
Kalya Pov
"Kan, apa gue bilang, ulang matkul kan Lo."
"Hei Angga, gue nelpon elo bukan mau denger ceramah, tapi kata semangat," gue menghapus ingus yang meler keluar dari hidung menggunakan tisu dan sesekali men tap-tap juga pada mata yang memerah.
Bukan karena nangis, tapi karena gak bisa tidur mikirin masalah ini.
Yang bikin makin kacau iyalah, mata kuliah semester 1 dan semester 2 masih dosen yang sama, akhirnya gue ngambil kelas difakuktas lain.
Nasib-nasib.
"Gue gak kenal semua orang yang ada disini, ottoke Angga....."
"Gak tau lah, ini adalah karma tipsen Mulu sama teman Lo, siapa namanya itu? Rama-rama?"
"Sini kosong kan?" Ucap seseorang di belakang gue.
Gue hanya mengangguk tanpa melirik ataupun menoleh kearah suara orang tersebut.
Saat ini gue berada di kelas Fakultas lain, kalau dari gerbang masuk emang dekat fakultas ini dari pada fakultas gue, hanya saja gue jadi harus bolak balik kefakultas gue dan fakultas ini.
Capek.
"Ishhhhh, Rana, bukannya Rama. Sana lanjutin aja kerja lo, bikin gue makin mau mewek aja Lo," ucap gue kemudian menjauhkan layar hp pada telinga kemudian menekan tombol merah dengan keras hingga menciptakan suara.
Tut...Tut...Tut...
Tau gitu gue enggak usah nelpon Angga.
Gue segera membuka buku yang ada dimeja gue kemudian menulis kata Angga disana, beberapa saat setelahnya gue mencoretnya dengan kasar.
Rasain tuh.
"Tong?" Gue berhenti mencoret-coret kertas saat mendengar orang di samping gue menyebut nama gue
Spontan gue menoleh ke kiri dan mendapat orang yang gue pikirin dari tadi.
"Aidan?" Gumam gue.
Dia adik kelas toh.
Setelah mengetahui siapa teman duduk dia adalah gue, Aidan sama sekali tidak ada niatan menutupi ekspresi ketidak sukaanya pada gue.
Mungkin karena kejadian kemarin.
Aidan beranjak dan segera merapikan tasnya mungkin pengen pindah kursi, namun belum selesai dia merapikan tasnya, kegiatannya terhenti ketika dosen sudah masuk.
Dia menghelang napas lelah kemudian kembali duduk dan menaruh kembali buku-bukunya diatas meja.
Gagal deh pindah dianya:v
"Selamat pagi semuanya, hari ini kita-"
Baru saja gue mau menulis beberapa kalimat penting pada papantulis, lengan gue dan Aidan bersentuhan karena dia menulis pakai tangan kanan sedangkan gue tangan kiri.
"Woy, kok Lo nulis tangan kanan sih," bisik gue.
"Ya karena gue bisanya nulis pakai tangan kanan, aneh Lo."
Gue menggeram kesal dengan jawaban Aidan.
Akhirnya kami menulis dan sesekali saling menyikut seakan itu adalah sebuah gambaran bertapa kesalnya kami.
"Setelah ini, saya minta kalian teliti apa yang kita pelajari, dan beri beberapa contoh soal juga agar memperjelas," lah, mtk ada penelitian juga?
"Satu penelitian 2 orang, orang yang duduk sebelahan bakal jadi satu kelompok," spontan gue melihat kearah samping kiri.
Cuman Aidan.
"Oh my," ucap Aidan sembari mendesah capek.
Oke, seharunya tadi gue mengusirnya lebih cepat:')
Dia menyisir rambutnya menggunakan sela-sela jarinya kebelakang lalu mengacak nya, Aidan beranjak dari kursi lalu menenteng tasnya ke bahu. Kemudian dia nunjuk gue, "kenapa harus Lo sih," ucap Aidan dengan nada ngeselin parah.
"Woy, seharusnya gue yang mengatakan kalimat tersebut, lagian ini juga salah Lo duduk disebelah gue, nih bocah emang kocak gaming," balas gue ikutan kesal.
Aidan mendesah frustasi, "bodoh amat lah, pokoknya Lo jangan sama gue."
"Gue gak sudi satu kelompok sama lo, gue yang bakal keluar dari kelompok ini," ucap gue gak kalah ngegas.
Setelah itu Aidan pergi dengan langkah cepat tanpa melirik kebelakang sedikitpun.
Asli, kek nya dia kekurangan obat deh, makanya bertingkah seperti orang gak waras.
-
"Jadi ... lo mundur dari kelompok?" Tanya Rana kemudian menyedot es kopi latte.
Gue yang posisi merebahkan kepala pada meja cafe mendongak sedikit dan menatap Rery Rana bergantian, "yaiyalah, gak sudi gue satu kelompok ama dia. Aneh banget, kata orang-orang dia pendiam, tapi kok pas sama gue bawaannya mau ngajak gelud mulu. Dasar Bunglon" ucap gue sembari mendengus.
"Siapa Kal yang lo sebut Bunglon?" Tanya Rery dengan tangan merayap kearah kopi Latte Rana, namun segera Rana pukul tangannya.
Plak.
"Sakit Ran."
"Biarin."
Melihat tingkah mereka berdua membuat gue makin kesal, pacaran kek kalian!, "Aidan lah, siapa lagi" tungkas gue.
"Tapi Kal, Lo gak lupakan alasan kenapa Lo harus ngambil kelas diberbeda fakultas? Maksud gue Lo mau nyerah dan tetap pada nilai D?" Ucapan Rana membuat tubuh gue membeku.
"Wahh... Terserah aja sih Kal, takut aja nanti bapak Lo jantungan lihat IPK lo," ucap Rana.
Tidak.
Tidak mungkin.
"TIDAKKKKK!!"
-
Mampus gue.
"Saya pesan latte, cake red Velvet, tiramisu, brownis coklat, dan cheese cake, dibungkus," balas orang itu dengan nada menimbang-nimbang
Siapa lagi kalau bukan Aidan.
Nih orang juga beli buat dia aja apa buat satu keluarga besar sih, beli cake banyak amat.
Ck... kenapa gue peduli, dia beli buat sekampung pun gue gak bakal peduli, toh duit dia:v
"Baiklah, pesanan anda sebentar lagi akan diantar," setelah itu gue kembali berjalan ke kasir memberikan kertas pesanan.
Haduhhhh cobaan apa lagi ini, pake ada dia.
"Eh Cailon, kebetulan ketemu disini," gue spontan melirik kearah meja yang cowok tadi dudukin.
Ada cewek cakep weh.
Dia memiliki rambut berwarna blonde seperti Barbie dan proporsi badan seperti orang cina, kurus dan ramping.
Gila sih kuat banget mental dia berbadan begitu diindonesia, biasanya dikatain seperti tulang sih.
"Sepertinya kita ditakdirkan ketemuan disini deh, jangan-jangan kita jodoh Cai," ucap cewek itu sembari menarik kursi lalu duduk menghadap Aidan.
Aidan nampak tidak menghiraukannya dan tetap fokus pada ponselnya itu.
Cewek itu terlihat menceritakan banyak hal, dan tidak ada respon dari Aidan sedikitpun, woy Ai, kasian anak orang:').
Mata gue bertemu dan mata cewek itu, wajahnya yang ceria tadi kontras berubah menjadi datar.
Apa masalah Lo pada gue?
Cewek itu mencondongkan badannya kearah cowok itu dan nampak berbisik. Gue gak tau apa yang cewek itu omongin tapi cowok itu akhirnya membalas ucapan cewek itu meskipun hanya beberapa kata.
Woy apa yg kali bicarakan setelah liatin gue.
"Makanan untuk meja 5," gue menyambut nampan itu lalu berjalan kearah meja 5.
2 jus alpukat dan 3 cake red Velvet.
Brakk~
Tiba-tiba semua mata mengarah ke pintu cafe, ada salah satu staf terjatuh karena orang dibalik pintu tersebut mendorong pintu dengan sangat keras.
"Dimana bos kalian, DIMANA BOS KALIAN ANJING," teriak orang itu membuat keributan.
Gue lihat jaket hijau yang benar-benar khas lambang apa, Goeat:).
Biasanya kalau orang ada masalah dengan layanan tempat, biasany dia akan menyari manajer, tapi ini nyari bos? Woy lah Lo pikir bos punya cafe satu ini aja sehingga dianberada ditempat kerja?
Orang itu menebar Pandangan dan bertemu mata dengan gue. Begitu orang itu mendekat kearah gue, gue mengumpat dalam diam.
"Sialan kenapa harus gue sih."
"Lo, gimana sih kerja kalian, gara-gara kalian, gue keliling-keliling selama sejam karena gak menemukan alamat yang dituju.
"...."
WHATTTTTT, NIH ORANG KURIR BARU YA? KALO MASALAH ALAMAT KAN YA PELANGGAN YANG MASANG, SEDANGKAN KAMI HANYA TUKANG BUATIN APA YANG DIMINTA PELANGGAN DAN KURIR NGANTER.
"Begini loh mas, dalam hal alamat, pihak kami alias cafe tidak tanggung jawab dikarenakan kami hanya membuat apa yang diminta pelanggan dan anda mengantarnya ke pelanggan," ucap gue seramah mungkin.
Wajah kurir tersebut nampak memerah padam, mungkin malu karena mengetahui kenyataan dia salah, "Ow-owhhhh sekarang jadi lo menggurui gue? Seorang cewek menggurui gue? Masih untung Lo cewek, kalau enggak usah gue gampar Lo."
"Gampar aja bang langsung," gue menoleh kearah suara dan mendapat Aidan tampak bahagia sembari melipat kedua kakinya dan meminum minumannya dengan tenang.
"Kenapa diam bang, udah nungguin loh sayanya," tai Lo Ai, bukanya nolongin malah nyuruh bapaknya gampar gue.
Kalo beneran ditonjok, bagaiman nasib gue.
Aidan beranjak dari kursi dan berjalan kearah gue "emang kenapa kalo dia cewek?" tanya Aidan seketika berekpresi dingin.
Perasaan suhu cafe normal-normal aja dah, Napa mendadak dingin dah.
"Bro, karena cewek seperti ini, kita para pria selalu dianggap sala-" "tapi kan, emang kenyataannya lo yang salah," potong Aidan dengan ekspresi seakan seperti 'bro, gue gak di pihak lo'
Dengan nada monoton tentunya.
"Dari segi manapun seluruh orang yang ada di cafe tahu bahwa si mbaknya hanya menjelaskan sesuai instruksi, tidak ada maksud untuk menggurui atau apapun. Terus kenapa kalo cewek yang ngomong, Lo gak pernah sekolah terus diajarin guru cewek? Minimal lah paling minimal apa lo gak pernah diajarin ibu bapak," Aidan menambah langkahnya pada kurir tersebut hingga Aidan perlu sedikit menunduk karena lebih tinggi Aidan dari pada kurir tersebut.
Jelas kurir tersebut menoleh ke pelanggan di cafe itu satu persatu, mencari dukungan. Namun, hasilnya nihil, karena mereka tau, yang salah disini adalah kurir, bukan pelayan cafe.
"Cih," kurir itu menatap gue arah gue, "lo awas aja, kalo ketemu lagi, lo bakal habis ditangan gue," "iya-iya, gak ada sisa pokoknya, sekarang lo cepat keluar dari cafe, lo ganggu pengunjung cafe lainya," lagi-lagi Aidan menjawab cepat ucapan kurir tersebut sembari mengusir.
Kurir itu mengeram kesal dan meninggalkan cafe sembari mendorong kasar pintu cafe.
Dasar orang aneh.
Setelah suasana tenang, cewek yang satu meja dengan Aidan langsung narik lengan Aidan.
"Apa sih yang baru aja lo lakuin, manajer cafe bisa ngurusin masalah ini sendir--" "Shila, dari tadi gue diam karena lo satu jurusan sama gue, bisa tidak lo jangan campuri urusan gue?" setelah itu Shila melepaskan lengan Aidan dan mengundurkan dirinya.
Aidan menolah kearah gue dan menatap, "lo," tunjuk Aidan ke gue.
"Y-YA TUAN," karena kaget, spontan gue bilang gitu ke Aidan:')
"Tolong anterin pesanan gue ke luar, gue nungguin," setelah itu dia pergi keluar sembari membawa cafenya yang super banyak itu.
Suasananya jadi canggung woy, Aidan, kok lo pergi gitu aja ninggalin suasana aneh ini:')
Namun satu hal yang gue sadar, setelah semua hal yang dia lakukan dan membuat gue kesal. Karena kejadian ini, kesal gue mulai mereda.
Dan gue juga mulai tertarik pada Aidan, dalam artian mengangumi ya.
Gak-gak, Lo gak boleh lupa kalau dia adalah spesies cowok yang memanfaatkan wajahnya dalam kehidupan sehari-hari.
Gue benci spesies pria seperti itu.
Biar begitu, gue tetap saja harus berterima kasih bukan?
Gue menatap satu kue yang ada di etalase.
Itu aja kali ya.