
Kalya Pov
Cih.
Sesekali gue mendengus dan juga melirik ke sebelah kiri gue dengan tatapan yang membuat siapa saja risih.
Aidan yang mungkin menyadari tatapan gue segera melirik kemudian kembali menatap kearah depan dengan wajahnya yang masam, "apaan? Lo gak terima gue yang nganter? Ya sudah, turun sekarang," ucap Aidan dengan pandangan kembali ke arah jalanan.
Gue mendengus lagi lalu kembali memandangi pemandangan luar jendela.
Sebenarnya sebelum kami berada di mobil yang sama...
"Hompimpah alaium gambreng"
"YEI GUE MENANG" teriak Rery heboh saat mengetahui ia memenangkan hompimpah kali ini.
Bagaimana tidak, Aidan mengeluarkan batu sedangkan Rery mengeluarkan kertas.
Ya setelah itu kalian bisa tahu kenapa sekarang kami berada di mobil yang sama.
Gue mencoba menahan kesunyian yang perlahan mencekik leher ini dengan cara memandangi pemandangan luar.
Namun, nampaknya jiwa genderuwu gue gak bisa bertahan lebih lama.
"ARGHHHH CARI TOPIK NAPA!" teriak gue membuat Aidan menoleh kearah gue dengan muka seakan bilang 'sudah mulai kesetanan nih'
Gue menatap Aidan dengan tatapan seribu kata-kata.
Jangan salahkan gue, salahkan diri lo yang terlalu kaku, gue bukan tipe orang yang diam begini, jadi gue gak bisa menahannya.
Begitu lampu lalu lintas kembali berwarna hijau, Aidan kembali melajukan mobilnya, "lo tanya, gue jawab, gimana? Jadi ada pembicaraan kan?" Ucap Aidan sembari menyetir mobil dengan satu tangan, sedangkan tangan yang lainnya terlihat nganggur.
Nah gitu dong, "tipe cewek lo gimana?" Tanya gue acak.
Aidan menoleh kearah gue sebentar, "kek gak ada topik lain aja, lo mau mencalonkan diri?" Tanya Aidan capek.
"Idih najis, kan lo bilang terserah gue mau nanya apa, ya itu pertanyaannya" ucap gue sembari mendengus.
Serba salah kan.
Gue menatap setiap centi wajah Aidan, jujur saja Aidan benar-benar ganteng, tuhan sangat teliti memahat Aidan sehingga gue bisa terkagum.
Gue penasaran, cowok setampan Aidan, tipe ceweknya bagaimana sih, kita kan perlu mengorek isi otak para cogan biar tau selera spesies mereka.
"Yang pasti bukan elo," ucap Aidan sembari melirik kearah gue.
Anjir, ini mah penghinaan secara langsung, padahal gini-gini pun banyak kok yg suka sama gue.
Ya meskipun para jamet sih yang gue maksud banyak:')
"Oke gue ganti aja, cewek yang lo panggil Shila ketika di cafe itu pacar elo?" Tanya gue sembari menutup dada gue menggunakan bantal yang tersedia di mobil.
Aidan menggigil, "sial, kenapa lo malah bahas Shila, sudah cukup dengan telpon di pagi hari, sekarang gue juga jadi harus bertemu dengannya karena Lo nyebut namanya," ucap Aidan dengan nada kesal.
Gue memasang wajah aneh, apa yang salah dengan namanya?
Merasa gue tidak memberi respon apapun, Aidan melanjutkannya, "soalnya setiap gue denger nama Shila disekitar gue, pasti Shila bakal nongol, kek setan aja tuh anak," ucap Aidan merinding.
Padahal Shila cantik banget loh, dikatain setan:)
Drhttttt~
Tiba-tiba hp Aidan bergetar di atas dasbor, Aidan ambil hpnya lalu melirik sedikit sembari menyetir.
"Damn," umpatnya sembari memarkirkan mobil dipinggir jalan lalu mengangkat telpon, "halo?"
"............"
Gue gak tau siapa yang menelpon, namun dari umpatannya saja gue sudah tau, orang yang memiliki hubungan buruk dengan Aidan.
"Hem, oke," setelah itu Aidan langsung matiin hpnya.
Aidan menoleh kearah gue, "gue ada urusan mendesak, lo mau gue turunin disini atau ikut, nunggu di mobil aja tapi," tanya Aidan sembari menyalakan mesin mobilnya kembali.
Gue mempoutkan bibir, "ya kali gue diturunin, nanggung banget" ucap gue dengan nada kesal.
"Oke, berarti lo ikut."
"Bentar aja kan?"
"Iya."
"Btw, gimana cara gue hubungin elo, baterai hp gue habis."
"Dibelakang ada laptop gue, chat pake wa gue."
🐤🐤🐤
Aidan pov
Hening, sangat hening tidak ada seorang pun yang berani membuka mulut untuk memecahkan gelembung keheningan ini, yang terdengar hanya suara dentingan ketika sendok dan garpu tak sengaja beradu.
Gue? Gue hanya menikmati makanan yang ada didepan gue tanpa memerhatikan setiap wajah yang ada di ruangan ini.
"Ayah dengar kamu pindah jurusan," gue gak menghiraukan orang yang ada didepan gue.
"Sayang, jangan sekarang, Aidan bahkan baru memasukan makanan kedalam mukutnya," ah suara mama disebelah pria itu.
"Dengar anakku, secepatnya kamu kembali ke jurusan manajemen maka ayah akan memaafka-" "tidak mau," balas gue cepat sembari memasukan potongan steak ke mulut gue dengan santui.
"Apa?"
Gue menurunkan garpu dan pisau ditangan gue lalu menatap orang itu malas, "gue bilang gak mau, masih gak kedengeran? Ohh iya kan lo udah tua jadi bisa aja kan lo budek."
Claangg~
Spontan tangan gue menyentuh pipi karena merasakan sakit, "dasar anak tak tau diri, berani-beraninya kau ngatain ayahmu ini budek!!!" gue menghapus darah keluar dari pipi gue karena terkena pisau yang habis dilempar pria ini.
Gue tertawa hambar saat melihat darah gue yang baru saja gue usap dan menempel di jari, gue berdiri lalu menatap mama gue Roselin, "mah, aku sudah selesai."
Sebelum keluar dari ruang vip restoran itu, gue berhenti tepat dibibir pintu, "oh iya, sekalian beliin pria itu obat penenang karena mungkin kedepannya anak durhakanya ini akan melakukan hal gila lainnya," gue menampakan wajah dingin gue lalu pergi.
Sembari berjalan gue merogok ponsel dikantong celana lalu membukanya.
Aidan Cailon Smith membuat grub Kalya Cantik
Aidan Cailon Smith menambahkan Rery Perkasa
Aidan mengeluarkan Rery Perkas
Aidan Cailon Smith: Kalya-Bunglon, lo dimana?
Aidan Cailon Smith: Kalya-Lama banget
Aidan Cailon Smith: Kalya-Lumutan gue
Aidan Cailon Smith: Kalya-Woy, gue tau lo udah read chat gue, dibalas napa.
Aneh rasanya ketika chat gue nambah tanpa gue mengetik satupun, dia juga menambahkan namanya agar tau kalau itu adalah dia.
Saat melihat chatnya, gue langsung mengingat kejadian tadi malam.
Kok bisa sih di jaman sekarang ada pekerja kek gitu, mereka sebenarnya niat gak sih kerja. "Kalya, gimana kal-" "ngrhookkk...." yang gue ajak ngomong dah ngorok aja tuh.
Cepat banget dia tidur, padahal baru beberapa menit gak gue ajak ngomong dah tidur aja, dasar kebo:v
Gue terdiam saat melihat tubuhnya yang gemetar sembari memeluk dirinya sendiri, padahal dikasur itu sudah ada selimut tapi dia tidak menggunakannya sama sekali.
Biarin aja deh.
Baru saja gue merebahkan diri dan memejam mata, gue membuka salat satu mata kemudian mengintip kearahnya.
"Bodoh tetaplah bodoh," gumam gue sembari beranjak dari kasur dan menghampirinya.
Dia jago bikin orang lain khawatir.
Begitu sudah didepannya, gue menarik selimut hingga menutupi seluruh badannya kecuali kepala.
Tanpa sadar gue melihat wajahnya.
Wajah kecil, bibir mungil, hidup mancung minimalis, buku mata yang lebat, dan apa-apaan ini, apa di vampire? Dia benar-benar putih seperti tidak memiliki darah sama sekali pada tubuhnya.
Saat dia bergerak, spontan menunduk agar tidak terlihat olehnya, kalo ketahuan gue merhatiin dia, bisa mampus gue.
"LO BERANI AMBIL TAEHYUNG, GUE PATAHIN LEHER LO," teriak Kalya, beberapa menit kemudian gak ada lagi suara.
Gue berdiri perlahan, dan melihat keadaan Kalya, "Mengigau ternyata" gumam gue.
Clik~
"Wow, pemandangan apa ini," ucap Rery sembari menutup mulutnya seakan syok sembari melihat hasil jepretannya.
"Apa sih gak jelas banget," ucap gue sembari berjalan kearah dapur lalu menuangkan air.
Rery melihat kegiatan gue menuangkan air dalam diam, terdengar suara khas ketika air dituangkan ke cangkir.
"Oh iya Ry, sewaktu dibandung, Kalya dibully ya? Punya temen berapa dia?" Tanya gue.
Rery menautkan alisnya, "tumben kepo, ada apa nih?" Tanya Rery sembari menampilkan senyum misterius.
Gue memutar bola mata, seharusnya dari awal gue gak menanyakan hal ini kepada Rery.
Saat gue mengangkat cangkir untuk meminum air didalamnya, Rery membuang muka, "Kalya hanya memiliki 2 sahabat, itu doang sih yang gue tau, tapi kalo detailnya mungkin bakal next gue kasih tahu, gue perlu cari tahu dahulu," ungkap Rery sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Oh..." tanggap gue.
"Bagaimana?" Gue menoleh kembali pada Rery.
Gue menurunkan cangkir begitu air didalamnya habis, "apanya yang bagaimana?" Tanya gue bingung karena pertanyaan tidak jelasnya.
"Maksud gue Kalya, bukankah di mirip dengan dia?" Ucap Rery dengan senyum tipis.
Tiba-tiba bayangan wanita itu timbul di kepala gue.
Gue memasang muka datar, "lo sinting Ry, semua cewek yang gue temuin selalu lo sama-samakan dengan dia."
"Heiii, dia di otak gue dengan dia di otak lo emang sama ya? Emang siapa dia yang ada di otak lo," ucap Rery memasang muka seakan tidak tau siapa yang gue maksud, "yang gue maksud Aby, lo pikir siapa?" Tambah Rery.
Gue menghelang napas, gue berjalan kearah kasur lalu rebahan, "Rery, gue harap lo gak melewati batas seperti waktu sma," ucap gue sembari merapatkan selimut.
"Oh ya satu lagi," ucap gue sembari berbalik dan menatap Rery santai, "kalo elo terus menerus melakukan hal ini seperti waktu kita sma, gue anggap kita tidak memiliki hubungan pertemanan."
"Wooooo santai bro, santaiii. Sudah gue bilang, gue hanya teringat dengan gebetan gue Abi, ada apa dengan lo sih."
Hal inilah yang gue benci dari Rery, dia selalu membuat gue jadi mengingat dia. Gue gak tau apakah dia beneran gak sengaja atau dia emang sengaja melakukannya tapi secara halus.
Seperti biasa, Rery dengan alter egonya.
Lagian, kalo benar yang dipikirnya adalah Abi, Kalya dan Abi benar-benar berbeda. Aby memiliki kepribadian pemimpin, selalu ingin semuanya tertata rapi sesuai rencananya, dan jika dia berada di situasi genting seperti pertengkaran, dia lebih memilih berantem dengan logika. Sedangkan Kalya, dia tampang-tampang santuy tapi barbar. Kenapa gue bilang begitu, karena dia selalu meremehkan matkul dan lebih memilih tipsen. Dan juga, ketika dia berada di situasi perkelahian, dia akan mode tonjok gampar.
Benar-benar berbeda kan.
Kalau boleh jujur, jika yang mirip dengan Kalya adalah dia yang ada di kepala gue. Sumpah, mereka berdua seperti pinang dibelah dua. semakin sering gue ketemu Kalya, semakin banyak kemiripan dia yang gue temukan pada diri Kalya.
Sepertinya gue harus mulai membatasi pertemuan dengan Kalya.
HARUS!
Aidan Cailon Smith: Kal, sebaiknya lo pulang duluan aja, gue ada urusan lagi nih.
Untuk sekarang gue gak mau ketemu siapapun yang kenal gue, "Hah..," saat gue mau masukin hp ke kantong celana, gue denger suara.
Suara yang amat sangat gue kenal.
TOY BOX!!!
Gue segera berlari kecil mencari arah suara dann....
Akhirnya, capit hp iphone X max ada di mall ini.
Belakangan ini capit hp iphone lagi viral-viral nya tapi di jakarta tidak ada kecuali dikota lain. biasanya kan jakarta Mulu duluan, gak tau kenapa giliran beginian lama amat nih.
Gak sabar lagi mo mai- eh dompet gue mana?
Gue merogok seluruh kantong celana gue tapi gak juga ketemu.
Di detik berikutnya gue menepuk jidat begitu sadar akan sesuatu.
Ketinggalan dimeja restoran.
***
Kalya Pov
Bahagianya.
Sudah lama gue gak beli kebab, meskipun sedikit mahal tapi tidak masalah karena didalamnya pakai daging sapi asli.
Bukan daging burger rasa sapi yg dipotong-potong.
Oh iya, gue memutuskan naik ke lantai 2 dan mencari Aidan, kepanasan gue diparkiran dan menunggu chatnya dari laptop.
"Dia ada balas chat tidak ya dilaptop tadi?"
Gue merogok kantong celana, mencoba mencari uang kembalian, namun kunci rumah gue keikut ke ambil hingga jatuh menjauh hingga membuat gue mengejarnya.
Gue berjongkok untuk mengambilnya, "dasar shokky nakal, diam aja dong disaku gue," gue berdiri dan mata gue tak sengaja melihat seseorang berjongkok di samping mesin capit hp.
"Bunglon?" sembari menghampirinya.
Saat mendongak dia terlihat sangat imut dan polos dengan topi dan masker hitam yang hanya menutupi dagunya.
"Kalya, tolong pinjamkan 50 ribu uang lo pada gue"
***
Aidan pov
"Bunglon, dikit lagi dikit lagi"
"Tolong tolong tolong" gumam gue seperti membaca mantra.
"YAAAAAA!!!"
Saat kotak yang kami capit tadi lolos masuk, kami berteriak histris.
"Bunglon lo berhasil," kedua tangan kami berpegangan lalu loncat-loncat.
"Gak, kita yang berhasil," spontan Kalya memeluk gue lalu loncat-loncat kek anak tk tanpa memedulikan semua mata yang menatap kami aneh dan ada juga yang kagum karena kami mendapatkan iphone
Kami pun melepaskan pelukan lalu sama-sama menyengir, "gila gue gak percaya ini, sekali percobaan lo dapat hp iphone"
"Hahaha."
Setelah itu kami memainkan berbagai permainan di sana seperti basket, tembak-tembakan, dan lainnya hingga membuat kami lelah dan berujung duduk di kursi disekitar permainan sekedar menonton permainan orang lain.
Gue bener-bener bersenang-senang, termasuk reaksi Kalya.
"Woahh Bunglon jago."
"Ngalah woy ngalah napa, gue cewek."
"Idih, tadi lo pilih easy makanya skor lo SS."
"WOY BUNGLON!!" Tiba-tiba gue tersadar ketika Kalya memanggil sembari menepuk pundak gue.
Saat sadar Kalya berada didepan gue, gue mendongak karena perbedaan tinggi kami, dia berdiri sedangkan gue duduk.
"Nitip barang gue ya, gue mau ke toilet bentar," ucap Kalya sembari memberikan boneka capit, hpnya dan juga hp iPhone capit yang gue kasih kedia, gue cukup beruntung mendapatkan itu semua hanya bermodal 50 ribu, "jangan tinggalin gue ya," setelah memperingati gue, dia meninggalkan gue dengan senyum manis terukir di bibirnya.
Gue gak tau kenapa tiba-tiba gue merasa aura disekitar Kalya seperti berwarna pink dan berbunga-bunga.
Sepertinya mata gue memiliki terobosan baru, filter misalnya.
"Cailon," gue membeku ketika ada yang mengelus kepada gue, spontan gue menoleh kebelakang dan menemukan sosok orang itu.
"Shila?"
"Yups baby," balas Shila sembari berpose dua jari.
Gue selalu punya firasat, apalagi kalo berhubungan dengan Shila, jika ada orang yang menyebut nama Shila.
"Oke gue ganti aja, cewek yang lo panggil Shila ketika di cafe itu pacar elo?" Tanya Kalya santai.
Spontan badan gue merinding, "sial, kenapa lo malah bahas Shila, pasti hari ini gue ada ketemu ama Shila" ucap gue kesal.
"Lah kok lo bisa punya felling bakal ketemu Shila sih?" Tanya Kalya kepo.
Soalnya setiap gue denger nama Shila disekitar gue, pasti Shila bakal nongol.
Dan firasat gue benar, gue bertemu Shila bahkan dihari libur.