
Kalya Pov
"Nama saya Aidan Cailon Smith, motivasi saya masuk organisasi paduan suara karena ngikut teman," gue terperangah saat mendengar ucapannya.
Motivasi macam apa itu?
"Kalyavi Claudia Aleska, lo dapat anak baru ganteng begitu dari mana? Gue pikir temen Lo cuma Rery dong," gue terperangah sembari nunjuk diri gue.
Maksudnya?
Pria yang berdiri di paling depan tersebut memiliki wajah tampan dengan lekuk dagu yang tegas, mata besar dan bulu mata yang tebal, bibir atas tipis namun juga memiliki bibir bawah yang menonjol. Poni ranbut yang hampir mengenai matanya dan sedikit ikal mendukung ketampanannya. Tubuh kurus dan tinggi namun tetap terlihat proporsional membuat siapa saja akan berkata, 'perfect.'
Benar-benar sempurna.
Dan apa-apaan dengan suaranya itu, gue bisa menjamin suaranya tersebut adalah tipe ketika bangun tidur, suara serak-serak basah langsung menggelitik pendengaran para wanita.
Impian semua wanita saat baru bangun.
Namun semua langsung jatuh anjlok kebawah Dimata gue ketika-
"Kal," gue berbalik dan menemukan teman gue Rery Lenardo, dia terlihat ragu-ragu dan menelan saliva, matanya kesana kemari gak jelas seperti menghindar dari tatapan mata gue.
Ada apa nih anak.
Gue berjalan kearah dirinya kemudian memberi isyarat agar dia berbicara.
Beberapa saat kemudian akhirnya dia menatap mata gue, "gue makai nama Lo buat rekomendasi temen gue Cailon," wajah gue yang kebingungan tadi berangsur jadi kesal.
Owhhhh ternyata ini dalang masalah kenapa pria bernama Aidan Cailon Smith ini bisa berdiri di ruangan organisasi vocal.
Mungkin Rery berpikir gue akan senang dan mendukungnya karena pria didepan sana ganteng atau apalah itu, namun setelah melihat reaksi gue yang diam dengan wajah kesal tanpa mengeluarkan kata-kata membuat Rery gugup.
Mendengar ketua organisasi melanjutkan wawancara, gue dan Rery memerhatikan percakapan mereka.
"Oke, bisa kamu nyanyikan satu lagu bebas apa yang kamu mau, kami mau dengar," ucap senior gue sembari memutar-mutarkan pulpen.
"Baiklah," patuh Aidan sembari menyisir rambutnya menggunakan jarinya.
"KYAAAAA!!!"
"AIDAN SARANGE!!!"
Haha... lagi-lagi gue akui dia tampan, tapi wajah tidak akan menyelamatkannya karena ini organisasi yang membutuhkan suara bukannya waj-
"LULUS!" "APA!!" Reflek gue teriak kata apa karena senior gue mengatakan kata lulus sebelum Aidan memulai, namun karena itu juga seisi ruangan tersebut menatap gue dengan tatapan seakan bilang, 'kenapa Lo yang ngegas, kan Lo juga yang rekomen?'
Gue mendengus kesal dan melipat kedua tangan gue ke depan dada.
Tanpa sengaja mata gue dan Aidan bertemu.
Lihatlah wajahnya, seakan tidak tau dia diterima karena apa.
ARGHHHH...
Dia nyanyi aja belom, kok diterima sih. Sebenarnya ini organisasi apaan sih, kalo model sih gue gak heran kenapa dia diterima, tapi ini vocal bro, V-O-C-A-L.
Aidan kembali melihat kearah depan, "Tapi kak, saya belum mul-" "gpp, wajah kamu masuk kriteria organisasi ini," potong senior gue antusias.
Gue tatap orang yang ada di samping gue dan menyikut lengan Rery disebelah gue. Ia menoleh dengan ekspresi seakan bertanya, 'apa?'
Gue mendekatkan bibir pada telinganya, "ini yang Lo rekomendasi pakai nama gue ke senior??" Bisik gue pada Rery.
Rery yang dari tadi diam disamping gue seperti kelinci yang gemetar langsung memasang wajah cerah, ia mengangguk antusias, "ganteng kan? Gue yakin Lo gak bakalan menolak ketampanannya. Lo taukan cowok gak mungkin mengakui ketampanan cowok lainnya, tapi kalau Cailon sih gue gak bisa memungkiri," Ucap Rery terlihat semangat dan menunggu untuk dipuji.
Gue tersenyum manis dan mengelus kepala Rery, "lain kali kalo mau rekomendasikan seseorang ke senior JANGAN PAKAI NAMA GUE, GAK IKHLAS GUE YA SETAN!!!" Ngegas gue sembari merenggut rambut Rery kasar.
"ARGHHHHHH!!!!"
Tentu saja setelah itu terjadi keributan.
Dasar Babi coklat satu ini, masa rekrut orang berdasarkan ganteng. Ah tidak, nama gue, nama gue yang suci telah ternodai. TIDAKKKK!!!
Tenang, tenang.... Pasti dia gak bakal betah di organisasi vocal, lagian senior juga gak mungkin selalu membelanya karena wajahnya kan, senior terkenal mementingkan organisasi. Antara dia yang keluar atau dia yang dikeluarkan.
Tenang...
-
Brakk
Gue genggam erat botol parfum ditangan, seandainya botol tersebut adalah botol air mineral yang kosong, mungkin saat ini botol tersebut sudah tidak karuan lagi bentuknya.
"Sabar Kal, nanti juga bakal dikeluarin karena gak betah atau suaranya jelek," ucap Kirana sembari mengelus lengan atas gue.
Kirana Weston Emery, seorang mahasiswa jurusan sastra Inggris dengan loyalitas yang tinggi dan memiliki jiwa extrovert yang kuat. Dia merupakan anggota Badan Eksekutif Mahasiswa atau sering kita dengan BEM, cocok bukan buat dirinya. Gue bersyukur, biar berada di organisasi yang berbeda, kami masih bisa berteman karena berada di jurusan yang sama.
Gue menoleh Rana dan menatapnya, "gue pikir juga gitu mengingat dia diterima karena wajah tampannya dan juga disaat dia nyanyi malah buta nada, ternyata gue salah besar. Bahkan ini sudah 2 bulan sejak dia masuk organisasi gak ada tanda-tanda dia keluar ataupun dikeluarkan Lo paham kan maksud gue, gak dikeluarin ARGHHHHH..."
"WOWO santai, santai," gue mendengus kesal tanpa mempedulikan Rana yang mencoba menenangkan diri gue.
Bisa gak semua pria modelan dia hilang dimuka bumi, dan apa-apaan dengan wajahnya yang polos itu.
Seakan tidak tau alasan gue marah.
"Kalya," gue menoleh, "gimana kalau Lo masuk BEM aja kayak gue?" Goda Rana.
Sedikitpun gue gak menyembunyikan ekspresi jijik gue, "gak dulu Ran, gue gak siap jual risol terus nelpon satu satu maba buat membeli."
"Heh! Enak aja kau."
Gue menatap diri gue dikaca dan kemudian kearah pantulan Rana. Seketika ekspresi kesal gue langsung berubah heran.
Tunggu, wajah Rana, Ia menatap kebawah sendu dengan senyum tipisnya. Karena organisasi Vocal, tanpa sadar akhir-akhir ini gue mengacuhkan teman gue Rana.
"Rana? Lo baik-baik aja kan?" Tanya gue dengan wajah serius, masih menatap Rana lewat pantulan cermin.
Dia menoleh, "hm? Oh ya gue baik-baik aja, kenapa Lo nanya begitu?" ucap Rana sembari mengusap rambut depannya kebelakang.
Gue menatap wajah Rana Lamat, "Lo sedih karena gue gak mau masuk organisasi yang sama dengan Lo?" Ucap gue langsung to the point.
Rana langsung menatap gue dan menggeleng, "gue capek Lo bahas anak vocal itu Mulu."
"Masalahnya cuma dia doang yang gue ikhlas nerima dosa ghibah, kesel banget sumpah."
Setelah Rana bilang begitu gue baru sadar, setiap kami ada waktu bertemu disaat sibuk dengan organisasi masing-masinh pasti gue yang selalu cerita.
"Apa kabar Zero?" tanya gue yang mempertanyakan kabar pacar Rana itu.
"Ngapain Lo nanya pacar orang lain, doyan Lo?"
"Sumpah Zero bukan tipe gue Ran, Astaghfirullah."
"Sejak kapan Lo punya tipe ideal."
"Gue suka semua cowok ganteng."
Setelah perdebatan kami, kami tertawa kemudian melanjutkan kegiatan masing-masing.
Gue heran banget kok bisa Rana suka Ama Zero, mukanya aja kayak tape basi, gue rada gak ridho cewek secantik Rana pacaran dengan Zero. Tapi ya sudah lah, katanya cinta itu buta mungkin berlaku pada Rana.
Dukung aja selagi itu menambah kebahagian ya dia.
Drhttt~
Hp gue bergetar.
"Pasti yayang bebep kan, angkat aja sono," ucap Rana sembari berjalan masuk ke bilik toilet.
"Angga bukan pacar gue!"
Gue menggeleng heran dan menekan bulatan warna hijau dilayar, "halo Angga."
..."Basi Kal, bisa gak jangan halo lebih dulu, apa kek gitu."...
"Man rabbuka," Ganti gue.
"Astagfirullah Kal... Kek gak ada yang lain aja," Gue tertawa kecil saat mendengar keluh Angga.
"Btw, kenapa Lo telpon di jam Lo kerja?" Tanya gue sembari mengeluarkan lipstik dan memolesnya ke bibir pink natural gue.
"Gue lupa bilang, beberapa hari kedepan ada paket yang bakal datang ke rumah Lo," gue mengernyit.
Apa yang dikirim nih anak, "makanan? Baju? Atau alat pengukur tinggi kayak ultah gue tahun lalu?"
"Ada dehhh cyahahahahaha..." Gue tertawa hambar saat mendengar tawa Angga di sebrang sana.
"Pokoknya, kalo sudah datang, telpon gue, biar gue kasih tau gimana cara pakainya," baju ya?
ARGHHHH... Angga hobi banget buat gue penasaran.
"Oke-oke, sana deh Lo kerja lagi, dipecat baru tau rasa."
"Gak boleh ngomong git-"
Gue terkekeh begitu mematikan telpon disaat Angga belum menyelesaikan kalimatnya, rasain tuh, lagian hobi banget bikin gue kepo parah.
Mata gue terhenti pada cermin yang memantulkan diri gue sendiri.
Mata besar yang cerah, hidup mancung kecil, bibir tipis menonjol membentuk hati, warna kulit putih susu.
Sempurna.
Hanya saja....
Gue melirik kearah kedua kaki gue dengan wajah cemberut.
Kaki gue pendek sehingga memakai baju apapun akan terlihat seperti anak kecil.
Tinggi gue 152.
Clak
Tiba-tiba pantulan Rana keluar dari bilik toilet tertangkap mata gue.
Dia berjalan kearah wastafel, "minta handcream lo dong, Kal," ucap Rana sembari mencuci tangannya begitu air mengalir setelah dia memutar keran.
"Modal woy, hand cream gue mau habis karena lo mintain terus," ucao gue sembari berekpresi cemberut.
Handcream 100k gue.
Mehong woy:')
"Nanti gue beliin 2 kali lipat deh, mana handcream lo?" Aseek, enak juga punya temen yang kaya.
"Beliin ya," ucap gue sembari merogok isi tas.
"Iya Kalyaaaa."
Setelah Rana selesai mengeringkan tangannya, gue memberikan handcream(ya gue sendiri yang pencetin, kalo dikasih ke Rana kan mana tau dia minta banyakan) dan kembali memasukan benda kecil tersebut kedalam tas.
"Terakhir."
"Yaelah Kal."
Gue berkacak pinggang, "mulai sekarang gue harus hemat. Kata bokap gue, bulan ini dia bakal telat ngasih uang bulanan."
"Hemat apa pelit, Kal?," ucap Rana sembari menjauhkan badannya dari gue karena gue sudah siap memukulnya.
Enak aja.
"Ayo kita ke kantin, gue dengar hari ini ada pudingnya," begitu mendengar ada menu puding, wajah gue langsung senyum lebar (ya kagak sampai mirip kojer juga kali).
"KUY KANTIN," teriak gue semangat.
Gue berlarian keluar toilet dan...
Braakk~
Tubuh gue terjatuh kebelakang dan pantat gue nempel pada lantai yang tidak bisa dibilang bersih:').
"Astagaaa gue kira tadi tuyul yang nabrak gue, ternyata Kalya toh, lagian badan Lo kenapa sih kecil kek anak TK," ucap Rery sembari mempererat tas yang digendongnya
"Tinggi badan gue 152, gak ada anak TK Segede gaban kayak gue," geruntu gue sembari beranjak dari lantai.
"Pendek ya pendek aja, pake ngeles."
Rery Lenardo, seorang mahasiswa sastra Inggris dan manajemen. Poin yang harus kalian semua tahu, Rery ganteng woy tipe cowok ganteng tapi lawak.
Jarang bukan?
Minusnya, dia selalu berpakaian seadanya bahkan kekampus sehingga membuat siapa saja bakal berkomentar, 'lo mandi gak sih?'
Beda cerita kalau dia ngincar cewek, pasti dia pakai baju bagus terus parfum semerbak sampe ujung lorong kampus.
Btw, dia orang sama dengan yang merekomendasikan Aidan menggunakan nama gue, karena nama gue jadi tercoreng masukin anggota karena tampangnya.
Rana keluar dari toilet dengan langkah santai, "eh Rery, kok lo baru datang ke kampus, tadi dosen nyariin lo karena gak masuk kelas," ucap Rana sembari menepuk lengan Rery keras.
"Biasa, gue bangun kesiangan," ucap Rery sembari berjalan mendekati Rana dan bergelut pada lengan Rana, "Rana, bayari makan dong, gue lagi boker nih," ucap Rery sok imut.
BLETAK-
Ditendang Rana ke tembok dong.
Woyy, ini di tempat umum:').
"Yang bener tuh Bokek, tolol. Kal, kita minggat aja yuk, lapar nih," ucap Rana sembari mengelus perutnya.
"Ya udah ayo kita ke kantin," saut gue sembari mempererat tas di pundak gue.
"Eh tuh anak gak diajak?"
"Biarlah, dianya k.o juga baru gue tendang."
Kami tertawa bersama dan berjalan melewati Rery yang terkapar.
Saat gue berjalan bersama Rana, terlihat beberapa orang berbisik-bisik. Gue pikir mereka berbisik tentang gue atau Rana karena mereka berbisik sembari melirik kearah kami, ternyata mereka membicarakan cowok yang berjalan didepan kami.
Kok gue tau, telepati ya?
Enggak lah, mereka nunjuk-nunjuk tuh cowok makanya tau. Tapi tunggu, dari punggung nya gue nampak familiar.
Siapa ya?
ARGHHHH... Gak tau, kenapa otak gue gak bisa diajak kerja sama.
Begitu mencium aroma kuat makanan, gue jadi menyadari sesuatu.
Otak gue gak jalan kalo belom makan.
Oke, makan dulu.
Saat sampai di kantin, gue mulai menargetkan kursi yang mau gue duduk.
Fix, di sana.
Baru saja gue mo duduk di kursi kantin yang merupakan kursi favorit gue, ternyata ada seorang pria yang menaruh nampannya dimeja tepat kursi itu hingga membuatku berteriak, "HEI ... ITU KURSI GUE, GUE SUDAH BOKING DULUAN!" Teriak gue sampai seisi kantin merhatiin kami.
Pria itu menoleh kebelakang yaitu ke arah gue lalu mengernyitkan matanya, "lo kira ini meja restoran yang bisa di boking-boking," Ucap pria itu gak mau kalah lalu duduk di kursi itu.
Gue juga gak mau kalah, "Terserah gue dong," sembari menampakan wajah kesal gue.
"Siapa cepat dia dapat," ucap pria itu dengan percaya dirinya.
"Tapi itu kursi favorit gue."
"Gue duluan duduk tadi."
"Gue duluan lihat."
Dan akhirnya kami berdua memperebutkan kursi itu, gue heran kenapa dia ikutan ngotot juga mau duduk disitu padahal bangku lain banyak yang kosong.
"Kal, kita ambil kursi lain aj--" "GAK MAU!!" Bantah gue pada bujukan Rana, gue tunjuk cowok itu dengan geram.
"Kenapa sih gue hobi banget ketemu cowok nyebelin kayak dia, apa kurang diorganisasi?"
Pria itu membuka masker wajahnya dan membuat gue terperanga.
AIDAN!!!
Ternyata orang yang sama.
"Lo lagiiiiii, KOK LO ADA DI FAKULTAS GUE?"
"Terus, karena ini bukan fakultas gue, bukan berarti gue gak boleh kesini kan?" Tanya Aidan dengan nada monoton.
Seperti biasa, nada monoton tersebut gak pernah lepas dari Aidan.
Tiba-tiba saja mata gue menangkap sebuah benda persegi yang tertempel dilehernya, plester luka? Apakah sebelum-sebelumnya benda tersebut sudah tertempel di sana?
"Rana, kita makan ditempat lain aja," ucap gue sembari menarik lengan Rana.
"Lah kok, tiba-tiba?"
Gue menatap Aidan dari atas sampai bawah, jangan sampai dia menghancurkan mood gue di pagi hari, jika tidak maka gue gak akan benar melakukan sesuatu untuk seharian penuh.
"Sudah ilang nafsu makan gue," setelah itu gue pergi dari kantin sembari merangkul lengan Rana tanpa memakan sedikitpun makanan di nampan gue.
Apapun yang berhubungan Aidan, entah kenapa bikin gue kesal.
-
Gue terperangah ketika melihat jelas pada handphone, ada huruf D di salah satu mata kuliah gue.
Damn... Gue ngulang matkul.