
Guratan urat muncul dari pelipis gue.
Anak ini, seenaknya ya.
Baru saja gue say bay bay tidak bertemu dengan Aidan lagi, nih anak malah bikin ulah.
"Apa Lo bilang tadi? Bisa Lo ulangi?" Ucap gue dengan satu sudut gue tertarik bergetar.
Rery menampilkan kertas ditangannya, "Aidan ikut tur organisasi," dengan cengirannya tentunya.
Sial... Kenapa semesta mencoba menghancurkan niat gue buat menjauh dari Aidan.
Gue masih malu.
Gak, gue harus bisa membuat Aidan gak ikut.
"Tunggu, bukannya Aidan sudah bukan anggota organisasi, kok bisa dia ikut dengan menjadi salah satu bagian dari organisasi vocal sih?" Tanya gue sembari menunjuk kertas tersebut dengan emosi tentunya.
"Kalian berdua berhenti berdebat," ucap ketua sembari memijit pelipis kepalanya.
Gue menoleh kearah ketua, "kami gak lagi berdebat, Kalya cuma mempertanyakan kenapa anggota yang sudah bukan bagian dari kita bisa iku-" "kalau dia mau ikut, ya gak apa-apa, selesai kan masalah?" Ucap ketua sembari beranjak dari kursi.
Mana bisa gitu.
"Baik, rapat kita sampai sini saja, saya harap kalian kembali pulang dengan selamat."
Arghhhh...
Gue gak bisa berkutik lagi karena rapat sudah selesai, kadang gue merasa bersyukur karena punya ketua yang simpel no ribet no kecot, tapi kalo beginikan, waduhhh.
"Gimana gue bisa menjauh dari Bunglon," gumam gue sembari merebahkan kepala pada meja rapat.
"Yang sabar ya Kal."
Gue mendongak dan mendapat Rana yang menampilkan senyumannya.
Sejak kapan dia sudah masuk keruangan organisasi vocal.
Bodoh amat lah.
Rana memerhatikan bergantian hp yang ditanganinya kemudian menatap gue, setelah itu timbul senyum diwajahnya.
Heiii... Lo punya ide aneh apa lagi?
Rana menyengir, "Kalya, temenin gue menemui Aby ya, ambil asinan," nah kan.
Tunggu, Aby yang selalu dengan Aidan Rery?
"Asdos fakultas sebelah?"
"Betul sekali bestai kuhh," balas Rana happy.
Astagaaaa...
Spontan gue menyentuh lengan Rana sebelum dia berdiri, "Rana, gue mau nanyai sesuatu."
Rana menautkan alisnya, "apa tuh bestaiii," nih anak makin hari makin bikin gue gregetan dah.
"Aby... Dia suka dengan Aidan?" Tanya gue sembari menelan saliva dengan susah payah.
Gue rasa hanya itu opini yang masuk akal membuat Aby yang dikenal ramah dan baik menjadi cuek kepada gue.
Gue mencoba masuk circle nya melalui Aidan. Dan dia suka dengan Aidan.
Blam~
"Sedikit penegasan, gue gak suka yang seumuran," serempak gue dan Rana menoleh kearah pintu dan mendapat Aby yang memiringkan kepalanya sembari melipat kedua tangannya.
Mampus, ketahuan kepoin dia.
Dia berjalan beberapa langkah kearah kami dan berdiri tepat didepan kami, "kedua, gue gak suka cowok yang suram dan kelihatan gak memiliki semangat hidup, gue yang tadinya happy-happy aja kalo sudah berada disekitar Aidan bisa ikutan suram," oke, gue mengerti maksud Aby.
Aby yang dari menatap gue berganti kepada Rana, "Rana, ini asinan yang Lo pesan," ucap Aby sembari memberikan dua toples kecil berisikan buah rambutan yang sudah dikupas dan digenangi air keruh dengan beberapa potongan cabai.
Asinan rambutan.
Aby beralih menatap gue dari Rana, "Kal," gue menoleh, "kalau Lo gak sibuk, bisa gak kita keluar sebentar, ada yang mau gue bicarain," ucap Aby sembari memberi kode untuk keluar dari ruangan.
Gue berbalik dan menebar pandangan, saat mengetahui gak ada orang selain kami bertiga, gue kembali menghadap depan dan menatap Aby, "hanya ada kita bertiga, disini aja, gue percaya Rana," balas gue sembari mengendikkan pundak.
Bener kan?
Aby mengulum senyumnya kemudian menghembuskan napas, "oke, gue akan ngomong disini. Kalya, Lo bego ya?" Tanya Aby sembari menggelengkan kepalanya.
Anjir, "maksud Lo apa ngatain gue bego?" balas gue sembari beranjak dari kursi yang telah gue duduki dari tadi.
Jadi dia hanya mau ngatain gue bego, gue pikir dia mau ngomong hal penting.
"Rana, gue langsung cabut ya, gue gak bisa lama soalnya," ucap Aby dengan mata masih menatap tajam.
Rana gak bisa berkata-kata karena gak berani memperkeruh suasana dari kami berdua, akhirnya Rana mengangguk aja.
Aby melambai ramah pada Rana dan tak lupa dengan senyum manisnya, asli beda banget perlakuan Aby pada gue dan Rana.
Baru saja dia mau berbalik dan melangkah, tiba-tiba ia berhenti, apa yang terjadi?
"Kalya, sumpah Lo gak cocok jadi sahabat siapapun, serius deh," balas Aby sembari mengangkat alisnya sebelah lalu kembali menghadap depan dan berjalan dengan tenang.
"HEI AB-" "sudahlah Kalya," ucap Rana sembari menarik tangan gue agar berhenti.
"Tapi Rana, Lo dengar gak dia ngatain gue," balas gue sembari menunjuk diri gue sendiri, "ada apa dengan Lo, apa karena dia teman satu tim lo saat ospek, makanya Lo belain?"
Rana menghembuskan napasnya, "please, yang kali ini lepasin aja Kal, akhir-akhir ini kenapa banyak hal mengharuskan gue banyak bersabar," ucap Rana sembari memijit pelipisnya.
Gue menatap Rana heran, kenapa dengan Rana, perasaan hidupnya aman sentosa aja dah.
Kehidupan kampus yang normal, keluarga yang kaya raya dan harmonis, memiliki banyak teman gak hanya disatu fakultas, namun juga difakultas lain dan juga punya pacar yang benar-benar menyayanginya.
Gue duduk kembali dan memegang pundaknya, "Rana," dia menoleh, "Lo....." Gantung gue sembari memikirkan kata yang cocok untuk dikeluarkan.
"... Masih kesal karena gue ngasih hand cream sedikit?" Tanya gue dengan wajah serius.
Rana langsung memasang wajah masam, "yaelah kirain apa tadi, ya enggak lah, aneh-aneh aja Lo," balas Rana sambil noyor kepala gue.
"Haha... Ya kan mana tau Lo masih kesal sampe sekarang dan kebawa pikiran."
Rana menyempitkan matanya sembari menatap gue, "apa?" Tanya gue.
Dia merogok tas yang dibawanya dan mengambil dompet disana, "sorry gue sempat lupa janji gue, gue kasih mentahannya aja ya," ucap Rana sembari mengambil dua lembar uang berwarna merah disana, "100 ribu kan harganya? Noh beli dua biar Lo gak komen lagi kalo gue minta," anjir.
"Beneran nih Ran?" Tanya gue dengan tangan gemetar dibuat-buat.
"Lebay Lo, kan gue sudah janji, ya ditepati lah sebagai bestai pertama Lo dikota ini," merinding loh gue Rana.
Gue beranjak dari kursi dan menatap uang tersebut dibalik cahaya matahari, "uang asli," gumam gue sembari nyengir.
Tapi gue harus amanah, duit itu dibeliin ke hand cream, kalo dibeli kelain, gak enak gue sama yang ngasih duit.
"Soal Aby," spontan gue menatap Rana, "pertanyaan Lo tadi, gue gak bisa menebak isi hati seseorang, tapi gue bisa yakin 100% dia gak akan memacari Aidan meskipun dia suka," Rana beranjak dari kursi dan menenteng plastik berisikan asinan rambutan.
"Ia percaya, anak sekolah yang menjalin kasih ditemukan lebih stres dibandingkan remaja yang menjomblo, karena kata-kata tersebut akhirnya dia gak pernah menjalin hubungan." Ucapan Rana membuat gue teperanga.
Ternyata masih ada orang dimuka bumi ini yang gak pacaran, sama sekali.
"Gue penasaran, sampai kapan dia akan memegang prinsipnya itu," gumam gue sembari merapikan kertas-kertas dan memasukannya ke dalam tas, "lo tau banyak soal Aby ya, padahal beda fakultas," ucap gue sembari beranjak dari kursi dan merangkul lengan Rana.
Kami berjalan selaras.
"Gak hanya Aby, gue juga lumayan tau soal Aidan," langkah gue terhenti.
Bunglon?
Rana menampilkan cengirannya, "dulu kami pernah mengikuti lomba yang sama waktu jaman sma, disanalah gue ketemu Aidan dan Aby," ucap Rana sembari mengeluarkan hpnya dan menampilkan foto disana.
Disana ada foto Aby dan Rana dengan baju Pramuka, beberapa meter dari situ ada Aidan yang juga ikut ke foto.
"Mereka... Satu sekolah?" Terka gue karena melihat Aby yang menggantungkan almetnya di lengan sedangkan Aidan memakai almet tersebut utuh.
"Betul sekaleh, mereka satu sekola-" didetik berikutnya gue menutup mulut Rana.
Bukannya gue mau menjauhi Aidan, kok gue malah kepoin Aidan sih.
"Tangan Lo asem Kal," spontan gue menarik tangan gue kembali dari mulut Rana.
"Hehe... Maaf," cengengesan gue.
Rana mengkacak pinggang, "Lo ...gue baru menyadari Lo aneh akhir-akhir ini, Lo kenapa?" Tanya Rana heran.
"Gue memutuskan menjauhi Aidan karena masih malu dengan kejadian di apartemen gue," jawab gue sembari menggaruk kepala dengan frustasi.
"Hah... ternyata masih di masalah itu," desah Rana lelah.
Gue segera merangkul lehernya dan tersenyum padanya, "lupain aja... Btw, bagaimana kalau Lo temenin beli novel?"
"Oke, gak hanya beli novel, kita juga jalan-jalan."
"YEIII!!"
_
Haha, batal lagi gue beli novel.
"Diminum," ucap Aby sembari menyuguhkan minuman pada gue, Rana, dan 2 orang yang kami bawa.
Gue melihat air yang ada didalam cangkir kemudian mendongak menatap Aby, "punya gue gak ada racun kan?" Mana tau kan dia masih kesal.
"Yang kesal kan cuma Lo doang. Kalau Lo yang buatin teh, gak heran ada racun di minuman gue," gue siap beranjak tapi ditahan Rana.
Benar, tahan, gue sekarang berada di ruangannya. Tapi enak sih Aby, memiliki ruangan sendiri, padahal cuma asdos doang.
Gue menoleh kearah dua orang dibelakang Rana, laki-laki masih dengan seragam SMA dan perempuan memakai style casual.
Laki-laki itu namanya Azra Cailon Smith, karena dialah sekarang gue dan Rana berada di ruangan Aby.
Kami menemukan mereka didepan gerbang kampus utama, karena tampan akhirnya Rana tertarik mengajaknya bicara, ternyata eh ternyata orang yang dicari remaja ini adalah Aidan.
Aidan lagi, kok akhir-akhir ini gue jadi sering terlibat dengan Aidan sih.
"Kalian pacaran?" Tanya gue tiba-tiba.
"Tidak kak, kami hanya teman," balas laki-laki yang bernama Azra itu sembari menggeleng.
Perempuan bernama Dynessy Fialkana itu menurunkan cangkir tehnya perlahan, "Nessy juga sudah punya pacar, jadi jangan coba-coba jodohin kami," balas perempuan itu sembari tersenyum manis.
Cantik, minus badan kecil.
Sama aja sih tingginya Ama gue.
"Satu kelas?" Tanya gue lagi.
"Tidak, dia masih SMA sedangkan Nessy sudah kuliah," waduh, jangan bilang tua Nessy dari pada gue.
Blam
Spontan kami semua berbalik dan mendapatkan Aidan bersama Rery yang baru saja membuka pintu ruangan ini. Aidan membeku ditempat kemudian ekspresinya dengan cepat berubah datar.
Apanih, kok hawanya mendadak dingin.
Tiba-tiba ada seseorang yang memegang pundak gue, gue menoleh kebelakang dan ada Aby disana.
Ternyata tidak hanya pundak gue dipegang, pundak Rana pun sama.
"Rana, Kalya, Nessy, keluar sebentar ya," ucap Aby sembari menampikan senyumannya.
"Lah kok gue ikutan kelu-" "Lo gak penting," balas Aby cepat. Yang di ucapin Aby benar, hanya saja karena yang mengatakan kalimat tersebut adalah Aby, gue jadi kesal.
Akhirnya gue, Rana, dan Nessy beranjak dari kursi dan berjalan keluar melalui pintu. Aidan mundur selangkah agar kami bisa keluar.
"Yey... Nama gue gak disebut, boleh dong gu-" "Rery, Lo juga keluar," kali ini Aidan yang mengatakan kalimat tersebut.
Gue bisa melihat Rery langsung lesu dan berbalik berjalan kearah gue, dia baru saja ingin jatuh ke badan gue, namun segera gue tahan wajahnya mengunakan telapak tangan gue.
"Kalya jahat."
"Ke Rana aja sono."
"Rery, Kalya," gue dan Rery melirik Rana, "kalian gak penasaran gitu apa yang dibicarakan mereka?" Ucap Rana.
Hemm... Sepertinya gue tau arah pembicaraan Rana kemana.
"Kita nguping yuk," Kannn.
Rana menoleh kearah Nessy, seakan mengajak Nessy ikutan juga.
"Tidak, Nessy punya pendengaran yang tajam, jadi tidak perlu menguping," enak bener Nessy, dia terlihat tetap elegan padahal telinganya mendengarkan pembicaraan didalam.
Gue gak mau ikut-ikutan, tapi kan masa gue doang yang gak tau.
Akhirnya kami bertiga menempelkan telinga pada pintu ruang Asdos.
"Tehnya sudah dingin, gue akan membuatnya sebentar lalu kembali lagi, kalian berbicaralah," suara Aby, sepertinya dia tidak mau terlibat pembicaraan mereka tapi dia juga tidak mau meninggalkan raungannya ditempati orang asing.
"Duduk Kak, Azra mau ngomong sesuat-" "jangan berbelit-belit, langsung inti aja" waduh, Aidan langsung memotong ucapan Azra.
"....maaf, Azra tidak peka kalau Kakak sedang bisulan."
"Prffff..." Gue pikir suara tersebut keluar dari kami bertiga, ternyata dari Nessy.
Dia nampak menahan tawanya.
Beberapa saat, tidak terdengar ada sahutan dari Aidan, apa yang dia lakukan?
"Kakak kenapa gak pulang? Bukankah sebelumnya kakak sudah melakukan perjanjian apabila papa dan mama menyetujui tinggal terpisah maka kakak akan pulang seminggu sekali? Jangankan seminggu, bahkan kakak belum juga pulang selama satu semester." Rumit nih.
"Jadi lo datang hanya untuk mengomel panjang kali leba-" "Kakak masih berencana membuat papa sadar?" Pembicaraannya mulai serius nih.
"Lo paling tau apa yang sedang coba gue lakuin, Zra"
"Apa salah Mama, kan Kakak cuma dendam pada Papa, kenapa Mama jadi ikut kena imbasnya? Kak, mama kangen sama Kakak."
Ada masalah ternyata di keluarga Aidan, gue pikir orang kaya gak ada masalah, hidup aman tentram gitu karena tidak mikirin duit.
"Gue tau Papa salah, tapi gak gini caranya Kak agar memberi papa pelajaran, Kakak punya mulut, gunakan untuk berbicara denga-"
Blam
"Sepertinya dari sini kalian jangan menguping lagi," begitu keluar dan menutup pintu, Aby menghalau kami sembari mengacak pinggangnya.
Oke, kami ketahuan.
Aby juga memberikan kami sebuah senyuman seakan mengisyaratkan agar kami meninggalkan mereka.
"Ok-oke, kami akan pergi," balas Rana sembari meraih lengan gue dan Rery, kemudian kami mulai melangkah meninggalkan Aby dan Nessy.
"Padahal karena gue mereka jadi bertemu," dengus Rana.
"Gue denger, Ran!" Ternyata Aby dengar.
Dasar orang-orang psikopat bagaimana mereka bisa mendengar suara dengan sangat tajam.
Dan Aby, sampai akhir pun dia tetap ngeselin.