FourG

FourG
Chapter 16



Kalya Pov


Plaakk~


Gue menepuk kedua pipi gue keras hingga membekas warna kemerahan. Sial, karena Bunglon, seharian gue gak fokus ngampus.


Baru saja gue memutuskan agar menjaga jarak dari Aidan takut diledekin dia habis-habisan. Namun karena kecerobohan gue, terpaksa kami harus bertemu.


Saat bersih-bersih apartemen kemarin, gue menyadari tas gue gak ada ditempatnya.


Perasaan waktu kejar-kejaran dengan Aidan dilorong kampus, tuh tas masih ada di punggung gue, berarti tempat satu-satunya yang gue datangi lagi adalah rumah sakit.


Ada 3 orang dirumah sakit itu, Rery, Aby, dan Bunglon alias Aidan.


Mau menghubungi Rery, takut dia banyak pikiran karena habis dikeroyok para cewek-cewek, mau nanya Aby tapi gak ada nomornya, terpaksa deh chat Aidan.


Bunglon🐊


Kalyavi Claudia Aleska: [Bunglon, lo masih dirumah sakit kan? Lo ada lihat tas gue gak dikursi lorong dekat ruang rawat Rery?]


**Bunglon: [Y**a, ada disini tas Lo, kenapa?]


Kalyavi Claudia Aleska: [Tolong, kasih ke Rery aja, nanti dia kasih ke gue.]


Gue harus meminimalisir pertemuan kami mulai sekarang, harus.


Btw, kok Bunglon lama banget gak balas.


Drhhttt~


Karena kaget, tanpa sadar gue mencet tombol warna merah di hp dan membuat telpon tersebut terangkat.


"Halo Kalya," badan gue membeku, mencoba menafsirkan apa yang terjadi.


Tunggu, namanya...


"BUNGLON!!"


Bisa-bisanya dia langsung telpon gue setelah mendapat chat, "sehari, satu kali makan, itu bayaran karena telah menjaga tas Lo, oke?"


Tut...Tut...Tut...Tut...


Kemudian, dia mematikannya tanpa menunggu gue membalas ucapannya. Jahat banget Lo Bunglon:')


Ternyata ini yang dirasakan Angga, Rana, Rery, dan Samuel saat gue mematikan telpon tiba-tiba tanpa pamit. Tapi hal ini tidak membuat gue jera melakukannya hehe.


_


"WOY!!" Gue tersentak karena tiba-tiba saja Rana berteriak.


"Lo kenapa sih, dari tadi pagi tingkah lo aneh," gue menoleh kesamping dan mendapat Rana yang memasang wajah aneh, "dan apa-apaan dengan kantong mata yang tebal itu, lo begadang nonton drakor?"


Benar, Rana gak bakal ngerti.


Brakk~


"Eh si Anjing," kata tersebut langsung meluncur keluar dari bibir nya Rana. Gue sih gak heran Rana begitu, gak hanya Rana, siapa aja bakal kayak Rana saat lihat gue merebahkan kepala kemeja dengan cepat hingga menghantu meja tersebut dan terdenga suara keras.


"Ranaaaaa, gue harus apaaaaa," ucap gue sembari menginjak-injak kursi yang ada didepan gue.


"Ya mana gue tau, lo aja gak spill," ucap Rana sembari merapikan poninya.


Gue hanya bisa mengasihani diri gue sendiri. ucapan itu, karena insiden tas, terpaksa gue harus ketemu dengan Aidan, bahkan traktir dia makan.


Kalau bisa secepatnya sih kami bertemu, agar duit didompet gue aman sentosa.


"Btw, Kal."


"Hemm?"


"Rery," gue rada tertarik saat Rana mulai menyebut nama Rery, tapi gue mencoba gak berlebihan gitu natapnya, "dia Anjing banget, punya tunangan, terus juga punya pacar 2. Ternyata temen kita sebelas dua belas ama setan ya."


Gue hanya bisa tertawa hambar, gue lihat lebam di beberapa kulit Rana yang terbuka. Tampaknya kemarin Rana membantu Aby untuk menghentikan keributan diruang rawat.


Memisahkan pertengkaran tunangan Rery dan pacar Rery:').


Ting~


"Nah siapa tuh," ucap Rana tanpa menoleh kearah suara hp gue.


Ya jelas, yang bunyi adalah hp gue. Tapi tumben dia gak ngepoin.


Hemmmm... patut di curigangan.


Tapi tunggu.


Whatsaap


19 chat 5 pesan


Bunglon: [Hei, kelas lo udah selesai?]


Ngapain sih Aidan pakai chat gue disaat kepala gue masih ribut.


Kalyavi Claudia Aleska: [udah selesai, emang kenapa Ai?]


****, tanpa sadar gue manggil namanya, bukan Bunglon seperti biasanya sakit groginya.


Bunglon🐊: [Tampaknya Lo punya banyak uang untuk mentraktir gue makan hingga gak mau ngambil tas hari ini.]


Gue bokek Bunglon, makanya kemarin kerja biar bisa beli novel dan tambahan buat uang bulanan.


Kapan ya ada waktu beli Novel.


Arghhh... gue masih gak siap ketemu Bunglon, mau jadi baru aja deh.


Gue menoleh kearah jendela dan melihat rintikan bening mulai turun.


Hujan di bulan juli.


Ahhh... Pakai alasan ini aja


Kalyavi Claudia Aleska: [Tapi Bunglon, harinya hujan jadi gue gak bisa ambil sekarang. Bagaimana kalau Lo pikirkan kembali pendapat gue minta tolong Rery aja?]


Semoga diterima alasan gue yang ini.


Bunglon🐊: [Sekarang hujannya mulai reda, lagipun kalau Lo masih sibuk, gue aja yang akan datang ke fakultas.]


Kok jadi gini.


Gue kembali melihat kearah jendela, bener dong mereda.


Kenapa langit gak dukung gue sedikitpun sih.


Kalyavi Claudia Aleska: [Gak perlu, pikirin aja pendapat gue tentang minta tolong Rery ngasih ke gue aja.?


Bunglon🐊: [1 hari, 3 kali traktir.]


Anjir.


Kalyavi Claudia Aleska: [Loh kok, bukannya kemarin 1 hari satu kali traktir.]


Bunglon🐊 : [1 hari, 5 kali traktir.]


Kalyavi Claudia Aleska: [Kok makin naik sih.]


Bunglon🐊: [Makin Lo memperlambat, makin naik bayaran yang Lo kasih ke gue.]


Oke, salah bnget gue ngajak Bunglon negosiasi.


Gue meneguk saliva kasar saat sudah memutuskan sesuatu didalam kepala gue.


Kalyavi Claudia Aleska: [Oke oke oke, Lo otw aja dulu, gue akan terlambat sedikit kedepan fakultas.]


***


Gue berjalan cepat melewati setiap kelas dengan perasaan gak karuan dan juga gugup.


Begitu sampai depan pintu utama kampus, gue melihat Aidan diparkiran, "KALL!!" Panggil dia sembari melambai.


"GUE AJA YANG KESANA," teriak gue sembari berlari kecil kearah Aidan.


Tiba-tiba saja ditengah gue berlari kecil, hujan turun tanpa aba-aba sedikitpun hingga membuat baju gue mulai kenapa air hujan.


Hujannya kok labil banget, tadi hujan terus berhenti, sekarang hujan lagi.


Pasti sih, pasti Angga bolak balik pakai motor di Bandung, makanya hujan. Kalau Angga ke jakarta, kayaknya gue harus bawa dia ke dukun biar tau apa alasan setiap dia makai motor pasti hujan.


Saat mendongak, gue mendapat Aidan sudah didepan gue sambil memayungi gue, bahkan payungnya condong kearah gue.


"Eh, ngapain lo condongin payungnya kearah gue, lihat, lo nya jadi kebasahan," Ucap gue sembari memegang payung yang dipegang Aidan agar condong kearahnya juga.


"Tidak apa-apa kok, gue suka hujan," ucap Aidan dengan wajah seakan bilang no problem.


Gue yang gak enak sama lo, babi. lo ngerti gak seh:')


"Kita neduh aja dulu, nanti kalo hujannya sudah berhenti, kita ke restoran."


"Oke."


"Ey Bunglon."


"Hm?"


"Plaster luka lo kok gak ada dileher."


"Kelupaan."