FourG

FourG
Chapter 12



Kalya POV


Hah ...


Gue sadar, amat sangat sadar bagaimana Aidan yang terus mencoba bertemu dengan gue.


Kek woy urusan kita berdua sudah selesai setelah presentasi, jadi ngapain Lo nyari gue lagi.


Untung saja gue dan Aidan tidak berada di fakultas yang sama, jadi peluang bertemu dengannya jadi berkurang.


Bukan tanpa alasan gue menjauhi Aidan, gue masih malu dengan kejadian diapartemen. Jangan-jangan Aidan pengen mempermalukan gue?


Lo bego, Kalya.


Bego, bego, bego.


Sumpah bener kata Angga gue bego banget, gue ngapain sih pas hari itu ngelihat mukanya Deket banget, gak bisa apa dari jauh aja.


Yaaaa emang bener beberapa hari yang lalu gue memutuskan agar menjelaskan kesalahanpahaman hari itu, tapi nyali gue cuma ada dihari itu doang.


Yang lebih penting, gue kehilangan timingnya jadi kalau gue bahas tiba-tiba jadi awkard.


Tapi bagaimana nasib harga diri gue.


Sialllll.


Jika gue tidak bisa menjelaskan kesalahpahaman itu, "gue tinggal buat dia menjauh aja dari gue."


"Lo kenapa dari tadi, kek kucing mau kawin aja. Lo gak bisa diam," ucap Rana sembari memasukan pentol utuh kemulutnya.


Gue yang tadinya menunduk segera mendongak, "cara biar orang yang kita gak suka menjauh, gimana tuh Ran?"


Tiba-tiba Rana menyengir misterius seperti mc acara tv, "cowok?" Tanya Rana dengan sudut bibirnya makin terangkat.


"Ck... malah nanya balik, jawab aja cepat napa sih," ucap gue sembari menyiapkan kepalan tangan.


"Jangan-jangan masih dengan urusan Aidan?"


Gue tidak menanggapi Rana dan mengambil garpu Rana yang sudah ditusukan pentol.


Langsung gue masukin ke mulut lah.


"Ck... Kalo masih lapar, beli lagi Sono."


"Gak ah, gratisan lebih enak."


Gue memerhatikan detail mata Rana, "mata Lo, sakit mata Lo?"


"Ck, gue gak tidur karena drakor."


"Gak harus maraton seharian juga kali sampe gak tidur.


Saat menoleh kearah pintu masuk kantin, gue melihat Aidan berjalan perlahan sembari memegang kacamatanya sesekali.


Masyallah, nikmat tuhan mana yang kau dustakan.


Gue segera menggeleng keras dan menepuk kedua pipi gue keras, baru aja mendapat kejadian memalukan, tanpa tau malu gue malah menatap Aidan lama tanpa sadar.


Tapi tunggu, Aidan gak sendiri, dia bersama cewek.


Siapa tuh.


Cantik woy.


"Eh-eh Ran, lo kenal gak cewek disebelah Bunglon?" Tanya gue sembari nyolek-nyolek Rana.


Rana menyempitkan matanya kearah Aidan dan cewek itu dengan mulut masih full pisang, "ah, itu mah Asdos," jawab Rana sembari mengunyah pisangnya.


Asisten dosen toh.


Selama gue kenal Aidan, baru kali ini gue melihat Aidan bersama dengan wanita lain.


Kalo Shila mah beda cerita.


"Lo kenal dengan asdos?" Tanya gue, Rana mengangguk dan kemudian melihat kearah Asdos dan Aidan, "Aby!!" Aby dan Aidan menoleh kearah suara Raba, "kesini dong, ada yang mau kenalan nih"


Eh setan satu ini, gue gak minta Lo manggil dia.


Saat gue dan Aidan bertemu mata, gue langsung membuang muka dan beranjak dari kursi.


Tanpa ba-bi-bu gue segera berlari dengan kecepatan tinggi meninggalkan warung makan itu.


Awas Lo Rana, nanti gue geplak pala Lo.


"KALYA, LARI KEMANA LO!!" Teriak Aidan.


Ya jelas bukannya berhenti, lari gue malah makin kenceng.


Sesekali gue menoleh kebelakang dan kembali menghadap depan.


Bunglon curang, kakinya panjang mana larinya cepat. Sedangkan gue, sekencang apapun lari gue, ya tetap dapat langkah pendek.


Jahat lo Lon:v


Pada akhirnya gue berjalan tanpa tentu arah, sesekali mengerang keras dengan kepala mendongak keatas.


Lama-lama gila gue keknya.


Setelah beberapa menit berlari, gue menemukan sebuah kursi di halte bus.


Tunggu-tunggu, perasaan gue tadi lari doang, kok udah nyampe halte aja dah.


Ahhhh pasti ini pertanda dari tuhan, gue harus pulang makanya gue lari udah nyampe halte aja.


Tiktiktik~


Baru juga ditegur, eh tuhan sudah ngasih jawaban dari ucapan gue tadi dengan hujan. Fix, ini kode tuhan nyuruh gue pulang.


Gue mengelurin hp, terus memencet nama Rana.


Rana Kutu Bau


Kalyavi Claudia Aleska: [Ran, biasa tipsen, oke?]


Rana Kutu Bau: [Astagfirullah Kal]


Rana Kutu Bau: [Kirain lo udah tobat karena gak lulus kelas MTK kemarin.]


Kalyavi Claudia Aleska: [Hehe, tayang Rana deh, bantuin teman mu yang kesusahan ini ya^▿^]


Klak~


Spontan mata gue mengarah ke suara itu dan mendapat Aidan yang menginjak kaleng soda yang sudah kosong, yang bikin gue salah fokus adalah wajah kakunya seperti habis ketahuan nyolong.


Hei ... Seharusnya yang berekspresi seperti itu kan gue.


"Kaly-" baru aja gue berbalik dan sudah bersiap untuk lari disaat Aidan memanggil gue, tiba-tiba kaki Aidan tergelincir dan ...


Braak~


Aidan terjatuh dong.


"Hahahaha," tanpa sadar gue tertawa kencang saat melihat Aidan terjatuh dengan posisi yang canggung.


Aidan menoleh dan menatap gue datar, "iye-iye nih gue bantu," ucap gue sembari beranjak dari kursi lalu menghampiri Aidan.


Saat gue mengulurkan tangan, kemudian gue membeku.


Bukannya tadi gue mau kabur ya.


Namun, sudah terlambat gue menyadari hal tersebut, lebih cepat tangan Aidan meraih tangan gue.


"Nah kena kau," Ucap Aidan dengan seringainya.


Mampus.


Masih dengan tangan gue digenggam Aidan, ia beranjak dari lantai yang basah lalu merapikan dirinya tergesa-gesa.


Ucapan Aidan tadi membuat gue menoleh, "gue gak tahu harus bagaimana lagi, mungkin Lo tipe orang yang kalau seseorang buat salah, Lo tidak akan memaafkannya dengan mudah, bahkan lebih parahnya Lo mungkin tidak akan mau bertemu lagi. Tapi please, tolong untuk kali ini maafin gue, melihat Lo yang masih marah bahkan sampai mencoba menjauh dari gue membuat gue sadar kesalahan gue sangat besar sampai Lo ngelakuin hal ini pada gue."


Hah, tunggu, ngomong apa dia tadi, "siapa bilang gue gak maafin Lo, tepat setelah Lo mengerjakan tugas bersama gue di apartemen, gue sudah memaafkan Lo," jawab gue cepat.


Perlahan, tangan Aidan yang mencekal lengan gue jadi lepas, "terus, kalau sudah memaafkan gue, kenapa Lo bersusah payah menjauh dari gue?"


Seketika ingatan saat gue memerhatikan wajah Aidan dan mendekat padanya saat ingin membersihkan sebuah bintik pada bawah matanya membuat wajah gue memerah.


Mampus gue.


Nah sekarang Kan lagi dibahas, jadi ayo selesaikan sekarang.


"Bungl-"


KABOMMM~


Spontan gue berjongkok Berbarengan dengan Aidan ketika mendengar suara tabrakan keras. Gue mendongak dan mendapat Aidan yang memeluk gue dengan tangan kananya melindungi kepala gue.


Deg.... deg... deg...


Spontan gue menyentuh dada gue sendiri yang berdetak dengan kecepatan yang tidak normal.


"Heh, itu bukannya mobil Rery," gue langsung melihat kearah mobil itu dan benar saja.


Mobil Rery woy.


Aidan dengan cepat berdiri dan menatap gue kebawah karena gue masih berada diposisi jongkok, "lo jangan kemana-mana, gue ke sana dulu melihat keadaan. Ingat, jangan kemana-mana," peringat Aidan agar gue gak pergi.


Begitu melihat anggukan gue, Aidan mengelus kepala gue terlebih dahulu lalu pergi kearah mobil yang bonyokan itu:v


Taptaptap~


Setelah Aidan pergi, tangan gue terangkat untuk menyentuh pucuk kepala yang Aidan elus tadi.


Apa-apaan tadi, dia ngelus kepala gue? What the...


Love language gue acts of service, tapi gue kok jadi ketar-ketir ketika berhadapan dengan cowok physical touch.


Wajah gue memanas begitu bayangan ketika Aidan mengelus kepala gue, mungkin kalo difilmkan sudah seperti adegan drakor kali.


"Woy Bunglon, kok lo jadi meresahkan."


_


Kalya Pov


Gue masih tertegun mengingat kejadian tadi, lebih tepatnya hati gue sih.


Gue mau positif thinking jantung gue berdetak begitu karena kaget suara mobil bertabrakan.


Tapi nyatanya?


"Woy, jangan melamun, nanti kesurupan," gue mendongak. Begitu tau siapa orang itu, lagi-lagi hati gue berdetak gak karuan, "nih, gue gak tau lo suka kopi atau teh, akhirnya gue memutuskan beli air mineral aja," ucap Aidan sembari nyodorin air mineral.


"Makasih," ucap gue lemah.


Nyatanya setiap gue melihat Aidan, jantung gue berdetak sangat cepat seperti mau keluar dari tempatnya.


Lo sinting Kal, lo berharap apa?


Gue melihat Aidan lamat.


"Woy Kalya, hidup gak selalu tentang Lo, gak bakalan ada cowok yang suka elo kalo sifat Lo begini terus, hahahaha...."


Gue menggeleng keras saat mengingat ucapan pada masa SMP gue.


Gak, pasti gue ngelantur, baru juga akrab masa gue langsung suka aja.


Aneh ahahahha.


"Heiiiiii!" Spontan kami berdua melihat kearah suara, "masa Kalya doang, kami gak dibeliin minum juga," ucap Aby sembari mencolek Rana, Rana mengangguk antusias sembari menaikan kakinya keatas kursi.


Kek preman aja Lo Ra.


"Kalian beli sendiri," ucap Aidan santai.


Aby berdecak sebal, tiba-tiba hp Aby berdering hingga membuat kami menatap secara serempak.


Aby beranjak dari kursi, "gue angkat telpo-" "gak usah ijin kami juga paham, husss sana" usir Aidan layaknya mengusir kucing.


"Btw, Ai," Aidan menatap Aby, dia nampak memperhatikan, "Lo gak mampir ke rooftop?" Tanya Aby sembari nunjuk kearah atas.


Gue gak tau, entah perasaan gue aja atau apa saat itu juga suasananya jadi rada canggung, padahal ekpresi Aidan biasa aja.


Aidan menatap kearah langit rumah sakit tanpa ekspresi.


Emang, ada apa dengan di lantai atas?


"Skip," ucap Aidan sembari menatap kearah lain, tetapi dengan ekspresi enteng.


Aby cemberut dan mendekati Aidan, "Aduh!" dan menonjok pundak Aidan.


Tanpa dia mengeluarkan suara pun kami juga tau Aby mengatakan kata mampus pada bibir indahnya itu.


"Ck.. ngelunjak tuh anak," gumam Aidan sembari mengelus pundaknya.


Taptaptapatap~


"Ranaaaaaa" panggil seorang wanita sembari mendekati Rana, "Rery gak apa-apa kan? Dia gak terluka kan?" Tanya wanita itu terburu-buru.


"Ini siapa Ran?" Tanya gue sembari beranjak dari kursinya.


Rana menoleh, "owhhh ini pacarnya Rery" seketika bola mata gue melotot sembari menoleh cepat kearah Aidan, bentar lagi tuh bola mata keluar kayaknya dari tempatnya.


Gak hanya gue, Aidan juga nampak syok meskipun tidak terlalu menampakan nya.


Bagaimana tidak, sebenarnya Rery kecelakaan tidak sendirian, tapi bersama cewek.


Dan ini pacarnya? Terus yang didalam siapa?


"Dharr!!" Aidan tidak berekspresi saat Aby memberikan kejutan kaget pada Aidan, "ihhhh gak seru, pura-pura kaget kek," ucap Aby kesal.


Gue dan Aby bertemu mata, "kalian tenang aja, setelah gue hubungi, tunangan Rery Langsung gercep mau kesini bersama keluarga besar Rery," ucap Aby pelan sembari menampilkan cengirannya lalu menepuk kedua pundak gue dan Aidan secara bersamaan.


Tunggu, tunangan?


"HEH, TEMAN KALYA," Rana menoleh saat Aidan memanggilnya, "Kesini lo," Rana nampak mengedipkan matanya berkali-kali bingung seakan bilang, 'hah? Kenapa?'


Saat gue memberi tanda mendekat, akhirnya ia berjalan mendekat pada kami.


"Apaan?" Tanya Rana.


Aidan nunjuk cewek yang nampak berdiri lebih jauh dari kami, "dia pacar Rery?"


Rana mengangguk, "yups, itu pacar Rery, seorang dokter, gila gak"


Dilihat berapa kali pun, dari jas putih cewek itu, nampaknya wanita itu langsung kesini begitu mendengar pacarnya kecelakaan.


"Dan lo By, tadi lo menghubungi tunangan Rery?" Tanya Aidan.


Aby mengangguk dengan wajah bingung, "Iya, tadi tunangannya lagi menuju kemari bersama keluarga besarnya dia dan keluarga Rery."


Kok feeling gue jadi gak enak nih.


Aidan menarik nafas napas lelah lalu menghembuskannya keras, "kalian tau gak? Didalam sana Rery pingsan gak sendiri, dia bersama cewek woy," ungkap Aidan sembari nunjuk pintu ruangan Rery.


Wajar aja Rana dan Aby gak tau, setelah kemari mereka tidak bisa masuk karena dokter sedang memeriksa Rery dan cewek tersebut.


Berbeda dengan gue dan Aidan yang sedari awal sudah bersama Rery hingga membawa kerumah sakit.


Kami semua langsung hening sibuk dengan pikiran kami masing-masing.


"Jadi..." kami serentak melihat Aby yang memulai bicara, "Rana nelpon pacar Rery yang dokter, gue nelpon tunangan Rery, sedangkan didalam sana ada cewek lagi," ucap Aby menyusun puzzle satu persatu.


"Berarti..." ucap gue memggantung.


"Ini baru pacarnya datang, bagaimana tunangannya nanti, mana bawa keluarga Rery langsung," bisik Aby kepada kami.


Gue gak tau gimana reaksi pacarnya pas tau Rery bersama selingkuhannya.


Biadab lo Ry:')


"Gak kuat gue," ucap Aidan sembari menarik tangan gue.


"Akhh!"


"Semangat ya Aby, nanti gue traktir deh lo, kami mau KABOOORRRR!!" Setelah itu Aidan lari sekuat tenaga dengan tangan masih menggenggam tangan gue.


Ya otomatis gue juga jadi ikut lari karena Aidan menggenggam tangan gue:v


"WOY, KEMANA LO, BALIK GAK LO!!" Tidak sedikitpun kami memperlambat langkah, lari-lari dan terus berlari tanpa mempedulikan pandangan orang.


Sumpah, kenapa hari ini gue dipaksa banget lari-lari:')