FourG

FourG
Chapter 17



Syukurlah.


Untung gue bisa meyakinkan Aidan agar ke cafe aja, kalau ke restoran, yang ada duit buat beli novel bakal kena.


"Bapak, anak mu disini menjadi gelandangan karena gak juga dikasih uang bulanan," gumam gue sembari meringis.


Miris sekali nasib gue.


Gue mendongak dan menatap Aidan yang tampak sibuk dengan game di hpnya.


Disisi lain gue juga merasa benar-benar memilih keputusan yang salah, seandainya gue ajak dia makan di resto, pasti kami langsung pulang setelah makan.


Ini di cafe coy, otomatis kami harus sambil bincang-bincang, padahal gue pengen cepet pisah dari dia karena masih malu.


Tenang Kalya, setelah ini kalian gak akan ketemu, kalian beda fakultas, dan dia juga sudah berhenti dari organisasi vocal.


Bebas, akhirnya bebas.


Saat menyadari suara game yang dimainkan Aidan sudah tidak terdengar, gue menoleh kearahnya dan tersenyum.


"Sudah selesai?" Tanya gue basa basi.


Aidan menatap gue, "easy ...," Ucapnya sembari menarik satu sudut bibirnya.


Hilih.


Gue menunduk dan melihat tas yang sudah ada dipangkuan gue itu, tas yang sempat gue pikir hilang selama satu hari dan ternyata ada pada Aidan.


Gue cek deh.


Ketika gue merogok tas yang sempat hilang itu dengan hati-hati, Aidan membuka mulutnya.


"Btw, gimana kabar teman Lo setelah kejadian dirumah sakit?" Tanya Aidan sembari bertopang dagu.


Tangan gue terhenti kemudian gue mendongak, "Siapa?" Tanya gue sembari menautkan alis.


"Cewek tinggi anggota BEM."


Ahhh Rana.


"Kalau dikata baik-baik saja sebenarnya gak, tapi kalau dibilang parah gak juga." Ucap gue kembali menunduk dan merogok tas tersebut dengan seksama.


"Gue turut berduka cita atas teman Lo."


"Teman gue gak mati ya, Setan."


Ting~


Mendengar bel dimeja kami berbunyi, spontan Aidan beranjak dan menuju kasir mengambil pesanan kami.


Sementara itu gue menoleh kearah luar cafe dan melihat orang yang bermain skateboard, "serunya, jadi pengen," ucap gue.


"Pengen apa Kal?" Tanya Aidan sembari menurunkan nampan ke meja.


Cepet banget ngambilnya.


Ia menurunkan 2 cangkir dan 3 piring yang terdapat cake keju, Red velvet, dan coklat disana.


"Nyari hobi baru, gue gak bisa nonton drakor karena sepertinya untuk musim ini Drakor bakal ngeluarin deretan cerita fantasi," dan gue benci hal yang berbau fantasi.


Gue benar-benar heran, kok bisa ada orang suka cerita yang gak masuk akal dilogika, gak realita maksud gue.


Tiba-tiba gue jadi teringat Binta, yang benar-benar garis keras komik fantasi.


Gue gak bisa menjudge karena itu selera sahabat gue sendiri.


"Bagaimana kalau Lo memulai hobi mancing," saran Aidan sembari menyedot capuccino esnya, "mancing keributan," Lanjutnya setelah menelan minuman di mulutnya.


Seketika gue memijat jidat gue, "Lo... Haha, konyol tau gak," ucap gue sembari tertawa kecil.


"Katanya Lo mau nyoba hobi baru, dan gue ngasih saran, gak salah kan?" ucap Aidan tanpa merasa bersalah.


Bisa-bisanya disaat seperti ini, kata itu yang keluar dari mulutnya.


Ketika Aidan menyedot minumannya dari sedotan, gue menatapnya lamat.


Dia sama sekali tidak membahas percakapan kemarin, atau bahkan mengungkit-ungkit persoalan gue yang melihat wajahnya sangat dekat di apartemen.


Sangat disayangkan kalau gue menjauh, otomatis gue enggak akan bisa melihat wajah tampannya ini, wajah yang gak pasaran.


Gak, gue gak boleh lengah, bisa aja Aidan sampai ngespill di toktik kan.


Arghhhh.


"Woy Cai."


"Eh Ai."


Spontan kami melihat kearah suara tersebut, disana ada Rery dan Aby yang melambaikan tangan dibibir pintu masuk cafe.


Rery dan Aby yang menyadari panggilan mereka pada Aidan nampak terkejut dan saling menoleh beradu tatapan, gue bisa melihat seperti ada keluar laser dimata mereka masing-masing.


"Panggil gue Aidan aja, jangan dikurangin, jangan ditambahin, apalagi diganti," Ucap Aidan langsung melirik kearah gue saat bagian kata ganti itu.


Gue langsung buang muka, ya pasti kata-kata tadi berlaku untuk gue juga, mengingat gue memanggil dia Bunglon.


Gue manggil dia Bunglon ya karena rada mirip dengan namanya Cailon:v


lagian, namanya aneh di ucapin, terus pelafalannya juga susah ketika namanya disingkat.


Aidan jadi Ai. Kek cewek kan? Jadi ingat salah satu karakter detective conan.


Cailon, jadi Cai. gak-gak, Cai dipikiran gue cuman Kai exo dan Kai Txt.


Smith, apalagi yang satu ini. Hadeh.


Pokoknya udah fix Bunglon, no kecot.


"Bro, gue suka manggil nama orang disingkat-singkat, gue manggil lo Cai, jangan banyak omong," ucap Rery sembari duduk di kursi depan kami.


"Makanya nama tuh jangan aneh, Aidan Cailon Smith," cibir gue langsung buang muka lagi.


Jangan sampai gue ketemu mata dengan Aidan.


"Btw, kalian masuk kelas jam berapa? Kok jam segini pada nongkrong di cafe?" Tanya Aby sembari menarik kursi dan duduk di sana.


Rery juga menarik kursi ke belakang dan duduk di sana, "emang sekarang jam berapa, baru juga jam 12.19. Gue dan Kalya masuk jam 1 siang, " ucap Rery sembari mengecek jam tangan yang ada dipergelangan tangannya.


Aby ikutan mengecek jam di layar hpnya, "oh, berarti jam hp gue kumat," ujar Aby sembari menghelang napas.


"Makanya, setting jam hp itu jangan yang otomatis. Kalo otomatis, biasanya jamnya rada aneh, bisa kecepatan sejam, tapi nanti balik lagi ke jam normal," ungkap Rery dan juga anggukan Aidan.


Saat mendengarkan mereka berbicara, tanpa sengaja mata gue bertemu dengan Aby, gue memberi dia senyum sebagai bentuk menghormati keberadaannya.


Namun senyum gue langsung menghilang saat Aby membuang muka, bukannya membalas senyum gue.


WHATTTTT??


"Btw, kalian udah baikan?" Tanya Rery.


Tunggu, baikan?


Plak~


"Aduh!" Aduh Rery sembari mengelus punggungnya.


"Kalo ngasih pertanyaan tuh yang jelas Ry," ucap Aby sembari merenggangkan tangan kanannya, "beberapa hari yang lalu bukankah kalian main lari-larian, jadi Rery berpikir kalau kalian bertengkar, Tapi bego sih kalo menanyakan pertanyaan itu disaat kalian duduk di cafe berdua dengan tenang seperti ini," Ucap Aby tanpa sedikitpun menoleh kearah gue.


Seakan gue gak ada ditempat.


Apa gue telah melakukan sesuatu hingga membuat Aby kesal? Yang gue dengar dari Rana, Aby orang yang baik, ramah, dan selalu terima orang yang datang padanya.


Jadi apa alasan dia seperti ini ke gue.


"Ngomong-ngomong, Kalya," spontan gue menoleh Aby yang mengajak gue bicara.


Ah... Ternyata hanya perasaan gue aja, mungkin dia sedang mencari timing gue berbicara dengan gue.


Aby menunjukan senyum meledeknya pada Aidan, "tau gak, Aidan suka-" "Abyyyy..." Potong Aidan sembari menutupi mulut Aby.


Aidan suka apa?


"Jangan temenan dengan Cailon, dia suka ngutang," balas Rery sembari bertopang dagu.


Kirain apa toh.


Eh, bener juga Aidan kan ada utang dengan gua 50k, tagih ah.


Satu sudut bibir gue tertarik, "bener juga. Bunglon, lo ngutang belom bayar, sini kemariin uang gue 50 ribu."


"Prtt..." Spontan gue dan Aidan menoleh kearah Rery yang menutup mulutnya sedangkan Aby berbalik membelakangi kami.


Aby yang masih membelakangi kami tampak menepuk punggung Aidan, "keknya Lo gak pernah beruntung di percintaan," ucap Aby gak henti-hentinya menepuk punggung Aidan.


"Gue baru tau ayah Lo bangkrut sampai-sampai Lo pinjem uang ke cewek," ucap Rery dengan kata-kata anehnya.


Gue bisa melihat Rery seperti mau menangis.


Emang kenapa, salah ya gue nagih hutang?


"Ck... Bentar, dompet gue di jok motor, gue ambil dulu," Aidan beranjak dari kursi dan berlari kecil keluar dari cafe.


Aidan berdecak, jangan-jangan dia kesal karena gue nagih disaat masih ada teman-temannya.


Aidan, sorry.


"ABYY~" gue menoleh kearah luar cafe.


Disana ada seorang wanita yang melambai pada kami dengan senyumnya yang manis.


Drhhhhhh~


"Eh gue cabut ya, temen gue udah selesai kelas," ucap Aby sembari beranjak dari kursi dan membenarkan kursi agar merapat pada meja.


"Pacar baru? Gue bakal aduin wakil pendobrak putri kalau dia kembali," ucap Rery cemberut.


Sepertinya Aby berteman baik dengan Wakil Pramuka atau semacamnya.


"Wakil pendobrak putri kita gak akan marah kalo tau gue punya teman lainnya," ucap Aby sembari merapikan rambutnya dan berlari kecil kearah pintu cafe.


Cring~


Begitu keluar, Aby bertemu Aidan disana dan mereka berbincang, terlihat Aidan dengan wajah kesal dan Aby yang tertawa puas.


Apa yang mereka bicarakan.


"Kalya," gue menoleh pada Rery, "maaf soal Aby, dia gak bermaksud begitu kok sama Lo, akhir-akhir ini dia benar-benar sensitif dengan orang yang ada disekitar kami entah kenapa," ucap Rery agar gue gak tersinggung.


Gue mengangguk mengiyakan ucapan Rery kemudian menatap punggung Aby yang mulai menjauh bersama temannya tersebut.


Mungkin yang dikatakan Rery benar.


_


Disisi lain


"Pantas saja namanya tidak asing," ucap Aby sembari scroll layar hpnya.


"Siapa By?" Tanya Putri sembari ikut memperhatikan layar hp Aby.


"Kalya, dia sahabat Binta dari SMP. Gue gak percaya ternyata dunia benar-benar sempit," ucap Aby sesekali mengetuk foto Kalya yang bersama Binta, "wakil pendobrak kami juga kelihatan keren disini."


"Jangan bilang Binta yang sering Lo ceritakan?" Ucapan Putri ditanggapi anggukan Aby.


"Seketika gue teringat kasus remaja SMA yang bunuh diri melompat dari rumah sakit, Binta pacarnya, bukan? Lo ingat kan itu kasus sempat ramai 1 tahun yang lalu."


Aby mengendikan pundaknya, "Gue juga terlibat sebagai tersangka di kasus itu, jadi gue gak mungkin lupa."