
Gue mempererat jaket yang bahkan tidak bisa disebut jaket karena saking tipisnya kemudian mengangkat plastik yang berisikan kue.
"Nanti pas ultah, gue minta beliin jaket aja ke Angga, biar ada gunanya," gumam gue sembari masuk kedalam lift lalu menekan lantai yang dituju.
Kalo Binta sih biasanya ngasih makanan, atau seperti benda yang pasti bisa dipakai. Gak seperti Angga, dia biasanya beliin barang yang unfaedah banget, seperti peniti, speaker unyu tapi pas dicoba gak bisa dan lainnya, yang parahnya lagi dia pernah beliin gue pengukur tinggi badan.
Ceritanya dia ngejek nih gara-gara gue pendek-_
Ngeselin emang.
Btw, kalo jam segini ke apart kok serem ya.
Telpon Angga aja deh.
Gue mengeluarkan hp lalu menekan lama pada angka 1 di ponsel. Setelah tersambung, gue menempelkan layar hp ke telinga.
"Halo Angga, lo udah tidur?"
^^^"Tidur matamu, gue lagi jalan kaki menuju mini market"^^^
Begitu liftnya terbuka, gue keluar lalu berjalan dengan langkah lambat.
Mini market?
"Beli bahan makanan? Kerja? ****, KERJA LAGI LO?"
"Betul sekali, macam gak hafal aja jadwal kerja gue"
"Gila lo, gue pikir setelah lo dapat pekerjaan di hotel, lo berhenti kerja shift malam di mini market"
"Maunya gitu Kal, tapi gaji shift tengah malam lebih gede, lumayan buat nabung."
"Gak waras lo."
"Hehe."
Gue benar-benar gak mengerti dengan Angga, setelah lulus Smk, tiba-tiba dia jadi gila kerja. Dia bahkan bisa memiliki 3 pekerjaan dalam sehari.
Apa alasan Angga bekerja sekeras ini, APA!?
Spontan gue menggeleng, nanti aja gue mikirin itu, gue harus menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu.
"Kal?"
"Eh, ya Angga? Gue gak denger tadi," ucap gue sembari tertawa kecil.
"Ada-ada aja lo, gue nanya, kapan lo pulang, ini bukannya jam lo pulang?"
Seharusnya ini udah jam pulang, tapi karena ada yang minta pesan antar akhirnya begini deh, kalo aja ada tambahan uang karena kerja lembur, gue pasti rajin banget.
Hiks:')
"Tadinya gue mau pulang, tapi..."
Deg
Gue tiba-tiba merasa merinding.
Apa karena setan? Ya ampun Kalya gak ada setan dijaman sekarang.
Terus apa dong?
Tap...tap...tap...
Suara langkah, oke dia manusia.
"Kal, lo masih disana kan? Kal? Kalya?"
Gue pengen balas ucapan Angga, namun gue gak berani membuka mulut sedikit pun.
Positif thinking, dia satu jalan ama gue.
Tapi...
Semakin gue ingat, tuh orang emang dari gue datang, udah ada tempat parkir.
Bahkan dia gak pake lift yang sama, dia make lift yang satunya.
"Woy Kal, lo jangan buat gue khawatir, gue sekarang gak berada di jakarta. WOY!"
Tangan gue gemetar, bagaimana kalo dia seperti psikopat yang ada film gue tonton. Oke, mulai sekarang gue gak akan nonton film psikopat, kalo gini jadinya:').
"Damn, kalo elo dalam bahaya, ketuk spiker paling atas tengah layar menggunakan jari"
Dengan sekuat tenaga gue mencoba menenangkan tangan gue lalu memgetuk speaker sesuai apa yang dikatakan Angga.
Tentu dengan gerakan yang gak nyatai.
Tiba-tiba hp gue mati, MATI WOY.
Kenapa disaat seperti ini.
Angga, gue harus bagaimana.
Langkah orang itu makin cepat, gue juga mempercepat langkah, ini udah gak beres. Benar-benar gak beres.
Seingat gue difilm, pemeran ceweknya akan mengetuk pintu acak agar orang di apartemen itu menolong, tapi sayangnya orang di apartemen itu gak paham kode cewek itu dan akhirnya cewek itu tertangkap dan berakhir mati.
Tapi kan ini indonesia, pasti orangnya ramah dan akan nolongin gue.
Coba dulu, kalo mikir mulu pasti keduluan ditangkap dia.
Gue berbelok kekanan dan mendapat pintu bernomor 34.
Ketok aja Kalya....
Toktoktok~
Toktoktok~
Please please please
Clak~
Begitu pintu dibuka, ada perasaan sedikit lega.
Sekarang tinggal meyakinkan orang itu agar gue masu-
Bola mata gue membulat begitu melihat siapa pemilik apartemen ini.
"Bunglon?"
Dari semua orang dimuka bumi ini, kenapa harus Aidan.
Pemilik nama orang yang gue sebut tadi nampak tidak membuka pintu dengan luas.
Well gue orang asing.
Aidan menautkan alisnya, "Ngapain lo ke apartemen gue? Ada urusan dengan Rery? Besok aja, ini sudah jam berapa coba," gue melihat dari atas sampai kebawah Aidan, baru kali ini gue liat dia hanya pake kaos putih, jaket abu-abu dan celana training.
"Woy, ngelamunin apa lo, cepat pulang sana gue mau tidu-" "BUNGLON!!" Spontan Aidan menutup telinganya karena gue teriak.
"Apaan sih gak usah teriak juga, dikira budeg kali gue," gue pikir dia orang yang baik mengingat gara-gara kejadian beberapa hari yang lalu, namun nada suaranya saat ini membuat gue sadar dan berubah pikiran.
Dia gak sebaik itu ternyata.
Namun, sekarang gue gak peduli lagi, gak peduli utang Budi gue nambah atau sebagainya, yang penting gue selamat.
Gue nyodorin plastik yang gue tenteng, "gue bawa pesanan elo, elo mesan kue kan?"
"Gue gak pesan kue, udah-udah sana lo pulang," balas Aidan dengan wajah nampak kesal, bahkan dia ngusir gue.
"Tapi Dan."
BRAAKK~
Air mata gue jatuh, tidak, hidup gue gak bisa berakhir disini aja. "Bunglonnn, lo pesen kue kan, ini kue kesukaan lo, pake motif polisi"
"Bunglonnn, gue capek-capek buat motif polisi masa lo gak ambil sih"
Clak~
Aidan membuka pintunya lagi. "Cepat masuk."
Dua kata itu cukup membuat membuat hati gue yang sesak tadi menjadi nyes lega, seperti mulut yang kering lalu semua menjadi melegakan ketika gue meminum air.
Gue segera bergegas masuk, "terima kasih."
Saat masuk, gue melihat seseorang yang terlihat terburu-buru mengambil jaket dari sebuah lemari, tunggu... "Rery?"
Orang yang disebut menaruh jari telunjuknya ke bibir seakan menyuruh gue diam, lalu Rery bergegas memakai jaket kulitnya dan keluar apartemen.
Blam~
Aidan langsung menutup pintu begitu Rery sudah keluar dan menatap gue dengan tatapan marah, "lo bodoh ya? Disaat seperti ini lo seharusnya menelpon polisi atau orang terdekat lo" "GUE SUDAH MENGHUBUNGI TEMEN GUE, TAPI TIBA-TIBA SAJA BATERAI HP GUE HABIS," Teriak gue kesal karena tiba-tiba saja Aidan mengatakan banyak hal.
Ya Lo Bayangi, baru aja gue merasa lega, tiba-tiba saja sudah diterpa pertanyaan yang seperti ini.
"Siapa yang lo hubungi? Kenapa dia gak datang sampai sekarang? Gue yakin setiap teman pasti membagikan email masing-masing ke aplikasi maps dan mengetahui lokasi satu sama lain. sebelum hp lo mati, lokasi terakhir Lo masih terlihat, Kok dia gak datang juga? Kalya, apa perkataan gue salah kalo gue menganggap lo doang yang menganggap dia teman?" Pertanyaan Aidan membuat gue makin marah.
Hubungan gue dan Angga gak hanya sekedar teman, tapi sahabat.
"YA JELAS GAK DATANG, DIA AJA BERADA DIKALIMANTAN!!" Bentak gue sembari ngos-ngosan.
Aidan menggeleng heran, "ternyata lo beneran bego. Kenapa harus teman lo yang beda pulau, apa lo gak punya orang dekat sedikit pun di kota ini sehingga yang di kepala lo cuma temen lo yang beda pulau? Bukannya Rery dan temen lo yang selalu berkeliaran dengan lo itu ada? kenapa lo gak hubungi mereka," gue mencengkram lengan Aidan kuat-kuat dan menatap matanya tajam, "kalo gue bodoh emang kenapa? Lo mau gue bunuh diri karena orang seperti gue gak pantas hidup? Begitu tuan pintar?" Di detik itu juga air mata gue jatuh.
Gue segera menunduk dan menghapus air mata gue yang berjatuhan tanpa henti. Padahal gue sama sekali gak berniat, hanya saja gue seperti ditimpa sebuah batu besar dan membuat hati gue gugur.
Tapi gue juga gak bisa menyalahkan Aidan, yang dikatakan dia emang benar ,seharusnya sebelum baterai hp gue habis, gue menghubungi Rery atau Rana. Dan apa yang gue lakukan, gue malah menghubungi Angga yang bahkan saat ini berbeda pulau dengan gue.
Angga bisa apa?
"Maafkan gue, karena gue terbiasa selalu berdua dengan teman gue itu, gue jadi lupa, bahwa gue memiliki teman lainnya di kampus. Maafin gue, gue melupakan hal sepent-" saat gue mendongak, gue dibuat terkejut karena menemukan Aidan dengan mata membulat dan menitikkan air matanya.
Tunggu, bukannya seharusnya gue yang nangis disini? Kok dia...
"Bu-bunglon?" Panggil gue sembari menggoyangkan pundaknya.
Aidan akhirnya tersadar dan menatap gue, "Hem?"
"...maaf, seharusnya gue diam aja dan menerima nasehat Lo. Eh gue malah menjawab dengan begonya mencari pembelaan," ucap gue sembari merapikan rambut.
Ia menggeleng, "... Lo gak harus minta maaf soal beginian, gue juga salah seharusnya menjelaskan kepada lo pelan-pelan, "ucap Aidan sembari tersenyum miris.
Gue menelan saliva, kenapa Aidan tiba-tiba menjadi lembut, apakah gue mengatakan sesuatu yang membuatnya tersinggung?
"Pasti lo tadi benar-benar ketakutan. Tapi gue malah menimpa banyak pertanyaan disaat perasaan lo masih gak tenang," ucap Aidan sembari menepuk pundak gue pelan.
"Lo... Gak apa-apa kan?" Pertanyaan Aidan membuat gue kembali teringat suasana yang terjadi dibalik pintu keluar itu, perasan takut yang tadi sempat hinggap di dada gue, sekarang kembali timbul.
Perasaan takut yang teramat dalam hingga membuat dada gue sesak bahkan hanya untuk memikirkan kejadian tadi.
Air mata gue kembali tumpah.
"Bunglon, gimana kalo tadi elo gak buka pintu, gimana kalo gue mat--" "shuuttt," Aidan memberi gue isyarat diam, "lo tenang aja, sekarang lo aman disini," ucap Aidan dengan nada lembut sembari mencengkram lembut pundak gue.
Gue... Beruntung hari ini.