
Aidan Pov
Gue melihat kearah Shila dengan perasaan kesal.
Bagaimana tidak, sudah cukup gue ditempelin di kampus, kenapa dihari libur pun kami ketemu.
"Cai, tadi gue liat lo risih ya digangguin sama Kalya, dia tuh gatel banget gak sih? Kayak ulat bulu tau gak," ucap Shila berjalan memutar agar berhadapan dengan gue.
"Bilang kalimat itu kediri lo sendiri," balas gue cepat.
"Ih lo mah kenapa sih? Selalu aja sarkas kalo sama gue, selalu aja ngehindar, gue telpon pun setiap pagi gak angkat sama sekali. Gue tadi lihat lo dan Kalya main di gamezone, coba aja kalo sama Kalya, sarkas sama dingin lo hilang. Di cafe sebelumnya juga, Lo nolongin dia dari Abang kurir makanan, gue tuh juga cewek Cai, gue pengen di hargain keberadaannya," gue hampir saja bergidik jijik tapi gue tahan.
Ampun dah nih anak juga minta di hargain.
Sebenarnya gue bukan tipe orang yang kasar ke cewek, hanya saja nih anak gak bisa di bilangin, bahkan sampai gue marah-marahin biar dia ilfil masih aja dia betah.
"Gue gak nyaman lo deketin, jadi gak usah ngejar gue lagi," dianya juga pakai segala ngejelekin orang lain lagi.
"Lo jahat banget sih, gue kan cuma mau deket sama lo," dia memainkan jari-jarinya sambil menunduk
Gue yang bingung dan lelah mau gimana lagi biar nih anak minggat akhirnya menggaruk kepala gue canggung.
"Yaudah, mending lo pulang aja Shil, gausah ngintilin gue lagi, nanti lo capek," ucap gue sembari beranjak dari kursi.
Dia langsung menatap gue dengan mata berbinar, "Lo mau nganterin, Cai?"
"Iya," jawab gue.
Gue berjalan mendahuluinya dan di ekorin Shila. Begitu sudah keluar dan terhenti dipinggir jalan, gue melambai kearah taksi oren.
"Lah kok naik angkot sih Cai?" Ucap Shila ketika angkot terhenti dan pintu angkot tepat berada didepan.
"Naik apaan lagi," lalu gue mendorong pelan tubuhnya supaya dia masuk kedalam, lalu memberikan uang ke abang angkot.
Untung ada sisa uang yang dipinjam Kalya.
"Anterin sampai rumah bang, kalo berisik tinggalin aja," ucap gue.
"Cai, lo php-in gue anjir," ucapnya tapi gak terlalu kedengaran karena mobilnya udah jalan, "CAIIIIIIII!!"
"Hahahaha."
Gue mendengar suara ketawa orang didekat gue, serius gue merinding, ini bukan suara kunti kan? Kunti kok mampir depan mall yah?
Dan ketika gue berbalik, gue melihat cewek dengan rambut kuncir rapi, matanya menyipit karena tertawa, tapi salahnya disini adalah, dia ketawa sambil mukulin gue.
Tangan kanan nutup mulut, tangan kiri nabok pundak gue.
Sial, Hari ini gue ketemu dua cewek setan.
"Eh Bunglon."
"Cailon."
"Serah gue lah, gue mau manggil lo Bunglon," gue bisa melihat ekspresinya gak berubah dari tadi, Nih cewek kayak gak punya beban hidup tau gak, apa-apa diketawain.
"Napa lo ngeliatin gue, naksir ya?" okeh, gue salah, ternyata bukan gue yang tingkat pedenya nambah, tapi nih orang, kenal juga baru sebentar udah main fitnah gue suka sama dia lagi.
"Sorry yah, tipe gue cewek waras."
"Nanti juga lo suka sama gue," asli pengen gue sentil aja tuh mulut.
"Dih, amit-amit."
"Hahaha."
"Lo kenapa sih ketawa mulu?" Ucap gue sembari nyodorin barang-barang dia yang emang dari tadi gue pegangkan.
"Hehe... Tadi gue digodain abang-abang Jamet, di siulin terus mereka bilang 200 ribu ya?" Hah... Di mall ada orang modelan preman?
Biasanya orang begitu bukannya cuma ada dipinggir jalan yang kurang terpelihara tapi sering dilewati orang lain, tapi kok ini di mall?
Gak waras, pasti mereka sebentar lagi diusir karena menganggu pengunjung lain.
"Terus, karena gue posisinya lagi duduk sendiri, akhirnya gue tersenyum kemas-masnya sambil bilang, 'mas lihat saya?' Ya kabur lah mereka," ya kalo Lo gituin orang, yang ada dikira setan.
Tapi cakep juga ide dia, untung Kalya pinteran dikit.
Dia maju beberapa langkah dan berjingkit didepan gue, dia mengacak-acak rambut gue pelan.
Lama dia mengacak rambut gue, sampai akhirnya dia menjauh dari gue.
"Gak lucu ya, padahal gue berharap Lo ketawa kek gue. Btw, rambut Lo kayak sarang laba-laba" dia ketawa lagi, dan gue cuma diam.
Memerhatikan apa yang sedang coba dia lakukan pada gue.
"Woy lo kenapa, diem-diem baek, lo gak lagi mencret kan?" Tanya Kalya.
Kalya ambil barang-barang dia ditangan gue, "lo pulang aja duluan, gue ada jemputan, jadi lo gak perlu nganteri gue."
"Siapa?"
"Sama Sugar Daddy,"
".....hah?"
***
Kalya Pov
Clap
Setelah menutup pintu mobil, gue tersenyum tipis saat melihat hp iphone 14 yang berwallpaper foto gue sama Bunglon.
"Boneka?" Ucap Sam dengan nada memggantung dan kemudian menatap gue.
Gue membalas tatapannya, " itu boneka yang gue dapetin dari toy box," sembari menampakan senyum gue.
Dia kembali menatap arah depan lalu menghidupkan mesin, "wehhh jago juga lo main toy box," ucap Sam.
"Gue mah mana jago main begituan, temen gue yang mainin," balas gue sembari menepuk pundak Samuel.
Tiba-tiba gue teringat ucapan Aidan sebelum kami pisah tadi.
"Kal, nanti kalo di kampus jangan sksd ya."
Gue mengerutkan alis, "lah, bukannya kita temen sekarang?"
Gue mendengus kesal.
Terus uang 50 ribu gue bagaimana kabarnya kalo gue gak menyapa Aidan.
Aneh.
Saat gue sadar dari lamunan, tau-tau aja mobil yang dikendarai Sam berjalan keluar dari area parkir mall.
"Btw Kal."
"Ape?"
Sam menghentikan mobilnya dan menatap dengan badan menghadap gue, "keluar, dan buka cap mobil belakang," ucapnya sembari tersenyum tipis.
Gue menaikan alis, ada apa dengan cap mobil? "Cepetan KALYA, nanti dia sesak napas didalam," ucap Sam sembari memencet memencet tombol sabuk pengaman gue dan membuatnya terlepas.
Apa dia katakan tadi? Sesak napas didalam?
Jangan-jangan.
Gue berbalik dan membuka pintu mobil. Untung saja Sam markirkan mobilnya gak asal-asalan dipinggir jalan, jadi gue gak perlu memerhatikan kanan kiri saat keluar pintu.
Pasti dia, pasti.
Dengan langkah cepat, gue berjalan kearah cap mobil belakang dan membuka mobil itu dengan harapan.
Siapapun, salah satu Dari mereka.
Woft~
Seketika bola mata gue berbinar, senyum tiada tahan menerpa bibir dan pipi gue.
Kek kojer dah muka gue.
Gue segera mengeluarkan nya dan membawanya dalam gendongan gue, dengan langkah cepat gue kembali ke pintu mobil dan masuk.
Blam~
"Imut banget..." Ucap gue sembari memeluknya dan mengelus-elus dirinya.
"Itu Angga yang kasih," gue langsung menoleh kearah Sam yang sedang menyalakan mobilnya kembali.
"Angga?" Pertanyaan gue ditanggapi anggukan Sam.
Gue tatap anjing itu lama kemudian tersenyum, "jujur, gue berharap yang ada di cap mobil adalah Angga atau Binta." Ya itulah yang membuat begitu bersemangat waktu membuka cap tersebut.
Gue pikir ada Binta atau Angga disana.
Gue kembali menatap anjing itu dan mengangkat badan anjing itu dan menempelkan hidung anjing tersebut dengan hidung gue dan menggesekannya.
"Anak siapa ini, anak siapa ini, anak mami donggg. Hemmm... dikasih nama siapa ya," Sam hanya mendesah lelah melihat tingkah gue yang sok imut pada anjing tersebut.
Ya gak mungkin lah gue kasarin
"Karena Lo menyebut nama mereka sekaligus, gue jadi teringat akan sesuatu. Angga dan Binta bertengkar ya?"
Pertanyaan Samuel membuat tangan gue berhenti mengelus anjing dipangkuan.
Gue menoleh, "kok kakak bisa mikir begitu?" Tanya gue.
Mereka baik-baik saja.
"Angga, dia hampir tidak pernah menghubungi Binta setelah dia pergi ke kalimantan, begitu juga dengan Binta. Jadi gue pikir mereka bertengkar," balas Samuel sembari mengelus dada.
Masa sih, Angga dan Binta itu seperti kakak adik, kadang mereka terlihat lebih dekat dibandingkan dengan gue yang jauh kenal mereka lebih lama.
Mungkin hanya perasaan Samuel aja.
"Kenapa kakak khawatir, Angga dan Binta emang begitu orangnya, mereka lebih aktif ketika sedang bertemu, berbanding terbalik dengan di sosmed," jawab gue sembari tertawa kecil kemudian melihat kearah luar jendela sembari bertopang dagu.
"Begitu? Syukurlah, gue pikir mereka bertengkar karena tidak saling chat, untung gue bertanya kepada Kalya soal ini, Kalya paling tau mereka berdua."
Gue tidak memerhatikan ekspresi Samuel dan tetap fokus melihat jalanan.
Meskipun gue meyakinkan Kak Samuel, gue jadi ikut mikir, kek masa sih.
Entahlah, suatu hari gue akan menghubungi mereka berdua sekaligus dan memastikan apakah mereka canggung atau tidak.
"Ah, ada satu lagi," Ucap Sam sesekali menoleh kearah gue.
Dengan pelan gue menurunkan anjing tersebut dan menaruhnya pada pangkuan gue.
"Sebenarnya dari tadi Bokap lo dan Angga nelpon gue melulu."
"Lah kenapa? Ada utang lo sama mereka?"
Sam menggeleng, "Kagak, mereka semua khawatir karena katanya lo diculik setan."
Tiba-tiba gue terdiam
Tunggu-tunggu, tunggu dulu.
"Kalo elo dalam bahaya, ketuk spiker paling atas tengah layar menggunakan jari"
Dengan sekuat tenaga gue mencoba menenangkan tangan gue lalu memgetuk spiker sesuai apa yang dikatakan Angga.
Tiba-tiba hp gue mati, MATI WOY.
Kenapa disaat seperti ini.
ASTAGAAAAAAAAAAA.
"Sial, gue lupa langsung menghubungi Angga kalo gue baik-baik aja."
"Hayoloh, dicoret dari kartu kelurga nih, Angga juga sampai check in pesawat loh."
"Anjir jangan nambah panik, sini hp lo gue mau hubungin mereka."
"Hp lo kemana?"
"Habis baterai."
"Yang iPhone itu gak dipake?"
"Belum gue taruh kartu SIM kesono."