik berikutnya gue mengangkat kepala dan tersenyum percaya diri.


Rery dan Aidan kan satu apartemen, tinggal hubungin Rery aja.


Gue segera membuka lockscreen hp cross iPhone kemudian menekan kata panggilan pada layar kemudian mencari nama Rery. Begitu menemukannya, gue segera menelponnya.


Sesekali gue menggigit ujung kuku jempol tangan gue dengan perasaan was-was.


"Halo Kal?"


"BUNGLON!! Bunglon dimana sekarang, apakah dia bersama Lo?" gue segera memelankan suara saat menyadari semua tatapan mata orang yang ada dioerpustakaan tersebut tajam kearah gue.


Ya maklum lah, namanya perpustakaan, tidak boleh berisik.


Gue masih waras, oke.


"Bunglon? Ahh... Cailon? Dia keluar dari jam 2 sore tadi."


Lah dari jam 2, tapi kok dia enggak nyampe-nyampe.


"Ry, Bunglon ada laporan sama Lo kalau dia mau kemana gitu? Enggak ada?"


"Enggak Kal, dia langsung berangkat aja tanpa memberitahu mau kemana. Cailon emang gitu orangnya, nanti juga bakal balik keapartemen, gak bakal hilang kok."


Oke....


Gue termenung, mencoba mengelola informasi yang baru didapatkan diotak gue.


Dia sudah keluar apartemennya dari jam 2 siang, dan sekarang jam 4 sore, kenapa dia tidak datang juga?


Dia tidak mendapatkan musibah diluar kan?


Ayo Kalya... Positif thinking.


Gue menjentikkan jari didetik berikutnya.


Mungkin saja dia datang jam 5 sore, kita kan tidak tahu sore bagi Aidan itu jam brapa.


Bagi dia jam 5 mungkin?


Tapi perpustakaan akan tutup jam 5 sore, gue yakin Aidan tidak mungkin melupakan hal itu.


"Kenapa Lo nanyain soal Cai?"


"Bukan urusan Lo."


"Ish... Pelit, tahu gitu gue gak kasih tahu tadi, sudah lah, matikan saj-"


Gue terkekeh saat mendengar ucapan Rery yang terpotong, tidak Lo bilang pun gue bakal matiin kok.


Muehehehhehe....


Seketika muka gue masam, gue bersandar pada meja didepan gue dan mengukir-ukir meja tanpa menciptakan goresan disana menggunakan.jari telunjuk.


Aidan.


"Semoga Lo tersambar petir deh."


***


TAP... TAP... TAP...


Gue melangkah dengan keras hingga menciptakan suara setapak yang keras.


Sesekali ada orang lain yang tidak sengaja menabrak gue, namun tidak gue gubris karena gue sadar, gue mengambil langkah yang lurus.


Brak


Lagi, ada orang yang menabrak pundak gue, tapi entah dari mana kekuatan yang gue dapatkan sekarang, gue sama sekali tidak terdorong ataupun terpental.


"HEI NAK, KALAU JALAN TUH PAKAI MAT-"


Gue menoleh tanpa berbalik badan dengan tatapan tajam dan aura dead glare, "Pak, mata saya sudah 6, 2 diwajah, 2 dikacamata, 2 Dimata kaki. Bapak gak lihat ini namanya mata?"


Bapak tersebut nampak gemetar dan wajahnya songongnya mengerut, "ah... Maaf dik."


Gue kembali menoleh kearah depan kemudian berjalan lagi dengan langkah yang besar dan juga keras.


Sudah jam 6, jam 6, J-A-M-6. Kemana Aidan? Bukankah dia yang bilang sore.


Gak mungkin lah sore jam 7.


"Lo mati hari ini Bunglong, MATI AJA LO!!"


"Hahahahaha..." Karena suara tawa tersebut terdengar mengganggu ditelinga gue, spontan gue menoleh dan menatap kearah suara tawa tersebut.


Semua yang menggangu suasana hati gue akan gue anggap salah.


Tapi orang yang disekitar sang tertawa tadi membuat darah gue tinggi mendadak. Itu dia, Aidan.


Dia terlihat serius bermain game di hpnya bersama orang yang berhoodie dan memakai masker wajah.


Ha-hahahaha... Lo nyari mati.


Gue melangkah kearah dia dan melepaskan tas gendong gue dari pundak.


Saat gue datang menghampirinya dan berdiri disampingnya yang saat itu sedang duduk, temannya nampak menyadari kedatangan gue dan menurunkan tudung hoodienya.


"Rhei, kok Lo diam di base, cepetan maju, iritel gue belum jadi nih." Ucap Aidan masih fokus pada hpnya.


Gue tidak peduli siapa pria yang bersama Aidan, yang penting gue harus meredamkan emosi gue yang dari tadi gue tahan.


Barang-barang yang gue masukan kedalam tas seperti laptop, buku, 5 pulpen dan lain-lainnya.


Gue angkat tangan gue dengan tas tentunya kemudian ancang-ancang memukul kepala Aidan menggunakan tas itu.


"AIDAN!!" Teriak pria berhoodie tersebut.


Namun kalah cepat dengan tangan gue.


Brukkk


Tas itu akhirnya mengenai Aidan.


Temannya yang bernama Rhei tadi beranjak dari kursinya kemudian menghampiri Aidan, "bro, Lo tidak apa-apa? Maafin gue karena Sasaeng gue bertingkah."


Aidan mengelus kepalanya kemudian mendongak, memerhatikan siapa yang telah memukul kepalanya menggunakan benda yang dirasanya keras.


"Aman Rhei, dia bukan Sasaeng Lo," ucap Aidan sembari meringis.


Gue berkacak pinggang, "Lo paling terburuk yang pernah gue kenal, Bunglon. Gue menunggu Lo di perpustakaan lama dan Lo disini bermain game bersama orang lain, anjing banget Lo."


Gue segera kembali menggendong tas tadi, "SEMOGA LO CEPET MATI!!" kemudian berbalik dan berjalan meninggalkan Aidan yang masih tersungkur dilantai dan tentu saja di bantu temannya.


Tugas kelompok gue, sial banget gue dapet teman satu kelompok modelan Aidan, gue kira kami sudah jadi teman makanya gue enteng aja ngajak lagi dia jadi teman kelompok.


Siapa aja bakal mikir gini, mana ada orang sing ngasih hp dari hasil capit boneka, usahanya itu loh bikin gue terharu.


Nyatanya, dia setan.


-


Begitu sampai apartemen, gue melempar tas gue ke kasur dan menghempaskan diri juga disana.


"Huaaaaaa gue mau curhat tapi tidak mau kalau dengan Angga...."


Gue masih kesal dengan Angga karena dia mau ngadu ke bapak soal gue gak lulus kelas.


Cukup Angga yang ngeselin, ceciuk Bunglon malah ikut ngeselin.


Gue emang bukan tipe orang yang memerhatikan waktu atau on time segala macem, gue selalu santuy. Tapi kali ini gue benar-benar kesal dengan orang yang tidak menghargai waktu.


"Mungkin ini yang dirasakan Binta dan Angga saat gue selalu telat datang janjian," gumam gue dengan wajah tenggelam pada kasur.


Seketika wajah Binta terpampang diingatan gue.


"Gue... Sepertinya gue harus curhat dengan Binta."


Dengan segera gue mengeluarkan hp dari tas kemudian memencet angka 2 lama pada papan ketik.


Dhrtttt


"Halo?" DIANGKAT!!


"Bintaaaaaa....," Rengek gue.


Gue pikir Binta tidak akan mengangkat telpon mengingat sebelum gue pergi ke Jakarta, dia bilang jangan mengganggunya terlebih dahulu karena dia mau fokus pada pemulihannya dan juga pembelajarannya.


Namun kali ini berbeda, akhirnya Binta mengangkat telpon gue.


"Bukankah gue sudah bilang, jangan hubungi gue untuk sementara wakt-"


"Jangan terlalu dingin pada gue, Bin. Kali ini, tolong kali ini dengerin keluh gue dan kemudian terserah mau Lo matikan kek, mau Lo kasih saran kek, atau ikut memaki kek, gue tidak peduli. Tapi tolong kali ini dengerin curhat gue," ungkap gue dengan mata terpejam.


"Oke, Lo cerita, gue dengerin." AKHIRNYAAA!!!


"Jadi gue hari ini seharusnya ada tugas kelompok, ya kami janjian sore. Nahhhhh gue lupa nanti sore bagi dia itu jam berapa, akhirnya gue datang jam setengah 3 kan tuh. Namun, sampai perpustakaan mau tutup, tuh orang tidak datang."


"Lo tugas kelompok berapa orang?"


"Berdua."


"Pantesan, gue kira tugas kelompoknya ada sekitar 3 orang lebih, tapi jahat banget kalau beneran bertiga tapi tidak Datang semua."


"Gak Bin, kami berdua aja."


"Terus, Lo ada hubungin dia tidak?"


"Ada, tapi dia tidak membalas chat gue sama sekali, gue juga menelpon teman satu kosnya, temannya bilang kalau Bunglon sudah tidak ada dirumah sejak jam 1 siang."


"Nama yang unik."


Gue langsung terduduk, "Bintaaaaaa...." Dia malah fokus pada nama panggilan Aidan.


"Haha... Lanjutkan baby. Jadi Lo pulang saat perpustakaan sudah tutup?"


"Ya pulang lah, orang bego doang yang masih nungguin." Ucap gue kembali merebahkan diri pada kasur.


"Kirimkan perintah kerja kelompok kalian, biar gue bantu kerjain."


"Binta, gue belum selesai cerita."


"Oke oke, sorry gue motong."


"Nahhhh saat pulang, gue ketemu tuh Bunglon dengan temannya main game dengan santainya, seketika gue darah tinggi dan bersiap ancang-ancang."


"Lo pukul?"


"Iyalah, pakai tas berisi laptop malahan."


"Good, gue yang dengernya aja emosi, apalagi Lo. Terima kasih telah bercerita dengan ending yang memuaskan."


"Hehehe... Kalya gitu loh."


Disatu sisi gue kesal karena Aidan yang mempermainkan waktu yang sudah gue luangkan, disisi lain gue bahagia karena setelah sekian lama bisa bercerita dengan Binta.


Gue jadi merasa kembali kemasa sebelum tragedi yang membuat gue, Binta, dan Angga berpisah.


Hei... Kami berpisah bukan karena bertengkar, hanya saja kami memiliki jalan yang berbeda.


Ting tong...


Spontan gue menoleh dan menunggu suara bel itu kembali, mungkin saja itu suara bel tetangga bukan? Namun ketika suara bel itu berbunyi kembali, gue jadi sadar kalau itu bel pintu kos gue.


"Kal, kasih gue tugas kelompok Lo, gue akan bantu," Ucap Binta disebrang sana, namun karena terlalu fokus pada bel tersebut gue jadi melewatkan kesempatan membalas Binta.


Gue beranjak dari kasur kemudian melangkah keluar kamar dengan pelan.


"Kaly-"


"Shutttttt, diam bentar..."


Semakin lama, jarang diri gue pada pintu makin menipis.


"Gak lucu Loh, Kal. Kak Samuel udah gak dijakarta, kami gak bisa bantu kalo Lo kenapa-kenapa kayak kemarin," gue sama sekali tidak menghiraukan ucapan Binta dan mengangkat tangan pada klop pintu kemudian mencengkram nya.


Gue terdiam dengan posisi tangan kanan mencengkram klop pintu sedangkan tangan kiri menahan hp menempel ditelinga.


Cukup dengan semua rasa penasaran gue.


"Ha...hahahhaha... Santai aja, tidak ada orang kok," ucap gue agar Binta tenang.


"Kalya, jangan bilang Lo menganggap gue tidak ada?" Ucap seseorang dibalik pintu membuat yang tadi tertawa jadi keselek ludah sendiri.


"Uhuk!! Uhuk uhuk!!"


"Lo tidak sendirian di apartemen? Atau Lo punya kemampuan cosplay suara cowok?"


"Bukan suara gue, sumpah!" Bantah gue karena Binta menanyakan pertanyaan tersebut.


Seseorang dibalik pintu tersebutlah yang berbicara.


"Kalya, tolong maafkan gue, gue tidak sengaja melupakan janji kita. Buka pintunya ya biar kita lebih cepat menyelesaikan kerja kelompoknya."


Oke, sekarang gue tau siapa dia.


"Lo dapat dari mana alamat indekos gue?" Tanya gue sembari menempelkan telinga pada pintu.


"Dari Rery. Kalya, buka pintunya dan kita kerjakan tugas kelompok bersama, gue juga membawakan beberapa makanan untuk Lo." Ucap Aidan dengan suara berisik plastik kresek.


Sepertinya dia menggoyangkan plastik ditangan nya.


"Heiiii... Apa yang sedang Lo lakuin sekarang?" Tanya Binta disebrang telpon.


"Shuutt... Diam," ucap gue pada Binta.


Baru saja gue membuka mulut ingin menolak tawaran Aidan, tiba-tiba saja perut gue keroncongan.


Gue baru sadar dari sore tadi gue tidak makan apapun.


Tapi bagaimana dengan harga diri gue? Nanti dia bilang gue mudah memaafkannya hanya dengan membawa makanan.


Tapi gue lapar dan malas masak, apalagi keluar untuk membeli makan, makin malas gue.


"A-apa yang Lo bawa?"


"Martabak keju."


Gue kurang suka martabak keju, sukanya martabak beras merah campur parutan kelapa tua. Tapi sekarang gue lagi gak mau ngemil, maunya makan nasi, NASI!!


"Gue maunya ayam geprek."


"Gue akan membelikannya, tapi Lo buka ya setelah ini?"


Anjay, jadi babang driver makanan.


"Okedeh, beli cepetan."


Setelah itu Aidan berbalik dan berlari kearah lift apartmen.


Santai aja kali, Lo gak dikejar setan juga.


"Lo... Mudah banget digoda ya, Kal." Ucap Binta dengan suara masamnya.


"Hehe... Agus lapar Bu."


"Ba! bu! ba! bu!"