
Kalya Pov
"Udah baikan?"
Gue mengangguk dan memberi isyarat agar Aidan tidak perlu khawatir lagi.
Mata gue, gue gak bisa membuka mata dengan lebar, mata gue bengkak.
"Es batu?" Tanya Aidan.
"Boleh, terima kasih," ucap gue tanpa sedikitpun merubah posisi gue disana.
Sebelumnya, Aidan memegang lengan gue dan menuntun agar duduk di area tengah daripada berdiri di depan pintu.
Mendengar suara langkah yang mendekat, gue menoleh kearahnya, tapi gue masih tidak bisa melihat dirinya.
"Nih," gue mencoba menggapai es batu yang diberikan Aidan namun tidak juga menemukannya.
Aidan menghelang napas kemudian ia ambil tangan gue dan menaruh sebuah benda yang permukaannya lembut tapi juga dingin.
Sepertinya dia menaruh es batu pada sebuah kantong agar tidak meneteskan air kemana-mana.
"Terima kasih," pungkas gue sembari menaruh kantong tersebut dipermukaan mata gue.
Ahh... Segar.
Aidan berjalan menjauh entah kemana kemudian gue mendengar suatu suara keluar dari sebuah speaker.
Sebuah opening yang paling gue kenal.
"Lo... Nonton detective Conan?"
"Gak, gue cuma mau nostalgia lagu-lagu opening Detective Conan, Lo nonton animenya?"
Gue menggeleng, "gue sukanya nonton drakor dari pada anime, anime gak seru ahh," ucap gue sembari berbalik.
"Setidaknya tontonan gue gak seperti pet house tontonan punya lo," ucap Aidan sembari berjalan lagi entah kemana, kemudian gue mendengar suara per sebuah kasur.
Dia ke kasurnya ternyata.
"Kok lo tau tontonan gue itu?"
"Karena banyak cewek-cewek yang rekomen drakor itu ke Rery, jadi ya tentunya cewek kayak lo pasti nonton."
"Gitu-gitu tontonan gue drama dajjal semua, penuh dengan taktik, rencana, dan lainnya" ucap gue antusias bahkan menjelaskannya pakai gerakan tangan.
Gue menjauhkan kantong es tersebut dari mata gue kemudian mencoba membuka mata.
Masih susah melihat.
Diantara bayang-bayang pandangan gue. tiba-tiba mata gue tertuju kepada Aidan kemudian pada lehernya.
Lagi, plester luka dileher kiri.
Itu semacam jimat? Dia seperti tidak pernah melepaskan plaster tersebut, tapi mustahil gak pernah dilepas karena gue lihat plaster tersebut selalu baru dan tidak kusam.
Apakah yang dia tutupi disitu.
******?
Gak-gak. Gak boleh suudzon.
Haha... Mana tau kan tato.
Gue menutup kembali mata gue dengan kantong es tersebut kemudian menghelang napas lelah.
Tiba-tiba gue teringat ekspresi Rery saat keluar apartemen tadi.
Karena gue masih diterpa ketakutan, gue jadi menghiraukan ekspresi Rery yang gak seperti biasanya. Dia tipe orang yang dimanapun ia berada pasti membuat semua orang tertawa tingkahnya itu, bisa jadi tempat curhat dan bersandar.
"Keknya bakat banget gue jadi badut."
Begitulah ungkapnya ketika banyak wanita bersandar padanya, hanya saja hari ini ekspresi Rery datar sehingga gue sedikit terkejut ternyata dia bisa bikin ekspresi seperti itu.
Apa dia punya sejenis kepribadian ganda, tapi gue gak bisa mengklaim hal tersebut karena bisa saja gue salah lihat.
Oh iya, btw Rery tadi kemana?
"Ai."
"Hem?"
Gue menggaruk leher belakang dengan canggung, "Rery tadi pergi mana? Kok buru-buru," Tanya gue.
"Entah," balas Aidan tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel, main game kayaknya dia.
Ck... padahal gue kepo banget, Aidan malah gak bisa ngasih info.
Gue melirik Aidan malas, "Untung kalian paham kode gue, kalo enggak pasti gue berakhir seperti yang ada difilm."
"Kebanyakan nonton film lo, makanya bego," njer, Aidan gak ada bedanya ama Angga, hobi bener ngatain gue bego.
"Auk ah, gue tidur aja deh," Ucap gue sembari menguap, ngantuk gue
Karena tidak ada jawaban dari Aidan, gue berduga-duga, dia mau mengusir nih??.
Terdengar suara langkah Aidan yang mendekat kearah gue.
"Jangan bilang Lo mau usir gue?" Tanya gue sembari mengangkat kantong es dari mata gue kemudian menaruhnya pada sebuah baskom.
Terlihat kedua tangan Aidan siap memegang tangan gue, "ya enggak lah, lo ngantuk kan? Gak mungkin kan lo mau tidur dilantai?" Tanya Aidan sembari memegang kedua lengan gue hingga gue beranjak dari lantai.
"Kalau Lo masih susah buat melihat, gue mau bantu Lo buat kekasur," ucap Aidan sembari menunjuk kasur yang berada disisi lain jauh bersebrangan dengan kasurnya.
Gue baru sadar, dari tadi tanpa sadar Aidan selalu menyentuh gue seperti menepuk pundak gue, memegang lengan gue, dan hal-hal lainnya.
Gue tau niat dia baik hanya saja, gue merinding kalo ada yang sentuh gue.
Gue menarik tangan gue agar Aidan melepaskannya, "gu-gue bisa sendiri," ucap gue sembari tersenyum canggung.
Semoga dia tidak tersinggung.
Aidan mengangguk paham kemudian melangkah kearah kasurnya dan duduk disana.
Gue mengendikkan pundak kemudian berjalan kearah kasur yang tadinya mau diarahkan Aidan.
Kasur siapa ini? Gak apa-apa kan kalo gue tidur disini?
Setelah itu kami saling diam, gue yang mencoba tidur sedangkan Aidan sibuk main game.
Hah, kenapa gak Aidan aja yang keluar, kalo Rery mah enak diajak ngomong, "Gimana pekerjaan lo?" Spontan gue yang rebahan langsung merubah posisi jadi duduk.
"Hah?"
Aidan nampak memutar bola matanya. "Bego iya, lemot iya, pasti pas pembagian kepintaran lo nya malah jajan cilok," ucap Aidan sembari mengacak rambutnya frustasi.
Enak aja.
Selama beberapa saat kami hening akan pikiran masing-masing, gue gak tau apa yang di kepalanya, sedangkan gue sedang menimbah-nimbang apakah gue ceritain aja atau enggak.
Gue memeluk lutut gue, "Ya gitu, semuanya baik-baik aja, cuman para pelayan lain aja yang suka nyuruh-nyuruh,"
Aidan yang berada di kasur langsung melirik kearah gue, "Nyuruh-nyuruh gimana?" Tanya Aidan yang nampak tertarik dengan topik pembicaraan ini.
Kok mukanya ikutan kesal.
"Ya gitu, pekerjaan yang seharusnya untuk mereka malah dilimpahkan ke gue, bahkan tugas ngantar pesanan pun seharusnya tugas pelayan cowok, eh malah gue yang disuruh," kesal gue sembari memukul-mukul selimut yang gue kenakan.
Gue menguap dengan membuka mulut lebar-lebar, ya ampun kantuknya.
"Kenapa lo gak ngelaporin ke manajer?" Tanya Aidan lagi.
Woy lah Aidan, gue ngantuk banget, lo ajak ngobrol.
Gue menghelang napas lelah, "Karena kalo gue jujur, yang ada gue bakal dikatain penjilat," balas gue sembari merapatkan selimut.
Mata gue mulai mengabur karena air mata yang keluar setelah menguap.
Perlahan namun pasti, mata gue makin gelap dan gue mulai ke dunia kapuk.
🐤🐤🐤
Kalya Pov
"Bin."
"Hem?"
"Kenalin dong cowok di jurusan lo."
Binta menautkan alisnya lalu bertopang dagu, "emang di jurusan lo gak ada cowok?"
Gue menggaruk kepala gue frustasi, "ada, tapi gak ada satu pun dari mereka yang deketin gue duluan."
"Lah kan kalo elo pengen deket dengan cowok, ya lo duluan deketin mereka, Kal."
"Tapi kalo gue deketin mereka duluan, pasti bakal dikatain caper, bahkan yang lebih parahnya lagi dikatain *****. Ditambah saran Dari Angga membuat gue makin yakin akan tetap seperti ini, kita harus tetap menjadi wanita yang elegan, kita cukup memberi kode secukupnya, tapi kalau emang dianya gak ada feedback sama sekali, berarti bukan Lo yang diinginkannya." bersa bijak gue, padahal ambil kutipan dari Angga.
Binta tersenyum tipis, "Kal, gue ngerti kenapa lo mikir begitu karena rata-rata semua cowok disekitar lo lebih dulu mendekati lo, ditambah opini Angga benar-benar memperkuat pemikiran Lo. Tapi lo tau gak Kal, gak semua cowok sama, bahkan 89% menurut penelitian cowok pengen cewek yang deketin mereka duluan," ungkap Binta.
Gue mempoutkan bibir, "seperti biasa, kita memiliki pendapat yang bertentangan, karena itu gue suka curhat dengan Angga aja," ucap gue dengan nada kesal.
"Hahahaha, ya sudah sama Angga aja sono," Binta tertawa dengan tanggapan gue, "kadang gue heran kenapa orang mengatakan sifat kita mirip, padahal kalo kita berdebat atau beropini pasti selalu saja berbeda,"
Gue mengangguk antusias.
Binta mengelus kepala gue lembut, "Namun, suatu hari lo pasti akan suka pada satu orang. Pilihannya akan begini, tetap diam dan membiarkannya pacaran dengan orang lain atau mendekatinya lebih dulu," ucap Binta, setelah itu dia beranjak dan merenggangkan tubuhnya.
"Kalo elo?"
"Hem?"
"Kalo itu elo, lo bakal milih apa?"
Binta berbalik dan tersenyum lebar, "gue akan memilih mendekatinya lebih dulu, setidaknya gue sudah berjuang, bukan. Agar tidak ada kata penyesalan untuk kedepannya"
.
.
.
Tunggu, basah?
Di detik berikutnya mata gue terbuka lebar dan tubuh gue reflek langsung duduk, gue melihat bayangan seorang pria dengan mata yang masih dalam keadaan kabur.
"Bangun Kal, lo gak pulang," ucap pria itu dengan suara khas orang bangun tidur.
Seksi banget suaranya.
Begitu penglihatan gue mulai membaik, gue jadi merasa kesal begitu tau siapa yang nyipratin air kemuka gue.
AIDAN HEH!!
Harus ya gitu bangunin orang pake nyiprat-nyiprat air.
"Anying lo, mati kek," gumam gue sembari menatap Aidan kesal.
"Heh siapa yang ngajarin, bocil-bocil sekarang udah jago ngomong kasar," ucap Aidan sembari menjentik jidat gue.
"Adeh."
Aidan melirik Rery yang masih berada di lantai dengan mata terpejam.
"Woy Ry, bangun yaelah," ucap Aidan.
"Hemm," balas Rery gitu doang.
Kok Rery tidur di lantai.
Begitu gue meremas selimut lalu melirik kasur yang gue dudukin.
"Oh masuk akal," batin gue begitu sadar kasur yang gue tidurin adalah kasurnya Rery.
Aidan menghelang napas, ia berjalan mendekati Rery.
Plakk~
"AKHHH!!" Teriak Rery yang tiba-tiba bangun.
Spontan gue menutup mulut karena syok liat kdrt disini, Aidan mukul paha Rery keras weh.
Kasihan:')
"Makanya bangun," ucap Aidan sembari berjalan ke dapur.
Rery merangkak mendekati gue lalu duduk di samping gue sembari nyenderin kepalanya pada pundak gue.
Merinding gila.
"Aidan, gue lapar," ucap Rery sembari merangkul lengan gue, nih anak napa manja pas bangun seh.
Gue mendorong kepala Rery agar menjauh dari gue, merinding sana sini nih badan.
"Jangan coba-coba sentuh gue."
"Jangan terlalu dingin pada gue, Kal," ucap Rery sembari mencoba kembali merangkul lengan gue.
Namun gue tidak henti-hentinya mendorongnya hingga akhirnya dia menyerah.
Syukurlah.
"Kita yokfood yuk," saran Rery.
Setelah ngeluarin bahan dari kulkas, Aidan menoleh kearah kami, "Gak usah, gue yang masak hari ini," ucap Aidan sembari nyalain kompor.
"Wih tumben."
Aidan tersenyum tipis, "soalnya tadi malam gue mimpi lo mati," balas Aidan.
"Prtfff ..." gue gak tahan nahan ketawa.
Saat gue melirik kesamping, Rery menatap gue dengan wajah masamnya. Di detik itu juga gue berdeham lalu mengatur ekspresi gue agar biasa aja.
Rery menoleh kearah Aidan, "tau gitu lo mimpi gue mati tiap hari aja, jadi lo masakin makanan tiap hari," ucap Rery sembari beranjak dari kasur lalu berjalan mendekati Aidan.
"Masak apa lo?"
"Masak tumis kangkung lah, kan hari ini hari libur jadi gak masalah kalo ngantuk habis makan tumis kangkung," ucap Aidan sembari menambahkan garam, micin, dan lada kedalam wajan penuh kangkung.
Ternyata masih ada yang percaya begituan.
Makan kangkung bikin ngantuk.
Rery melihat kearah gue lalu tersenyum ramah, "Kal, kalo mau cuci muka, kamar mandi didekat pintu keluar sono," gue mengangguk lalu beranjak dari kasur berjalan menuju kamar mandi.
Blam~
Clik~
Setelah mengunci pintu kamar mandi, gue melakukan kegiatan manusia umumnya dikamar mandi dan toilet.
Gak perlu gue jelasin kalian pada tau lah:v
Setelah selesai gue keluar dari kamar mandi, gue disambut Rery, "hayo yang mau makan mendekat, yang dekat merapat," ucap Rery dengan suara riang.
"Lo kira shaf apa pakai merapat," ucap Aidan sembari menuangkan air ke gelas.
"Shuttttt nanti aja ngomongnya, sekarang kita makan dulu," Ucap Rery sembari memberi isyarat diam.
Rery melihat kearah gue, "maaf ya Kal, seadanya aja," ucap Rery dengan cengirannya.
Gue menarik kursi lalu duduk, "sans, gue gak terlalu pemilih makanan," bohong gue sembari membalas senyuman Rery.
Ya kali gue jujur, lo bayangin aja, sudah disediakan makan, masa gue nolak karena kebiasaan gue pemilih pada makanan.
Bukannya alergi atau hal lainnya, cuman kalo gue gak mood makan itu, ya sebisa mungkin enggak gitu loh.
Oke, stop keterangan.
"Kalya," gue mendongak dan menatap Rery yang menatap nasi yang ada di piringnya dengan tatapan kosong, "gue... Gak peduli meskipun Lo meminta gue agar berhenti menjemput Lo dari cafe, tetap saja ini salah gue, seadanya gue lebih ngotot agar tetap menjemput Lo kerja, kejadian begini pasti gak bakal terjadi." Ucap Rery sembari menarik napas dalam kemudian menatap mata gue.
"Ini kebetulan aja Ry."
"Tetap aja Kal, gue harus ngomong apa kalo Angga mempertanyakan hal ini."
Gue mengalihkan tatapan kearah Aidan dengan tatapan minta tolong agar melepaskan gue dari situasi menggelikan ini. Namun harapan tetaplah harapan, Aidan hanya menatap gue dan Rery bergantian sembari memasukan nasi dan kangkung kemulutnya sangat pelan.
Akhirnya gue kembali menatap Rery dengan wajah gak enak, "dengar Rery, kita gak tau kapan hari sial terjadi. Lo gak tau, gue juga gak tau, jadi berhentilah merasa bersalah dan makan masakan Bunglon dengan tenang."
Rery mengangguk lesu kemudian mengaduk-ngaduk nasi dipiringnya gak jelas.
Terserah deh.
"Gue akan berhenti bekerja." Ucap gue spontan sembari memasukan satu sendok nasi dan kangkung dalam sekali suapan.
Clang~
Mendengar suara sendok jatuh membuat gue yang tadinya menunduk, perlahan mengangkat kepala.
Terlihat Aidan yang membeli dan Rery yang menjatuhkan sendoknya dari tangannya.
"Serius Kal?" Tanya Rery.
"Kapan gue becanda Ry."
Aidan mengambil gelas yang tidak jauh dari piringnya kemudian meneguk air didalamnya, begitu selesai ia menurunkan gelas itu cepat hingga mengeluarkan suara yang cukup keras.
"Alasan Lo kerja apaan sih? Mudah banget Lo ngomong akan keluar dari kerjaan." Ucap Aidan dengan nada kesal.
Kenapa dia sensitif dengan kata berhenti dari pekerjaan.
"Ba-bapak gue tidak pernah mengijinkan uang yang dia berikan setiap bulan malah diperbelikan pada novel, tidak peduli seberapa jagonya gue bohong kalau duitnya dipakai buat hal yang berguna, tetap aja ketahuan. Jadi karena itulah gue bekerja, gue kerja sudah 3 Minggu kok, jadi lumayan uangnya pasti."
Aidan yang tadinya terhenti mengunyah makanan akhirnya kembali melakukannya kemudian menangguk-angguk.
Gue gak mengharapkan responnya akan sesimpel itu.
Ahhh... Dari gue sempat lupa bagaimana sifat aslinya hanya karena dia jadi sedikit perhatian kemarin.
Setelah mendapat apa yang dia mau, maka dia akan mengabaikan orang tersebut.
Cerita soal tempat kerja gue.
Drhttt~
Gue dan Rery spontan melirik kearah hp disamping Aidan yang bergetar, ada orang yang menghubunginya dengan nama 'pengganggu.'
"Lo gak angkat, Bunglon?" Tanya gue.
"Hahahhaha... Itu adalah rutinitas pagi, biarkan saja," malah Rery yang menjawab pertanyaan gue.
Sedangkan Bunglon hanya diam melahap makanannya tanpa melirik kearah hpnya.
Sepertinya itu fansnya? HEIII... Bunglon emang seganteng itu sehingga tidak heran jika dia memiliki penguntit.
Saat gue mau masukan makanan ke mulut, Rery menyenggol Aidan yang disampingnya, "Aidan, lo anterin Kalya ke apartemennya gih."
"UHUK!!" Spontan gue menutup mulut erat, untung tangan gue gak kalah cepat dengan semburan makan yang keluar dari mulut.
Kalo tidak, pasti makanan di mulut gue terkena wajah Aidan yang berada didepan gue.
Dengan cepat Rery mengambilkan tisu lalu memberikannya ke gue.
"Bagaimana kalo gue gak mau," kegiatan membersikan bibir dan tangan terhenti begitu mendengar jawaban Aidan.
"Ahhhh gue punya solusi," ucap Rery dengan riang.
"Apaan?" "apaan?" Gue dan Aidan secara bersamaan mengatakan kata itu lalu saling tatap.
Ekspresi Aidan seakan bilang, 'ngikut-ngikut segala lu'
Cih gak sudih gue ngikutin elo.
Rery tersenyum ala-ala pembawa acara tv kearah kami.