FourG

FourG
Chapter 22



Aidan Pov



"hahaha... Siapa yang mengganti saluran tv jadi yutub, mana lagu India pula."


"Ya sesekali lah kita denger lagu India, waktu kecil kan kita banyak nonton film beginian, sekalian biar ingat kenangan waktu kita kecil."


"Benar yang dikata dia, wah ini film Kank, kangen banget nonton film perselingkuhan ini."


"Gue lupa alur ceritanya, bisa Lo jelasin secara singkat, sudah lama soalnya makanya gak ingat."


"Itu loh, ceritanya serokan punya keluarga dan tiba-tiba ketemu dengan masa lalu dia gitu, terus jatuh cinta lagi, makanya selingkuh."


Kalya menatap tv tersebut dengan mata yang tidak terlihat tertarik sama sekali, "orang sinting, padahal sama-sama sudah berkeluarga, kok bisa selingkuh sih." Ucap Kalya sembari bertopang dagu.


"Mereka kan saling mencintai, maklum lah." Balas salah satu dari mereka sembari berbalik, namun begitu tau siapa yang mereka balas, mereka langsung mematung.


"Owhhh... Jadi kalo saling mencintai, boleh gitu selingkuh, siapa tuh pencetusnya, biar gue geplak kepalanya," Balas Kalya sembari menepuk kepalan tangannya kanannya pada telapak tangannya kirinya.


Seketika suasana cafe jadi hening.


Kalya, gue gak tau pengaruh Lo begitu kuat disini.


Meskipun gue duduk jauh dari Kalya dan beberapa orang yang didekat tv, gue tetap mendengarkan percakapan mereka.


Pembicaraan mereka yang awalnya menarik, lama-lama jadi gak bermutu sekarang. Lagian, Kalya juga sepertinya masih sensitif setelah kejadian siang tadi.


Yup, melabrak mantan Rana.


"Sudah Kalya, bawa santai aja," balas Rery disebelah Kalya sembari menyodorkan biskuit ke mulut Kalya, dan Kalya melahapnya dengan kunyahan yang kasar.


Disaat seperti ini ternyata dia terlihat imut.


Btw, karena kelas selesai dengan cepat, akhirnya kami menunggu di cafe, gak hanya menunggu, kami juga memesan minuman dan lainnya.


"Hah... Kapan bus nya datang," gumam gue sembari menatap layar ponsel malas.


Tiba-tiba ada notifikasi dari forum kampus, awalnya gue ingin mengabaikannya, namun judulnya menarik perhatian.


Karena selingkuh, pria ini dilabrak temen mantan pacar hingga babak belur.


Dan itu berbentuk video.


Tiba-tiba gue membayangkan jika gue dan Kalya menikah, apakah gue akan menjadi suami takut istri?


Membayangkannya saja membuat gue tertawa.


Tunggu, apa yang sedang gue bayangkan?


"KALIANN, BIS NYA 15 MENIT LAGI SAMPAI, RAPIKAN KOPER KALIAN DAN BERBARIS."


"SIAP KETUA."


***


Kalya POV


Pemandangan senja hari setelah beberapa hari tidak melihatnya. Kenapa jadi begitu indahnya, seakan gue merindukan suasana ini.


Sejak kapan gue mulai tidak memperhatikan senja yang dulu selalu gue perhatikan saat sma.


"Rery, terima kasih karena sudah memberikan kursi disamping jendela pada gue," ucap gue tanpa menoleh kearah Rery yang ada disebelah gue.


"Gue bukan anak senja, jadi sepertinya itu cocok pada Lo," balas Rery sembari melepaskan earphone nya dan mengelus perutnya.


Keanginan keknya nih anak.


Gue menyenderkan kepala gue pada kaca bus, perlahan mata gue mulai berat, dan kantuk mulai melanda gue, "Ry, Lo tau gak, katanya selingkuh itu adalah hasutan setan." Ucap gue disela gue menguap.


"Tau, gue sering denger orang ngomong begitu, makanya ada kata khilaf berikutnya, padahal kalo selingkuh ya selingkuh aja." Yang dikatakan Rery, gue setuju 100%.


Rery ini dari pengalaman keknya, btw nih anak putus dengan semua pacar dan hidup jomblo.


Kerasukan malaikat mana Lo.


Gue merasakan Rery beranjak, kemudian kembali duduk, mungkin dia membenarkan celananya yang merosot agar duduk dengan nyaman?


Gue tertawa kecil, "kan selingkuh adalah hasutan setan, berarti selingkuhan tersebut adalah selera setan, pantes setiap selingkuh malah turun seleranya."


"Owhhh... Kirain tadi udah anteng, ternyata masih kesal persoalan Rana toh."


Dengan mata tertutup gue membalas ucapan Rery, "iyalah, udah gue bantu dia jadian dengan Rana, eh malah selingkuh."


"Udah ah, tidur aja Kal. Gue punya temen yang memiliki kebiasaan kalo mau ngelupain sesuatu, dia hanya perlu tidur."


Masih dengan mata tertutup, gue tertawa kecil, jadi teringat Binta. Dia memiliki banyak hal yang mau dilupakan, karena itulah dia selalu tidur siang.


Caranya emang instan, namun pengaruhnya gue bisa lihat langsung dari Binta. Bahkan sampai sekarang dia gak bisa melewatkan tidur siangnya yang harus lebih 4 jam.


"Sebenarnya gue merasa sangat bersalah, karena saat kejadian ini terjadi, sejenak gue melupakan anjing gue Ollie yang sudah mati. Gue bersyukur, kemudian berdzikir karena merasa ini bukannya kejadian yang harus gue syukuri," Ucap gue lagi masih dengan mata tertutup.


Sesekali gue menguap, ah... Rasa kantuknya mulai hinggap.


"Gue.... Takut," akhirnya khawatiran gue keluar.


"Takut kenapa?"


"Angga, dia memberikan gue anjing tersebut karena takut gue kesepian, gue takut Angga kecewa karena gue gak menjaga pemberiannya tersebut. Bagaimana gue akan menghadapi Angga." Air mata yang benar-benar gue tahan selama seharian tumpah begitu saja bagai sebuah bendungan air yang runtuh.


Gue benar-benar ingin menceritakan ini pada Rana, tapi situasi Rana tidak memungkin akhirnya gue cerita pada Rery.


"Pasti Lo bingung karena gue gak pernah nunjukin diri gue yang begini, wajar saja karena gue merasa menjadi kuat adalah suatu keharusan untuk gue yang hidup mandiri. Lo tenang aja, gue menangis gak selalu kok, namun setidaknya gue perlu menangis agar segala kerisauan gue menyurut."


"Tidur aja dulu, kalau Lo ngomong terus, kapan tidurnya."


Benar, gue harus tidur, mana tau cara Binta manjur, tidur, reset, dan bangun seperti gak terjadi apa-apa, "Hehe... Bener juga kata Lo, nanti kalau sudah sampai bilangin ya."


"Iyaaaa."


Setelah mendengar iyaan Rery, gue mulai terlelap dan menuju kearah mimpi.


.


.


.


"Kalya, bangun Kal, Lo gak makan dulu?" mendengar seseorang yang membangunkan gue, perlahan mata gue terbuka.


Sial, gue baru saja tidur, masa sudah dibangunin.


"Perjalanan kita masih panjang, Lo gak makan?," owhh ternyata ketua organisasi.


"Terima kasih tawarannya, tapi gak dulu kak, sebelum tidur Kalya sudah makan banyak makanan ringan bersama Rery." Balas gue sembari menggosok sebelah mata gue.


Begitu sudah dapat jawaban gue, dia mengangguk paham dan pergi meninggalkan gue.


Ketika kesadaran gue mulai pulih, gue sadar kalau pundak kiri gue benar-benar kesemutan seperti ada sesuatu yang yang menindih.


Hati gue berdegup sangat kencang begitu tau siapa yang telah bersandar dipundak gue.


Aidan!!


"Bu-bunglon, kok Lo jadi disini? Mana Rery?"


Dia membuka sebelah matanya dengan sipit sekedar menengok gue kemudian memejamkan matanya kembali sembari merapatkan earphone bluetooth yang ada di telinganya, "sebelum Lo tidur, bus sempat berhenti dan beberapa mahasiswa keluar buat muntah termasuk juga Rery, sejak itulah posisi duduk berubah," ujar Aidan dengan mata masih tertutup dan suara paraunya.


Gue tau, bus berhenti kemudian Rery beranjak sebelumnya, beberapa saat kemudian ia duduk kembali sebelah gue. Namun setelah mendengar ucapan Aidan, jangan-jangan saat Rery beranjak sebelumnya, yang duduk berikutnya adalah Aidan?


"Bisa Lo diam? Kemarin malam gue gak tidur karena nonton film," ucapnya sembari menekan tombol hpnya yang bagian samping. Mungkin dia sedang menambahkan volume musik yang dia dengarkan dari earphone wireless nya.


Beberapa saat kemudian napas yang kasar tadi terdengar mulai tenang.


Hei Lo beneran tidur? Bisa-bisa Lo tidur dengan sangat cepat begitu.


Disisi lain juga gue merasakan perasaan aneh dibagian perut saat Aidan lagi-lagi mengusal dan kembali tenang.


Dia, Aidan berhasil melepaskan beribu-ribu kupu-kupu yang ada didalam perut gue.


Drhttt~


Guratan timbul dijidat gue ketika hp yang tergantung dileher gue bergetar, siapa yang menelpon gue?


Gue menatap layar tersebut dan nomor yang tidak dikenal, apakah penting?


Pengennya sih tidak menghiraukan telpon tersebut, namun entah kenapa ada suatu dorongan yang membuat gue ingin mengangkatnya.


Bagaimana kalo Abah kenapa-kenapa? Bahaya kan.


Gue segera menekan tombol hijau dilayar dan menempelkannya ditelinga, "halo?"


"Bagaimana Lo bisa menyembunyikan ini sendirian tanpa diketahui gue ataupun Binta, apakah Lo gila?" bola mata gue membulat, gue menurunkan hp dari telinga kemudian mengecek kembali nama disana.


Tak dikenal, jadi kenapa ada suara Angga?


Lagian, bukankah gue sudah mengatakan jangan hubungi gue, kenapa Angga yang biasanya nurut jadi ngeyel, bukankah gue sudah bilang jangan hubungi gue sementara.


"Apakah akan jadi salah Lo jika anjing itu mati diserang anjing lain? Salah Lo?"


Deg


"Oke, anggap saja kita memutar waktu disaat kejadian, dan Bunglon disana adalah gue. Lo pikir jika kejadian tersebut didepan mata gue, gue akan membiarkan Lo melompat melerai anjing tersebut?"


Mulut gue bungkam disaat itu juga.


"Gak Kalya, gue juga akan melakukan hal yang sama, gue akan menahan Lo, gak peduli seberapa berharga anjing tersebut, Lo yang paling penting bagi gue."


Seketika, sebuah desiran muncul dihati gue, sangat deras hingga melegakan hati.


"Jujur saja, gue benar-benar cape ketika gue bangun tidur, gue sudah harus bersiap bekerja dan berlari kesana kemari pada 3 tempat kerja, kehidupan yang terus berulang itu membuat gue benar-benar bosan, dan bosan itu hampir membuat diri gue menyerah. Namun, gue ingat, gue memiliki 2 orang terdekat di dunia ini, yang selalu mengisi kehidupan plat gue dengan cerita mereka melalui telpon, kalaupun gue marah, gue gak akan bisa lama marah pada mereka berdua. Lo tau kan siapa yang gue maksud?" Spontan gue menutup mulut, air mata gue lagi dan lagi keluar tanpa persetujuan gue.


Gue dan Binta.


"Lo... Dari kita sekolah di SMK, Lo sama sekali gak berubah, Lo selalu menyimpan masalah Lo sendiri. Please, jangan lakukan itu, gue sempat kehilangan Binta, itu benar-benar membuat diri gue merasa bersalah karena gue kurang bertindak. Jika hal tersebut terjadi pada Lo juga, gue benar-benar merasa menjadi sahabat yang paling gak berguna."


"Gak Angga, meskipun lo kehilangan Binta yang lama, Lo tetap berada disampingnya. Gue tau Lo sebenarnya benci dengan Binta yang sekarang, yang terlihat rapuh dan kapanpun bisa saja pecah jika disentuh. Tapi gue percaya saat Binta kembali, dia akan kembali seperti sedia kala."


"Gue harap juga begitu."


Gue gak tau, ternyata selega ini jika berbicara dengan Angga. Tidak, dari dulu inilah tujuan gue selalu menelpon Angga.


"Gue selalu memiliki kekhawatiran terhadap Lo yang tertutup akan masalah, ditambah lagi gue juga gak selalu bisa ada disaat Lo pengen cerita karena kesibukan gue. Eh hari ini Lo kenapa mendadak berbeda, cerita ke Bunglon?"


Spontan gue menatap kearah samping gue, disana masih ada Aidan dengan earphone bluetooth yang tersumpal ditelinganya.


Jadi... Aidan yang menceritakan semua ini?


Setelah tau hal ini, gue jadi yakin orang yang duduk disebelah gue sebelum gue tidur hingga kini adalah Aidan.


"Mungkin... Gue menemukan tempat cerita lain?"


"Kalya...." Gue tertawa kecil saat mendengar Angga yang merengek disana.


Ya... Mungkin tempat gue cerita berikutnya gak hanya Angga, tapi juga Aidan.


***


Lama bertelepon dengan Angga, akhirnya gue ikut ketiduran disamping Aidan dan mencoba tidak mempedulikan keberadaan Aidan bahkan gue bersandar di kepalanya yang masih bersandar dipundak gue.


Kemudian, ada orang yang membangunkan gue dan bilang kalau bus sudah sampai dikawasan penginapan.


Aidan masih disebelah gue? Tidak, dia sudah tidak berada disana lagi.


"Dialah yang menceritakan masalah Ollie mati karena diserang anjing besar, dia juga menceritakan segala kekhwatiran dan ketakutan Lo saat menghadapi gue. Pokoknya terima kasih gue rasa masih kurang diucapkan padanya. Saat kami bertemu, nanti gue akan mentraktir makanan enak padanya."


"Dia menghilang sebelum gue berterima kasih."


Sebenarnya gue kesal karena dia cerita ke orang lain(Angga) padahal gue menceritakan itu dengan maksud hanya melegakan perasaan gue.


Namun disisi lain, gue juga mendapatkan perasaan lega yang seribu kali lipat dari pada saat cerita.


Bunglon nyebelin.


_


"Sejak kapan Lo dan dia jadi dekat?" Gue yang tadinya melahap mie saytodoyang langsung membeku.


Sedikit informasi, saat ini kami sudah berada di penginapan, karena lapar akhirnya kami memasak mie saytodoyang.


Rana bawa kompor listrik sendiri.


Gue menoleh kearah Rana dengan kaku, "bukannya beberapa Minggu yang lalu Lo masih kesal karena dia berada di organisasi vocal, jadi kapan kalian dekatnya?" Tanya dia lagi.


Gue tau pertanyaan ini akan datang dari mulut Rana mengingat gue selalu curhat kepada Rana betapa kesalnya gue dengan keberadaan 'wajah organisasi' tersebut di organisasi yang jelas adalah suara nomor satu. Tiba-tiba saja ada satu hari dimana mereka berdua malah bergantian menjaga gue saat sakit, seperti 'hei, kemana semua kekesalan Lo beberapa saat yang lalu?'


Gue ngerti kok Rana, gue ngerti.


Namun sayangnya, gue menyepelekan pertemanan gue dan Aidan hingga gue merasa hal tersebut gak perlu diceritakan(besar-besarkan) dan ya tentu saja gue gak cerita pada Rana.


Sama sekali.


"Lo tau kan, maksud gue si Aidan," ucap Rana sembari memberi kode.


Apaasih nih anak. Sandi Morse aja enggak paham gue, malah pake telepati.


"Bocah ogeb, Lo gak nyadar Aidan menunjukkan effort nya pada Lo, " ucap Rana sembari mengambil air disamping piringnya kemudian meminumnya dengan beberapa tegukan.


Didetik berikutnya, wajah gue memerah, namun dalam waktu 0,3 detik, gue langsung merubahnya jadi datar.


Kemampuan yang patut gue banggakan.


Rana, jangan bikin gue berharap, cowok modelan Aidan mana bisa doyan Ama gue.


Dia tampan, perhatian, pengertian, terus pinter. Terlalu sempurna itu hingga gue merasa gak pantas menyukainya.


Yups, gue menyukainya. Lucu gak?


Pria yang dulu gue anjing-anjingi sekarang gue malah suka dengannya, bagaimana gue jujur ke Rana, malu gue.


"Ceritanya panjang pokoknya, kalau soal suka..." Gue memberi jeda memasukan mie kedalam mulut, tentu saja sambil memikirkan alasan agar sekalian menyadarkan diri gue sendiri yang tadinya sempat berharap, "temen gak harus memiliki perasaan hanya untuk menjaga temannya, bukan?" Bijak Lo Kalya.


"Yang Lo katakan benar, hanya saja kalau yang menjaganya lawan jenis, jadi beda cerita," arghhhh jangan diulang-ulang, makin salting gue.


Gue menaruh piring kertas tersebut disamping Rana kemudian meminum air disebelah piring tersebut dalam sekali tegukan, "cukup-cukup, berhentilah membicarakan Bunglon, lama-lama eneg juga gue denger namanya," kabor Kal, Kaborrrr.


Gue beranjak dari lantai kemudian menarik tisu asal disekitar entah siapa yang punya.


Tentu saja buat melap bibir gue yang cemong.


Rana menampilkan wajah syok seakan tidak percaya dengan yang gue ucapkan, "santai aja kali Kal, biasanya juga lo akan menanggapi omongan gue dengan candaan."


"Ah... Mungkin karena masalah Zero tadi, makanya gue jadi mudah kesal," gue menepuk pundak Rana, "maaf Rana, gue gak maksud ngomong kasar, gue tidur dulu ya," Ucap gue selembut mungkin.


Kemudian gue menutup tubuh gue full selimut hingga menutupi wajah.


Rana gak lihat kah? Wajah gue panas banget nih, pasti wajah gue merah banget.


Setelah gue pikir-pikir, gue baru menyadari sesuatu. Akhirnya setelah sekian lama gue bisa membuka hati lagi.


Buktinya gue bisa suka kepada Aidan.


Tapi ini beneran suka apa enggak ya, takutnya gue keliru karena sudah lama tidak merasakan perasaan seperti ini.


Gak mungkin ah, jelas- Aidan sesempurna itu, gak heran kalo gue suka dengan dia.


Semua yang dia lakukan pada gue beberapa hari ini, gue benar-benar luluh dibuatnya.


"Lo tau gak?" Pembukaan dari Rana membuat gue spontan menyimbah selimut kemudian berbalik kepadanya.


"Apaan?"


Rana menampilkan senyum ala-ala MC acara, "baru-baru tersebar rumor loh kalau Aidan itu anak seorang pemilik bank internasional."


"Ketemu aja Lo rumor-rumor beginian," balas gue sembari memutar bola mata.


"Kalya, ini bukan biasa doang," Rana mendekat kearah gue dan berbisik, "ini cuma Lo doang yang tau, sebenarnya setelah dengar rumor itu gue langsung nanya sama papa, dan kata dia emang bener," berarti dia kaya dong.


"Kaya tapi kok ngutang," gumam gue kecut.


Utang dia belum dibayar loh.


"Ngomong apa Lo tadi," tanya Rana yang sadar kalau gue bergumam namun tidak bisa didengarnya.


"Gpp, pokoknya hal beginian cuma kita yang taukan?" Tanya gue kembali dan ditanggapi anggukan Rana.


Seketika bayangan gue pacaran dengan Aidan kemudian berjalan ke eropa, menikah di disney, memiliki rumah pribadi yang besar muncul dikepala.


Tunggu-tunggu, apasih yang gue pikirin, justru kalau Aidan kaya, makin susah dijangkau dong.


Inimah the real perfect, kok bisa ada orang yang gak ada minus-minusnya. Pinter iya, ganteng iya, kaya juga iya.


Ini beneran orang modelan begini temen gue?


Eh, gue lupa menanyakan ini pada Rana.


"Rana," gue memanggilnya masih dalam berada selimut, "Lo masih sedih soal Zero?" Tanya gue.


Dia awalnya diam, lama banget, kemudian, "gak lagi, meskipun memukul dan mencacinya gak langsung dari gue, perwakilan Lo sudah cukup membuat gue puas 7 turunan," Ungkapnya.


Good.


"Gue ke kamar mandi duluan ya, kalau Lo takut, gue bakal tunggu nih."


"Lo kali yang takut, gue lagi yang dikambinghitamkan."


"Hehe..."


Tiba-tiba gue tersenyum kaku dan juga langkah gue terhenti, sebuah ingat mendadak terlintas dikepala gue.


"Bunglon, ceritain sesuatu dong."


"Gue emang aneh dari awal, ayolah dansa dengan gue, gue benar-benar pengen lupain Ollie sejenak."


Gue pasti sudah gila karena meminta semua itu dari Aidan.


"KENAPA SIH GUE DOYAN BIKIN MALU DIRI SENDIRI!!"


"ASTAGFIRULLAH KENAPA KAL!!!"