
Kalya Pov.
"Akhirnya Lo datang," ucap Aidan sembari menghelang napas lelah, "hari ini Lo gak banyak menggonggong ya."
"Anjing kali gue menggonggong, posisi gue tidak menguntungkan, apapun yang gue lakukan menggunakan seragam kerja maka yang jika ada kesalahan seperti itu dan gue melawan maka tidak hanya gue yang kena, cafe ini jua," sadar plastik berisikan kue Aidan masih berada ditangan gue, gue menyodorkan plastik tersebut.
Srukk
Aidan menatap plastik yang gue sodorin, "apa nih?" Tanya dia sembari menautkan alis.
"Ya kue lah, apa lagi?" Balas gue kecut.
"Gue tau, maksud gue kenapa ada tambahan satu plastik? Perasaan gue pesan cuma 4 kue dan juga satu latte, bukan 5 kue" ucapnya.
Gue menatap kearah lain dan kemudian meneguk saliva, "ini kue sebagai ucapan terima kasih," ucap gue tanpa menatap matanya.
"Soal?" Tanyanya.
Gue menarik napas dan menoleh kearah Aidan, "terima kasih karena sudah menolong gue dari kurir tadi."
Reputasi pelayan, reputasi cafe juga.
"Lo gak perlu ngasih gue cake hanya karena bantuan yang emang seharusnya siapapun bisa melakukannya, lagian gue juga gregetan pengen ikut campur, apes banget Lo ketemu orang begitu." balas Aidan sembari meraih plastik yang gue sodorkan tadi dan menyisakan satu plastik berisi cake.
Cake yang rencananya mau gue kasih ke Aidan.
"Btw, bilang pada ketua organisasi gue berhenti dari organisasi vocal, setelah gue pikir-pikir gue emang gak cocok disana," Dia menyisikan satu plastik ditangannya dan menyodorkannya pada gue, "anggap uang muka kalau Lo mau nolongin gue minta ijin," lanjutnya.
Sudut bibir gue bergetar, ingin menciptakan guratan senyum kemenangan. Ini lah yang gue tunggu-tunggu, keluarnya Aidan dari organisasi.
Aidan menggoyangkan plastik ditangannya, memberi isyarat agar gue mengambilnya, gue menatap Lamat plastik tersebut kemudian menatapnya, "Bunglon, kue yang gak Lo terima aja sudah membuat gue bingung nih cake mau diapain karena gue gak suka kue. kalau Lo ngasih gue cake lainya, gue makin puyeng."
"Ambil saja dan berikan pada siapapun, mudah kan?"
Haha... Jawaban yang khas dari Aidan.
Tunggu, kenapa gue mengabtin seakan sudah kenal lama Aidan.
Lucu emang.
Baru saja gue mau mengambil plastik berisikan kue yang disodorkan Aidan, namun gue mengurungkan niat kemudian mendongak karena perbedaan tinggi badan kami yang lumayan jauh berbeda, "kenapa gak Lo aja yang langsung hubungi ketua organisasi?"
Dia mengendikkan pundak, "Lo tau kan, senior kita bukan orang yang mudah melepaskan anggotanya. Dan juga, kalo gue yang menghubunginya, pasti mereka kepo tingkat dewa," bener juga sih.
Gue meraih plastik yang dia sodorkan.
Di berbalik dan melambai tanpa menghadap kerah gue sembari berjalan, "sampai ketemu dilain waktu," ucapnya.
Gila, kok dia jadi keren.
Begitu punggungnya sudah tidak bisa dilihat oleh mata, gue berbalik dan menarik napas.
Yah, setidaknya dari semua perlakuannya, ini yang paling gue suka.
KALYA, AYO LANJUT KERJA!!!
-
"Cailon melakukan itu?" Gue mengangguk antusias pada pertanyaan Rery.
"Gue akui, dari sifat, tingkah dan tampangnya membuat gue benci padanya, tapi untuk hari ini dia sedikit dapat nilai plus."
Melihat reaksi Rery yang seperti kaget, membuat gue penasaran, "emangnya kenapa Ry? Ada yang salah?" Tanya gue sembari mempererat jaket hitam yang bertuliskan hohan dibagian samping dada.
"Apakah gue pernah bilang? Gue dan Aidan berada disatu SMA yang sama?" Gue menggeleng cepat.
Sialan Lo Ry, Lo tau gue benci banget sama dia, kita ketemu tiap hari dan Lo gak pernah cerita hal sepenting ini?
Rery nampak menimbang-nimbang mau cerita atau tidak, kemudian menatap gue melalui kaca spion, "Aidan Cailon Smith, dia adalah tipe orang yang ogah ikut campur dengan urusan orang lain. Makanya gue kaget saat tau dia membantu Lo keluar dari situasi itu," apakah seaneh itu?
Tiba-tiba pikiran setan gue lewat.
"Hei, apakah Bunglon tidak memiliki scandal atau masalah waktu semasa sekolah disma?" Tanya gue, mana tau kan ada bahan ghibah.
Motor yang dikendarai Rery perlahan berhenti sebelum melewati zebra cross karena terdapat lampu merah.
"Dari pada skandal, dulu dia pernah mengalami kejadian yang tragis sih."
Hah, tragis?
"Dulu dia memiliki seorang sahabat, mereka selalu bersama, duduk dikursi yang sama dan mengikuti organisasi yang sama seperti OSIS dan Pramuka."
Gue menepuk pundak Rery memberi isyarat lampu lalu lintas sudah berubah jadi warna kuning, Rery menyalakan mesinnya kemudian menjalankan kembali motornya ketika warnanya sudah berubah jadi hijau.
"Cowok?"
"Hooh."
"Jangan bilang skandalnya adalah mereka berdua gay dan berakhir berpisah," Ya hal itu yang pertama gue pikirkan saat mendengar dia selalu bersama, mana dengan pria pula.
"Enggak lah, malah lebih parah, sahabatnya bunuh diri." Ucapan Rery membuat gue menutup mulut syok.
Anjir, plot twist.
"Yah... Kejadian itu sempat menggemparkan sekolah, dulu Aidan masih bisa diajak bicara tidak peduli cowok atau cewek. Kalau sekarang..."
Bisa ditebak, dia menutup kontak semua pertemanan.
Gue gak tau, dari wajahnya yang selalu terlihat suram itu, menyimpan sebuah cerita yang kelam.
Sial, gue jadi merasa bersalah karena niat jiwa setan gue pengen ghibah dia, ehhh malah jadi gini.
"Yang lebih sedihnya, disaat seperti itu, tidak ada siapapun yang menemaninya, bahkan keluarganya pun tidak terlihat saat pengambilan rapot."
Gue yang di kucilkan saja susah bertahan, bahkan saat itu masih ada Angga yang menemani gue disekolah. Bagaimana dengan Aidan yang sendiri?
Sial, gue hampir menitikan air mata.
Ganti topik aja.
"Rery, kok Lo Makai jaket dan masker wajah, bahkan plat motor Lo ditutupin make masker," sumpah, hal pertama yang ingin gue tanyai saat dia menjemput gue kerja, ya ini.
Dia memakai jaket hitam, masker wajah hitam, celana training seperti bukan dia.
"Gue takut Lo dilabrak pacar gue lagi, kan gak lutchu tiba-tiba tiga orang ngelabrak elo."
Gue tertawa hambar mengingat pacar Rery melabrak gue saat kami nonton bioskop, padahal gue pergi saat itu tidak berdua saja, ada Rana juga.
Tapi tunggu, 3?
Anjir nih anak playboy kelas kakap.
"Gpp sih, kapan lagi Rery di siram cola," ucap gue sembari tertawa kecil.
Tidak hanya gue kan yang begini? Lo punya bestie yang suka selingkuh, dan gue mencoba tidak peduli. Ya Lo tau kan selagi teman Lo yang selingkuh gak masalah, tapi kalo pacar temen Lo yang selingkuh, seketika reog mode on.
"Gue melihat Lo dan pacar Lo ditaman dekat rumah gue siang ini, kalian debatin apa?" tanya gue sok kepo.
Padahal gue orang yang paling tahu apa yang mereka debatkan.
"Gue ketahuan selingkuh lagi hehe," bohong, Rery berbohong. Mereka memperdebatkan soal Rery yang terus-terusan antar gue pulang setelah kerja.
Gue tau Angga mengandalkan Rery karena dia teman gue sekaligus seorang cowok, tapi kalau sampai menganggu hubungannya, gue gak bisa.
"Setelah ini Lo gak usah deh jemput gue, Lo juga gak bisa jemput gue hingga gue lulus kuliah hanya karena permintaan Angga."
Tiba-tiba saja Rery menarik rem digenggamannya hingga tubuh gue condong kedepan.
"RERY!!"
Dia berbalik menatap gue, "heh, Lo tau gak gimana susahnya masuk ke lingkungan pertemanan Lo? Udah macam tes sbmptn anjir, enak kali mulut jin ini ngomong."
Gue benar-benar ingat, saat ospek Rery mencoba mendekati gue, gue bukan tipe orang yang menerima cowok sebagai teman dengan mudah, hanya saja Rery ini lucu dan satu frekuensi dengan gue. Setelah berpikir panjang gue memutuskan cerita pada Angga, setelah itu Angga berbicara dengan Rery melalui telpon.
"Bukan apa-apa nih ya bro, hanya saja gue mau memastikan Lo deketin Kalya untuk dijadikan teman atau pacar?"
Dan jawaban Rery adalah murni pertemanan.
Gue menarik napas kemudian menghembuskannya, "gue akan bilang pada Angga, lagian Lo mau selama Lo kuliah tidak memiliki hubungan yang serius?" Tanya gue.
Benar kan?
"Hei, sejak kapan gue menjalani suatu hubungan dengan serius?"
"Pertemanan kita?"
"Itu beda, Kalya."
Gue menggaruk kepala gue kasar, "terserah deh, pokoknya besok Lo jangan jemput gue, gue akan kasih pengertian pada Angga agar dia bisa lepasin Lo, jadi Lo tenang saja, oke?"
Setelah gue mengatakan hal tersebut, Rery kembali kearah depan kemudian kembali menjalankan motornya.
"Ngomong-ngomong, terima kasih sudah menjadi teman gue," Ucap gue sembari mencubit pinggang Rery.
"Arghh... Sakit, Kal."
"Hahahha..."
"Hem?"
"Kue yang gue taruh diantara kaki Lo, dipengait motor, buat Lo aja."
"Wahhhh... Thanks, sering-sering ngasih beginian ya."
"Btw, Lo sudah bilang tetap mau satu kelompok dengan Aidan?"
"AHHHHHH... LUPAAA!!"
-
Setelah hari itu, Rery jadi tidak menjemput gue pulang bekerja. Ada rasa bersyukur karena akhirnya dia bisa bebas, tapi disisi lain gue juga jadi boros bayar gobrem.
Gue harus mengurangi jajan gue dikampus:').
Selain itu, terdapat keributan diorganisasi vocal karena visual dari organisasi vocal berhenti dari organisasi.
Siapa lagi kalau bukan Bunglon alias Aidan.
Beberapa kali gue bersama ketua organisasi ke fakultas dia hanya untuk membujuknya kembali ke organisasi. Namun hasilnya nihil, selama 3 hari ini dia ijin entah kemana hingga tidak hadir dikelas.
"Perasaan, sebelumnya kami sering bertemu, kok sekarang jadi susah sih."
Hah...
Gue menggeleng keras kemudian menghelang napas lelah. Padahal gue mau berterima kasih, traktir apa kek yang penting gue udah balas budi.
Meskipun gue masih gak suka pada Aidan, tetap saja gue memiliki hutang Budi padanya yang harus gue bayar.
Woy, meskipun gue emang tipe orang yang gak tau diri, tapi gue juga gak suka berhutang Budi pada orang yang gue benci, maka dari itu gue harus melunasinya secepat mungkin.
Dengan lunglai, gue tatap kerjaan gue sendiri, menyeret plastik sampah besar hitam keluar cafe melalui pintu belakang.
Kadang gue kesal, badan gue yang kecil ini disuruh buang sampah yang Segede gaban, kalo gak banyak ya oke aja, ini ya ampun udah kek gak dibuang seabad.
Saking banyaknya.
"Senior-senior tai babi."
Setelah gue menolak salah satu senior dicafe, gue diasingka- tidak, lebihnteoatnya dijadikan babu, hal sepele pun mereka minta bantu gue.
Lebih ngeselin nya, anak baru yang seharusnya sedikit segan pada gue malah ikut-ikutan. Satu hal yang mendukung hal tersebut karena dia digadang-gadang wajah cafe.
Kenapa? Karena dia ganteng.
padahal gue hanya beda 1 bulan dengan anak baru ganteng itu.
Hah...
Gue jadi kangen Binta sahabat gue.
Seandainya dia kerja di satu tempat dengan gue, pasti dia akan menjadi orang yang paling rajin disini, menyapu halaman depan, buang sampah, lap-lap.
Gue menggelang kepala mengenyah semua isi kepala gue, gue mengeluarkan hp dari kantong celana yang gue kenakan, memencet satu nomor lalu gue tempelkan layar hp ke telinga kanan gue.
"Halo."
"Halo, kenapa lo nelpon gue? Sekarang gue sibuk bersih-bersih kamar hotel"
Gue buka masker mulut lalu menghelang napas, saat membuang napas ada asap mengepul keluar dari mulut gue, "Cuma.. gue cuman mau nelpon, itu aja."
"...begitu?"
"Yups."
"..."
"Gak, gue nelpon karena pengen tau kabar Binta."
"Udah gue duga, Lo gak mungkin kangen gue," gak waras gue kangen Lo, doyan aja kagak, "dia lagi trus out, itu sih informasi terakhir ya g gue dapatkan dari paman Binta si Samuel."
"Apa gue gak boleh nelpon dia? Kangen gue soalnya."
"Kal, lo kan tau, kalo lagi belajar dan diganggu, orangnya emosian tingkat dewa. Baik dulu maupun yang sekarang gak ada bedanya, padahal sudah direset tuh kepala."
"Heh, mulut."
Sedikit pencerahan, selain Angga, gue punya satu lagi sahabat semasa tinggal dibandung. Namanya Binta Alexandria, tapi sekarang dia lagi sibuk belajar jadi gak bisa diganggu.
"Angga."
"Hm?"
Gue menelan saliva sebelum melanjutkannya, "benar ya, kalau gak ada salah satu dari kalian, gue pasti kesepian disini. Sebanyak apapun teman gue, hanya kalian berdua lah yang gue rinduin," ucap gue dengan nada rendah.
"Gue gak kesepian tuh, lo nya aja yang nolep," baru saja suasananya sudah melakonis, seketika hancur karena perkataan Angga.
"Tai kau Ga."
"Gak sadar diri."
"Btw, urusan Lo sudah selesai diKalimantan?"
"... Belum, pokoknya kalau sudah beres nanti gue susul kejakarta."
Gitu aja Mulu jawabannya.
"Udah ah, kenapa jadi ngebahas urusan gue sih. Btw Kal,"
"Hm?"
"Barang yang gue kirim udah sampai ke apartemen Lo, nanti ambil di resepsionis."
"Oke, Lo gak ngirim aneh-aneh kan?"
"Ya enggak lah, pokonya kalo udah sampai rumah telpon gue, biar gue kasih tau gimana caranya Makai tuh benda."
"Iya Angga, iyaaaaa..."
"...."
"Ngomong-ngomong, lo gak berencana ngeprank gue kan, atau mengirim hal-hal aneh ke apartemen gue mungkin seperti ayam dengan penuh tumpahan darah?"
"Dasar nih anak, Hei!!! Akhir-akhir ini lo nonton film apaan sih sampai mikir gitu, beberapa hari yang lalu juga lo nelpon gue hanya karena mati lampu, untung aja manajer gue baik jadi gue di ijinin nelpon lo meskipun dijam kerja, para pelayan lain juga gak masalah," wihhh enak Angga, gak kek gue, pelayan yang lain malasnya minta ampun, mentang-mentang gue anak baru disuruh ini itu sedangkan mereka santai.
"Gue nonton film psikopat, serem sih, tapi seru loh filmnya, mau gue kasih judulnya, Angga?"
"Gak-gak, gue gak punya waktu untuk nonton hal-hal yang begituan," dasar gila kerja nih anak, setelah pulang kerja pasti dia kerja lagi.
Selalu saja, "Nampaknya otak lo gak ada berubah sama sekali sejak lo pindah, masih aja bego."
"Eyyy, gak boleh ngomong gitu, nanti gue beneran bego"
"Ya emang kenyataannya bego."
"WOY ANGG-" Tut...tut...tut...
Dimatiin dong.
Padahal gue mau bilang semangat kerja.
Gue terdiam.
Paket...
Jadi penasaran, apa ya kejutannya.
"WOY KALYA!!"
BRAKK~
Tubuh gue tersentak karena tiba-tiba di dalam sana ada suara terteriakan memanggil nama gue bahkan melempar sesuatu, untung pintunya ditutup.
Gue menghelang napas lalu berjalan kearah pintu, btw dari tadi gue berada di bagian belakang cafe.
Begitu membuka pintu, "APA YANG LO LAKUIN SIH LAMA BANGET, CEPAT ANTAR PESANAN," dibentak langsung dongggg.
"Tapi kak, bukannya itu tugas Riduan," balas gue sembari nunjuk tuh uke, sekalian aja anak baru ini gue sebut uke karena kerjaan yang seharusnya cocok dikerajakan cowok malah dikasih ke gue.
Salah satunya angkat galon.
Gak berat amat seh.
"OHHHH NGELAWAN YA, YA UDAH ADUIN AJA SITU KE MANAJER, LO KAN EMANG PENJILAT," gak nyambung, apa hubungannya Riduan gak mau dengan penjilat.
Hah...
Intinya dari awal gue udah gak suka ama orang-orang disini, kerja kok saling ngiri, kalo gue gak banyak kerja marah, kalo kerjaan bagian gue sudah selesai malah ditambah dengan pekerjaan pelayan lain.
Gue kangen manajer, kenapa sih manajer pakai liburan ke Lombok.
"Oke, gue bakal anter "