
*Kalya Po*v
"Hah .... Hah ..."
Gue menatap plastik yang ditenteng Aidan kemudian mata gue terarah pada rambutnya, seberapa cepat dia membawa motornya sampai rambut bagian depannya pada keatas semua.
"Ada lagi yang Lo mau, Kal?" Tanya dia masih dengan napas tersengal-sengal.
Oke, saat menuju kemari pun dia pasti berlari-lari.
"Gak, masuk," ucap sembari membukakan pintu apartemen gue lebih lebar agar dia bisa masuk.
"Gue masuk ya, permisi ..."
Begitu Aidan masuk kedalam, perlahan gue menutup pintu kemudian memerhatikan Aidan sembari melipat kedua tangan gue kedepan.
Aidan melepaskan sepatunya ragu-ragu sesekali memerhatikan gue dibelakangnya dengan grogi.
"Duluan aja Kal, tidak usah nungguin," ucap Aidan canggung.
Kek bukan dirinya yang biasanya suka seenaknya.
Gue menghembuskan napas kemudian melewatinya, suara dentingan jam terpancar ditelinga gue membuat sontak mata melihat kearahnya.
Jam 7 malam.
"Lo tenang aja, karena kita ngerjain berdua, pasti bakal selesai hari ini," spontan gue berbalik dan mendapat Aidan dibelakang gue.
Kaget gue.
Dia berjalan kearah meja kemudian menaruh plastik dan tasnya disana.
Aidan memejamkan matanya, menghembuskan napasnya kemudian menatap gue, "Kalya, gue minta ma-"
"Sudah lah, jangan dibahas lagi, pokoknya selesaikan ini semua, baru Lo bisa ngomongin itu," gue berjalan kearah dapur dan mau mengambil piring, namun tangan gue terhenti mengingat adanya Aidan, "Bunglon, Lo juga beli makan buat diri Lo sendiri?"
Dia menggeleng, "gue melupakannya."
Gue mengangguk paham kemudian mengambil 2 piring dan 2 cangkir.
"Gue kasih minum apa ya," gumam gue sembari meringis.
Seingat gue, stok teh rasa blueberry gue sudah habis, terus Aidan dikasih minum apa?
Masa air galon doang?
Tangan gue terarah pada gagang kulkas dan memejamkan mata berharap masih ada stok minuman rasa disana.
Begitu membukanya, seketika hati gue terasa plong karena kulkas gue terisi penuh dengan berbagai makanan.
"Kak Samuel nih."
Kapan dia ke apartemen gue? Gue harus berterima kasih nantinya.
Gue segera ambil 1 botol jus jambu kemudian menaruh semua tadi dinampan.
Saat kembali pada ruang tengah, Aidan sudah duduk lantai dan menaruh barang-barang kerjaannya diatas meja yang cukup rendah.
Aidan menoleh kearah gue kemudian kembali pada laptopnya, "Kalya, Lo tidak perlu khawatir, karena gue sudah menentukan tema dan lainnya," ucap dia sembari mengambil buku catatan dan memberikannya kepada gue yang baru saja menaruh nampan pada meja.
Tangan kanan gue berkacak pada pinggang sedangkan tangan lainnya memegang buku catatan Aidan. Dengan cepat gue membaca catatan Aidan kemudian menatap Aidan, " Ini tugas bukan milik Lo doang, gue rasa Lo juga perlu berdiskusi dengan gue masalah ini, lagian gue kurang suka pada judulnya," balas gue sembari menggoyangkan buku catatan ditangan gue berkali-kali.
Sebenarnya gue suka jika pekerjaan gue dipermudah, hanya saja sekarang gue lagi sedang marah.
Gue tidak bisa bersikap santai.
Aidan menatap gue lama kemudian menghembuskan napasnya, dia mengangkat tangannya mengarah pada tangan gue, namun ia hentikan, "duduk Kal," ucapnya.
Gue menuruti pintanya, dia memutar duduknya agar menghadap pada gue kemudian menyisir rambutnya kebelakang, "kita akan mulai dari judul, jadi ini alasan gue memilih judul in ... "
Sepanjang berdiskusi, kami selalu memiliki bagian-bagian, lebih ke giliran siapa yang berbicara agar tidak ada yang terpotong. Begitu gilirannya berbicara, dia meminta gue dengerin dia sambil makan aja. Sesekali gue menawarkannya geprek yang gue makan, namun dia menolak dengan alasan tidak suka pedas.
Jarang-jarang cowok tidak suka pedas.
Kami berdiskusi tidak lama karena alasan Aidan cukup masuk akal untuk gue, akhirnya kami mulai mengerjakannya.
Aidan meminta gue agar mencarikan materi sedangkan dia yang akan membuat desain ppt.
Gue terkejut karena ppt buatannya bisa dibilang cukup bagus bahkan dia juga memiliki konsep sehingga tidak akan terlihat membosankan.
Saat gue mau memilah bagian-bagian yang akan dimasukan ke dalam ppt nanti, dia meminta gue agar jangan mengerjakan semuanya, sisakan dia juga.
Seketika gue pikir, Aidan adalah partner idaman setiap mahasiswa saat tugas kelompok.
Bisa tidak berikutnya Aidan satu kelompok terus sama gue?
Namun, mengingat gue dan Aidan tidak berada dijurusan yang sama bahkan tidak berada diangkatan yang sama membuat gue menghelang napas lelah.
Nasib.
Drhhtttt
Mata kami berdua reflek mengarah pada hp gue yang bergetar dengan layar menyala menampilkan nama Rangga alias Samuel.
"Angkat aja Kal, kerjaan kita sudah hampir selesai kok," ucap Aidan kembali fokus pada laptop.
Gue mengambil benda bergetar tersebut kemudian beranjak, "sebentar ya, Bunglon."
Melihat tidak ada respon sama sekali dari Aidan, gue memilih mengangkat telpon tersebut dan berjalan menjauh dari Aidan.
Dia nampak sangat fokus akan pekerjaannya hingga membuat gue sungkan mengulang perkataan gue.
"Halo Kak Sam."
"Maaf Kalya, gue baru menghubungi elo. Sebelum gue ke bandara tadi, gue mampir ke apartemen Lo terlebih dahulu, namun Lo tidak ada."
"Ah ... Kalya ada tugas kelompok, karena itu Kalya tidak ada. Kak Sam, terima kasih atas semua makanan yang Kakak berikan pada gue, selama seminggu ini Kalya akan makan-makanan yang layak."
"Tidak masalah, saat berdiam di apartemen Lo, gue melihat kulkas Lo hanya dipenuhi mie instan, karena itulah gue membelikan Lo beberapa daging dan makanan yang mungkin bisa bertahan seminggu. Makan yang banyak, gue lihat Lo semakin kurus setiap kali gue bertemu Lo."
Gue tersenyum mendengar kata-kata Samuel, "Kak Sam sudah sampai?"
"Sudah, cepat matikan telpon, gue tidak mau telponan terlalu lama."
Didetik berikutnya gue mendengus, dasar gila kerja.
"Yayaya Kalya matiin, tau gitu tidak gue angkat aja."
"Kal ... "
Tut ... Tut ... Tut ...
Tau rasa kau.
Trakk.
Spontan gue melihat kearah suara itu berasal, sepertinya dari ruang tengah.
"Apa yang dia lakukan," gumam gue sembari berjalan keruang tengah.
Karena terhalang sofa, gue tidak bisa melihat kepala Aidan. Tapikan, meskipun Aidan duduk dilantai, bukankah tetap akan kelihatan.
Begitu berada diruang tamu, gue terperangah.
Ternyata Aidan tertidur dengan posisi masih duduk dilantai namun kepalanya jatuh pada meja.
Gue melihat kearah jam dan disana menunjukan sudah jam 11 malam, tidak heran jika Aidan sudah tidur. Hanya saja gue agak kaget, ternyata Aidan tipe yang tidur cepet.
Posisi Aidan yang membelakangi gue membuat gue salah fokus pada plaster luka dilehernya.
Masasih cuma luka doang, sudah hampir seminggu tuh plaster tidak juga lepas dari lehernya.
******? tato?
Dengan langkah yang pelan, gue mendekat kearah Aidan dan berhenti tepat dimana dia menoleh disaat tidurnya.
Gue berjongkok dan memiringkan kepala memerhatikan Aidan Lamat.
Wajahnya, bibir, hidungnya masih terlihat sama dari terakhir gue lihat saat gue menginap diapartemennya. Namun dibandingkan sebelumnya, kali ini gue bisa melihat lebih detail bahkan hingga gue sadar saat matanya tertutup rapat, hal tersebut menunjukan betapa panjangnya bulu matanya.
Hei ... Bukankah ini terlalu berlebihan, kenapa yang dia miliki jadi terlihat sempurna.
Yang lebih parahnya lagi, dia terlihat kelelahan tapi saat tidur dia tidak ngorok sedikitpun.
Seiring suara nafasnya yang tenang terdengar oleh telinga gue, detak jantung gue yang tadinya tenang sekarang berdetak dengan sangat cepat seperti habis lari-lari.
Tunggu, kok terdengar lebih keras suara jantung gue dari pada nafas Aidan.
Gue segera menggeleng menyadarkan apa yang tengah gue lakukan ini, namun tidak salah dong kalau gue begini, Aidan emang benar-benar tampan.
Cukup Kalya, apa yang sedang gue lakukan.
Baru saja gue mau beranjak, mata gue malah terarah pada sebuah bintik hitam disamping mata Aidan.
Tahi lalat? Tapi bukannya sebelumnya itu tidak ada disana.
Tangan gue terulur perlahan kewajah Aidan dengan mata menyempit. Baru saja jari gue menyentuh kulitnya, tiba-tiba saja mata Aidan terbuka.
MATA AIDAN TERBUKA!!
Dan posisi gue benar-benar ambigu, duduk berjongkok dengan wajah mendekat kearah wajahnya.
Gue segera berdiri dan berbalik kearah pintu, tanpa ba bi bu gue keluar dari apartemen dan menutup pintu dari luar.
BLAM
Dipikiran gue terus teriyang sebuah perintah, "lari-lari-lari-lari."
Begitulah.
_
"Jadii ... Lo meninggalkan Aidan diapartemen Lo?" Tanya Rana sembari menunjuk diri gue menggunakan permen stik yang baru saja dia keluarkan dari mulutnya.
"Astaga, aduh, tekanan gue, tekanan gue naik," Rana merintih kesakitan sembari memegang kepalanya.
Gue hanya terdiam memerhatikan Rana yang mengaduh, gue kalau jadi Rana pun pasti akan pusing karena salah satu sahabatnya yang bodoh ini.
"Padahal ada cara cepatnya, Kal. Lo tinggal bilang ada sesuatu diwajahnya jadi dia akan mengerti. Tapi bagaimana sekarang, ya jelas dia akan dia salah paham mengira Lo ingin menciumnya. Lagian Lo ngapain sih," tanya Rana membuat gue terdiam.
Benar, apa yang gue lakukan sih.
Tapi...
Wajah Aidan yang terkena biasan cahaya bulan membuat gue teralihkan.
Spontan gue menutup wajah.
"Sial, malu banget gue."
Rana memerhatikan gue, "gue rasa Lo perlu kembali deh, gue tidak sedang mengusir Lo atau bagaimana tapi terserah sih kalau Lo mau lebih lama disini untuk menenangkan diri Lo juga bisa."
Gue tidak menjawab perkataan Rana dan membiarkannya mengoceh dan mengatai gue.
Setidaknya mengobati rasa kesalnya karena gue memangilnya jam segini.
"Btw, pakai hp siapa Lo nelpon gue tadi?"
"Abang kios pulsa, saat gue tidak membawa apapun kecuali uang 5k dikantong celana, jadi gue pakai buat nelpon elo."
"Hapal juga Lo nomor gue."
"Nomor cantik mah enak dihafal."
Rana melihat kearah gue dan memiringkan kepalanya, "btw, saat gue menerima telpon dengan nomor tidak dikenal, hampir saja gue tidak mengangkatnya. tapi entah kenapa gue jadi tertarik mengangkat telpon tersebut dan ternyata itu elo."
Gue melihat kearah Rana dan membuat dia spontan memberikan penjelasan, "gue memiliki kebiasaan tidak mengangkat telpon jika itu nomor tidak dikenal, gue malas."
Entah kenapa saat mendengar ucapan Rana, gue jadi teringat gue dulu.
Gue memejamkan mata dan mendongak kelangit, "Rana, gue harap Lo menghentikan kebiasaan agar tidak mengangkat telpon orang tidak dikenal, bagaimana jika itu adalah orang kesayangan Lo yang sedang minta tolong."
"Heiiii... Kenapa jadi serius?"
Tiba-tiba ditengah gue bercerita, hp gue berdering dengan nomor tidak dikenal, "gak Lo angkat, Kal?" Tanya Angga sembari melihat hp gue kemudian melirik kearah gue.
"Gak usah, paling itu penipu. Nelpon kok pakai telpon biasa, kayak balik kejaman dulu aja pakai pulsa kalo mau telpon."
Dan pada malam itu juga sebuah tragedi terjadi pada sahabat gue Binta dan hingga sekarang gue menyesali perbuatan gue.
Gue beranjak dari ayunan kemudian merenggangkan badan, "terima kasih Rana sudah menemani gue, sekarang gue akan balik apartemen."
"Mau gue antar? Jalan kaki sih," Tanya Rana sembari memasukan tangannya pada kantong jaketnya yang tebal.
"Kemana motor Lo? Gak Lo bawa?"
"Lagi pengen jalan kaki aja hehe."
"Tumben, biasanya biar Lo kedepan gang pun Lo tetap pakai motor."
"Udah gue bilang gue kepingin jalan kaki, ngajak gelud Lo."
_
Didepan pintu berwarna krim ini, gue berdiri dan diam disana selama 10 menit.
Bagaimana kalau Aidan masih didalam, harus bilang apa gue.
Bodoh, seharusnya sebelum gue kemari, gue memikirkan dulu alasan yang cocok kenapa gue berada tepat didepan wajahnya.
Atau pakai alasan Rana aja, bilang aja ada sesuatu diwajahnya.
Bisa, bisa jadi.
Oke, sekarang gue siap masuk.
Gue menekan beberapa angka pada kunci pintar, begitu selesai gue menggenggam kenop pintu.
"Ayo Kalya, Lo bisa, pasti bisa!!"
Blam~
"Assalamualaikum ... "
Gue masuk kedalam apartemen dan terhenti disana.
Sepatu Aidan, tidak ada.
Dengan tergesa-gesa gue melepaskan sendal kemudian berlari keruang tamu, dia benar sudah tidak ada disana.
"Hah ... Dia benar-benar sudah pergi."
Akhirnya gue tidak bisa menjelaskan kesalahpahaman kami.
Namun sebuah kertas diatas meja menarik perhatian gue, gue segera mengambilnya dan membacanya.
Kalya, maaf karena gue pulang tanpa pamitan dengan Lo, gue melihat Lo tidak membawa hp jadi gue rasa tidak ada cara agar memberi kabar pada Lo.
Soal tugas kelompok Lo tenang saja, gue akan melanjutkannya diapartemen gue dan selesai saat kita akan presentasi.
Satu hal lagi, gue minta maaf karena tidak datang ke perpustakaan seperti yang kita janjikan, gue melupakannya.
Gue harap Lo memaafkan gue.
Note: buka kulkas.
Mata gue langsung terarah pada dapur.
Ada apa dengan kulkas?
Gue segera berjalan hingga kedepan Kulkas dan membukanya, mata gue melihat isi kulkas dengan teliti apakah ada yang berubah disana.
Begitu tahu apa yang bertambah disana, gue tertawa kecil.
Es krim jagung.
"Apakah karena gue memakannya kemarin jadi dia pikir gue suka es krim itu?"
Gue ambil es krim tersebut dan membuka kemasan nya.
"Yah ... Mungkin setelah ini gue akan menyukainya," ungkap gue sembari menggigit ujung eskrim.
_
Aidan Pov
"Gak mau cerita nih?"
Gue menoleh kearah samping dan mendapat Rery yang berjalan mengikuti langkah gue, "cerita apaan?" Tanya gue dengan mata kembali kearah depan.
Saat ini gue berada dijalan menuju fakultas, eh malah ketemu Rery.
"Kemarin Lo terburu-buru ke apartemen membawa beberapa alat tulis dan laptop ditas kemudian keluar kembali, Lo juga pulang larut mala-"
"Tugas kelompok gue," balas gue cepat kemudian memijit kening.
Hampir sepanjang malam gue mencoba menghafalkan materi, mungkin saja kalau nilai kami sempurna maka Kalya akan memaafkan gue.
"Arghhh!" Gue tersadar dari lamunan dan melihat kearah Rery yang mengaduh sakit karena seseorang menjepit daun telinganya.
"Selama gue sibuk, Rery tidak berulah kan Ai?" Tanya wanita tersebut sembari menoleh kearah gue.
Tangannya masih menjepit telinga Rery.
"Nih, dia menanyakan banyak pertanyaan disaat gue sedang mengingat-ingat materi, bagaimana kalau materi yang semalaman gue baca jadi terlupakan?" Ungkap gue sembari berlaga sok sedih.
"Dih, siape lu," ucap Rery dengan ekspresi jijik.
Hahahaha.
Kemudian Aby melirik kearah Rery dengan mata tajam, "oke ... gue akan membawa dia pergi dengan gue. Btw, semoga berhasil ya presentasi Lo," kemudian Aby menarik Rery dengan jarinya yang masih menjinjit telinga Rery.
"Arghhh sakit By."
"Ceh lemah."
Gue menghelang napas lega saat Aby membawa Rery pergi, males gue menceritakan yang menurut gue gak terlalu penting.
Ya, gak terlalu penting.
Tiba-tiba wajah Kalya dengan tatapan yang dingin teringat dikepala gue, "haha ... Mendadak cuaca jadi dingin," ucap gue ketika merasakan badan yang menggigil.
Dengan langkah santai gue berjalan hingga tepat berada didepan fakultas, baru saja gue mau melewati pintu fakultas, langkah gue terhenti.
"Gue tunggu Kalya aja atau langsung aja ke kelas?"
Gue menggeleng, langsung aja ke kelas dan mengecek kembali materi-materi yang mungkin saja typo.
Benar, langsung ke kelas aja.
Gue melanjutkan langkah gue melewati pintu dan menuju kelas.
"Eh, bisa minta tolong bantu pasangkan alat-alat ini?" Baru saja masuk, gue sudah mendapat permintaan oleh dospem.
Dengan senyum terpaksa, "bisa kak."
"Assalamualaikum," spontan gue berbalik dan membuat dada gue berhadapan dengan orang tersebut.
Itu Kalya.
"Halo Kalya, gue menolong dospem dulu ya baru kita cek materi kita," sadar semua laptop dan lainnya berada ditas, gue akhirnya memberikannya pada Kalya, "nih, laptop dan catatan ada disana, mana tau Lo mau baca lagi," ucap gue sembari menyodorkan tali tas.
"Ya," balas singkat Kalya sembari mengambil tas ditangan gue kemudian berjalan melewati gue tanpa menatap gue sedikitpun.
Oke, dia masih marah, kemungkinan gue dimaafkan akan susah.